Senin, 22 November 2010

The Celebration of 20 Years of Commitment

JAMBI– Puncak peringatan HUT lembaga kursus bahasa Inggris JEC English Course “The Celebration of 20 Years of Commitment”, kemarin (21/11), berlangsung meriah. Acara dihelat di gedung Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Kota Jambi. Acara ini merupakan akhir dari serangkaian even yang diadakan oleh JEC selama tiga minggu terakhir.
Dalam acara puncak, JEC English Course menggelar grand final berbagai lomba yang ada. Masing-masing lomba scrabble, grammar race, singing contest, serta pemilihan superkids yang berasal dari siswa-siswa JEC English Course.
Rangkaian lomba yang digelar, akhirnya memunculkan sejumlah pemenang. Untuk kategori junior superkids, juara I diraih oleh Ryne Ferdinand, juara II Richi Owen, dan juara III Aldinur Syahdin. Sedangkan senior superkids dijuarai oleh M Rayhandi N, juara II Fabian Ommary P, serta juara III Philbert Fang.
Menurut Ketua Panitia Erwin, kategori superkids dipisahkan menjadi junior dan senior berdasarkan kelas mereka. “Yang Junior bararti kelas I, II, dan III, kalau senior kelas IV, V, VI SD,” ungkapnya.
Pemilihan superkids, kata Erwin, digelar setiap tahun, sebagai ajang memotivasi siswa untuk belajar lebih baik. Juga sebagai penghargaan atas prestasi yang didapat, JEC English Course memberikan berbagai hadiah. Antara lain berupa piagam, piala bergilir, serta beasiswa. Beberapa sponsor juga memberikan bingkisan untuk mereka.
Sementara itu, sejumlah lomba yamg digelar untuk umum, yakni scrabble, grammar race, dan singing contest. Untuk lomba scrabble tingkat SMP, juara I diraih Chrisanty, Juara II William, Juara III Willy Dikchen, serta juara IV diraih Devina. Kategori SMA dijuarai oleh Ryan, juara II Agus Bagia, juara III Winston, serta juara IV Widya.
Grammar race yang digelar untuk tingkat SMA dijuarai oleh Victor Longway, juara II Shifa Nurrahman, juara III Rendra Wijaya.
Sementara itu, singing contest, piala juara 1 dibawa pulang oleh Siti Anisa Fauzia, juara II Liven Yesuvirginia, dan Juara III Jheni Anggra Mitha.
Menariknya, dalam puncak peringatan ulang tahunnya, siswa-siswa JEC tampil dalam semua drama musikal Three Little Pigs. Dalam penampilan ini, sejumlah siswa memakai kostum yang telah disiapkan oleh panitia.
Iwan Kaslan, pemilik serta pemimpin JEC English Course, mengatakan, untuk drama musical, mereka telah dilatih dan dipersiapkan secara maksimal. “Mungkin ada yang merasa kepanasan memakai kostum babi, tumbuhan, tapi mereka fun dengan acara ini,” katanya. “Acara kita beda dengan yang lain, yang penting siswa, pengajar, serta staff semuanya fun, sehingga rasa kekeluargaan semakin kuat,” tambahnya.
Dalam kesempatan kemarin, juga dideklarasikan sebuah komunitas bahasa Inggris yang diberi nama “Jambi English Community” yang diprakarsai oleh Iwan Kaslan di bawah naungan JEC English Course. Namun, kepengurusan komunitas ini belum terbentuk. “Dalam waktu dekat akan kita bentuk kepengurusan, namun setidaknya kita telah memulai membentuk komunitas untuk memajukan pendidikan bahasa Inggris di Kota Jambi,” katanya. Kata Iwan, siapapun boleh bergabung dalam komunitas ini, tidak terbatas usia. Untuk itu, sebuah akun Facebook telah dibuat atas nama komunitas ini. “Di sana kita lihat anggotanya nanti, dan dengan komunitas ini, kedepannya akan kita adakan acara-acara yang berhubungan dengan Bahasa Inggris,” tandasnya.(cr02)
Foto: Jennifer Agustia/Jambi Independent
GRANDFINAL: Panitia dan pengajar JEC English Course serta undangan yang hadir pada puncak acara. Dalam kesempatan itu juga dibentuk sebuah komunitas bahasa Inggris.

Jumat, 19 November 2010

Tidak Bisa Lunasi Angsuran //Komputer Sekolah Ditarik

JENNIFER AGUSTIA, Jambi
KASUS penarikan komputer di sekolah terjadi lagi. Kali ini terjadi di SMPN 25 di Kebun Kopi Kota Jambi. Sebelumnya, kasus serupa juga dialami oleh SMPN 3 dan SMP 14 Kota Jambi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 25 Kota Jambi Lismiyati, kemarin (19/11), mengatakan, sebanyak 13 unit komputer dari 20 komputer yang tersedia diambil oleh pihak ketiga, Sabtu (13/11) lalu. Alasannya karena tidak melunasi biaya pembelian komputer selama tiga tahun.
Kini, kata Lismiyati, pihaknya sedang membuat berita acara kasus tersebut dan juga surat laporan. Rencananya, Senin, 22 November, akan segera mengirimkan laporan ke Dinas Pendidikan Kota Jambi. Lambatnya mereka membuat laporan, karena harus menunggu tanda tangan dari ketua komite sekolah. “Ketua komite kita kerja di Tungkal, jadi sekali seminggu baru dia ke Jambi, Sabtu biasanya dia balik, sedangkan kepala sekolah belum berani ngasih tanda tangan kalau belum ada tanda tangan dari ketua komite,” ungkap salah seorang pegawai tata usaha di sekolah tersebut.
Sebenarnya, kata Lismiyati, isu penarikan sudah ada sejak satu tahun belakangan. Namun dengan berbagai cara serta perundingan dengan pihak ketiga, eksekusi penarikan bisa diundur. Selama ini, katanya, angsuran pembayaran pembelian komputer tersebut dibayar dengan iuran masing-masing siswa sebesar Rp 17.500 per bulan. “Namun, itu sebelum ada larangan dari wali kota, setelah adanya larangan mengambil pungutan dari siswa, kami jadi kewalahan melunasinya,” ungkapnya.
Sementara itu, Guru TIK SMPN 25 Kota Jambi Misrukiah, mengungkapkan rasa kecewaanya terhadap kasus ini. “Bagaimana siswa bisa tahu teknologi informasi kalau kejadiannya begini, tujuh unit komputer yang tersisa dipakai bersama,” ungkapnya.
Sebelum penarikan komputer, katanya, siswa harus dipisah belajar, karena keterbatasan komputer, yang hanya ada 20 unit. Kini keadaannya tentu semakin sulit, belajar hanya dengan tujuh unit komputer.
Diakuinya, melihat komputer-komputer tersebut ditarik pihak ketiga, siswanya sangat kecewa. “Mereka sedih dan terpukul, bagaimana tidak, selama ini mereka pakai komputer-komputer itu, sekarang cuma tinggal beberapa,” ungkapnya.
Setelah kejadian ini, siswa terpaksa harus mempergunakan satu komputer untuk lima orang. Diakui Misrukiah, metode seperti itu jelas sangat tidak efektif, karena waktu belajar akan lebih lama, sedangan materi yang diberikan berkurang. “Mereka harus gantian pake komputer, kita harus bimbing mereka satu per satu, kalau tidak seperti itu, yang pandai makin pandai, yang belum bisa malah nggak ada kemajuan, karena pasti mereka mengandalkan yang pandai saja,” keluhnya.
Saat ini, siswa SMPN 25 Kota Jambi sedang menjalani ujian praktek TIK, sehingga mereka kesulitan mengerjakan soal-soal ujian, karena efisiensi waktu. “Kalau ujian kan harus satu komputer untuk satu siswa, sekarang mereka harus giliran. Waktu ujian pasti molor,” ungkapnya.
Kekecewaan penarikan komputer sekolahnya itu, diungkapkan langsung oleh Septi siswa SMPN 25 Kota Jambi. Kata Septi, dia sempat mengungkapkan protesnya kepada pihak ketiga yang menarik komputer, “Tapi dak digubris, mereka (pihak ketiga, red) tega nian,” protesnya.
Ketika dikonfirmasi terkait kasus di atas, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi A Syihabuddin mengaku belum tahu dengan kasus ini. Diakuinya pihak sekolah belum melapor. “Mungkin karena berhubungan dengan komite, jadi mereka belum melapor,” ungkapnya.
Untuk itu, dia menghimbau agar pihak SMPN 25 Kota Jambi segera membuat laporan. Dengan demikian, kata Syihabuddin, dinas bisa mengambil tindakan.
Ditambahkannya, pada tahun 2011 nanti, Dinas Pendidikan Kota Jambi akan mengusulkan kepada Pemkot Jambi, agar mengalokasikan sebagian dana APBD untuk pengadaan komputer di sekolah-yang ada di Kota Jambi. “Agar tidak terjadi lagi kasus seperti ini, karena pelajaran komputer saat ini telah menjadi mata pelajaran wajib,” katanya.(*)

Foto: Jennifer Agustia, Jambi
SISA: Suasana ruang TIK SMPN 25 Kota Jambi. Dari 20 unit komputer yang ada kini hanya tersisa tujuh unit komputer. Sebanyak 13 unit komputer telah ditarik pihak ketiga karena dinilai manajemen sekolah tidak dapat melunasi angsuran.

Senin, 15 November 2010

Soal Bikini, Nadine Maklum

Kunjungan Putri
Indonesia 2010 ke
Jambi Independent

JENNIFER AGUSTIA

THEHOK–Putri Indonesia 2010 Nadine Alexandra Dewi Ames, kemarin (15/11), berkunjung ke Kota Jambi. Kunjungannya terkait kegiatan Nadine sebagai Putri Indonesia untuk menghadiri acara fashion show serta industri kreatif di Kota Jambi yang akan diadakan pada Senin malam. Dalam kunjungannya, Nadine menyempatkan diri singgah ke Graha Pena Jambi Independent, Thehok.
Nadine menyatakan kegembiraannya berkunjung ke Jambi. Ini kali pertama dia singgah ke Provinsi Jambi. Selain itu, yang membuatnya senang adalah kondisi jalan raya yang lancar serta masih banyaknya gedung-gedung tua di tepi jalan. “Kalau di Jakarta, pagi-pagi sudah emosi karena macet, polusi, juga mal-mal banyak sekali. Kalau di sini aman-aman saja tuh,” ungkapnya.
Kontroversi mengenai dirinya menjadi perbincangan dalam kunjungan Nadine ke Graha Pena. Untuk diketahui, banyak pihak meragukan keberhasilannya menyabet gelar Putri Indonesia. Banyak desas-desus di masyarakat, Nadine disebut-sebut merupakan Putri Indonesia “titipan”. Pasalnya, Nadine diisukan memiliki hubungan keluarga dengan Mooryati Sudibyo, Panitia Penyelenggara Pemilihan Putri Indonesia (PPI) serta bos Mutika Ratu.
“Melalui Jambi Independent, saya mau klarifikasi lagi, tidak ada hubungan keluarga dengan Ibu Mur (Mooryati Sudibyo, red), tapi kami memang sama-sama dari Solo. Gak semua orang Solo punya hubungan kekeluargaan dong. Lagian, kalau ada hubungan keluarga, pasti saya dapat produk (Mustika Ratu) gratis terus,” katanya.
Selain itu, dirinya juga menyebutkan, dengan kemenangannya di ajang Pemilihan Putri Indonesia berarti dirinya akan melaju ke Miss Universe. Setiap tahun, Miss Universe sering disorot karena pada satu sesi, peserta diharuskan memakai pakaian bikini (busana pantai).
Untuk hal ini, Nadine merasa maklum akan adanya pro dan kontra tersebut, “di Indonesia dengan budaya yang beraneka ragam, saya maklum dengan hal itu. Namun, dalam ajang Miss Universe saya akan memakai bikini one piece (satu potong),” ungkapnya.
Mengenai kapasitasnya sebagai putri Indonesia yang baru, Nadine mengaku ada tanggung jawab besar yang sedang diembannya. Tanggung jawab terbesar adalah ketika dirinya menjadi image Indonesia, serta, mau tidak mau menjadi role model bagi generasi muda Indonesia.
“Kalau dulu, perhatian saya hanya pada kuliah, dan bisa bertindak semaunya, saat ini tidak bisa. Karena apapun yang saya lakukan pastinya menjadi sorotan, dan sedikit banyaknya akan mempengaruhi citra Indonesia,” ungkap Nadine.
Selain tanggung jawab itu, sebagai Putri Indonesia, Nadine bertanggung jawab untuk mengampanyekan pariwisata yang ada di Indonesia. Juga, kampanye antinarkoba yang selalu menjadi tugas rutin Putri Indonesia. “Saat ini saya sedang mengemban tugas kampanye pelestarian Orang Utan, karena seperti yang kita tahu, dua puluh lima tahun yang akan datang, Orang Utan diprediksi akan punah. Sedangkan di mata dunia, Orang Utan adalah image-nya Indonesia,” kata Nadine.
Dikatakan, dalam tugas tersebut, dirinya harus mengampanyekan bahaya illegal logging (pembalakan liar) yang merupakan penyebab kelangkaan Orang Utan saat ini. Dengan kapasitasnya tersebut, Nadine berharap dapat mengajak generasi muda agar sadar dan memelihara lingkungannya mulai dari sekarang.
“Banyak hal yang harus dipertimbangkan, jangan cuma bisa nebang pohon trus dijual demi keuntungan pribadi, kita juga harus sadar bahwa ada makhluk lain yang hidup di hutan-hutan tersebut,” tandasnya.
Untuk diketahui, ajang Pemilihan Putri Indonesia (PPI), merupakan salah satu even bergengsi yang diadakan tiap tahun di seluruh Indonesia. Di lokal, Provinsi Jambi, yang dipercaya mengadakan even itu adalah Harian Pagi Jambi Independent. Tahun 2010 ini, Jambi Independent berhasil membawa Grace Gabriella Binowo, sebagai finalis PPI 2010 utusan Provinsi Jambi. Dan Grace, sukses melaju ke babak 5 (lima) besar.(

Jumat, 05 November 2010

Doa Untuk Indonesia

Oleh Pelajar SMPN 18 Kota Jambi
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
BERBAGAI musibah dan bencana alam yang terjadi, mengusik nurani manajemen dan pelajar SMPN 18 Kota Jambi. Untuk itu mereka menggelar salat gaib untuk semua korban meninggal pada bencana yang terjadi di Indonesia. Khususnya korban tsunami Mentawai, letusan gunung Merapi Jogja, serta korban Wasior, Papua.
Kepala SMPN 18 Kota Jambi, Nanang Sunarya mengatakan dengan salat yang digelar, “Kami doakan korban yang meninggal agar diterima disisi Tuhan YME, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujarnya kemarin (5/11).
Selain itu, melalui kegiatan tersebut, Nanang berharap dapat memberikan edukasi spiritual kepada siswanya sehingga memiliki kepekaan rasa dalam menyikapi persoalan sosial yang terjadi di Indonesia. “Salat gaib ini, kami harap juga dapat memperkuat karakter mereka sebagai generasi muda,” ungkap Nanang.
Salat diikuti sebanyak 550 siswa SMPN 18 Kota Jambi, yang digelar di lapangan sekolah tersebut.
Usai salat, kegiatan dilanjutkan tahlil singkat, dan doa bersama.
Dikatakan Nanang, salat gaib seperti ini, sudah dua kali dilaksanakan, yang pertama ketika bencana tsunami melanda Nangroe Aceh Darussalam, dan yang kedua bencana yang melanda Mentawai, Jogja, dan Papua ini. “Waktu gempa Padang kita hanya mengumpulkan donasi, kita salurkan kesana,” ungkapnya. Untuk kali ini, juga disalurkan donasi, diakuinya, Senin (1/11) sudah dikumpulkan dan segera disalurkan.
Disebutkannya, setiap Jumat, siswanya rutin mengadakan kegiatan keagamaan. Setiap minggunya, sebelum memulai pelajaran, diadakan yasinan serta tausiah. Kegiatan tersebut diisi oleh guru-guru dan siswa secara bergantian. “Bahkan, kami juga mendatangkan narasumber, jika memungkinkan,” ungkapnya.
Ke depan pihaknya berencana akan melaksanakan salat dhuha rutin setiap minggu. “Namun sholat dhuha ini kan pribadi, tidak bisa berjamaah, takut pelaksanaannya tidak lancar,” ungkapnya. (*)

Rabu, 03 November 2010

WOMEN TRAFFICKING IN INDIA

AZAD INDIA FOUNDATION
An Organization Committed to the Over all Development of Rural India

Girl and Women Trafficking in India
http://www.azadindia.org/social-issues/WomenTrafficking-in-India.html
Trafficking is defined as a trade in something that should not be traded in for various social, economic or political reasons.Thus we have terms like drug trafficking, arms trafficking and human trafficking. The concept of human trafficking refers to the criminal practice of exploiting human beings by treating them like commodities for profit. Even after being trafficked victims are subjected to long term exploitation. The crime of trafficking manifests itself through the following
According to a recent survey women are bought and sold with impunity and trafficked at will to other countries from different parts of India. These girls and women are sourced from Dindigal, Madurai, Tiruchirapalli, and Chengalpattu in TamilNadu, Gaya, Kishanganj, Patna, Katihar, Purnea, Araria and Madhubani from Bihar, Murshidabad and 24 Parganas in West Bengal, Maharajgunj from UP, Dholpur, Alwar, Tonk from Rajasthan, Mangalore, and Gulbarga and Raichur from Karnataka. These women and girls are supplied to Thailand, Kenya, South Africa and Middle East countries like Bahrin, Dubai, Oman, Britain, South Korea and Philippines. They are forced to work as sex workers undergoing severe exploitation and abuse. These women are the most vulnerable group in contracting HIV infection. Due to unrelenting poverty and lack of unemployment opportunities there is an increase in the voluntary entry of women into sex work.
Trafficking both for commercial sexual exploitation and for non-sex based exploitation is a transnational and complex challenge as it is an organized criminal activity, an extreme form of human rights violation and an issue of economic empowerment and social justice. The trafficking of women and children causes untold miseries as it violates the rights and dignity of the individual in several ways. It violates the individual's rights to life, dignity, security, privacy, health, education and redressal of grievances.
Methods and strategies of prevention
The UN's Protocol contains a number of provisions aimed at preventing trafficking. State parties are required to establish policies, programmes and other measures aimed at preventing trafficking and protecting trafficked persons from re-victimization. The existence of vulnerable situations of inequality and injustice coupled with the exploitation of the victim's circumstances by the traffickers and others cause untold harm to the trafficked victim who faces a multiplicity of rights violations. Therefore policies, programmes and strategies that address prevention have to be unique with a focus on and an orientation towards all these issues. Accordingly the prevention of trafficking needs to be addressed not only in relation to the source areas but also in the demand areas the transit points and the trafficking routes. Strategies in all these areas have to be oriented towards the specific characteristics of the situation and the target groups.
• The best method of prevention is its integration it with prosecution and protection. Prosecution includes several tasks like the identification of the traffickers bringing them to the book, confiscating their illegal assets. Protection of the trafficked victim includes all steps towards the redressal of their grievances thus helping the victim survive, rehabilitate and establish herself/himself. Thus prosecution and protection contribute to prevention.
• The strategies should address the issues of livelihood options and opportunities by focusing on efforts to eradicate poverty, illiteracy etc.There should be special packages for women and children in those communities where entry into CSE may be perceived as the only available option. Education and other services should be oriented towards capacity building and the consequent empowerment of vulnerable groups.
• Gender discrimination and patriarchal mindset are important constituents and catalysts of the vulnerability of women and girl children. This manifests itself in several serious violations of women's rights such as high incidence of female foeticide and infanticide and the discrimination against women in healthcare, education and employment. Since these are vulnerability factors that trigger trafficking prevention strategies need to be oriented accordingly.
• Natural calamities and manmade disturbances do exacerbate the vulnerability situation. Therefore relief and aftercare programmes need to have specific components focused on the rights of women and children.
• At the micro level the prevention of trafficking in the source areas requires a working partnership between the police and NGOs.Public awareness campaigns and community participation are key to prevention programmes.Prevention is best achieved by community policing.
• Political will is an essential requirement to combat trafficking.
• Creating legal awareness is one of the most important functions of any social action programme because without legal awareness it is not possible to promote any real social activism. Legal awareness empowers people by making them aware of their rights, and can work towards strengthening them to develop zero tolerance towards abuse and exploitation.
• Immigration officials at the borders need to be sensitized so that they can network with the police as well as with NGOs working on preventing trafficking.
• Help lines and help booths are very important for providing timely help to any person in distress. The Ministry of Social Justice and Empowerment is considering collaboration between government agencies and NGOs for setting up help lines and help booths that can provide timely assistance to child victims. It will be appropriate if the Child lines all over India, NGOs working on child rights, missing person bureaus and police help lines are linked together as a formidable tool against trafficking.

Jumlah PSK Pucuk Merosot Tajam

Dibandingkan Pendataan
6 Tahun Silam

JENIFER AGUSTIA, Kotabaru

Dibandingkan dengan hasil pendataan pada 2004 lalu, jumlah pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Payosigadung pada 2010 ini merosot tajam.
“Enam tahun silam, jumlahnya masih sekitar 750 orang, namun kini hanya tinggal 332 orang saja,” kata Zulkarnain, Kasi Trantib Kecamatan Kotabaru, kemarin (2/11).
Dijelaskan, angka penurunan jumlah PSK di kawasan RT 05 Kelurahan Rawasari itu didapatkan berdasarkan pendataan oleh pihak Kecamatan Kotabaru, yang dilakukan selama tiga hari sejak 25 Oktober lalu, dengan mendatangi satu persatu rumah-rumah bordir yang ada di tempat itu.
Ditengarai, merosotnya jumlah PSK di lokalisasi terbesar di Provinsi Jambi itu karena sepinya pengunjung, yang merupakan imbas dari ditutupnya sejumlah sawmil dan pabrik pengolahan kayu (balok) di Jambi.
“Dulu yang sering kencan kemari, adalah para pekerja kayu dan toke balok. Sabtu dan Minggu, mereka pasti datang, dan pasti ramai,” ujar salah seorang PSK yang ditanya usai didata pihak kecamatan, minggu lalu.
Selain itu, maraknya peredaran narkoba di Jambi juga menjadi penyebab utama sepinya kawasan tersebut. Sebab, terang Zulkarnain, perhatian pengguna narkoba lebih tertuju kepada obat-obatan yang mereka konsumsi, bukan pada PSK.
Dari 332 “anak asuh” yang tersebar di sepuluh gang lokalisasi itu, seluruhnya dikuasai oleh sekitar 83 orang germo, yang disebut ibu/bapak asuh.
Setiap ibu/bapak asuh, memiliki sejumlah anak asuh yang jumlahnya tidak merata. Ada yang mempunyai 10 hingga 15, namun ada juga yang hanya memiliki datu orang anak asuh.
Berdasarkan data terakhir, PSK paling muda adalah perempuan kelahiran 1991, sedangkan yang paling senior, kelahiran 1967.
“Hasil pendataan PSK di lokalisasi tersebut akan kami serahkan kepada Gubernur Jambi, pada 10 November mendatang. Dan selanjutnya kami tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh pemerintah. Tugas kami hanya mendata,” pungkasnya.