Dibandingkan Pendataan
6 Tahun Silam
JENIFER AGUSTIA, Kotabaru
Dibandingkan dengan hasil pendataan pada 2004 lalu, jumlah pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Payosigadung pada 2010 ini merosot tajam.
“Enam tahun silam, jumlahnya masih sekitar 750 orang, namun kini hanya tinggal 332 orang saja,” kata Zulkarnain, Kasi Trantib Kecamatan Kotabaru, kemarin (2/11).
Dijelaskan, angka penurunan jumlah PSK di kawasan RT 05 Kelurahan Rawasari itu didapatkan berdasarkan pendataan oleh pihak Kecamatan Kotabaru, yang dilakukan selama tiga hari sejak 25 Oktober lalu, dengan mendatangi satu persatu rumah-rumah bordir yang ada di tempat itu.
Ditengarai, merosotnya jumlah PSK di lokalisasi terbesar di Provinsi Jambi itu karena sepinya pengunjung, yang merupakan imbas dari ditutupnya sejumlah sawmil dan pabrik pengolahan kayu (balok) di Jambi.
“Dulu yang sering kencan kemari, adalah para pekerja kayu dan toke balok. Sabtu dan Minggu, mereka pasti datang, dan pasti ramai,” ujar salah seorang PSK yang ditanya usai didata pihak kecamatan, minggu lalu.
Selain itu, maraknya peredaran narkoba di Jambi juga menjadi penyebab utama sepinya kawasan tersebut. Sebab, terang Zulkarnain, perhatian pengguna narkoba lebih tertuju kepada obat-obatan yang mereka konsumsi, bukan pada PSK.
Dari 332 “anak asuh” yang tersebar di sepuluh gang lokalisasi itu, seluruhnya dikuasai oleh sekitar 83 orang germo, yang disebut ibu/bapak asuh.
Setiap ibu/bapak asuh, memiliki sejumlah anak asuh yang jumlahnya tidak merata. Ada yang mempunyai 10 hingga 15, namun ada juga yang hanya memiliki datu orang anak asuh.
Berdasarkan data terakhir, PSK paling muda adalah perempuan kelahiran 1991, sedangkan yang paling senior, kelahiran 1967.
“Hasil pendataan PSK di lokalisasi tersebut akan kami serahkan kepada Gubernur Jambi, pada 10 November mendatang. Dan selanjutnya kami tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh pemerintah. Tugas kami hanya mendata,” pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar