Hari itu, suatu sore seorang pria dengan sebuah buku kecil ditangannya, berjalan diantara pohon pinus. Tiba-tiba saja ia meneriakkan bait-bait puisi yang baru ditulisnya dibuku kecil itu.
Dia berkata, “dengarlah hai angin lalu…! Siapa lagi yang sudi memandangku? Seorang penyair yang tiada peduli lagi akan derajatnya. Buat apa lagi harus ku berusaha menggapai langit yang terlalu tinggi tuk ku jangkau. Buat apa ku harus mencoba menyelami lautan yang begitu dangkal untuk kurenangi?”.
Kemudian pria itu terdiam, dan datanglah sesaat kemudian seorang gadi kecil menghampirinya. “Ada apa denganmu?” sang gadis bertanya sambil mengambil buku si pria dan membacanya.
“Dengarlah hai gadis kecil, aku seorang penyair, pria kaya yang rela mati untuk seorang gadis miskin. Tapi gadis itu telah pergi. Dia mati dengan berjuta benci karena melihatku bersenang-senang di dalam istanaku”, pria itu menangis tersedu.
Sang gadia mengangguk dan terus membaca bait demi bait syair-syair yang ditulis pria penyair memderita itu. “Jadi kau ingin menggapai langit sementara kau juga ingin menyelami lautan? Buat apa? Tak perlu langit itu kau jangkau kalau kau memang tak punya sayap untuk terbang. Jangan juga kau salami lautan jika memang kau tak bisa berenang. Lebih bait kau pandangi saja bintang-bintang dan ucapkan harapanmu”
Gadis itu kemudia pergi tanpa mengembalikan buku sang pujangga, namun dengan sengaja meninggalkan sehelai bulu angsa putih, sama seperti yang pernah pria itu berikan kepada si gadis miskin sewaktu mereka masih berda di lingkaran cinta membara.
Pria itu masih duduk menunggu langit dipenuhi bintang, tapi saying bintang itu tak muncul, langit gelap terselubung awan gelap. Dibawah gerimis hujan ia menangis dan memotong nadinya menggunaka pisau kecil yang biasa digunakan untuk meraut pensilnya. “Inilah tebusannya gadisku! Aku tak pernah peduli dengan derajatku, tapi kau tak mau tau. Tunggu aku disana, kasihku!”
Demikianlah, seorang pujangga mati ditengah belantara pinus. Tak seorangpun tau, ada goresan luka dibalik rongga jiwanya. Dan pujangga yang memotong nadinya yang telah terlanjur putus. Tak seorangpu tau, kecuali seorang gadis kecil yang tak lain adalah jelmaan gadis miskin yang selama ini dicintainya. Melirik tajam menatap jasad bersimbah darah, menunggu rohnya mendekat, agar mereka bisa menyatu, dan terbang membangun sebuah istana di sebuah bintang kejora.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar