Selasa, 05 Februari 2013
Habis...
Tak seoarangpun berencana untuk tak bahagia bukan? Begitu juga dengan aku, tak secuilpun aku berniat untuk bermain-main dengan sesuatu yang namanya kebahagiaan. Bahagia, adalah hal yang gampang-gampang susah untuk diraih, tapi bagiku bahagia itu adalah kata yang sakral. Memang tak pernah aku ingin mempermainkan kebahagiaan, namun yang terjadi, aku bahkan telah bertaruh untuk itu. Dan aku telah kalah dalam pertaruhan hati itu, kalah sekalah-kalahnya. Dan apa itu bahagia, aku tak lagi mengenalnya.
"Ya, kalau itu yang terbaik buatmu," begitu pesan yang ditulisnya melalui layanan Blackberry messanger. Bukan tanpa alasan dia menulis itu, tapi karena aku yang memintanya memutuskan arah hubungan kami. Ya, kami putus setelah bertengkaran atas masalah yang aku sendiri tak tau. Lucu memang, ini semua karena persoalan cinta. Aku sebenarnya tidak percaya pada cinta. Tapi dia, yang baru saja mengakhiri hubungan kami ini yang membuat aku bahagia, gila, dan sakit karena cinta.
Hari sebelumnya, Selasa 18 September 2012, pukul 14.30, seperti biasa sehabis menunaikan tugas dan beban kerja kami masing-masing di lapangan, Peter, begitu dia biasa kupanggil mengetok pintu rumahku. "Ngantuk, mau numpang tidur," begitu katanya. Panggilan itu adalah panggilan khususku kepadanya. Dan dia memanggilku MJ, seolah-olah kami adalah lakon utama dalam film Spiderman yang tersohor itu. Dan seperti sudah menjadikan kebiasaanku juga, menyiapkan kipas angin buatnya, guling, dan sebuah minuman kaleng di ruang tamu yang tak berperabot. Karena memang ruang tamu kontrakanku menjadi tempat tidur siangnya selama lebih kurang dua minggu belakangan.
Bukan hanya sebatas tempat tidur siang sebelum berangkat bersama kekantor, tapi juga kegiatan layaknya sepasang kekasih lainnya yang sedang dimabuk cinta. Dan aku memang selalu menunggu kedatangannya itu. Ah... Lagi-lagi cinta. Tapi memang aku begitu mencintainya. Tidur siang hanyalah tujuan kesekiannya menyambangi kediamanku. Tentunya karena dia ingin bersama denganku berdua saja sebelum menjalankan kesibukan di kantor dan kadang-kadang nongkrong bersama dua orang teman kami pada malam harinya.
Hal yang pertama dilakukannya adalah mencuci muka, kemudian minum minuman kaleng, dan tak jarang aku selalu menyiapkan es krim kesukaanya. Mendampinginya menikmati es krim itu sampil memperhatikan wajahnya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri buatku. Sembari menikmati es krim itu, pria yang telah mengambil seluruh hatiku itu membuka laptopnya. "Mau nyicil bikin berita," katanya.
Oh tentu saja, kami adalah sepasang wartawan di media lokal, berasal dari kantor yang sama namun beda desk liputan. Setiap harinya aku tau, laptop hanyalah modusnya saja, supaya tidak salah tingkah dihadapanku. Aku sudah sangat hapal kebiasaanya setelah dia menyeruput habis es krimnya itu. Dengan lembut, kontak fisik itu membuat aku semakin yakin bahwa aku sangat mencintai pria tinggi besar, yang baru saja mendaratkan bibirnya dibibirku itu. Lantas aku tersandar didadanya, sembari dia dan aku saling memeluk begitu erat. Tidak ada kata-kata, yang jelas pada saat itu aku sangat yakin, kami saling tau, bahwa kami akan hidup bersama dalam waktu dekat.
Masih di hari yang sama, Selasa 18 September pukul 17.00, setelah kekasihku tidur siang selama beberapa menit, kami berangkat kekantor, setelah makan bakso dulu. Dikantor sampai pukul 20.30. Saat itu, aku dibuatnya kesal, lantaran dia bilang harus menemani salah satu dari teman kami nongkrong bersama teman mereka. Dan itu akan berlangsung hingga tengah malam, paling cepat jam 2 pagi. Malam sebelumnya, dia juga menemani teman kami yang biasa dipanggil King ini hingga jam 2 pagi. Tapi malam ini mendadak sekali Peter memberi tahu. "Bang King nungguin jam 9 ini, kayak yang semalam. Kayaknya besok juga," katanya padaku sambil turun dari ruang kerja kami menggunakan lift menuju parkiran. "Ya udah, kita makan dulu lah ya," kataku meski rasa laparku sudah hilang beberapa menit yang lalu.
Dengan motor masing-masing kami menuju warung pecel ayam di samping tempat kami biasa makan. Karena pecel ayam langganan kami malam itu tutup. Kami juga membawa motor masing-masing ke kantor, karena hari itu hari kerja. Ditempat ini, kekesalanku semakin bertambah saja. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam, sementara aku belum menghabiskan separoh makananku. Nafsu makanku yang sudah mulai berkurang tadi, kini habis sudah. Ketika ponsel pria tinggi besar yang duduk disampingku berbunyi. Dari saku celana kirinya, Peter mengeluarkan sebuah Samsung Galaxy Mini, dan dari layarnya kulihat panggilan masuk 'Bg King'. Oke, fine! Nafsu makanku sudah hilang sepenuhnya. "Iya bang, ini segera meluncur," katanya, lalu menutup telpon.
Tanpa meminta tanggapanku, dia langsung membayar makanan yang kami makan. Aku tak menghabiskan makanan dan langsung mencuci tangan. Sebelumnya dia memintaku melewati rute jalan yang berbeda, tentunya lebih jauh dari rute jalan yang biasa kulewati saat akan pulang ke kontrakanku. Mungkin karena ingin bersamaku lebih lama lagi, dan tentu aku setuju-setuju saja. Satu hal yang membuatku kesal lagi, tidak hanya malam kemarin dan malam ini dia harus menemani temannya yang juga temanku itu, tapi juga hari berikutnya. Sementara besoknya, Kamis tanggal 21 September 2012 dia harus berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat pertama, tugas dari kantor kami. "Ini si King dan si Jafar Ahmad tega bener, orang mau berangkat pagi, masih aja cowo gue diajakn nongkrong sampe tengah malam," aku membatin, dan tentu tak kuutarakan kepada Peter.
Baiklah, untuk kesekian kalinya aku harus bersabar. Aku orang baru dalam kehidupannya, tak mungkin aku larang dia bertemu dengan kedua temannya itu. Di lampu merah, jika aku lurus terus, lima menit sampai di kontrakan. Jika belok kanan, itu rute yang dikatakan Peter tadi. Rute yang lebih panjang, yang sudah aku setujui. Berdampingan kami berhenti di lampu merah. Aku disebelah kiri, masih dalam keadaan kesal. "Lewat mana?" dia bertanya.
Setauku, kami sudah sepakat untuk lewat ke rute yang lebih panjang. "Loh katanya lewat Simpang Kawat?" Jawabku agak ketus. Kekesalan semakin bertambah.
"Loh kan cuman nanya," dia bicara padaku seolah belum ada kesepakatan diantara kami.
"Ya ngga usah ditanya lagi, kan udah dibilangin tadi," jawabku masih ketus.
Nampaknya dia tersinggung dengan perkataan ku. Karena ketika lampu sudah hijau, dia langsung belok kanan dan memacu motor Satria FU bernomor polisi BH 3368 BP nya. Tanpa menghiraukan ku yang mengendarai motor bebek. Aku mengikuti motornya yang melaju kencang, saat semakin menjauh dan tak terlihat lagi dari pandanganku. Aku tak bisa mengikuti kekuatan motornya itu. "Ya sudahlah, pulang saja," aku membatin. Namun, diperjalanan pulang, aku memacu motorku sangat pelan. Mulai galau hingga sampai dirumah.
Setibaku di rumah, aku langsung mengirimkan pesan BBM kepada kekasihku itu. "Inilah dak jelasnya Peter, tadi nyuruh lewat simpang kawat, trus ngilang aja ngebut," aku menulis lalu mengirimnya. 12 kali BBM ku tak digubrisnya, meski sudah dibaca. Sampai jam 2 pagi, setelah BBM ke 13 kukirim, akhirnya aku menyerah tidur.
Rabu, 19 September 2012 pukul 5 pagi. Tak nyenyak tidur, hanya tiga jam. Ku coba lagi mengirim BBM kepada dia, seperti biasa membangunkannya sholat Subuh. Tetap saja tidak ada balasan. Sampai akhirnya 11 BBM kukirim hingga jam 11 siang, tak juga mendapat balasan. Dia tidak mengangkat telpon, tidak membalas sms juga. Sampai ku tanya lagi melalui BBM, "Tersinggung dengan aku?" Aku menebak.
"Sangat tersinggung," dia menjawab setelah satu jam membaca BBM ku itu.
"Tersinggung yang mana," aku penasaran. Tapi dia tak lagi membalasnya.
Aku menelponnya lagi, kebetulan aku ingin berkoordinasi soal pemberitaan, karena kami satu tim dalam topik liputan yang sama. Mengenai biaya perjalanan dinas DPRD. Tak juga diangkatnya sampai kukirim SMS dan BBM yang berisi pesan yang sama. "Ngga ada salahnya angkat telpon, mau koordinasi berita," aku menulisnya dalam keadaan emosi.
"Koordinasi langsung dengan redaktur," dia langsung membalas, dan isi pesan itu membuatku kaget.
"Oke, susah kali ngubungi wartawan sibuk!" Aku membalasnya lagi.
"O begitu, anda kan hebat," tudingnya kepadaku. Entah apa dasarnya menulis seperti itu. Dari sinilah pertengkaran tak berujung dimulai. Hanya lewat BBM, karena Peterku itu tak mau bertemu langsung denganku untuk membahas apa yang terjadi. Bahkan dalam pertengkaran itu, dia menudingku sangat piawai berdalih, ini entah atas dasar apa lagi tudingan itu. Sampai akhirnya kesabaran ku habis.
"Oke, kamu bisa tersinggung, aku juga bisa. Sekarang mau mu apa?" Aku menulis lagi.
"Terserah," jawabnya singkat.
"Peter mau kita berakhir," aku langsung saja to the point.
"Ya kalau itu yang terbaik bagimu," dia membalas lagi.
"Sebenarnya masalahnya apa sih ini?" Aku kembali bertanya.
"Sudahlah tak perlu dibahas lagi. Meskipun berakhir, kita tetap berteman, tidak ada dendam," begitu bbm terakhirnya. Bagaimana mungkin dia bisa berfikir akan bersahabat dengan ku sementara dia tak ingin lagi berbicara denganku.
"Ya kita lihat saja, apakah konsep persahabatan kita sama," aku membalas BBM nya yang tak lagi digubrisnya. Begitulah kami berakhir pada tanggal 19 September 2012, pukul 4 sore. kami tak lagi bertegur sapa, bahkan dua minggu setelah kami putus, ketika aku setiap hari mengajaknya berbicara, membuat suasana kembali seperti dulu, meskipun tidak ada lagi ikatan diantara kami, tetap saja dia menolak. Tinggalah aku hingga sekarang masih sakit akibat rasa penasaran yang tak kunjung terjawab.
Tidak ada hubungan berlebihan diantara kami, dalam waktu tiga bulan pertalian kasih yang dia mulai denganku. Dia tak pernah menodai kesucianku, namun masih saja sampai kini aku merasa dia telah merenggut sesuatu dari ku. apa yang telah dia renggut dariku, aku tak pernah yakin. Yang jelas hingga kini, ada yang hilang dari tubuhku ini. Dia telah mengambilnya, dan tak berkenan mengembalikan. Dan belakangan aku menyedari bahwa yang ia renggut dari ku adalah kata sakral yang kuucap diawal tadi. 'Kebahagiaan' itu yang dia ambil dari hidupku. Dan saat ini, aku tak bisa lagi mengenal yang namanya bahagia.
Hingga sampai saat ini, ketika dia telah menata hidupnya, dan menggandeng orang lain untuk mendampinginya. Hingga saat ini, butir-butir pilu itu selalu saja menggerogoti hatiku yang sudah hancur. Hati yang sudah luka dan hancur, setiap saat aku mati-matian memungutnya lagi. Mengumpulkannya satu persatu, dan merekatkannya kembali. Namun, di pertengahan jalan aku merekatkan puing-puing hati yang sudah hancur, lagi-lagi runtuh. Aku mencintainya, dan masih berimajinasi akan keajaiban-keajaiban yang tak mungkin terjadi. Aku mencintainya, hingga saat ini. Dan apa itu bahagia? Aku sudah lupa arti bahagia, sejak 19 September 2012, pukul 4 sore.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar