Sabtu, 30 Oktober 2010

Sempat Tidak Mendapat Dukungan Orang Tua

SIAPA bilang memiliki kebutuhan khusus merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan mungkin ada yang berpendapat harus ditutupi.
Sekarang, anak dengan kebutuhan khusus telah mendapatkan tempat khusus pula di tengah masyarakat, bahkan banyak di antara mereka menunjukkan bahwa mereka adalah anak-anak istimewa dengan bakat yang istimewa pula.
Sobat Xpresi, bisa kenalan dengan M. Hilal Hamdi. Bocah sepuluh tahun yang punya prestasi yang patut dibanggakan. Selama sepuluh tahun kehidupannya, dia menjalani dunia sebagai anak berkebutuhan khusus.
Aldi, begitu ia dipanggil, anak penyandang autisme ini mampu membuktikan bahwa autis bukan halangan untuk menorehkan prestasi yang dapat membanggakan orang tua, guru, serta lingkungan sekitarnya. Dengan bakat yang ia miliki di bidang tarik suara, dia membuka mata masyarakat bahwa dirinya dan penyandang autism lainnya mampu bersaing sama dengan anak-anak normal lainnya.
Hal ini dibuktikan Aldi dengan menjadi Juara Harapan I dalam acara Konser Musik Yamaha di WTC Batanghari pada Februari 2010 lalu.
Sekilas barangkali menjadi juara harapan I bukanlah hal yang terlalu dibanggakan. Namun bagi keluarga serta guru Aldi, hal tersebut merupakan prestasi yang dapat membuat mereka terharu. Bagaimana tidak, dari sekian banyak peserta yang mengikuti lomba tersebut, hanya Aldi-lah satu-satunya peserta berkebutuhan khusus. Hal ini dijelaskan langsung oleh kepala sekolah Kiddy Autism Centre, tempat ia bersekolah. “Peserta yang lain adalah anak-anak normal,” katanya.
Bakat Aldi dalam bidang tarik suara sudah terlihat sejak lama, semenjak dirinya masuk ke Kiddy Autism Centre, dimana para siswanya dilatih ketrampilan dan seni. Nah, di bidang seni inilah Aldi sanggup latihan berlama-lama, “Dia juga mau nyanyi sendiri, padahal jam latihan nyanyi sudah selesai,” kata Abdullah. Apalagi, katanya, Aldi senang sekali dengan lagu-lagu yang berirama sendu. “Seperti ST12, Kangen Band, dan sejenisnya,” katanya. Bakat yang dimilikinya ini telah membawa Aldi menjadi sosok yang tak lagi ragu untuk tampil. Meskipun kebiasaannya memelintir-lintirkan tangannya di atas panggung masih sering terlihat, namun menurut Abdullah, hal tersebut wajar dilakukan oleh para penyandang autis.
Tidak hanya menjadi juara harapan I tersebut, pada bulan Desember mendatang, Aldi akan mewakili anak-anak penyandang cacat di pulau Sumatera untuk menghadiri Workshop Talenta Anak Berkebutuhan Khusus di Jakarta dalam rangka Pameran Hasil Karya dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus. Hal ini tentu juga sangat membanggakan, karena dari sekian banyak anak-anak berkebutuhan khusus di pulau Sumatera, Aldi terpilih menjadi satu-satunya anak yang ikut dalam workshop tersebut.
Terpilihnya Aldi sebagai wakil Sumatera bukan tanpa seleksi. Ada dua tahap penyeleksian yang harus dilakukan, yang pertama adalah seleksi bakat. Dengan mengirimkan demo suara Aldi ke Jakarta, kemudian melakukan wawancara dengan panitia yang mendatangi langsung Aldi ke Kota Jambi. “Alhamdulillah, Aldi terpilih menjadi satu-satunya anak berkebutuhan khusus yang mewakili Sumatera,” kata Abdullah.
Akan tetapi, pada awalnya, bakat Aldi ini tidak terlalu diasah oleh orang tuanya. Anak ketiga dari tiga bersaudara ini pada awalnya mengikuti kegiatan bernyanyi di luar Kiddy tanpa sepengetahuan orang tuanya, “kita lakukan diam-diam dulu,” kata Abdullah. Karena, dikatakannya, orang tua Aldi menginginkan anaknya ini berprestasi di bidang akademik. “Persiapan dia ikut Konser Musik Yamaha itu pun kita lakukan secara diam-diam, tapi pas hari H nya, orang tua Aldi kita kasih tau,” ungkap Abdullah. Sejak saat itu, diaakuinya, orang tua Aldi sangat mendukung bakat anaknya ini.
Sebelum mengikuti lomba untuk pertama kalinya di WTC Batnghari tersebut, Aldi kerap mengisi acara-acara organ tunggal. Biasanya di acara pernikahan, ulang tahun, dan para penonton tidak mengira bahwa Aldi adalah penyandang autis. Namun kendala yang harus dihadapi orang-orang di sekitarnya adalah untuk menjaga perhatian Aldi agar tetap fokus. Namun, meskipun dia bernyanyi tanpa ekspresi, kata Abdullah, suaranya tetap stabil. “Kita tetap latih dia, supaya kebiasaannya melintir-lintirkan tangan dikurangi, serta supaya perhatiannya lebih fokus lagi,” tandas Abdullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar