JAMBI– Kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban tewas kembali terjadi. Kali ini korbannya Syifa Fauziah (21), Mahasiswi Tingkat III, Jurusan Kebidanan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim (STIKBA), Kota Jambi. Lakalantas tabrak lari ini terjadi tadi malam sekitar pukul 19.30 di Simpang Lampu Merah, Telanaipura, Kota Jambi.
Belum tahu pasti kronologis kejadiannya. Namun, diduga, Syifa Fauziah yang mengendarai sepeda motor dengan plat merah BH 5579 GZ melaju dari arah Pasar menuju Telanaipura, Kota Jambi. Tiba-tiba, sebuah truk menyenggol kendaraan yang dikemudikan Syifa Fauziah. Korban langsung kehilangan kendali dan terpental beberapa meter di jalan aspal.
Melihat, korban terkapar truk tersebut melarikan diri. Seorang polisi yang ditemui tadi malam di TKP mengaku sedang melakukan pengejaran. Namun, hingga tadi malam tidak diketahui pasti nomor polisi truk tersebut. “Pada awalnya, warga tidak berani mendekat, maupun mengejar,” kata seorang polisi, Brigadir M Hafiz. Barang bukti, berupa tas, KTP, dan barang lainnya sudah diamankan polisi.
Bersama warga, polisi langsung membawa korban ke Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi dalam kondisi kepala mengucurkan darah. Tadi malam, jenazah korban dijaga adiknya. Sedangkan, orangtua korban masih shock melihat anaknya sudah tak bernyawa lagi. “Ibu korban sangat shock sehingga diantarkan pulang oleh Pak De korban,” ujar seseorang yang ditemui Jambi Independent tadi malam.
Kondisi motor korban tidak mengalami kerusakan serius, hanya sedikit lecet. Ibu korban sendiri adalah seorang guru di SMA 3 Kota Jambi, sedangkan ayahnya seorang pengawas di Muaro Jambi. Namun saat ini, ayah korban sedang menjalani dinas di Bogor. Hal ini dikatakan, teman dekat keluarga korban, Ima. Ima menambahkan, sampai pukul 21.00 tadi malam, ayah korban belum bisa dihubungi.
Ditemui di Luar Kamar Jenazah, Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi beberapa teman dekat korban terlihat shock. Wulan, salah seorang teman SMA korban menyatakan duka yang mendalam terhadap kejadian yang menimpa teman masa kecilnya tersebut. “Padahal dia anak paling tua, satu-satunya cewek pula,” katanya sambil menangis. Wulan megaku sudah melihat kondisi jenazah temannya tersebut. “Gak sanggup saya melihatnya,” ujar Wulan. (enn).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar