Mengunjungi Korban Kebakaran Di Lingkar Selatan
Anak Bungsunya Tewas Terbakar, Hanya Baju yang Melekat di Badan Tersisa
Rumah kayu berukuran 4x7 meter itu kini hanya tinggal abu, rata dengan tanah. Sabtu lalu, kebakaran naas menghanguskan seisi rumah, tak ada harta yang tersisa, bahkan bayi kecil berumur 1,5 tahun itupun menjadi korban kebakaran yang hanya berlangsung tak lebih dari 30 menit itu. Bagaiamana ihwal kejadian yang sesungguhnya, berikut liputan Jambi Independent bersama keluarga korban.
JENNIFER AGUSTIA, Kota Jambi
Ditemui di rumah tetangganya yang beralamat di Jalan Lingkar Selatan II RT 22, Keluarahan Lingkar Selatan, Kecamatan Jambi Selatan, Mailinda (35) terlihat kuyu dengan matanya yang masih merah. Barangkali dirinya masih belum bisa menerima bahwa anak bungsunya yang bernama Mahdi Dafa Muakhir telah tewas dalam sebuah kebakaran tragis.
Mailinda bercerita kepada Jambi Independent, dirinya tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Yang menjadi beban fikirannya saat ini adalah, dirinya tidak melihat sang putra bungsu sebelum dikuburkan.
Mailinda sebenarnya memiliki enam orang anak. Tiga anak pertamanya berada di Padang untuk sekolah, dan tiga anak terakirnya tinggal bersamanya di Kota Jambi. Pada saat kejadian, Mailinda sedang tidak berada di rumah. Pada pukul 9.00, dirinya berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan pembuat kue. Sedangkan kebakaran terjadi pada pukul 10.00. “Sebelumnya, saya tidak punya firasat apa-apa, ketiga anak saya biasa ditinggal dirumah,” katanya.
Ketiga anaknya yang berada di rumah pada saat itu adalah Gema (6), Gefal (4) dan si bungsu Dafa (1,5). Anak-anak tersebut biasa bermain bersama-sama, dan Gemal selalu menemani Dafa bermain. “Bahkan Gema bisa membuat susu adiknya, kalau Dafa nangis di kasih susu buatan Gema langsung diam,” katanya.
Disnawati, tetangga korban juga membenarkan hal itu. Dirinya yang juga masih famili jauh Dismiyati biasanya selalu mengecek kegiatan ketiga bocah yang sudah dianggapnya anak tersebut, apabila orang tuanya tidak di rumah. Namun yang disesalkannya, adalah sebelum kejadian itu, Gema sempat ingin ikut dengannya, tapi dilarang.
Sambil berlinang air mata, dirinya mengatakan, “Yang jadi penyesalan buat saya, mereka bilang mau ikut mak uwo, tapi saya larang, saya mau pergi meras kelapa. Cuman sebentar, ketika saya kembali api sudah berkobar,” katanya. Dilanjutkannya, seketika itu juga Disnawati langsung berlari mendekati rumah papan yang dilalap api tersebut untuk mencari ketiga bocah itu.
“Saya langsung teriak, dimano kalian???” ungkapanya. Dari kejauhan, katanya, dirinya mendengar suara Gema dan Gefal berteriak. Dirinya mendekati, dan menemukan dua kakak beradik tersebut berdiri bergandengan di sudut agak jauh dari rumah yang terbakar itu. Dirinya mengaku lemas ketika Gema mengatakan, Dafa masih di dalam rumah, “Adek bobok dalam rumah” ungkap Gema saat itu.
Disnawati mengaku seperti kakinya tidak lagi menginjak tanah, karena dengan perasaannya yang bercampur aduk, dirinya berlari mendekati rumah yang terbakar itu. Ketika hendak melangkah masuk menerobos api, dirinya mengkau ditarik seseorang lalu pingsan. “Saat itu, saya berpikir untuk menyelamatkan Dafa, biarlah say yang mati dari pada Dafa. Karena mereka sudah saay anggap seperti anak saya sendiri,” katanya.
Gema dan Gefal, masih terlihat riang di hari ketiga kematian adik bungsu mereka. Layaknya bocah, yang tidak mengenal apa artinya kehilangan. Jambi Independent mencoba mengorek informasi ihwal terjadinya kebakarak di Sabtu pagi itu. Apa yang sedang mereka lalukan, dan dari mana asal api itu?
Tanpa diduga, Gema mengaku bermain korek api di kamar ibunya bersama Gefal, sambil menjaga adiknya yang sedang tertidur pulas. Ketika ditanyakan kenapa rumah bisa terbakar, “Gema main korek, diatas kasur ibu,” katanya. Menurut perkiraan warga, api dari korek tersebutlah yang menjadi penyebab kabakaran. Gema juga mengatakan, korek api itu ditemukannya didekat kompor.
Mailinda ketika ditanya, apakah sudah ikhlas dengan kepergian Dafa? Saat ini meski masih terelihat gurat kesedihan diwajahnya, dengan tegas dia menjawas bahwa kejadian ini sudah menjadi takdir bagi Dafa, “Dia sudah pasti masuk syurga,” kata Linda lirih. Namun diakuinya, saat kejadian, dirinya tak dapat membendung emosinya, kalimat yang terucap dari mulutnya tak bisa dikendalikannya. “Sabtu itu saya ngamuk, mau bunuh siapa saja yang mendekat,” katanya.
Kedepannya, Mailinda hanya ingin kembali membangun rumah diatas tanah yang dibelinya tahun 1997 tersebut. Namun kendalanya adalah biaya, sementatar pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang berprofesi sebagai supir taksi tidak memungkinkan membangun rumah. “Harta yang tertinggal saja hanya baju yang terpasang di badan, saat ini, untng saja ada bantuan yang datang berupa makanan, pakaian, dan kain,” katanya.
Diperkirakan, untuk membangun rumah kayu seperti yang terbakar tersebut, membutuhkan biaya Rp 15 hingga Rp 20 juta. Untuk membantu kebutuhan biaya hidup saja, kata Disnawati, belakangan Linda berjualan kue yang ditaroh di warung-warung, itupun dalam jumlah yang sedikit.
“Ada modal sepuluh tibu, dia belikan bahan kue, terus dititipkan ke warung-warung. Kebetulan kemarin itu ada yang kasih modal seratus ribu, nah dengan uang seratus ribu itu lah dia ke pasar, rencananya buat beli bahan kue yang mau di jual,” kenang Disnawati.
Sementara ini, Linda tinggal di rumah Disnawati entah untuk berapa lama. Yang jelas dalam pikirannya hanya ingin kembali punya rumah. Mengenai rencana membuka usaha lagi, belum terpikirkan olehnya. “Yang jelas saya punya rumah dulu untuk tidur,” tandasnya seraya menerawang keluar jendela.
Senin, 09 Mei 2011
Rabu, 04 Mei 2011
AMAZONE GA BAYAR PAJAK
PASAR - Wahana permainan anak-anak Amazone The Rain Forest yang berlokasi di lantai empat WTC Batanghari Kota Jambi, kemarin (4/5), didatangi DPRD Kota Jambi. Adalah Komisi A DPRD Kota Jambi yang mendatangi Amazone tersebut.
Menurut Hamid Jufri, Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Jambi, Senin (2/5) lalu, para anggota dewan sudah turun langsung ke Amazone mempertanyakan dokumen-dokumen perizinannya. “Kita datang ke sini, katanya perizinan itu siap hari itu. Nah, hari Selasa (3/5), kita suruh datang ke kantor untuk membawa surat-surat izin yang asli, namun hingga sore kami tunggu, yang bersangkutan tidak datang,” katanya. Atas dasar tersebut, kemarin anggota Komisi A DPRD Kota Jambi mendatangi kembali tempat hiburan anak-anak tersebut.
Pada saat anggota komisi A datang ke Amazone dan masuk ke ruangan manajemen, telah tertempel beberapa surat izin yang telah dibingkai rapi. Anggota dewan langsung memanggil supervisor Amazone untuk segera datang ke lokasi untuk memperlihatkan surat izin yang asli.
Hal yang dipertanyakan dewan adalah surat izin tersebut baru keluar pada April. Sedangkan Amazone sendiri sudah beroperasi semenjak akhir Januari. “Mereka bilang sudah bayar pajak selama dua bulan, sedangkan izinnya saja baru keluar April, berarti ada indikasi pungutan liar di sini, logikanya saja, izin dulu baru bayar pajak,” ungkap Hamid Jufri.
Terkait dengan hal itu, pihak Amazone yang diwakili oleh Yuyun Agus Supriadi, Supervisor Amazone, membantah tuduhan tersebut. Dikatakannya kepada Jambi Independent, pihaknya telah mengurus izin semenjak Februari lalu, namun izin tersebut baru keluar pada April. “Namun kita berani buka Amazone karena sudah diberikan garansi oleh pihak WTC, mereka bilang harus segera dibuka,” katanya.
Dikonfirmasi kepada pihak WTC, Ameng, General Manager WTC Batanghari mengaku hanya memfasilitasi tempat bagi siapa saja yang berniat menyewa. “Kalau ada yang mau nyewa tempat, masak harus kita tolak,” katanya. Diakuinya, pihak mal memang memberikan garansi terhadap setiap penyewanya, namun hanya garansi keamanan. “Kalau masalah gedung, HO, atau Amdal itu baru tanggung jawab kita. Kalau izin bukan ruang lingkup kita,” ungkapnya.
Ketika ditanya, alasan ketidakhadiran Yuyun ketika dipanggil dewan, dirinya menjawab memang sengaja tidak datang. Menurut Yuyun, untuk menghadiri panggilan tersebut harus ada surat panggilan resmi dari dewan, karena dirinya harus membuat surat laporan ke kantor pusat. “Saya memang tidak datang, karena tidak ada surat panggilan resmi, sementara saya harus buat surat juga ke kantor pusat. Atas alasan itu, kantor menyarankan saya untuk tidak datang, karena kami harus jelas panggilan dari instansi mana, keperluannya apa,” katanya.
Yuyun lalu menunjukkan surat izin usaha perdagangan (SIUP) yang sudah keluar pada tanggal 22 Maret yang lalu. Sabriyanto, Kepala Satpol PP Kota Jambi yang juga ikut dalam sidak ini membacakan beberapa surat izin yang dimiliki oleh Amazone. Izin operasional hiburan umum keluar pada tanggal 19 April 2011, SIUP pada tanggal 18 April, TDP pada 13 April, SITU pada tanggal 13 April. “Seharusnya, yang diurus pertama kali adalah izin tempat usaha atau SITU dulu, baru yang lain-lain, kalau kita lihat di sini tidak seperti itu,” ungkap Sabriyanto. Komisi A DPRD Kota Jambi akhirnya mengundang pihak Amazone untuk hadir dalam hearing yang dilaksanakan pada Senin, 9 Mei mendatang.
Menurut Hamid Jufri, Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Jambi, Senin (2/5) lalu, para anggota dewan sudah turun langsung ke Amazone mempertanyakan dokumen-dokumen perizinannya. “Kita datang ke sini, katanya perizinan itu siap hari itu. Nah, hari Selasa (3/5), kita suruh datang ke kantor untuk membawa surat-surat izin yang asli, namun hingga sore kami tunggu, yang bersangkutan tidak datang,” katanya. Atas dasar tersebut, kemarin anggota Komisi A DPRD Kota Jambi mendatangi kembali tempat hiburan anak-anak tersebut.
Pada saat anggota komisi A datang ke Amazone dan masuk ke ruangan manajemen, telah tertempel beberapa surat izin yang telah dibingkai rapi. Anggota dewan langsung memanggil supervisor Amazone untuk segera datang ke lokasi untuk memperlihatkan surat izin yang asli.
Hal yang dipertanyakan dewan adalah surat izin tersebut baru keluar pada April. Sedangkan Amazone sendiri sudah beroperasi semenjak akhir Januari. “Mereka bilang sudah bayar pajak selama dua bulan, sedangkan izinnya saja baru keluar April, berarti ada indikasi pungutan liar di sini, logikanya saja, izin dulu baru bayar pajak,” ungkap Hamid Jufri.
Terkait dengan hal itu, pihak Amazone yang diwakili oleh Yuyun Agus Supriadi, Supervisor Amazone, membantah tuduhan tersebut. Dikatakannya kepada Jambi Independent, pihaknya telah mengurus izin semenjak Februari lalu, namun izin tersebut baru keluar pada April. “Namun kita berani buka Amazone karena sudah diberikan garansi oleh pihak WTC, mereka bilang harus segera dibuka,” katanya.
Dikonfirmasi kepada pihak WTC, Ameng, General Manager WTC Batanghari mengaku hanya memfasilitasi tempat bagi siapa saja yang berniat menyewa. “Kalau ada yang mau nyewa tempat, masak harus kita tolak,” katanya. Diakuinya, pihak mal memang memberikan garansi terhadap setiap penyewanya, namun hanya garansi keamanan. “Kalau masalah gedung, HO, atau Amdal itu baru tanggung jawab kita. Kalau izin bukan ruang lingkup kita,” ungkapnya.
Ketika ditanya, alasan ketidakhadiran Yuyun ketika dipanggil dewan, dirinya menjawab memang sengaja tidak datang. Menurut Yuyun, untuk menghadiri panggilan tersebut harus ada surat panggilan resmi dari dewan, karena dirinya harus membuat surat laporan ke kantor pusat. “Saya memang tidak datang, karena tidak ada surat panggilan resmi, sementara saya harus buat surat juga ke kantor pusat. Atas alasan itu, kantor menyarankan saya untuk tidak datang, karena kami harus jelas panggilan dari instansi mana, keperluannya apa,” katanya.
Yuyun lalu menunjukkan surat izin usaha perdagangan (SIUP) yang sudah keluar pada tanggal 22 Maret yang lalu. Sabriyanto, Kepala Satpol PP Kota Jambi yang juga ikut dalam sidak ini membacakan beberapa surat izin yang dimiliki oleh Amazone. Izin operasional hiburan umum keluar pada tanggal 19 April 2011, SIUP pada tanggal 18 April, TDP pada 13 April, SITU pada tanggal 13 April. “Seharusnya, yang diurus pertama kali adalah izin tempat usaha atau SITU dulu, baru yang lain-lain, kalau kita lihat di sini tidak seperti itu,” ungkap Sabriyanto. Komisi A DPRD Kota Jambi akhirnya mengundang pihak Amazone untuk hadir dalam hearing yang dilaksanakan pada Senin, 9 Mei mendatang.
AIR MATI
KOTABARU – Bagi pelanggan perusahaan daerah air minum (PDAM) yang tinggal di wilayah timur, Pasar, Jelutung, dan Selatan, harus bersiap menghadapi paceklik air selama lima bulan. Ini diberlakukan selama perbaikan serta rehab alat-alat PDAM di beberapa tempat.
“Pembangunan Tengosari di wilayah timur dan rehab benteng tetap berjalan. Hal ini bertujuan untuk perbaikan pelayanan terhadap masyarakat,” terang Firdaus, Direktur Utama PDAM Tirta Mayang, Kota Jambi, kemarin (4/5).
Namun, katanya, untuk melakukan perbaikan-perbaikan tersebut dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan dikhawatirkan akan menganggu pelayanan PDAM terhadap masyarakat. “Seperti perbaikan benteng itu tidak bisa tambal sulam, karena kerusakannya sudah cukup parah dan kronis. Dalam prosesnya, tentu akan mengganggu pelayanan air terhadap masyarakat, air harus dimatikan,” ungkapnya.
Berapa lama air tak beroperasi? Ketika proses perbaikan dilaksanakan, Firdaus mengatakan tidak bisa dalam hitungan hari. “Paling tidak lima bulan air harus mati, mana mau masyarakat dimatikan airnya selama itu, lagian mau dapat air dari mana lagi,” katanya.
Untuk mengatasi hal itu, PDAM akan mengaktifkan kembali menara lama sebagai cadangan serta antisipasi dalam perbaikan benteng tersebut. “Menara lama kita aktifkan kembali, pindahkan produksi ke sana, baru dimatikan sebanyak 50 persen,” katanya. Disebutkannya, dalam perbaikan tersebut sekitar 10 ribu pelanggan akan terganggu, yakni pelanggan yang berada di wilayah Timur, Pasar, Jelutung, dan Selatan.
Pelaksanaan sendiri, disebutkan Firdaus, akan dimulai pada awal 2012 mendatang. “Baru kita perbaiki separuhnya selama enam bulan, kalau keseluruhan kemungkinan akhir 2012 selesai,” katanya. Yang menjadi kendala saat ini adalah persetujuan masyarakat untuk mematikan air. “Apakah mereka mau, dari mana bisa dapat air, namun akan kita koordinasi lagi,” katanya.
Saat ini jumlah pelanggan PDAM Tirta Mayang berjumlah sebanyak 56 ribu. Di tahun 2015 nanti, ditargetkan sudah mencapai 81 ribu pelanggan dengan pelayanan sebanyak 80 persen. “Itu lima tahun yang akan datang,” tandasnya.
“Pembangunan Tengosari di wilayah timur dan rehab benteng tetap berjalan. Hal ini bertujuan untuk perbaikan pelayanan terhadap masyarakat,” terang Firdaus, Direktur Utama PDAM Tirta Mayang, Kota Jambi, kemarin (4/5).
Namun, katanya, untuk melakukan perbaikan-perbaikan tersebut dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan dikhawatirkan akan menganggu pelayanan PDAM terhadap masyarakat. “Seperti perbaikan benteng itu tidak bisa tambal sulam, karena kerusakannya sudah cukup parah dan kronis. Dalam prosesnya, tentu akan mengganggu pelayanan air terhadap masyarakat, air harus dimatikan,” ungkapnya.
Berapa lama air tak beroperasi? Ketika proses perbaikan dilaksanakan, Firdaus mengatakan tidak bisa dalam hitungan hari. “Paling tidak lima bulan air harus mati, mana mau masyarakat dimatikan airnya selama itu, lagian mau dapat air dari mana lagi,” katanya.
Untuk mengatasi hal itu, PDAM akan mengaktifkan kembali menara lama sebagai cadangan serta antisipasi dalam perbaikan benteng tersebut. “Menara lama kita aktifkan kembali, pindahkan produksi ke sana, baru dimatikan sebanyak 50 persen,” katanya. Disebutkannya, dalam perbaikan tersebut sekitar 10 ribu pelanggan akan terganggu, yakni pelanggan yang berada di wilayah Timur, Pasar, Jelutung, dan Selatan.
Pelaksanaan sendiri, disebutkan Firdaus, akan dimulai pada awal 2012 mendatang. “Baru kita perbaiki separuhnya selama enam bulan, kalau keseluruhan kemungkinan akhir 2012 selesai,” katanya. Yang menjadi kendala saat ini adalah persetujuan masyarakat untuk mematikan air. “Apakah mereka mau, dari mana bisa dapat air, namun akan kita koordinasi lagi,” katanya.
Saat ini jumlah pelanggan PDAM Tirta Mayang berjumlah sebanyak 56 ribu. Di tahun 2015 nanti, ditargetkan sudah mencapai 81 ribu pelanggan dengan pelayanan sebanyak 80 persen. “Itu lima tahun yang akan datang,” tandasnya.
Senin, 02 Mei 2011
ULET BULU!!!!
Awas, Ulat Bulu Masuk Kota
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Ini informasi penting yang harus diketahui warga Kota Jambi. Wabah ulat bulu yang belakangan marak menyerang daerah-daerah di Indonesia, ternyata kini sudah masuk ke Kota Jambi. Bahkan, di salah satu RT dalam Kota Jambi, telah terserang ulat-ulat yang membuat gatal pada kulit manusia itu.
Salah seorang ketua RT di Kota Jambi melaporkan keberadaan ulat bulu di kawasan yang dipimpinnya, yakni di Jalan Slamet Riyadi, Lorong Flamboyan, RT 12, No 27, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, kemarin (2/5).
Nila, ketua Rt mengatakan, dirinya baru melihat keberadaan ulat bulu tersebut dua hari lalu. Namun diakuinya, dua minggu yang lalu, dia beserta masyarakat sekitar menemukan banyak kupu-kupu beterbangan di kawasan tersebut.
Ketika ditanyakan berapa jumlah kupu-kupu tersebut, Mila mengatakan sekitar 15 ekor lebih. Ciri-cirinya, kupu-kupu tersebut memiliki warna yang tidak menarik, dan beberapa hari kemudian kupu-kupu tersebut ditemukan mati di daerah itu. “Warnanya hitam bintik-bintik. Dan jumlah tersebut kami pikir sudah tidak wajar lagi,” katanya.
Disebutkan, di bagian bawah pohon ditemukan ulat bulu dalam jumlah yang sangat banyak. “Kalau diperkirakan, bisa mencapai 300 ekor, mengerikan,” ungkapnya.
Ketika ditanyakan apakah ada reaksi gatal-gatal, Nila mengatakan, anak-anaknya mengalami gatal-gatal semenjak dua hari tersebut. “Makanya, anak-anak saya larang dulu mendekati tumbuhan-tumbuhan,” katanya.
Berdasarkan pantauan Jambi Independent, ulat bulu tersebut berdiameter sekitar 5 mm, dengan panjang 3 sampai 5 cm, warna ulat bulu tersebut cokelat tua.
Mendapatkan laporan pertama adanya ulat bulu di Kota Jambi, Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Jambi, mengambil tindakan penyemprotan pada tumbuhan yang dihinggapi ulat bulu tersebut.
“Setelah mendapat laporan itu, kita langsung melakukan penyemprotan insektisida Convidor untuk membasmi kloni ulat bulu itu di lokasi yang dimaksud,” kata Harlik, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kota Jambi.
“Diperkirakan memang ada 300 ekor, namun yang tadi berhasil kita kumpulkan setelah dilakukan penyemprotan sebanyak sekitar 50 ekor,” katanya.
Menurutnya, yang menjadi kendala dalam pembasmian tersebut adalah karena cuaca yang siang kemarin cukup panas. “Kalau panas kan mereka itu naik ke atas pohon. Kalau malam, biasanya mereka turun. Itu yang menjadi kendala kita untuk membasminya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, ulat bulu tersebut mirip dengan yang sering menjadi pemberitaan nasional, dengan nama Limantaria Marginata. Disebutkan, yang diserang oleh ulat bulu saat ini adalah daun mangga yang berada di pekarangan rumah warga. “Saat ini yang diserangnya baru satu pohon. Tapi, pohon yang terancam diserang ada tujuh pohon,” sebutnya.
Setelah dilakukan penyemprotan, ulat bulu dibawa ke laboratorium untuk kemudian diteliti. “Kami imbau kepada warga, jika ada kejadian seperti ini, segera laporkan kepada kami ke nomor 0741-580573. Akan langsung kami tindak lanjuti dengan melakukan penyemprotan,” tambahnya.
Posisi saat ini sudah bisa dikatakan dengan status siaga. Oleh karenanya, warga diimbau untuk berhati-hati. Sementara yang mengakibatkan mewabahnya ulat bulu ini, kata Harlik, adalah faktor cuaca ekstrim. “Bisa dikatakan siaga. Ini akibat dari cuaca ekstrem yang beberapa hari belakangan terjadi. Sehingga, ulat bulu jadi lebih mudah berkembang biak dengan cepat,” tandasnya.(*)
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Ini informasi penting yang harus diketahui warga Kota Jambi. Wabah ulat bulu yang belakangan marak menyerang daerah-daerah di Indonesia, ternyata kini sudah masuk ke Kota Jambi. Bahkan, di salah satu RT dalam Kota Jambi, telah terserang ulat-ulat yang membuat gatal pada kulit manusia itu.
Salah seorang ketua RT di Kota Jambi melaporkan keberadaan ulat bulu di kawasan yang dipimpinnya, yakni di Jalan Slamet Riyadi, Lorong Flamboyan, RT 12, No 27, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, kemarin (2/5).
Nila, ketua Rt mengatakan, dirinya baru melihat keberadaan ulat bulu tersebut dua hari lalu. Namun diakuinya, dua minggu yang lalu, dia beserta masyarakat sekitar menemukan banyak kupu-kupu beterbangan di kawasan tersebut.
Ketika ditanyakan berapa jumlah kupu-kupu tersebut, Mila mengatakan sekitar 15 ekor lebih. Ciri-cirinya, kupu-kupu tersebut memiliki warna yang tidak menarik, dan beberapa hari kemudian kupu-kupu tersebut ditemukan mati di daerah itu. “Warnanya hitam bintik-bintik. Dan jumlah tersebut kami pikir sudah tidak wajar lagi,” katanya.
Disebutkan, di bagian bawah pohon ditemukan ulat bulu dalam jumlah yang sangat banyak. “Kalau diperkirakan, bisa mencapai 300 ekor, mengerikan,” ungkapnya.
Ketika ditanyakan apakah ada reaksi gatal-gatal, Nila mengatakan, anak-anaknya mengalami gatal-gatal semenjak dua hari tersebut. “Makanya, anak-anak saya larang dulu mendekati tumbuhan-tumbuhan,” katanya.
Berdasarkan pantauan Jambi Independent, ulat bulu tersebut berdiameter sekitar 5 mm, dengan panjang 3 sampai 5 cm, warna ulat bulu tersebut cokelat tua.
Mendapatkan laporan pertama adanya ulat bulu di Kota Jambi, Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Jambi, mengambil tindakan penyemprotan pada tumbuhan yang dihinggapi ulat bulu tersebut.
“Setelah mendapat laporan itu, kita langsung melakukan penyemprotan insektisida Convidor untuk membasmi kloni ulat bulu itu di lokasi yang dimaksud,” kata Harlik, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kota Jambi.
“Diperkirakan memang ada 300 ekor, namun yang tadi berhasil kita kumpulkan setelah dilakukan penyemprotan sebanyak sekitar 50 ekor,” katanya.
Menurutnya, yang menjadi kendala dalam pembasmian tersebut adalah karena cuaca yang siang kemarin cukup panas. “Kalau panas kan mereka itu naik ke atas pohon. Kalau malam, biasanya mereka turun. Itu yang menjadi kendala kita untuk membasminya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, ulat bulu tersebut mirip dengan yang sering menjadi pemberitaan nasional, dengan nama Limantaria Marginata. Disebutkan, yang diserang oleh ulat bulu saat ini adalah daun mangga yang berada di pekarangan rumah warga. “Saat ini yang diserangnya baru satu pohon. Tapi, pohon yang terancam diserang ada tujuh pohon,” sebutnya.
Setelah dilakukan penyemprotan, ulat bulu dibawa ke laboratorium untuk kemudian diteliti. “Kami imbau kepada warga, jika ada kejadian seperti ini, segera laporkan kepada kami ke nomor 0741-580573. Akan langsung kami tindak lanjuti dengan melakukan penyemprotan,” tambahnya.
Posisi saat ini sudah bisa dikatakan dengan status siaga. Oleh karenanya, warga diimbau untuk berhati-hati. Sementara yang mengakibatkan mewabahnya ulat bulu ini, kata Harlik, adalah faktor cuaca ekstrim. “Bisa dikatakan siaga. Ini akibat dari cuaca ekstrem yang beberapa hari belakangan terjadi. Sehingga, ulat bulu jadi lebih mudah berkembang biak dengan cepat,” tandasnya.(*)
Langganan:
Komentar (Atom)