Senin, 01 Oktober 2012

Jelajah Belitong, Seroja di Mindanao 007 Day 1, Pagi itu, tanggal 1 Juni di tahun 2012, hujan jatuh mengguyur bumi tanpa ampun. Sedari pukul 4 subuh, udara dingin menusuk sampe ke tulang. Dari gelap, hingga berangsunr terang, hujan enggan berhenti. Hari itu, adalah waktu yang ditung-tunggu, keberangkatan ke Belitung, gw dengan Cimenk yang udah nginep di rumah gw bakal terbang ke Belitung dengan maskapai Sriwijaya. Tidak ada pesawat yang langsung terbang ke Belitung, kita mesti transit di Jakarta dulu. Dari jadwal penerbangan Jambi Jakarta adalah pukul 9.35, dan dari Jakarta ke Tanjung Pandan Belitung pukul 14.30. bakal transit lama di Soetta. Sementara di Tupai harus pakai penerbangan subuh dari Bandara Internasional Minangkabau Padang lantaran cuman itu jadwal penerbangan yang pas. Menurut gw perjalanan liburan ini oenuh tantangan, banyak masalaha yang terjadi sebelum keberangkatan. Bahkan, beberapa jam sebelum keberangkatan pun ada aja masalah. Pesawat jam 9.35, berarti gw dan cimenk harus nyampe Bandara jam 8.35 buat check in. tapi mau berangkat ke Bandara, hujan semakin deras, enggan untuk berhenti, dang gw hampir putus asa tidak bisa ke bandara atau bahkan ketinggalan pesawat. Bagaimana tidak, untuk ke Bandara Sultan Thaha Jambi itu biar cepet gw harus pake jasa ojek. Di kediaman gw tidak dilewati angkot, n kalo mesen tavi, lama banget baru nyampe. Dan disini tuh, kalau hujan, tukang ojek pada males narik. Setelah lama menunggu, jam setengah 9 baru ada satu ojek yang muncul, padahal kita butuh 2 ojek. Ya udah gw nyuruh si Cimenk ke BAndara duluan, itupun ditengah hujan yang berangsur reda menjadi gerimis. Jadilah tinggal gw sendirian nungguin ojek di depan rumah gw. Setengah jam menunggu, belum juga ada ojek. Gw putus asa, sementara si Cimenk udah Check In duluan di BAndara. Ini malapetaka, jangan sampe gw batal berangkat gegara hujan. Udah jam 8.50, hujan kembali semakin deras. Gw semakin putus ada, ngga mungkin ada ojek. Tapi Tuhan memang baik, si abang tukang ojek yang nganter Cimenk tadi balik lagi, dan jemput gw. Ditengah hujan deras, gw basah-basahan ke Bandara. Sepatu dan celana gunung gw yang berwarna hijau army udah basah terkena jipratan air hujan. Dan jam 9.10 gw sampe Bandara, dan si abang ojek minta ongkos ojek Rp 20 ribu, dua kali lipat dari biasanya tapi gpp, kalau ga ada dia gw ngga bisa ke bandara. Gw buru-buru check in dan nunggu keberangkatan. Tak ternilai rasanya, akhirnya gw dan si Cimenk masuk ke dalam pesawat pukul 9.45, yaaaa Akhirnya berangkat oukul 10.00. Dengan kondisi celana dan sepatu basah, tapi ngga peduli, yang penting berangkat. Menggigil di dalam pesawat, gegara AC plus kostum yang basah kerena hujan-hujanan ke Bandara. Sekitar pukul 11.00 siang nyampe di Soetta, lapor transit, daaaaannn gw sama cimenk harus menunggu hingga pukul 14.30. lama…lama…lamaa… kalau berangkat sesuai jadwal, kita mesti nunggu tak kurang dari 3,5 jam di Soetta. Eeeeettdaaahhh… dan ternyata Sriwijaya DELAY mamen. Pesawat kita katanya delay sampe 15.00. gw sanksi, pasti lebih dari itu. Sementara dari percakapan multiple chat dengan si Tupai, dilaporkan si Tupai ini udah mendarat di Bandara Hanadjoedin Tanjung Pandan. Kampret… disaat gw dan Cimenk baru nyampe Soetta, si Tupai udah nyampe Tanjung Pandan dan dia udah di Jemput sama supir dan tour guide kita si Pak Budi. Sembari gw menunggu, si Tupai ternyata udah diajak lunch aja sama Pak Budi, karena emang itu sudah termasuk ke dalam biaya paket wisata kita. Dan yang lebih bikin gedeg juga, adalah menu lunch nya. Si kampret Tupai sengaja ngirim foto kepiting asam manis plus cumi goreng tepung yang sebenernya disediain buat kami bertiga. Kampreeeettt… si Tupai ngabisinnya sendirian, sementara gw dan Cimenk masih menunggu selama beberapa jam lagi. Pukul 15.10 akhirnya kami masuk pesawat, alhasil baru terbang jam 15.30 lantara antri nungguin 5 pesawat take off. Alamat nyampe Tanjung Pandan jam 5an. Banyak waktu terbuang di bandara, dan itu sangat menyebalkan. Sementara si Tupai udah diajakin Pak Budi makan seafood, trus istirahat di Hotel. Tapi baiklah, Tuhan menyayangi ornag-orang yang sabar. (sok bijak). Welcome to Belitong, Pukul 16.40 akhirnya pesawat Sriwijaya yang gw dan cimenk tumpangi mendarat di Bandara Hanadjoedin. Aroma udara di TAnjung Pandan Belitong emang beda jauh dengan Jambi. Udaranya bersih, dan baru saja disiram hujan. Terlihat dari kondisi bandara yang lembab. Kami berjalan kaki saja dari pesawat ke pintu kedatangan. Di luar sana, telah menunggu si Tupai dan Pak Budi. Diparkiran telah menunggu sebuah APV Putih yang siap melayani kami selama tiga hari di Belitong. Dan sepertinya Pak BUdi sangat memahami keinginan kami untuk segera menjelajah Belitong. Pak Budi adalah pribadi yang suka bercerita. Gw duduk di depan, dan kedua kunyuk si Tupai dan Cimenk duduk di belakang. Alhasil, sepanjang perjalanan, gw dan Pak BUdi banyak bercerita. Ternyata, Tanjung Pandan adalah sebuah kota yang masih sepi. Di sepanjang perjalan, hanya ada satu atau dua mobil yang lewat. Kemudian ada beberapa motor juga. Selebihnya adalah jalanan aspal mulus dan sepi, sehingga seberapapun kencang Pak Budi bawa mobil, ngga terasa. Dari cerita Pak Budi, di Belitung tidak ada angkutan umum. Semua masyarakat punya motor sendiri, namun tidak ada mobil. Makanya jalanan kosong, dan ngga ada polusi. Jalananpun tidak ada bolong-bolongnya. Beda jauh banget sama Jambi. Fiuuuhhh… pokoknya cucok banget buat liburan dan menenangkan diri. Destinasi pertama tanpa singgah ke hotel dulu adalah Tebing Tinggi. Disinilah lokasi syuting film Laskar Pelangi. Di batu-batu raksasa yang seakan memberi makna kebesaran Tuhan. Keluar dari mobil, gw bersama Tupai dan cimenk langsung takjub dengan batu-batu yang tingginya Subhanallah itu. Bahkan, batu-batu itu seperti sengaja disusun untuk memanjakan mata kami ini. Di depan batu itu, terpampang sebuah prasasti yang bertuliskan “lokasi syuting film Laskar Pelangi” Kami diajak Pak Budi masuk ke dalam batu itu, berjalan menyusuri rongga susunan batu, dan akhirnya kami tembus ke bibir pantai. Pasinya pusih, dan airnya biru. Tidak ada ombak, yang ada hanya riak air yang sesekali menyapu tumpukan batu yang sama sekali tidak licin itu. Oke, kamera langsung siap. Dua kamera sekaligus kita serahkan ke Pak Budi. Dan Pak Budi, secara dia udah bertahun-tahun jadi tour guide, dia hapal dong ya jalan-jalan mana yang aman untuk dilalui. Dan salutnya, Pak Budi adalah seorang fotografer yang handal. Dia tau bagaimana pose yang pas untuk sebuah foto yang bagus. Bahkan ada sebuah batu yang yang bisa seoalh-olah kita angkat. Kami menaiki batru yang terletak dibibir pantai itu, sampai ke bagian yang paling tinggi. Berfoto, nyebur, tereak, dan apapun yang bikin hepi. Pak Budi mungkin mikir, ini orang kesambet kali ya? Tapi masa bodo, yang penting kita hepi. Selain kami, ada beberapa orang lagi yang dating ke lokasi syuting Laskar Pelangi itu. Mereka tak lain dan tak buan adalah apenumang pesawat yang bareng gw dan Cimenk tadi. Nampaknya, semua tour guide harus membawa wisatawannya yang baru turun dari pesawat ke Lokasi Tebing Tinggi ini. “KArena baru sampai, kita ngambil SK dulu,” cetus Pak Budi sambil mengambil foro kami bertiga di prasasti Laskar Pelangi. Sampe matahari terbenam, kami memanjakan mata di satu lokasi itu. Dan destinasi selanjutnya adalah makan malam. APV Putih itu melaju lagi dengan kecepatan penuh. Udara lembab Belitong terasa wangi menusuk hidung. Akhirnya kami tiba di sebuah restoran di pinggir pantai. Disini banyak juga terlihat wisatawan singgah. Ada yang sedang makan dan sibuk mengutak-atik kameranya. Ada juga yang sibuk bercengkrama dengan rekannya. Meja untuk kami sudah dipesan ternyata, dan tanpa diminta, makanan yang terlihat menggiurkanpun dating. Kepiting Asam mani, Ikan laut yang gw ngga tau namanya apa, cumi tepung, cah kangkung, dan semangkok nasi. Tak lupa, minuman khas Belitung air jeruk yang tak sama denagn yang biasa gw minum. Benar-benar luar biasa, sajian makanan yang lezat di lokasi yang eksotis. Hari sudah berangsur malam, dan saatnya kembali menuju Hotel. Sayangnya hujan kembali mengguyur tanah Belitong. Sungguh lebat, sampai-samapai kami khawatir esok hari cuaca tidak bersahabat untuk jelajah pulau. Namun, dengan tenang Pak Budi menghibur kami. “Kalau malamnya hujan, pagi hingga sore biasanya cerah,” katanya. Akhirnya kami tiba di sebuah hotel yang tidak begitu besar. Hotel tanpa bintang, namun cukup nyaman. Karena menurut gw, TUpai dan Cimenk, hotel tidak begitu penting, karena cuman buat tidur doing. Namun yang kami dapat sudah lebih dari cukup. Sebuah kamar hotel dengan dua tempat tidur dan 1 tempat tidur extra karena kami bertiga. Didalamnya ada sebuah toilet, tv, lemari, dan AC. Kami kira ini lebih dari cukup. Jadilah, untuk dua malam kedepan, kami menjadi penghuni Hotel Mindanao, Kamar 007. To be Continued…

1 komentar:

  1. cerita nya keren kak,
    hehehe

    trnyata untuk mncpai sbuah kesuksesan itu bnyak cobaan ya kak,salud dah ma kakak . . .

    BalasHapus