Jumat, 19 November 2010

Tidak Bisa Lunasi Angsuran //Komputer Sekolah Ditarik

JENNIFER AGUSTIA, Jambi
KASUS penarikan komputer di sekolah terjadi lagi. Kali ini terjadi di SMPN 25 di Kebun Kopi Kota Jambi. Sebelumnya, kasus serupa juga dialami oleh SMPN 3 dan SMP 14 Kota Jambi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 25 Kota Jambi Lismiyati, kemarin (19/11), mengatakan, sebanyak 13 unit komputer dari 20 komputer yang tersedia diambil oleh pihak ketiga, Sabtu (13/11) lalu. Alasannya karena tidak melunasi biaya pembelian komputer selama tiga tahun.
Kini, kata Lismiyati, pihaknya sedang membuat berita acara kasus tersebut dan juga surat laporan. Rencananya, Senin, 22 November, akan segera mengirimkan laporan ke Dinas Pendidikan Kota Jambi. Lambatnya mereka membuat laporan, karena harus menunggu tanda tangan dari ketua komite sekolah. “Ketua komite kita kerja di Tungkal, jadi sekali seminggu baru dia ke Jambi, Sabtu biasanya dia balik, sedangkan kepala sekolah belum berani ngasih tanda tangan kalau belum ada tanda tangan dari ketua komite,” ungkap salah seorang pegawai tata usaha di sekolah tersebut.
Sebenarnya, kata Lismiyati, isu penarikan sudah ada sejak satu tahun belakangan. Namun dengan berbagai cara serta perundingan dengan pihak ketiga, eksekusi penarikan bisa diundur. Selama ini, katanya, angsuran pembayaran pembelian komputer tersebut dibayar dengan iuran masing-masing siswa sebesar Rp 17.500 per bulan. “Namun, itu sebelum ada larangan dari wali kota, setelah adanya larangan mengambil pungutan dari siswa, kami jadi kewalahan melunasinya,” ungkapnya.
Sementara itu, Guru TIK SMPN 25 Kota Jambi Misrukiah, mengungkapkan rasa kecewaanya terhadap kasus ini. “Bagaimana siswa bisa tahu teknologi informasi kalau kejadiannya begini, tujuh unit komputer yang tersisa dipakai bersama,” ungkapnya.
Sebelum penarikan komputer, katanya, siswa harus dipisah belajar, karena keterbatasan komputer, yang hanya ada 20 unit. Kini keadaannya tentu semakin sulit, belajar hanya dengan tujuh unit komputer.
Diakuinya, melihat komputer-komputer tersebut ditarik pihak ketiga, siswanya sangat kecewa. “Mereka sedih dan terpukul, bagaimana tidak, selama ini mereka pakai komputer-komputer itu, sekarang cuma tinggal beberapa,” ungkapnya.
Setelah kejadian ini, siswa terpaksa harus mempergunakan satu komputer untuk lima orang. Diakui Misrukiah, metode seperti itu jelas sangat tidak efektif, karena waktu belajar akan lebih lama, sedangan materi yang diberikan berkurang. “Mereka harus gantian pake komputer, kita harus bimbing mereka satu per satu, kalau tidak seperti itu, yang pandai makin pandai, yang belum bisa malah nggak ada kemajuan, karena pasti mereka mengandalkan yang pandai saja,” keluhnya.
Saat ini, siswa SMPN 25 Kota Jambi sedang menjalani ujian praktek TIK, sehingga mereka kesulitan mengerjakan soal-soal ujian, karena efisiensi waktu. “Kalau ujian kan harus satu komputer untuk satu siswa, sekarang mereka harus giliran. Waktu ujian pasti molor,” ungkapnya.
Kekecewaan penarikan komputer sekolahnya itu, diungkapkan langsung oleh Septi siswa SMPN 25 Kota Jambi. Kata Septi, dia sempat mengungkapkan protesnya kepada pihak ketiga yang menarik komputer, “Tapi dak digubris, mereka (pihak ketiga, red) tega nian,” protesnya.
Ketika dikonfirmasi terkait kasus di atas, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi A Syihabuddin mengaku belum tahu dengan kasus ini. Diakuinya pihak sekolah belum melapor. “Mungkin karena berhubungan dengan komite, jadi mereka belum melapor,” ungkapnya.
Untuk itu, dia menghimbau agar pihak SMPN 25 Kota Jambi segera membuat laporan. Dengan demikian, kata Syihabuddin, dinas bisa mengambil tindakan.
Ditambahkannya, pada tahun 2011 nanti, Dinas Pendidikan Kota Jambi akan mengusulkan kepada Pemkot Jambi, agar mengalokasikan sebagian dana APBD untuk pengadaan komputer di sekolah-yang ada di Kota Jambi. “Agar tidak terjadi lagi kasus seperti ini, karena pelajaran komputer saat ini telah menjadi mata pelajaran wajib,” katanya.(*)

Foto: Jennifer Agustia, Jambi
SISA: Suasana ruang TIK SMPN 25 Kota Jambi. Dari 20 unit komputer yang ada kini hanya tersisa tujuh unit komputer. Sebanyak 13 unit komputer telah ditarik pihak ketiga karena dinilai manajemen sekolah tidak dapat melunasi angsuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar