Senin, 09 Mei 2011

BAYI TERBAKAR

Mengunjungi Korban Kebakaran Di Lingkar Selatan
Anak Bungsunya Tewas Terbakar, Hanya Baju yang Melekat di Badan Tersisa

Rumah kayu berukuran 4x7 meter itu kini hanya tinggal abu, rata dengan tanah. Sabtu lalu, kebakaran naas menghanguskan seisi rumah, tak ada harta yang tersisa, bahkan bayi kecil berumur 1,5 tahun itupun menjadi korban kebakaran yang hanya berlangsung tak lebih dari 30 menit itu. Bagaiamana ihwal kejadian yang sesungguhnya, berikut liputan Jambi Independent bersama keluarga korban.

JENNIFER AGUSTIA, Kota Jambi
Ditemui di rumah tetangganya yang beralamat di Jalan Lingkar Selatan II RT 22, Keluarahan Lingkar Selatan, Kecamatan Jambi Selatan, Mailinda (35) terlihat kuyu dengan matanya yang masih merah. Barangkali dirinya masih belum bisa menerima bahwa anak bungsunya yang bernama Mahdi Dafa Muakhir telah tewas dalam sebuah kebakaran tragis.
Mailinda bercerita kepada Jambi Independent, dirinya tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Yang menjadi beban fikirannya saat ini adalah, dirinya tidak melihat sang putra bungsu sebelum dikuburkan.
Mailinda sebenarnya memiliki enam orang anak. Tiga anak pertamanya berada di Padang untuk sekolah, dan tiga anak terakirnya tinggal bersamanya di Kota Jambi. Pada saat kejadian, Mailinda sedang tidak berada di rumah. Pada pukul 9.00, dirinya berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan pembuat kue. Sedangkan kebakaran terjadi pada pukul 10.00. “Sebelumnya, saya tidak punya firasat apa-apa, ketiga anak saya biasa ditinggal dirumah,” katanya.
Ketiga anaknya yang berada di rumah pada saat itu adalah Gema (6), Gefal (4) dan si bungsu Dafa (1,5). Anak-anak tersebut biasa bermain bersama-sama, dan Gemal selalu menemani Dafa bermain. “Bahkan Gema bisa membuat susu adiknya, kalau Dafa nangis di kasih susu buatan Gema langsung diam,” katanya.
Disnawati, tetangga korban juga membenarkan hal itu. Dirinya yang juga masih famili jauh Dismiyati biasanya selalu mengecek kegiatan ketiga bocah yang sudah dianggapnya anak tersebut, apabila orang tuanya tidak di rumah. Namun yang disesalkannya, adalah sebelum kejadian itu, Gema sempat ingin ikut dengannya, tapi dilarang.
Sambil berlinang air mata, dirinya mengatakan, “Yang jadi penyesalan buat saya, mereka bilang mau ikut mak uwo, tapi saya larang, saya mau pergi meras kelapa. Cuman sebentar, ketika saya kembali api sudah berkobar,” katanya. Dilanjutkannya, seketika itu juga Disnawati langsung berlari mendekati rumah papan yang dilalap api tersebut untuk mencari ketiga bocah itu.
“Saya langsung teriak, dimano kalian???” ungkapanya. Dari kejauhan, katanya, dirinya mendengar suara Gema dan Gefal berteriak. Dirinya mendekati, dan menemukan dua kakak beradik tersebut berdiri bergandengan di sudut agak jauh dari rumah yang terbakar itu. Dirinya mengaku lemas ketika Gema mengatakan, Dafa masih di dalam rumah, “Adek bobok dalam rumah” ungkap Gema saat itu.
Disnawati mengaku seperti kakinya tidak lagi menginjak tanah, karena dengan perasaannya yang bercampur aduk, dirinya berlari mendekati rumah yang terbakar itu. Ketika hendak melangkah masuk menerobos api, dirinya mengkau ditarik seseorang lalu pingsan. “Saat itu, saya berpikir untuk menyelamatkan Dafa, biarlah say yang mati dari pada Dafa. Karena mereka sudah saay anggap seperti anak saya sendiri,” katanya.
Gema dan Gefal, masih terlihat riang di hari ketiga kematian adik bungsu mereka. Layaknya bocah, yang tidak mengenal apa artinya kehilangan. Jambi Independent mencoba mengorek informasi ihwal terjadinya kebakarak di Sabtu pagi itu. Apa yang sedang mereka lalukan, dan dari mana asal api itu?
Tanpa diduga, Gema mengaku bermain korek api di kamar ibunya bersama Gefal, sambil menjaga adiknya yang sedang tertidur pulas. Ketika ditanyakan kenapa rumah bisa terbakar, “Gema main korek, diatas kasur ibu,” katanya. Menurut perkiraan warga, api dari korek tersebutlah yang menjadi penyebab kabakaran. Gema juga mengatakan, korek api itu ditemukannya didekat kompor.
Mailinda ketika ditanya, apakah sudah ikhlas dengan kepergian Dafa? Saat ini meski masih terelihat gurat kesedihan diwajahnya, dengan tegas dia menjawas bahwa kejadian ini sudah menjadi takdir bagi Dafa, “Dia sudah pasti masuk syurga,” kata Linda lirih. Namun diakuinya, saat kejadian, dirinya tak dapat membendung emosinya, kalimat yang terucap dari mulutnya tak bisa dikendalikannya. “Sabtu itu saya ngamuk, mau bunuh siapa saja yang mendekat,” katanya.
Kedepannya, Mailinda hanya ingin kembali membangun rumah diatas tanah yang dibelinya tahun 1997 tersebut. Namun kendalanya adalah biaya, sementatar pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang berprofesi sebagai supir taksi tidak memungkinkan membangun rumah. “Harta yang tertinggal saja hanya baju yang terpasang di badan, saat ini, untng saja ada bantuan yang datang berupa makanan, pakaian, dan kain,” katanya.
Diperkirakan, untuk membangun rumah kayu seperti yang terbakar tersebut, membutuhkan biaya Rp 15 hingga Rp 20 juta. Untuk membantu kebutuhan biaya hidup saja, kata Disnawati, belakangan Linda berjualan kue yang ditaroh di warung-warung, itupun dalam jumlah yang sedikit.
“Ada modal sepuluh tibu, dia belikan bahan kue, terus dititipkan ke warung-warung. Kebetulan kemarin itu ada yang kasih modal seratus ribu, nah dengan uang seratus ribu itu lah dia ke pasar, rencananya buat beli bahan kue yang mau di jual,” kenang Disnawati.
Sementara ini, Linda tinggal di rumah Disnawati entah untuk berapa lama. Yang jelas dalam pikirannya hanya ingin kembali punya rumah. Mengenai rencana membuka usaha lagi, belum terpikirkan olehnya. “Yang jelas saya punya rumah dulu untuk tidur,” tandasnya seraya menerawang keluar jendela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar