Senin, 17 Desember 2012

A Long Road To Berhala - Another #NekadTraveller

September 3, 2012, Brancccuuuuuuuttttsss... Galau yang berkepanjangan, begitu latar belakang dari perjalanan nekad berikut ini. Terinsiparasi dari saling mendengar cerita masing-masing anggota, keluhan tentang cinta dan kekecewaan yang mendalam. Kota ini begitu sumpek untuk menghilangkan kejenuhan yang ada, bergelut dengan macet, asap kendaraan, serta deadline kerjaan yang tak kunjung usai. Akhirnya, enam orang ini berkumpul demi satu misi, yaitu buang sial ke Pulau Berhala. Banyak mungkin yang ga tau dimana pulau berhala itu. Ya bagi orang Jambi, pulau Berhala itu punya dia. Bagi orang Kepri, Berhala milik mereka. Sengketa tiada akhir juga terjadi dipulau yang agak mirip dengan Belitung ini. Cuman bedanya, di Berhala banyak sampah, dan penginapan seadanya lantaran orang Jambi yang ngurusinnya juga dikit. Tapi, menurut gw ya lumayanlah, untuk melepas penat, dan tereka sepuasnya dipinggir pantai dengan deburan ombak. Ini adalah gambaran besar gimana bentuk Pulau Berhala, namun yang paling enting itu, perjuangan menuju pulau Berhala. Baiklah, dimulai dari awal mau berangkat. Gw perkenalkan dulu anggotanya satu-satu. (1) The One and Only Mahili yang paling ganteng diantara kami semua. Doski yang bakal nyupirin kite menuju pulau yang kaanya bagus itu. (2) Si Rida anak JI yang sekrang mangkal di pemrov. Doski yang ngatur transportasi dari awal sampai akhir. (3) Eba, anak TVRI yang beberapa kali sudah BBMin gw buat jalan2 ke Berhala, juga ketika itu lagi galau tingkat kecamatan. (4) Chrissy, dia nih satu-satunya bule di rombongan. Sukarelawan Warsi yang katanya ngebet banget pen ke Berhala. (5) Mathilda, doi juga ketika ke Berhala itu lagi galau maksimal, entah tingat apaan, tapi kayaknya lebih tinggi dari tingkat kecamatan. (6) Dan yang terakhir adalah gw, lo-lo pada mgkn tau ndiri galau gw itu tingkatnya udah semana. Ngga tingkat kecamatan lagi, tapi mungkin udah tingkat dunia. Hadeh... perjalanan ini sebenernya akan diikuti oleh sebelas personel. Yaaaa.... dengan anggota segitu kan bisa hemat biaya cui.. tapi akhirnya sehari sebelum keberangkatan lima orang mundur. Kelima orang itu adalah temennya si Eba dan temennya K’Mathilda. Jadilah kedua orang ini disalahkan atas kemunduran teman-teman mereka ini. Huahahahahhaa.... tau apa tanggapan mereka ketika disalahkan? Cuman cengengesan aja. *ampun*. Alasan mereka mundur dari touring adalah karena takut ombak besar. Ya, emang ada gosip-gosipnya sih ombak lagi tinggi, tapi kita ngga pernah bakal tau sebelum mengalami sendiri kan cuyy... (padahal aslinya gw juga rada takut sih). Oke jadilah akhirnya jumat sore kita beanja beenji buat bawa bekal. Karena katanya sih di sana ga ada warung yang jualan makanan. Sekardus bekal, rasanya cukuplah ya buat perjalanan dua hari satu malam. Sabtu pagi, janjian di BKKBN jam 8, berangkat dari sana. Gw jemput si christy ke rumahnya, Si Rida bareng K’Mathilda, dan is Eba jadi ‘Si Manis Jembatan Batanghari’ nungguin kita jemput. Untung aja kebetulan lewat sana jalannya. Oke, jam setengah 9 capcus berangkat jemput Eba dan mobil Inova Silver milik bg Mahilipun melaju kencang menuju Sabak, Negrinya si Jumi Jola. Gw belum kasih tau kan ya, kalau menurut versi Jambi, Pulau Berhala itu masuk ke Kabupaten Tanjung Jabung timur, Bupatinya si Jumi Jola, mantannya Ayu Dewi, yang sekarang jadi lakinya Sherin Tharia. *gosip, emosi*. Sebelum lanjut cerita, gw paparpkan dulu garis besar rute perjalanan. Pertama dari Jambi itu menuju Sabak-Tanjabtim. Dari Sabak harus ke Nipah Panjang-Tanjabtim, disini tuh pelabuhannya. Nah dari nipah panjang itu baru berlayaran dua jaman ke Pulau Berhala. Dan menurut gw ini adalah perjalanan yang lumayan panjang bagi orang-orang yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Pulau Berhala itu. Yap mari kita ngebut mobil ini. Musik beralun di dalam mobil, biar si bang mahili ngga ngantuk. Dua jam kurang perjalanan menuju Sabak akhirnya berakhir. Dan tentu saja mobil kita dipenuhi dengan makanan buat ganjel perut. Jalanan lumayan mulus, dan mobilpun melaju kencang. Berenti sebentar di mesjid numpang ke toilet. Nah, perjalanan dan petualangan sebenanrya dimulai ketika harus meninggalkan Sabak untuk menuju ke Nipah Panjang. Kita ngga tau jalan nih semuanya, hanya mengandalkan papan penujuk jalan yang bertuliskan Nipah Panjang. Dan ya Tuhanku, jalannya jelek mampus. Ya katanya baru akan dibenerin tahun 2013 ini sama Jumi. Tapi ya, jalan itu panjangnya cuman 37 km, tapi kita nempuhnya lebih dari dua jam. Kalau mau ngebut jalannya licin lantaran sedang pengerasan. Jadi permukaan jalannya itu banyak kerikil. Alhasil, dua kali berenti di mesjid karena kebelet. Lambreta lah pokoknya boowwwkkk... Dan memang, berkat kesabaran dan keimanan orang-orang di dalam mobil itu, akhirnya nyampe di Nipah Panjang jam setengah satu. Laper mamen, makan dulu lah ya, mana hujan pula. Katanya di abang guide kami, ada satu rumah makan yang enak, lokasinya dipinggi sungai. Ya dan kita harus berlayar ke sana. Oke, mobil titip di rumah si abang guide yang belakangan diketahui bernama Ii. Makan kilat, dan jam satuan kita mulai berlayar ke pulau Berhala. Hujan masih nih ceritanya, tapi lau tenang bangat. Saking tenangnya laut, semua personel yang berangkat berani foto-foto di bagian depan kapal. Ya pastinya setelah hujan berenti dong ya. Ya perjalanan juga ditemani dengan makanan-makanan kecil (laper apa doyan). Dan dikala gw, k’Mathilda, n Chrissy udah pegel duduk dipinggir-pinggir kapal, eh si Rida n Eba malah enak-enakan tidur pewe berdua. Bener-bener muka pelor, nempel molor!!! Perjalanan ditempuh dalam waktu tiga jam. Dan sekitar pukul 16.25, kamipun perapata ke bibir pantai, daaaaaaannnn Welcome to Berhalaaaaaaaaa. Dalam note berikutnya, gw bakal kupas apa aja yang gw temkan di Pulau Berhala. Berikut suka duka dalam penginapan n kisah lucu salah satu personil. Okeh mamen... to be continued yow...