Sabtu, 27 Maret 2010

PANGGIL NAMAKU SATRIA

PANGGIL NAMAKU SATRIA

By: Jennifer Agustia

Udara pagi di desa yang barangkali sudah bisa dikatakan kota kecil atau apalah namanya, mambuatku bersemangat melangkahkan kaki ke sekolah. Bagaimana tidak? Udara yang segar tanpa polusi seperti di kota-kota besar itu masuk dengan leluasa menuju paru-paru. Di sepanjang jalan setapak yang kulalui ditumbuhi rumput-rumput dan ilalang serta ranting-ranting kayu berserakan di tengah jalan. Itulah rutinitas yang selalu ku lakukan, mulai dari pagi sampai akhirnya aku kembali ke rumah yang menurutku tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.

Mama adalah seorang guru SD di dekat rumah yang juga merupakan tempat aku bersekolah, namun tak berarti aku mendapat perlakuan istimewa di sekolah. Aku pernah dipukul, dibentak, dan dimarahi di sekolah bahkan oleh mamaku sendiri. Itu menjadi bukti bahwa aku diperlakukan sama seperti murid lainnya.

Papa juga seorang guru, tapi di tempat berbeda. Papa adalah sosok seorang ayah yang sangat menjunjung tinggi nilai kedisiplinan dan hal itu diaplikasikan beliau dalam kehidupan kami. Meskipun aku anak tunggal, kata ‘manja’ tak pernah ada dalam keseharianku.

Namaku Satria, dan aku tau Papa dan Mama berharap aku menjadi seorang pria gagah, penuh tanggung jawab, dan memegang prisip. Kata ‘Satria’ juga menyiratkan seorang pria sejati, cakap, dan berwibawa, dan aku berusaha untuk memenuhi semua harapan itu.

Kini usiaku beranjak 20 tahun. Semua kenangan masa kecil serta nasehat-nasehat Mama dan Papa masih tetap teringat. Hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah setelah sebulan lebih menghabiskan waktu di desa bersama Mama dan Papa. Namun seperti biasanya, minggu pertama kuliah, para dosen jarang hadir; entah sibuk entah apa alasannya. Sambil membaca majalah remaja yang baru ku beli, aku duduk di bangku panjang di sepanjang koridor yang mungin disediakan untuk mahasiswa yang menunggu kedatangan dosennya dengan penuh sabar. Mungkin terdengar janggal, seorang pria mambaca majalah remaja, tapi itulah aku. Apalagi lembaran fashionnya, aku sangat mengagumi rancangan, padu padan, serta kombinasi warna baju yang terkadang terkesan ‘tabrakan’.

Setengah jam duduk dan membaca, seorang teman datang mengagetkanku. Dia adalah Nuri, gadis cantik berambut ikal panjang. Dengan kemeja pendek dan jeans ketat serta membawa sebuah buku yang sangat tebal. Ada yang berbeda di diri Nuri kulihat. Rambutnya kini berwarna coklat; baru saja diwarnai kemaren dan itu membuatnya terlihat lebih elegan. Nuri adalah satu-satunya sahabat yang mengerti serat memahami gejolak berupa senag, sedih, dan amarahku. Hanya bersama Nurilah aku merasa nyaman, tapi bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Saking baiknya, pada hari pertama kuliah ini Nuri langsung mengajakku makan di kantin, dia yang traktir. Bergegas kami bangkin dari bangku, namun tiba-tiba, “Bukkkk...!!!”, tubuhku menabrak sesosok tubuh kekar dan tinggi.

“Woi, Banci....! mata lo tarok mana?” terdengar suara si kekar tinggi yang bernama Thio itu. Thio terlihat sangat jengkel dan langsung pergi.

‘Banci’?. Kata itu membuatku terhenyak. Apa benar aku banci? Mungkin Thio benar, aku memang banci; aku bukan pria sejati berbadan tegap, gagah, dan macho. Kuakui, penampilanku memang tak seperti mahasiswa lainnya. Aku sering memakai kaos berwarna lembut, seperi pink serta jeans ketat. Mungkin itu sebabnya tak ada seorangpun yang mau dekat denganku kecuali Nuri.

Selama makan di kantin yang tidak terlalu ramai karena masih jam 10.00 pagi aku hanya diam. Nampaknya Nuri tau apa yang membuatku tiba-tiba membisu.

“Sudahlah, Sat...! apapun kata mereka, kamu tetap sahabat terbaikku. Senyum dong...!” katanya lembut.

Walau berat, kucoba paksakan tersenyum walau aku tau pasti Nuri tak menyangkal kalau aku memang banci seperti yang dikatakan Thio dan teman-teman yang lainnya. Sampai tiba di kosku kira-kira jam 4 sore, kata ‘banci’ itu tetap menghantui dan menyeretku ke masa lalu di desa.

Teman-temanku sewaktu di desa sering mengolok-olok ku dan memanggilku ‘Ria’ bukan ‘Satria’. Mereka juga sering memnaggilku ‘bencong’. Hal itu berawal ketika salah seorang dari mereka memergoki bermain boneka di halaman rumah. Memang, aku sangat senang bermain boneka ketimbang bermain bola bersama anak-anak lain. Pada saat itu, aku gaun-gaun berwarna- warni yang dibelikan tanteku untuk Mia sepupuku. Selain itu, aku juga suka berkaca dan mengagumi bulu mataku yang lentik. Pada saar itu aku masih duduk di sekolah dasar dan belum tau kalau hormon wanitaku agak sedikit dominan.

Olok-olokan itu berlangsung setiap hari. Sampai-sampai hari-hari yang kulalui terasaa bergulir. Meskipun belum menyadari keganjilan dalam kepribadianku, dapat kurasakan bahwa ada yang salah di dalam tubuhku. Olok-olokan itu mencapai puncaknya sewaktu aku duduk di kelas lima. Sepulang sekolah diperjalanan aku berjalan sendiri. Tiba-tiba empat orang teman sekelasku menghadang dan salah satunya adalah Thio. Mereka menyeretku ke kebun singkong dan mendorong sehingga aku jatuh tersungkur. Tiga orang dari mereka memegang tangan dan kakiku agar tidak kabur, sedangkan Thio mendekatiku dengan seringai menyebalkan.

Thio mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya, dan sesuatu itu adalah lipstik. Dengan kasar, Thio memoleskan lipstik itu ke mulut dan wajahku seraya tertawa terbahak-bahak bersama ketiga temannya. Perasaanku waktu ittu campur aduk, sakit hati, malu, dan sedih, entah apa maksud mereka mengerjaiku sedemikian kejamnya. Setelah puas mengerjaiku, Thio dan teman-temannya meninggalkanku yang tergolek lemah tak berdaya.

“Mati lo bencong...!!!” itulah kata terakhir Thio sebelum pergi meninggalkanku. Seringai mereka berempat sungguh membuat hatiku terbakar.

Susah payah aku berdiri dan berjalan pulang, sembari berusaha membersihkan wajahku yang tercoret lipstik menggunakan robekan kertas. Meski berupaya untuk tidak menangis, air mataku tetap saja menetes tak terbendung. Namun tiba-tiba aku sadar tak boleh menangis, seorang pria tak boleh menangis. Kuseka langsung air mata itu dan pastikan kalau Mama tak tau apa yang baru saja terjadi. Memang benar, sampai saat ini Mama tak pernah tau kalau aku pernah dihina sedemikian rupa meski mungkin Mama dan Papa menyadari bahwa aku berbeda.

“Kring.....kring....” ponselku berbunyi. Ringtonenya sengaja di stel seperti itu karena bosan dengan suara kontenporer jaman sekarang. Dari balik ponselku terdengar sara merdu serta tulus Nuri.

“Sat, temenin ke toko buku dong!, bosan di rumah”

“Ya udah, ntar jam 7 abis magrib gue ke kos lu” jawabku seadanya.

Nuri memang teman yang baik sehingga berada di sampingnya akan terasa nyaman. Kedekatanku dengan Nuri membuat mahasiswa-mahasiswa di kampus kami menjadi iri. Bagaimana tidak? Nuri yang cantik, ramah, dan pintar ini hanya mau jalan dengan Satria yang mereka anggap ‘banci’.

Benar saja, jam 7 malam aku datang, Nuri telah siap berangkat. Dengan senyuman Nuri menyambutku. Namun seketika mau berangkat, Nuri mengubah rencananya.

“Sat, kita ga jadi ke toko buku. Bakan bakso aja ya...?”

“Lho... kok?” aku heran.

“ga pa-pa sih, tiba-tiba lapar” jawabnya renyah.

“Ya udah!” sambil kami berlalu menuju pondokan bakso yang hanya beberapa meter dari kos-kosan Nuri.

Jam 7 malam memang saat yang pas buat makan bakso, makanya pondokan bakso itu selalu penuh di saat-saat seperti itu. Kami berdua harus menunggu sampai ada nneja kosong, untung saja tak berapa lama kami menunggu, ada meja kosong lantaran ditinggalkan pelanggan. Berada di samping Nuri memang sangat menyenangkan, namun hal itu tidak serta merta membuatku lupa akan kejadian tadi siang.

“Nuri, gue banci ya?” tanyaku cuek sambil mengunyah.

Nuri yang tadi asyik menguyah tiba-tiba tersedak dan buru-buru meminum teh botolnya. Dia menatapku sendu dan tersenyum miris. Nuri tiba-tiba menggenggam tanganku menenangkan.

“Satria... kamu tu cowok sejati buat aku. Ga peduli apa kata Thio atau orang-orang lainnya, mau kamu banci atau apa, berada di samping kamu merupakan hal yang terindah buat aku”. Jawab Nuri sambil menatap dalam ke mataku.

Kamu??? Sejak kapan kata ‘Lo’ berubah menjadi sebutan ‘kamu’. Teurs terang kata-kata itu membuatku sedikit kuat. Tangan Nuri yang lembut dan hangat seakan mentransferkan sedikit keteguhan hati dari diri Nuri yang dialirkan malelui aliran darah kami. Diam sejenak, kemudian Nuri melanjutkan.

“Kamu tau Sat? Kamu adalah cowok terbaik yang pernah aku temui. Kamu perlu tau betapa aku sayang sama kamu, ga ada cowok lain yang bisa ngerti aku apa adanya selain kamu”

Hah??? Apa maksudnya semua itu? Apakah ini suatu pernyataan cinta? Atau apa? Tapi yang jelas, selama ini hubungan kami hanya sebuah persahabatan, tak lebih. Karena aku memang tak pernah jatuh cinta pada Nuri atau lebih tepatnya aku tak pernah menyukai yang namanya wanita. Sebaliknya dulu waktu SMA aku pernah mengagumi teman sekelasku yang bernama Wahyu. Perawakannya tinggi, kulit sawo matang, dan berambut ikal. Namun rasa itu terus kulawan sampai kami lulu SMA dan tak tau dimana Wahyu sekarang. Ternyata aku memang ‘banci’!.

“Gue sayang sama lo. Lo satu-satunya sahabat gue yang bisa ngertiin gue. Tapi huubungan ini jangan sampai dirusak oleh yang namanya asmara, oleh rasa cinta lo yang ga mungkin bisa berbalas”

Mendengar itu Nuri hanya diam dan tertunduk. Dia tak lagi menatapku dan baru ku tau, kristal-kristal bening telah mengalir di pipi mulusnya, namun buru-buru kuseka memakai tissue.

“Sat....”

“Nuri, sekarang gue sadar ternyata gue emang beda, dan itulah takdir. Gue harap lo ga kecewa dan ninggalin gue” aku meminta dengan sepenuh hati berharap Nuri tetap akan menemani hari-hari sibuk dan santaiku. Namun kalaupun Nuri tak lagi sudi membuatku nyaman, tak dapa juga aku berbuat apa-apa lagi.

“Sat..., kamu manusia terbaik yang pernah aku temui. Aku yakin suatu hari nanti kamu pasti berubah. Tapi kini kamu tetap yang terbaik. Ga mungkin aku bakal ninggalin kamu hanya karena cintaku tak berbals” Nuri menguatkan hatiku.

“Makasih ya...” aku berbisik, menahan tangis. Begitu tulus hati Nuri, betapa besar jiwanya menghadapi sikapku yang terkesan ‘blagu’. Tapi memang itulah aku. Aku adalah satria. Mahasiswa seni rupa yang hidupnya dipersembahkan untuk balas budi terhadap orang tua dan persahabatan.

Aku akan tetap berjuang untuk membuat Mama Papa bangga dan juga Nuri dengan prestasi akademik di kampus. Tak tau apa jadinya hidupku nanti, tapi yang jelas saat ini aku akan melakukan yang terbaik, karena ada tiga orang penting yang selalu menginspirasi dan memberikan segenap kasih sayang terhadapkua, Mama, Papa, dan Nuri, terima kasih atas segalanya.

2 komentar:

  1. Kisah satria selanjutnya gimana Jenny...?

    BalasHapus
  2. BERAKHIR DISITU SAJA... terserah pembaca mau lanjutannya gimana.. hehehe

    BalasHapus