SIAPA bilang memiliki kebutuhan khusus merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan mungkin ada yang berpendapat harus ditutupi.
Sekarang, anak dengan kebutuhan khusus telah mendapatkan tempat khusus pula di tengah masyarakat, bahkan banyak di antara mereka menunjukkan bahwa mereka adalah anak-anak istimewa dengan bakat yang istimewa pula.
Sobat Xpresi, bisa kenalan dengan M. Hilal Hamdi. Bocah sepuluh tahun yang punya prestasi yang patut dibanggakan. Selama sepuluh tahun kehidupannya, dia menjalani dunia sebagai anak berkebutuhan khusus.
Aldi, begitu ia dipanggil, anak penyandang autisme ini mampu membuktikan bahwa autis bukan halangan untuk menorehkan prestasi yang dapat membanggakan orang tua, guru, serta lingkungan sekitarnya. Dengan bakat yang ia miliki di bidang tarik suara, dia membuka mata masyarakat bahwa dirinya dan penyandang autism lainnya mampu bersaing sama dengan anak-anak normal lainnya.
Hal ini dibuktikan Aldi dengan menjadi Juara Harapan I dalam acara Konser Musik Yamaha di WTC Batanghari pada Februari 2010 lalu.
Sekilas barangkali menjadi juara harapan I bukanlah hal yang terlalu dibanggakan. Namun bagi keluarga serta guru Aldi, hal tersebut merupakan prestasi yang dapat membuat mereka terharu. Bagaimana tidak, dari sekian banyak peserta yang mengikuti lomba tersebut, hanya Aldi-lah satu-satunya peserta berkebutuhan khusus. Hal ini dijelaskan langsung oleh kepala sekolah Kiddy Autism Centre, tempat ia bersekolah. “Peserta yang lain adalah anak-anak normal,” katanya.
Bakat Aldi dalam bidang tarik suara sudah terlihat sejak lama, semenjak dirinya masuk ke Kiddy Autism Centre, dimana para siswanya dilatih ketrampilan dan seni. Nah, di bidang seni inilah Aldi sanggup latihan berlama-lama, “Dia juga mau nyanyi sendiri, padahal jam latihan nyanyi sudah selesai,” kata Abdullah. Apalagi, katanya, Aldi senang sekali dengan lagu-lagu yang berirama sendu. “Seperti ST12, Kangen Band, dan sejenisnya,” katanya. Bakat yang dimilikinya ini telah membawa Aldi menjadi sosok yang tak lagi ragu untuk tampil. Meskipun kebiasaannya memelintir-lintirkan tangannya di atas panggung masih sering terlihat, namun menurut Abdullah, hal tersebut wajar dilakukan oleh para penyandang autis.
Tidak hanya menjadi juara harapan I tersebut, pada bulan Desember mendatang, Aldi akan mewakili anak-anak penyandang cacat di pulau Sumatera untuk menghadiri Workshop Talenta Anak Berkebutuhan Khusus di Jakarta dalam rangka Pameran Hasil Karya dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus. Hal ini tentu juga sangat membanggakan, karena dari sekian banyak anak-anak berkebutuhan khusus di pulau Sumatera, Aldi terpilih menjadi satu-satunya anak yang ikut dalam workshop tersebut.
Terpilihnya Aldi sebagai wakil Sumatera bukan tanpa seleksi. Ada dua tahap penyeleksian yang harus dilakukan, yang pertama adalah seleksi bakat. Dengan mengirimkan demo suara Aldi ke Jakarta, kemudian melakukan wawancara dengan panitia yang mendatangi langsung Aldi ke Kota Jambi. “Alhamdulillah, Aldi terpilih menjadi satu-satunya anak berkebutuhan khusus yang mewakili Sumatera,” kata Abdullah.
Akan tetapi, pada awalnya, bakat Aldi ini tidak terlalu diasah oleh orang tuanya. Anak ketiga dari tiga bersaudara ini pada awalnya mengikuti kegiatan bernyanyi di luar Kiddy tanpa sepengetahuan orang tuanya, “kita lakukan diam-diam dulu,” kata Abdullah. Karena, dikatakannya, orang tua Aldi menginginkan anaknya ini berprestasi di bidang akademik. “Persiapan dia ikut Konser Musik Yamaha itu pun kita lakukan secara diam-diam, tapi pas hari H nya, orang tua Aldi kita kasih tau,” ungkap Abdullah. Sejak saat itu, diaakuinya, orang tua Aldi sangat mendukung bakat anaknya ini.
Sebelum mengikuti lomba untuk pertama kalinya di WTC Batnghari tersebut, Aldi kerap mengisi acara-acara organ tunggal. Biasanya di acara pernikahan, ulang tahun, dan para penonton tidak mengira bahwa Aldi adalah penyandang autis. Namun kendala yang harus dihadapi orang-orang di sekitarnya adalah untuk menjaga perhatian Aldi agar tetap fokus. Namun, meskipun dia bernyanyi tanpa ekspresi, kata Abdullah, suaranya tetap stabil. “Kita tetap latih dia, supaya kebiasaannya melintir-lintirkan tangan dikurangi, serta supaya perhatiannya lebih fokus lagi,” tandas Abdullah.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Jumat, 15 Oktober 2010
RELA BAWA RANSEL
PKS Ekspo bekerjasama dengan FLP (forum lingkar pena) wilayah Jambi, mengundang penulis novel sekaligus penulis cerpen Asma nadia. Acara satu hari yang digelar di museum negeri Jambi kemarin (14/10) mendapat antusias dari para pelajar, mahasiswa, bahkan kalangan umum. Agenda acara yang diusung adalah jumpa penulis dan bedah film Emak ingin naik haji karya Asma nadia.
Tomy(23), ketua panitia acara,kemarin (14/10), menjelaskan, peserta yang hadir mencapai 355 peserta, dan memang pesertanya terbatas. Saat ditanya mengapa Asma nadia yang diundang oleh FLP, tomy mengatakan bahwa Asma nadia sendiri merupakan salah satu penulis yang bergabung dengan FLP (forum lingkar pena). “otomatis koneksinya cepat” jelasnya. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa begitu banyak manfaat menulis, dan terlebih lagi karya tersebut bisa diadaptasi menjadi film.
Selain itu Asma nadia yang merupakan penulis cerpen Emak ingin naik haji mengatakan, bahwa tema dari cerpen ini adalah tentang perjuangan seseorang dalam mencapai mimpi.” Cerpen ini dapat dibaca oleh siapapun dan bersifat universal” jelasnya.
Dari 40 lebih karya yang ditelurkannya ada 2 buah karya ibu dua anak ini yang diangkat menjadi sebuah film, antara lain Emak ingin naik haji yang filmnya sudah lama beredar di bioskop seluruh Indonesia. Dan yang kedua adalah Rumah tanpa jendela yang diadaptasi dari cerpen Jendela rara. ”saat ini masih dalam proses pembuatan, insya allah akan dilaunching pada bulan desember atau awal januari” tambahnya.
Istri dari penulis Isa alamsyah ini mengatakan bahwa royalti yang didapat dari hasil penjualan cerpen Emak ingin naik haji ini digunakan untuk sosial kemanusiaan untuk membiayai berangkat umroh bagi masyarakat yang kurang mampu.
Sejauh ini Asma nadia sendiri telah mendirikan 26 rumah baca diberbagai tempat, diantaranya rumah baca yang didirikan di Bintan Riau, Perpustakaan duafa,dan perpustakaan Asma nadia yang didirikan di tenggarong dan samarinda. Taman baca ini didirikan memang untuk misi sosial.
Sejauh ini film garapan sutradara Aditya Gumay yang diangkat dari cerpen karya Asma nadia mendapat respon yang baik. Terlebih lagi film ini dapat dinikmati dari kalangan mana saja dan tak terbatas umurnya.
Terbesit kisah menarik dibalik kedatangan Asma nadia sebagai pembicara dalam jumpa penulis dan bedah film Emak ingin naik haji kemarin. Elis (28)merupakan penggemar karya tulisan Asma nadia dari 11 tahun yang lalu, ia sengaja menjadi pendaftar pertama. Untuk menunjukkan kecintaannya terhadap karya Asma nadia. Ia rela membawa tas ransel besar yang berisi 20 lebih judul buku karya Asma nadia. Diakuinya alasan ia menyukai tulisan Asma nadia adalah karena cerita yang diusung dekat dengan keseharian, sangat menyentuh, dan tidak menggurui. Tampak pancaran bahagia dari muka wanita berjilbab itu. “selama ini saya dengan mbak Asma hanya surat-suratan, tetapi waktu pertama kali saya di telepon mbak Asma saya sangat terkejut, serasa tidak percaya bahwa yang menelpon adalah mbak Asma, dan sekarang dapat bertatap muka langsung dengan mbak Asma” bebernya
Tomy(23), ketua panitia acara,kemarin (14/10), menjelaskan, peserta yang hadir mencapai 355 peserta, dan memang pesertanya terbatas. Saat ditanya mengapa Asma nadia yang diundang oleh FLP, tomy mengatakan bahwa Asma nadia sendiri merupakan salah satu penulis yang bergabung dengan FLP (forum lingkar pena). “otomatis koneksinya cepat” jelasnya. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa begitu banyak manfaat menulis, dan terlebih lagi karya tersebut bisa diadaptasi menjadi film.
Selain itu Asma nadia yang merupakan penulis cerpen Emak ingin naik haji mengatakan, bahwa tema dari cerpen ini adalah tentang perjuangan seseorang dalam mencapai mimpi.” Cerpen ini dapat dibaca oleh siapapun dan bersifat universal” jelasnya.
Dari 40 lebih karya yang ditelurkannya ada 2 buah karya ibu dua anak ini yang diangkat menjadi sebuah film, antara lain Emak ingin naik haji yang filmnya sudah lama beredar di bioskop seluruh Indonesia. Dan yang kedua adalah Rumah tanpa jendela yang diadaptasi dari cerpen Jendela rara. ”saat ini masih dalam proses pembuatan, insya allah akan dilaunching pada bulan desember atau awal januari” tambahnya.
Istri dari penulis Isa alamsyah ini mengatakan bahwa royalti yang didapat dari hasil penjualan cerpen Emak ingin naik haji ini digunakan untuk sosial kemanusiaan untuk membiayai berangkat umroh bagi masyarakat yang kurang mampu.
Sejauh ini Asma nadia sendiri telah mendirikan 26 rumah baca diberbagai tempat, diantaranya rumah baca yang didirikan di Bintan Riau, Perpustakaan duafa,dan perpustakaan Asma nadia yang didirikan di tenggarong dan samarinda. Taman baca ini didirikan memang untuk misi sosial.
Sejauh ini film garapan sutradara Aditya Gumay yang diangkat dari cerpen karya Asma nadia mendapat respon yang baik. Terlebih lagi film ini dapat dinikmati dari kalangan mana saja dan tak terbatas umurnya.
Terbesit kisah menarik dibalik kedatangan Asma nadia sebagai pembicara dalam jumpa penulis dan bedah film Emak ingin naik haji kemarin. Elis (28)merupakan penggemar karya tulisan Asma nadia dari 11 tahun yang lalu, ia sengaja menjadi pendaftar pertama. Untuk menunjukkan kecintaannya terhadap karya Asma nadia. Ia rela membawa tas ransel besar yang berisi 20 lebih judul buku karya Asma nadia. Diakuinya alasan ia menyukai tulisan Asma nadia adalah karena cerita yang diusung dekat dengan keseharian, sangat menyentuh, dan tidak menggurui. Tampak pancaran bahagia dari muka wanita berjilbab itu. “selama ini saya dengan mbak Asma hanya surat-suratan, tetapi waktu pertama kali saya di telepon mbak Asma saya sangat terkejut, serasa tidak percaya bahwa yang menelpon adalah mbak Asma, dan sekarang dapat bertatap muka langsung dengan mbak Asma” bebernya
Selasa, 12 Oktober 2010
PSPD Unja Segera Menjadi Fakultas
JAMBI – Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Universitas Jambi dalam waktu dekat akan berubah status menjadi sebuah Fakultas. Demikian disampaikan oleh Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Unja, dr. Charles Apul Simanjuntak. SpOT(K)., M.Pd. kemarin (12/10). Dalam perubahan status dari program studi menjadi fakultas ini harus melalui serangkaian proses, namun yang penting, diakatakannya, harus terakreditasi terlebih dahulu.
Proses pengakreditasian program studi ini baru saja dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2010 lalu, dan dikatakan Charles, hasilnya sampai saat ini belum keluar. “Tapi kemungkinan besar bulan Oktober ini kita akan dapatkan nilai akreditasi,” katanya. Program studi yang baru berdiri pada pertengahan 2005 ini baru bisa dinilai pada tahun 2010, karena baru meluluskan mahasiswanya pada tahun 2009. “Syarat akreditasi itu kan harus meluluskan mahasiswa dulu, kalau belum ada yang wisuda, penilaian akreditasi tidak bisa dilaksanakan,” ungkapnya.
Memang, Program Studi ini baru dua kali mewisuda mahasiswa-mahasiswanya yakni pada April 2009 dan September 2010, para wisudawan ini baru bergelar Sarjana Kedokteran, jadi belum berhasil mencetak dokter. “Kan mereka harus KOAS dulu selama kurang lebih dua tahun, baru setelah itu mendapatkan gelar dokter,” ungkapnya. Ada 30 Sarjana Kedokteran Unja yang sedang KOAS di Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi, dan dinyatakan Charles, akan menyusul 11 orang lainnya.
Saat ini, ada 72 mahasiswa baru yang akan memulai perkuliaahnannya di PSPD. Dari 80 orang yang dinyataakan lulus melalui tiga jenis tes penyaringan, yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri (SNMPTN), Ujian Masuk Bersama (UMB) di 11 Universitas di Indonesia, dan tes Mandiri yang diadakan oleh Universitas Jambi sendiri, delapan orang mengundurkan diri. “Ada berbagai alasan mereka mengundurkan diri, yang jelas pada akhirnya mereka tidak melaksanakan registrasi ulang,” kata Charles. Perkuliahan baru akan dimulai Senin (18/10) mendatang.
Untuk mewujudkan visinya menghasilkan lulusan dokter ayang berkualitas, kompetitif, mandiri, serta bertanggung jawab, pihak kampus menerapkan peraturan yang ketat terhadap semua mahasiswanya. PSPD menerapkan sistem Drop Out (DO) bagi mahasiswanya yang tidak mencapai target minimal IP. Indeks Prestasi (IP) minimal yang harus didapat mahasiswa adalah 2. Tentu saja dengan memberikan surat peringatan terlebih dahulu. Jika di semester 2 mereka mendapatkan IP dibawah 2, maka akan diberikan Surat Peringatan (SP) 1, begitu seterusnya hingga semester 4. “Jika semester 4 masih belum ada perbaikan, mereka positif DO,” Ungkapnya.
Saat ini, ada dua mahasiswa yang siap di DO, keduanya tengah duduk di semester 5. “Kita sudah kasih kesempatan, tapi mereka tidak mempergunakannya dengan bijak, Surat Keputusan (SK) DO sudah keluar, tinggal nunggu eksekusi,” ungkap Charles. Tujuan lain dari sistem DO ini adalah menunbuhkan kepercayaan masyarakat, bahwa lulusan PSPD Unja ini benar-benar berkompeten menjadi seorang dokter “Ini juga menyangkut hidup orang banyak, tidak mungkin kita luluskan orang-orang yang tidak mampu di bidangnya,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai fakultas yang menaungi PSPD ini sebelumnya, Charles mengatakan bahwa Program studi ini berdiri sendiri, tidak ada fakultas diatasnya. “Kita langsung dibawah Rektor,” katanya. Namun dirinya yakin, tahun ini segala urusan dapat terselesaikan sehingga penggantian status menjadi fakultas dapat terlaksana. (cr02).
Proses pengakreditasian program studi ini baru saja dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2010 lalu, dan dikatakan Charles, hasilnya sampai saat ini belum keluar. “Tapi kemungkinan besar bulan Oktober ini kita akan dapatkan nilai akreditasi,” katanya. Program studi yang baru berdiri pada pertengahan 2005 ini baru bisa dinilai pada tahun 2010, karena baru meluluskan mahasiswanya pada tahun 2009. “Syarat akreditasi itu kan harus meluluskan mahasiswa dulu, kalau belum ada yang wisuda, penilaian akreditasi tidak bisa dilaksanakan,” ungkapnya.
Memang, Program Studi ini baru dua kali mewisuda mahasiswa-mahasiswanya yakni pada April 2009 dan September 2010, para wisudawan ini baru bergelar Sarjana Kedokteran, jadi belum berhasil mencetak dokter. “Kan mereka harus KOAS dulu selama kurang lebih dua tahun, baru setelah itu mendapatkan gelar dokter,” ungkapnya. Ada 30 Sarjana Kedokteran Unja yang sedang KOAS di Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi, dan dinyatakan Charles, akan menyusul 11 orang lainnya.
Saat ini, ada 72 mahasiswa baru yang akan memulai perkuliaahnannya di PSPD. Dari 80 orang yang dinyataakan lulus melalui tiga jenis tes penyaringan, yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri (SNMPTN), Ujian Masuk Bersama (UMB) di 11 Universitas di Indonesia, dan tes Mandiri yang diadakan oleh Universitas Jambi sendiri, delapan orang mengundurkan diri. “Ada berbagai alasan mereka mengundurkan diri, yang jelas pada akhirnya mereka tidak melaksanakan registrasi ulang,” kata Charles. Perkuliahan baru akan dimulai Senin (18/10) mendatang.
Untuk mewujudkan visinya menghasilkan lulusan dokter ayang berkualitas, kompetitif, mandiri, serta bertanggung jawab, pihak kampus menerapkan peraturan yang ketat terhadap semua mahasiswanya. PSPD menerapkan sistem Drop Out (DO) bagi mahasiswanya yang tidak mencapai target minimal IP. Indeks Prestasi (IP) minimal yang harus didapat mahasiswa adalah 2. Tentu saja dengan memberikan surat peringatan terlebih dahulu. Jika di semester 2 mereka mendapatkan IP dibawah 2, maka akan diberikan Surat Peringatan (SP) 1, begitu seterusnya hingga semester 4. “Jika semester 4 masih belum ada perbaikan, mereka positif DO,” Ungkapnya.
Saat ini, ada dua mahasiswa yang siap di DO, keduanya tengah duduk di semester 5. “Kita sudah kasih kesempatan, tapi mereka tidak mempergunakannya dengan bijak, Surat Keputusan (SK) DO sudah keluar, tinggal nunggu eksekusi,” ungkap Charles. Tujuan lain dari sistem DO ini adalah menunbuhkan kepercayaan masyarakat, bahwa lulusan PSPD Unja ini benar-benar berkompeten menjadi seorang dokter “Ini juga menyangkut hidup orang banyak, tidak mungkin kita luluskan orang-orang yang tidak mampu di bidangnya,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai fakultas yang menaungi PSPD ini sebelumnya, Charles mengatakan bahwa Program studi ini berdiri sendiri, tidak ada fakultas diatasnya. “Kita langsung dibawah Rektor,” katanya. Namun dirinya yakin, tahun ini segala urusan dapat terselesaikan sehingga penggantian status menjadi fakultas dapat terlaksana. (cr02).
Pentingnya Bahasa Mandarin
JAMBI – Menguasai bahasa asing merupakan suatu nilai tambah seseorang dalam meraih berbagai macam kesempatan. Pencari kerja, serta calon mahasiswa di tuntut untuk menguasai bahasa lain selain Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris menjadi suatu tolak ukur perusahaan-perusahaan serta universitas-universitas dalam penerimaan karyawan dan mahasiswa baru. Biasanya kemampuan berbahasa Inggrias diukur melalui sebuah TOEFL.
Namun seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat semakin ingin tau serta berambisi menguasai berbagai macam bahasa asing untuk alasan yang berbeda-beda. Nilai tambah yang dimiliki seseorang dengan menguasai berbagai macam bahasa mampu mengantarnya kejenjang kesuksesan. Saat ini, salah satu bahasa asing yang banyak diminati adalah Mandarin, berkaitan dengan pesatnya perkembangan ekonomi negara China. Hal ini memungkinkan terbukanya peluang untuk berkarier di Negara tersebut atau paling tidak diperusahaan-perusahaan China.
Untuk itu, pengenalan bahasa Mandarin sebaiknya dilakukan sejak dini kepada anak-anak. Salah satunya Chetoz, Chinese Course yang berlokasi di Thehok. Menurut Michael, salah satu pimpinan lembaga ini kemarin (12/10), di Jambi belum banyak yang membuka kursus mandarin, tapi di Jakarta, hampir setiap sekolah telah menerapkan Bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran tetapnya.
Namun yang disayangkan Michael, belum ada kurikulum tetap Bahasa Mandarin dari pemerintah. Sehingga pihaknya berpatokan dari kurikulum yang digunakan Negara Singapore. “Jadi setiap tahun kita mesti update materi, karena bahasa ini berevolusi dari masa ke masa,” katanya. Diungkapkannya, bahasa Mandarin sama dengan bahasa-bahasa lainnya, akan ada perubahan terus menerus, penambahan kata-kata baru, dan sebagainya. “Kalau Bahasa Indonesia kita punya EYD, mandarin juga seperti itu,” ungkapnya.
Di lembaga yang dipimpinnya ini, dimulai dari usia 2 tahun yang digolongkan ke dalam play group sampai ke tingkat SMP, sudah diberikan kursus berbahasa mandarin. Sistemnya tentu saja berbeda antara play group dan tingkat sekolah. Dikatakannya, anak-anak plaqy group dibimbing untuk dapat berintegrasi dengan lingkungan luar, dengan memakai bahasa mandarin. Selain itu, anak-anak ini juga diperkenalankan kepada benda-benda dengan menggunakan bahasa Mandari tersebut, “Sama seperti play group lainnya, hanya kita gunakan bahasa mandarin,” ungkapnya. Sedangkan untuk siswa-siswa sekolah umum, diberikan buku yang dirangkum sendiri oleh Chetoz, dengan merujuk ke kurikulum Singapore.
Dalam wawancara dengan Jambi Independent ini, Michel juga memberikan sedikit pengetahuan tentang Bahasa Mandarin. Dikatakannya, bahasa Mandarin tidak mengenal abjad, melainkan kata. Satu kata digabungkan dengan kata lain, maka akan dihasilkan kata baru dengan arti yang berbeda. Kemampuan berbahasa mandarin seseorang ditentukan dengan seberapa banyak dirinya menguasai kata-kata tersebut. “Untuk berkomunikasi sehari-hari saja, minimal harus menguasai 5000 kata,” ungkapnya. Untuk ukuran mahasiswa, paling tidak harus menguasai 30.000 kata. “Uji kemampuan berbahasa mandarin biasanya dengan mengarang, disana dapat kita lihat seberapa jauh kemampuan berbahasa mandarinnya,” tandas Michael. (CR02).
Namun seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat semakin ingin tau serta berambisi menguasai berbagai macam bahasa asing untuk alasan yang berbeda-beda. Nilai tambah yang dimiliki seseorang dengan menguasai berbagai macam bahasa mampu mengantarnya kejenjang kesuksesan. Saat ini, salah satu bahasa asing yang banyak diminati adalah Mandarin, berkaitan dengan pesatnya perkembangan ekonomi negara China. Hal ini memungkinkan terbukanya peluang untuk berkarier di Negara tersebut atau paling tidak diperusahaan-perusahaan China.
Untuk itu, pengenalan bahasa Mandarin sebaiknya dilakukan sejak dini kepada anak-anak. Salah satunya Chetoz, Chinese Course yang berlokasi di Thehok. Menurut Michael, salah satu pimpinan lembaga ini kemarin (12/10), di Jambi belum banyak yang membuka kursus mandarin, tapi di Jakarta, hampir setiap sekolah telah menerapkan Bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran tetapnya.
Namun yang disayangkan Michael, belum ada kurikulum tetap Bahasa Mandarin dari pemerintah. Sehingga pihaknya berpatokan dari kurikulum yang digunakan Negara Singapore. “Jadi setiap tahun kita mesti update materi, karena bahasa ini berevolusi dari masa ke masa,” katanya. Diungkapkannya, bahasa Mandarin sama dengan bahasa-bahasa lainnya, akan ada perubahan terus menerus, penambahan kata-kata baru, dan sebagainya. “Kalau Bahasa Indonesia kita punya EYD, mandarin juga seperti itu,” ungkapnya.
Di lembaga yang dipimpinnya ini, dimulai dari usia 2 tahun yang digolongkan ke dalam play group sampai ke tingkat SMP, sudah diberikan kursus berbahasa mandarin. Sistemnya tentu saja berbeda antara play group dan tingkat sekolah. Dikatakannya, anak-anak plaqy group dibimbing untuk dapat berintegrasi dengan lingkungan luar, dengan memakai bahasa mandarin. Selain itu, anak-anak ini juga diperkenalankan kepada benda-benda dengan menggunakan bahasa Mandari tersebut, “Sama seperti play group lainnya, hanya kita gunakan bahasa mandarin,” ungkapnya. Sedangkan untuk siswa-siswa sekolah umum, diberikan buku yang dirangkum sendiri oleh Chetoz, dengan merujuk ke kurikulum Singapore.
Dalam wawancara dengan Jambi Independent ini, Michel juga memberikan sedikit pengetahuan tentang Bahasa Mandarin. Dikatakannya, bahasa Mandarin tidak mengenal abjad, melainkan kata. Satu kata digabungkan dengan kata lain, maka akan dihasilkan kata baru dengan arti yang berbeda. Kemampuan berbahasa mandarin seseorang ditentukan dengan seberapa banyak dirinya menguasai kata-kata tersebut. “Untuk berkomunikasi sehari-hari saja, minimal harus menguasai 5000 kata,” ungkapnya. Untuk ukuran mahasiswa, paling tidak harus menguasai 30.000 kata. “Uji kemampuan berbahasa mandarin biasanya dengan mengarang, disana dapat kita lihat seberapa jauh kemampuan berbahasa mandarinnya,” tandas Michael. (CR02).
Senin, 11 Oktober 2010
Kesal Indonesia Kalah
THEHOK-Masyarakat Jambi, khususnya para pengunjung Jambi Prima Mall (JPM), kemarin (10/10), kedatangan artis ibu kota. Caring Colour Martha Tilaar, sebuah produk kosmetik mengadakan road show untuk promosi produk-produknya di JPM. Untuk itu, Caring Colour mendatangkan brand ambassodor-nya yang baru, yakni Arumi Bachsin. Acara ini digelar di Lantai 1 Trona.
Menurut pihak Caring Colour, Grace, Arumi satu tahun mendatang menjadi brand ambassador (duta merek) Caring Colour. Diakui Grace, tahun lalu pihaknya tidak memakai selebriti, hanya memilih masyarakat umum dalam sebuah penilaian untuk menjadi duta. Namun, kebijakan perusahaan tahun ini memakai seorang public figure yang sudah dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, membuat Arumi terpilih sebagai ikon baru.
Ditemui di Hotel Cosmo, tempatnya berehat sebelum acara dimulai, Arumi mengaku sangat antusias datang ke Jambi dalam rangka road show serta meet and greet para penggemar. Diakuinya, ia akan membagi pengalamannya selama menjadi brand ambassador serta memakai produk kecantikan itu kepada masyarakat Kota Jambi. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat berfoto bersama Arumi di sela-sela acara.
“Nanti sore sore harus balik ke Jakarta lagi. Besok aku ada kegiatan lain, syuting dan kuliah,” ujar Arumi, kepada Jambi Independent, kemarin siang (10/10).
Selebriti muda yang baru berusia 16 tahun itu mengaku baru saja kuliah semester I jurusan komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Ia mengaku senang berada di Jambi. Jambi dinilainya sangat berbeda dari Jakarta yang setiap hari macet.
“Kotanya sepi, nggak mumet kalau lagi di jalan,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai alam Kota Jambi, Arumi langsung menjawab, “panas ya di sini, Jakarta juga panas sih, tapi mungkin karena kita selalu di gedung yang ber-AC, jadinya nggak terlalu terasa. Jambi jarang banjir, kalau depan kampus gue, kalo hujan banjir terus,” celetuknya, ringan.
Saat ini Arumi sedang sibuk syuting layar lebar yang tidak mau disebutkan judulnya, “dalam proses produksi, tunggu aja,” jawabnya.
Selain itu, dia juga sibuk menjadi presenter bola, meskipun pada awalnya tidak terlalu mengerti tentang bola. “Tapi, lama kelamaan jadi suka nonton bola,” katanya.
Ketika disinggung mengenai pertandingan bola, Arumi langsung menyampaikan uneg-uneg nya tentang pertandingan Indonesia vs Uruguay, Jumat (8/10) lalu, “Sakit jiwa kali ya, (kalah, red) 7-1,” ungkapnya bersemangat, seraya mengakhiri percakapan dengan Jambi Independent.(cr02)
Menurut pihak Caring Colour, Grace, Arumi satu tahun mendatang menjadi brand ambassador (duta merek) Caring Colour. Diakui Grace, tahun lalu pihaknya tidak memakai selebriti, hanya memilih masyarakat umum dalam sebuah penilaian untuk menjadi duta. Namun, kebijakan perusahaan tahun ini memakai seorang public figure yang sudah dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, membuat Arumi terpilih sebagai ikon baru.
Ditemui di Hotel Cosmo, tempatnya berehat sebelum acara dimulai, Arumi mengaku sangat antusias datang ke Jambi dalam rangka road show serta meet and greet para penggemar. Diakuinya, ia akan membagi pengalamannya selama menjadi brand ambassador serta memakai produk kecantikan itu kepada masyarakat Kota Jambi. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat berfoto bersama Arumi di sela-sela acara.
“Nanti sore sore harus balik ke Jakarta lagi. Besok aku ada kegiatan lain, syuting dan kuliah,” ujar Arumi, kepada Jambi Independent, kemarin siang (10/10).
Selebriti muda yang baru berusia 16 tahun itu mengaku baru saja kuliah semester I jurusan komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Ia mengaku senang berada di Jambi. Jambi dinilainya sangat berbeda dari Jakarta yang setiap hari macet.
“Kotanya sepi, nggak mumet kalau lagi di jalan,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai alam Kota Jambi, Arumi langsung menjawab, “panas ya di sini, Jakarta juga panas sih, tapi mungkin karena kita selalu di gedung yang ber-AC, jadinya nggak terlalu terasa. Jambi jarang banjir, kalau depan kampus gue, kalo hujan banjir terus,” celetuknya, ringan.
Saat ini Arumi sedang sibuk syuting layar lebar yang tidak mau disebutkan judulnya, “dalam proses produksi, tunggu aja,” jawabnya.
Selain itu, dia juga sibuk menjadi presenter bola, meskipun pada awalnya tidak terlalu mengerti tentang bola. “Tapi, lama kelamaan jadi suka nonton bola,” katanya.
Ketika disinggung mengenai pertandingan bola, Arumi langsung menyampaikan uneg-uneg nya tentang pertandingan Indonesia vs Uruguay, Jumat (8/10) lalu, “Sakit jiwa kali ya, (kalah, red) 7-1,” ungkapnya bersemangat, seraya mengakhiri percakapan dengan Jambi Independent.(cr02)
Langganan:
Komentar (Atom)