Minggu, 28 Oktober 2012

Jelajah Delapan Pulau Batu, Sebuah Kisah Lainnya dari Negri Laskar Pelangi

Day II Sudah berapa lama coba, gw baru posting note tentang Jalajah Belitong Part II ini. Tapi ya sudahlah ya, dari tidak sama sekali, mending telat. Ukkeeeeeyyyy yu mareee capcus pantengin cerita gw dan kedua gachit yang ikut dalam #nekadtraveller ini. Pagi yang masih ngantuk, setelah semalaman ngga bisa tidur. Kenapa coba ngga bisa tidur, si gachit sialan yang bernama simenk itu ngidupin lampu kamar, terang benderang teat di mata gw. Padahal awalnya udah tertidur lelap karena si gachit satu lagi, Tupai udah matiin lampu sebelum tidur. Tengah malam, si cimenk bangun, katanya takut kalau lampu dimatiin. Gellaaaa… tampang Rambo tapi penakut. Tapi, dari pada si cimenk ngigo dan gw makin ngga bisa tidur, ya kita turutin aje. Alhasil, bangun subuh dengna kondisi mata maish mengantuk. Janjian sama Pak Budi tu jam 8 udah berangkat. Jam tujuh beres mandi, waktu sarapan cumin satu jam. Dan Pak Budi itu orangnya OnTime banget. Oke,jam 8 kita bener-bener udah berangkat. Pak Budi udah nungguin kita kelar sarapan ternyata. Gw bawa tas yang isinya baju ganti, karena dalam jadwalnya ada delapan pulau yang harus dikunjungi dan mandi2 trus snorkling juga. Di bagasi mobil ternyata sudah tersedia tiga paket perlengkapan snorkeling. Tiga kotak makanan, dan minuman, luar biasa ajeeeeebbbb… serasa dunia milik bertiga, eh berempat deh sama Pak Budi. Perjalanan menyusuri jalanan lengang di Belitung terasa menyebangkan. Karena ngga ada macet, ngga ada kendaraan lain, ngga ada lampu merah, dan ngga ada polusi. Yang paling penting, di pinggir jalan itu terhampar pantai yang bersih dan berpasir putih. Gw ngebayangin, pantai pinggir jalan aja bersih gitu, apalagi dipulau-pulau yang bakal kita kunjungin. Gw duduk didepan, nemenin Pak Budi ngobrol, si cimenk asyik dengan rokoknya, dan si Tupai? Entah apa yang dilakukannya di jok tengah mobil. Sejam perjalanan, kami tiba di pantai yang bisa dianggap sebagai pelabuhan. Banyak boat-boat yang telah menunggu penumpang disana. Dan tentu saja boat-boat itu sudah dipesan oleh agen wisata. Yang menakjubkannya, tidak ada ombak sedikit pun di pantai yang rame dan berpasir putih itu. Pak Budi bilang, memang di Belitung pantainya tidak berombak, paling cumin riak-riak kecil. Wow amazing,,,, ini memang surga dunia. Hebatnya lagi, itu boat yang bisa diisi sama 20 orang, cumin buat kami berempat cuuuyyy… Gw, Cimenk, Tupai, dan Pak Budi, plus yang nyetir. Gw liat boat sebelah, itu padat ibu-ibu rempong yang udah pake pelampung. Kita sih masih nyante, sambil nyandang tas kamera dan naik ke boat. Sepanjabng perjalanan di boat, hamparan laut yang airnya hijau kebiruan. Angin pantai berbau khas dan cuaca yang sangat bersahabat, semakin membuat raga terasa berada di dunia lain. Sambil bercengkrama dnegan pak Budi, kita makan anggur, minum aqua, dan sesekali berfoto. Pak Budi ini oke juga lho, dia ngambilin bintang laut buat atribut kita foto, oke punya deh Pak Budi ini. Memang guide idaman… loh? Ada delapan pulau yang harus dikunjungi, pulau lenkuas, pulau babi, pulau burung, pulau kepayang, pulau kelayang, dan gw lupa nama pulau yang lainnya. yang pertama itu pulau lengkuas. Merapat di bibir pantai, ada dua boat yang sudah lebih dulu datang. Pulau itu agak ramai dibuatnya. Pulau berpasir putih ddan tidak berombak, tersusun batu-batu raksasa yang bisa dinaiki. Pak Budi bilang batu-batu itu tidak licin, jadi ngga usdah khawatir bakal jatoh. Ternyata benar, batu-batu itu bisa dinaiki. Tiak licin, dan kalau sanggup sih bisa aja manjat sampai batu tertinggi seukuran gedung berlantai dua itu. Tapi ngga ada yang berani, termasuk gw, cimenk dan Tupai. Bentaran disitu, kita cao lagi ke bat, mengunjungi pualu berikutnya. Gw lupa pulau apa, yang jelas itu masih berpasir putih dan tidak berombak. Batu-batu besar juga masih terhampar. Berbeda dengan pulau pertama, di pulau yang ini hanya kami berempat isinya. Pak Budi bilang memang sengaja seperti itu. Boat yang satu pergi dulu, baru dating boat satunya lagi, katanya supaya lebih privasi. Benar saja, cumin kiat bertiga yang mandi-mansi disana. Puaaaasssss…. Cuman setengah jaman disana, kami lanjutkan perjalanan lagi. Kamli ini ke pulau babi. Dipulau inilah agenda snorkeling kami. Karena, menurut Pak Budi, pemandangan bawah lautnya bagus. Banyak ikan hias dan tumbuhan beraneka warna. Oke, snorkeling vest udah dipasang, kita lompat ke dalam laut. Memang pemandangan yang luar biasa. Apalagi dari atas boat Pak Budi ngelempar makanan buat ikan, jadinya ikan-ikan kecil beraneka warna itu langsung menggerubungi makanan yang sengaja dilempar didekat kami. Sayang sungguh sayang, kita ngga bawa kamera untuk didalam air. Si Cimenk sih, katanya mau beli. Jadinya ngga ada dokumentasi kita lagi snorkeling. Puas snorkeling disana, kami lanjutkan perjalan ke pulau-pulau berikutnya. Hari sudah menjelang siang, dan perut sudah terasa lapar. Pak Budi nyatanya sudah tau jadwal makan siang. Dia mengajak kami makan dulu, duduk dibawah sebuah pohon kayu yang tak terlau tinggi. Ada empat kotak makanan. Satu kotak isinya nasi putih, kotak satunya lagi berisi kepiting asam manis, kotak ketiga berisi cumi-cumi saos nanas,, maknyoossss… dan kotak yang keempat itu isinya cake pencuci mulut. Apa lagi coba yang kuranng… empat kotak besar makanan, hanya untuk kami bertiga. Sementara Pak Budi makannya ngga gabung sama kami, karena udah ada makanan tersendiri buat dia. Memang luar biasa. Udah jam satuan deh kayaknya, kita lanjutkan perjalanan ke pulau…. Apa ya namanya. Yang jelas disana itu ada menara peang dunia II, menaranya ada enampuluh lantai, dan kita boleh naik ke menara itu, gratis. Tapiiiii…. Lu piker ngga ngap naikin anak tangga enam puluh lantai. Capeeee tau!!!!! Ngga ada lift disono. Akhirnya, karena pertimbangan kemampuan untuk bertahan hidup, makanya kita ngga jadi naik ke menara itu. padahal, dari menara itu bisa terlihat seantero Belitung lhoo.. hiks..hiks..hiks.. Lama kami disana, dan itu adalah pulau terakhir yang kami kunjungi. Jam dua lewat nih, dan kami baru nyadar, bahwa dalam paket 3 hari 2 malam itu, ngga ada kunjungan ke sekolah Laskar Pelangi. Yah,,, sayang dong. Ke Belitung iitu harus ke sekolah itu. Akhirnya dengan segala kemurahan hati Pak Budi, dia mau ngantar kami ke sekolah Laskar Pelangi yang berada di Belitung Timur itu. Tapi, jalan kesanya dua jaman. Jadi kalau berangkat jam dua, nyampe sana jam empat. Pak Budi aja optimis bisa tekejar, masak kita yang pengen ke sana ngga yakin? Sebelum berangkat, ada persyaratan yang diberikan Pak Budi, yaitu ngga boleh ngasaih tau bosnya kalau kita melenceng dari jadwal sebenarnya. Dan karena bensin memang ngga disediakan untuk jalan ke Beltim, kita sepakat paatungan. Buru-buru balik ke dermaga, ganti baju kita langsung ngebut menuju Beltim. Jalanan yang mulus dan sepi memudahkan Pak Budi untuk ngebut. 100 km perjam, gellaaaa… gw yang duduk didepan sempat jantungan. Nah di Cimenk n Tupai malah enak-enakan tu=idur di jok tengah. Oke..oke..oke demi sekolahan Ikal. Tak disangka, perjalanan berjasil ditempuh tak lebih dari 1,5 jam saja. Ngebut…but…but… Sekolah itu, saksi bahwa pernah ada yang namanya LAskar Pelangi. Kami berhenti digerbangnya, sementara jarak antara gebang kayu dan sekolahnya itu ada sekitar 50 meter. Sekolah itu terletak di atas bukit pasis, dan dengan berlari kecil kami mendekati sekolah yang hany terdiri dari dua kelas tersebut. Masih alami, berdinding kayu, dan papan tulis kapur. Kursi dan meja panjang. Kami diizinkan berfoto disana, gw sebagai gurunya, dan cimenk n TUpai sebagai muridnya. Memang sekolah tersebut saat ini tidak lagi dipakai sebagai tempat belajar, tapi dijadikan museum. Disinilan kami mengabadikan kunjungan spektakuler kami ke sebuah negri syurga, berpose dibawah plang sekolah bertuliskan, SD Muhammadiyah Gantong, Belitong Timur. Benar-benar pengalaman yang menakjubkan. Tak sampai setengah jam disana, kami harus segeraa kembali. Karena menurut Pak Budi, kita harus menyaksikan matahari terbenam di pantai Belitung. Disanalah tempat berkumpulnya masyarakat Belitung, muda-mudi, keluargaa, dan anak-anak. Cus, jam 4 lewat kami kembali ke mobil, dan ngebut dari sekolahan Ikal itu. Tapi, meskipun sudah sore, Pak Budi masih sempat-sempatnya ngajak kami ke jembatan tempat si Ikal ketemu Buaya Outih. Memang Pak Budi seorang guide yang top markotop deh. Duduk-duduk bentar di jembatan yag udah direnofasi itu, laju kita lanjut ngebut kembali ke Belitung. Tanpa ampun, Pak Budi nginjak pedal gas. Untuk ngga ada macet. Tapi di usat kota yang ad tugu meteornya itu emang sedikit macet. Kendaraan-kendaraan mengaraj ke bibir pantai untuk menyaksikan matahari terbenam. Satu jam perjalan tembus, namun… lagi-lagi mungkin belum rejeki ya, meskipun cuaca cerah, pas mau terbenam, mataharinya ketutup awan. “pas pula di mataharinya,” kata Pak Budi. Hadu-hadu apes… tapi luamayanlah adrenalin terpacu ketika nemenin pak Budi nyetir. Oke, tak lengkap rasanya ke Babel kalau ngga nyobain mie Bangka. Emang udah ada sih di jadwal, kalau setelah sunset, itu makan mie Bangka. Kita berenti di kios mie Bangka paling ngetop di Belitung. Dan ternyaat tempat sudha dipesankan buat kami. Oiya ada khas lain di Belitung, yaitu jeruk panas. Jeruknya bukan dari jeruk manis, atau jeruk nipis. Tapi jeruk yang cumin ada di Belitung. Syurga dunia banget… mienya enak.. sekilas bentuknya kayak mie celor sih, tapi rasanya beda. Hari berangsur gelap, udah jam 7 lewat juga. Ternyata kuliner kami belum berakhir sampai disitu. “itu kan cemilan, sekarangn makan malam,” ujar Pak Budi. Ya ampyyuuuunnn… angsung gitu makannya? Baru ini perut diisi sama mie Bangka. Yaudah deh nurut aja, wong itu udah ada di jadwal. Kali ini kami ngga makan sea food lagi. Pilihannya adalah makan Sunda. Dari kejauahn restoran yang akan kami kunjungi itu sudah dipadati pengunjung. Mobil-mobil terparkir rapat, mereka yang ingin makan ditempat yang katanya terkenal itu. Gw udah khawatir aja kalau ngga da tempat lagi buat kami, atau harus nunggu oraang-orang kelar makan dulu baru kami dapat tempat duduk. Ternyata semua dugaan itu salah. Disalah satu meja tertulis “Telah Dipesan” dan itulah meja kami. Pa Budi telah pesankan meja buat kami. Makanannya adalah, sop, ayam bakar, nasi, lalapan, dan tentu saja jeruk panas. Makanannya keliatannya enak, tapi ini perut udah kenyang. Tapi sayang juga kalau ngga dimakan. Akhirnya gw, Chimenk dan Tupai makan makana itu tanpa nasi. Maknyoosss!!!! Top Markotop!!! Dan lagi-lagi Pak Budi ngga mau gabung makan bareng kami. You know guys, makan malam itu bukanlah akhir dari perjalanan kami malam itu. Karena Pak Budi mengajak kami ke sentra oleh-oleh dulu sebelum kembali ke Hotel. “TAkutnya besok ngga sempat,” katanya. Lagi pula, besoknya kami kan harus balik, dan Tupai itu pake pesawat pagi jam 8, kasian ya, kalau gw n Chimenk sih pesawat siang jam 11. Jadi bisa agak santai. Yaudah perjalan diakhiri dengan beli oleh-oleh buat orang-orang di jambi. Setelah itu kembali ke Hotel. Hari kedua yang sangat…amat menyenangkan. To be continued…

Senin, 01 Oktober 2012

Jelajah Belitong, Seroja di Mindanao 007 Day 1, Pagi itu, tanggal 1 Juni di tahun 2012, hujan jatuh mengguyur bumi tanpa ampun. Sedari pukul 4 subuh, udara dingin menusuk sampe ke tulang. Dari gelap, hingga berangsunr terang, hujan enggan berhenti. Hari itu, adalah waktu yang ditung-tunggu, keberangkatan ke Belitung, gw dengan Cimenk yang udah nginep di rumah gw bakal terbang ke Belitung dengan maskapai Sriwijaya. Tidak ada pesawat yang langsung terbang ke Belitung, kita mesti transit di Jakarta dulu. Dari jadwal penerbangan Jambi Jakarta adalah pukul 9.35, dan dari Jakarta ke Tanjung Pandan Belitung pukul 14.30. bakal transit lama di Soetta. Sementara di Tupai harus pakai penerbangan subuh dari Bandara Internasional Minangkabau Padang lantaran cuman itu jadwal penerbangan yang pas. Menurut gw perjalanan liburan ini oenuh tantangan, banyak masalaha yang terjadi sebelum keberangkatan. Bahkan, beberapa jam sebelum keberangkatan pun ada aja masalah. Pesawat jam 9.35, berarti gw dan cimenk harus nyampe Bandara jam 8.35 buat check in. tapi mau berangkat ke Bandara, hujan semakin deras, enggan untuk berhenti, dang gw hampir putus asa tidak bisa ke bandara atau bahkan ketinggalan pesawat. Bagaimana tidak, untuk ke Bandara Sultan Thaha Jambi itu biar cepet gw harus pake jasa ojek. Di kediaman gw tidak dilewati angkot, n kalo mesen tavi, lama banget baru nyampe. Dan disini tuh, kalau hujan, tukang ojek pada males narik. Setelah lama menunggu, jam setengah 9 baru ada satu ojek yang muncul, padahal kita butuh 2 ojek. Ya udah gw nyuruh si Cimenk ke BAndara duluan, itupun ditengah hujan yang berangsur reda menjadi gerimis. Jadilah tinggal gw sendirian nungguin ojek di depan rumah gw. Setengah jam menunggu, belum juga ada ojek. Gw putus asa, sementara si Cimenk udah Check In duluan di BAndara. Ini malapetaka, jangan sampe gw batal berangkat gegara hujan. Udah jam 8.50, hujan kembali semakin deras. Gw semakin putus ada, ngga mungkin ada ojek. Tapi Tuhan memang baik, si abang tukang ojek yang nganter Cimenk tadi balik lagi, dan jemput gw. Ditengah hujan deras, gw basah-basahan ke Bandara. Sepatu dan celana gunung gw yang berwarna hijau army udah basah terkena jipratan air hujan. Dan jam 9.10 gw sampe Bandara, dan si abang ojek minta ongkos ojek Rp 20 ribu, dua kali lipat dari biasanya tapi gpp, kalau ga ada dia gw ngga bisa ke bandara. Gw buru-buru check in dan nunggu keberangkatan. Tak ternilai rasanya, akhirnya gw dan si Cimenk masuk ke dalam pesawat pukul 9.45, yaaaa Akhirnya berangkat oukul 10.00. Dengan kondisi celana dan sepatu basah, tapi ngga peduli, yang penting berangkat. Menggigil di dalam pesawat, gegara AC plus kostum yang basah kerena hujan-hujanan ke Bandara. Sekitar pukul 11.00 siang nyampe di Soetta, lapor transit, daaaaannn gw sama cimenk harus menunggu hingga pukul 14.30. lama…lama…lamaa… kalau berangkat sesuai jadwal, kita mesti nunggu tak kurang dari 3,5 jam di Soetta. Eeeeettdaaahhh… dan ternyata Sriwijaya DELAY mamen. Pesawat kita katanya delay sampe 15.00. gw sanksi, pasti lebih dari itu. Sementara dari percakapan multiple chat dengan si Tupai, dilaporkan si Tupai ini udah mendarat di Bandara Hanadjoedin Tanjung Pandan. Kampret… disaat gw dan Cimenk baru nyampe Soetta, si Tupai udah nyampe Tanjung Pandan dan dia udah di Jemput sama supir dan tour guide kita si Pak Budi. Sembari gw menunggu, si Tupai ternyata udah diajak lunch aja sama Pak Budi, karena emang itu sudah termasuk ke dalam biaya paket wisata kita. Dan yang lebih bikin gedeg juga, adalah menu lunch nya. Si kampret Tupai sengaja ngirim foto kepiting asam manis plus cumi goreng tepung yang sebenernya disediain buat kami bertiga. Kampreeeettt… si Tupai ngabisinnya sendirian, sementara gw dan Cimenk masih menunggu selama beberapa jam lagi. Pukul 15.10 akhirnya kami masuk pesawat, alhasil baru terbang jam 15.30 lantara antri nungguin 5 pesawat take off. Alamat nyampe Tanjung Pandan jam 5an. Banyak waktu terbuang di bandara, dan itu sangat menyebalkan. Sementara si Tupai udah diajakin Pak Budi makan seafood, trus istirahat di Hotel. Tapi baiklah, Tuhan menyayangi ornag-orang yang sabar. (sok bijak). Welcome to Belitong, Pukul 16.40 akhirnya pesawat Sriwijaya yang gw dan cimenk tumpangi mendarat di Bandara Hanadjoedin. Aroma udara di TAnjung Pandan Belitong emang beda jauh dengan Jambi. Udaranya bersih, dan baru saja disiram hujan. Terlihat dari kondisi bandara yang lembab. Kami berjalan kaki saja dari pesawat ke pintu kedatangan. Di luar sana, telah menunggu si Tupai dan Pak Budi. Diparkiran telah menunggu sebuah APV Putih yang siap melayani kami selama tiga hari di Belitong. Dan sepertinya Pak BUdi sangat memahami keinginan kami untuk segera menjelajah Belitong. Pak Budi adalah pribadi yang suka bercerita. Gw duduk di depan, dan kedua kunyuk si Tupai dan Cimenk duduk di belakang. Alhasil, sepanjang perjalanan, gw dan Pak BUdi banyak bercerita. Ternyata, Tanjung Pandan adalah sebuah kota yang masih sepi. Di sepanjang perjalan, hanya ada satu atau dua mobil yang lewat. Kemudian ada beberapa motor juga. Selebihnya adalah jalanan aspal mulus dan sepi, sehingga seberapapun kencang Pak Budi bawa mobil, ngga terasa. Dari cerita Pak Budi, di Belitung tidak ada angkutan umum. Semua masyarakat punya motor sendiri, namun tidak ada mobil. Makanya jalanan kosong, dan ngga ada polusi. Jalananpun tidak ada bolong-bolongnya. Beda jauh banget sama Jambi. Fiuuuhhh… pokoknya cucok banget buat liburan dan menenangkan diri. Destinasi pertama tanpa singgah ke hotel dulu adalah Tebing Tinggi. Disinilah lokasi syuting film Laskar Pelangi. Di batu-batu raksasa yang seakan memberi makna kebesaran Tuhan. Keluar dari mobil, gw bersama Tupai dan cimenk langsung takjub dengan batu-batu yang tingginya Subhanallah itu. Bahkan, batu-batu itu seperti sengaja disusun untuk memanjakan mata kami ini. Di depan batu itu, terpampang sebuah prasasti yang bertuliskan “lokasi syuting film Laskar Pelangi” Kami diajak Pak Budi masuk ke dalam batu itu, berjalan menyusuri rongga susunan batu, dan akhirnya kami tembus ke bibir pantai. Pasinya pusih, dan airnya biru. Tidak ada ombak, yang ada hanya riak air yang sesekali menyapu tumpukan batu yang sama sekali tidak licin itu. Oke, kamera langsung siap. Dua kamera sekaligus kita serahkan ke Pak Budi. Dan Pak Budi, secara dia udah bertahun-tahun jadi tour guide, dia hapal dong ya jalan-jalan mana yang aman untuk dilalui. Dan salutnya, Pak Budi adalah seorang fotografer yang handal. Dia tau bagaimana pose yang pas untuk sebuah foto yang bagus. Bahkan ada sebuah batu yang yang bisa seoalh-olah kita angkat. Kami menaiki batru yang terletak dibibir pantai itu, sampai ke bagian yang paling tinggi. Berfoto, nyebur, tereak, dan apapun yang bikin hepi. Pak Budi mungkin mikir, ini orang kesambet kali ya? Tapi masa bodo, yang penting kita hepi. Selain kami, ada beberapa orang lagi yang dating ke lokasi syuting Laskar Pelangi itu. Mereka tak lain dan tak buan adalah apenumang pesawat yang bareng gw dan Cimenk tadi. Nampaknya, semua tour guide harus membawa wisatawannya yang baru turun dari pesawat ke Lokasi Tebing Tinggi ini. “KArena baru sampai, kita ngambil SK dulu,” cetus Pak Budi sambil mengambil foro kami bertiga di prasasti Laskar Pelangi. Sampe matahari terbenam, kami memanjakan mata di satu lokasi itu. Dan destinasi selanjutnya adalah makan malam. APV Putih itu melaju lagi dengan kecepatan penuh. Udara lembab Belitong terasa wangi menusuk hidung. Akhirnya kami tiba di sebuah restoran di pinggir pantai. Disini banyak juga terlihat wisatawan singgah. Ada yang sedang makan dan sibuk mengutak-atik kameranya. Ada juga yang sibuk bercengkrama dengan rekannya. Meja untuk kami sudah dipesan ternyata, dan tanpa diminta, makanan yang terlihat menggiurkanpun dating. Kepiting Asam mani, Ikan laut yang gw ngga tau namanya apa, cumi tepung, cah kangkung, dan semangkok nasi. Tak lupa, minuman khas Belitung air jeruk yang tak sama denagn yang biasa gw minum. Benar-benar luar biasa, sajian makanan yang lezat di lokasi yang eksotis. Hari sudah berangsur malam, dan saatnya kembali menuju Hotel. Sayangnya hujan kembali mengguyur tanah Belitong. Sungguh lebat, sampai-samapai kami khawatir esok hari cuaca tidak bersahabat untuk jelajah pulau. Namun, dengan tenang Pak Budi menghibur kami. “Kalau malamnya hujan, pagi hingga sore biasanya cerah,” katanya. Akhirnya kami tiba di sebuah hotel yang tidak begitu besar. Hotel tanpa bintang, namun cukup nyaman. Karena menurut gw, TUpai dan Cimenk, hotel tidak begitu penting, karena cuman buat tidur doing. Namun yang kami dapat sudah lebih dari cukup. Sebuah kamar hotel dengan dua tempat tidur dan 1 tempat tidur extra karena kami bertiga. Didalamnya ada sebuah toilet, tv, lemari, dan AC. Kami kira ini lebih dari cukup. Jadilah, untuk dua malam kedepan, kami menjadi penghuni Hotel Mindanao, Kamar 007. To be Continued…