JAMBI – Menguasai bahasa asing merupakan suatu nilai tambah seseorang dalam meraih berbagai macam kesempatan. Pencari kerja, serta calon mahasiswa di tuntut untuk menguasai bahasa lain selain Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris menjadi suatu tolak ukur perusahaan-perusahaan serta universitas-universitas dalam penerimaan karyawan dan mahasiswa baru. Biasanya kemampuan berbahasa Inggrias diukur melalui sebuah TOEFL.
Namun seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat semakin ingin tau serta berambisi menguasai berbagai macam bahasa asing untuk alasan yang berbeda-beda. Nilai tambah yang dimiliki seseorang dengan menguasai berbagai macam bahasa mampu mengantarnya kejenjang kesuksesan. Saat ini, salah satu bahasa asing yang banyak diminati adalah Mandarin, berkaitan dengan pesatnya perkembangan ekonomi negara China. Hal ini memungkinkan terbukanya peluang untuk berkarier di Negara tersebut atau paling tidak diperusahaan-perusahaan China.
Untuk itu, pengenalan bahasa Mandarin sebaiknya dilakukan sejak dini kepada anak-anak. Salah satunya Chetoz, Chinese Course yang berlokasi di Thehok. Menurut Michael, salah satu pimpinan lembaga ini kemarin (12/10), di Jambi belum banyak yang membuka kursus mandarin, tapi di Jakarta, hampir setiap sekolah telah menerapkan Bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran tetapnya.
Namun yang disayangkan Michael, belum ada kurikulum tetap Bahasa Mandarin dari pemerintah. Sehingga pihaknya berpatokan dari kurikulum yang digunakan Negara Singapore. “Jadi setiap tahun kita mesti update materi, karena bahasa ini berevolusi dari masa ke masa,” katanya. Diungkapkannya, bahasa Mandarin sama dengan bahasa-bahasa lainnya, akan ada perubahan terus menerus, penambahan kata-kata baru, dan sebagainya. “Kalau Bahasa Indonesia kita punya EYD, mandarin juga seperti itu,” ungkapnya.
Di lembaga yang dipimpinnya ini, dimulai dari usia 2 tahun yang digolongkan ke dalam play group sampai ke tingkat SMP, sudah diberikan kursus berbahasa mandarin. Sistemnya tentu saja berbeda antara play group dan tingkat sekolah. Dikatakannya, anak-anak plaqy group dibimbing untuk dapat berintegrasi dengan lingkungan luar, dengan memakai bahasa mandarin. Selain itu, anak-anak ini juga diperkenalankan kepada benda-benda dengan menggunakan bahasa Mandari tersebut, “Sama seperti play group lainnya, hanya kita gunakan bahasa mandarin,” ungkapnya. Sedangkan untuk siswa-siswa sekolah umum, diberikan buku yang dirangkum sendiri oleh Chetoz, dengan merujuk ke kurikulum Singapore.
Dalam wawancara dengan Jambi Independent ini, Michel juga memberikan sedikit pengetahuan tentang Bahasa Mandarin. Dikatakannya, bahasa Mandarin tidak mengenal abjad, melainkan kata. Satu kata digabungkan dengan kata lain, maka akan dihasilkan kata baru dengan arti yang berbeda. Kemampuan berbahasa mandarin seseorang ditentukan dengan seberapa banyak dirinya menguasai kata-kata tersebut. “Untuk berkomunikasi sehari-hari saja, minimal harus menguasai 5000 kata,” ungkapnya. Untuk ukuran mahasiswa, paling tidak harus menguasai 30.000 kata. “Uji kemampuan berbahasa mandarin biasanya dengan mengarang, disana dapat kita lihat seberapa jauh kemampuan berbahasa mandarinnya,” tandas Michael. (CR02).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar