Pacaran dengan Laki-laki Beristri
Mungkin tidak ada yang mau hidup sebagai homoseksual atau gay. Begitu juga dengan Robert. Namun, mau apa dikata, garis hidupnya membuat dirinya sebagai laki-laki penyuka laki-laki.
Robert mengaku sudah merasakan tanda-tanda suka kepada sesama jenis dalam dirinya sejak masih duduk di bangku SMP. Ketika itu, kata dia, setiap melihat laki-laki yang menurutnya tampan, darahnya langsung berdesir.
Sampai menginjak bangku SMA, dia baru berani sebatas curi-curi pandang dengan laki-laki tanpa yang ditaksirnya. “Cuma berani lirik-lirik, kalau cakep rasanya darah ini berdesir,” kata pria yang menjabat sebagai Sekretaris Komunitas Gay di Kota Jambi, Male Working Group Jambi (MWGJ) ini.
Pada awalnya, Robert mengaku ada penolakan dalam dirinya terhadap orientasi seksual yang dia miliki. “Pernah juga menyesal, kenapa aku bisa kayak gini, kenapa tidak terlahir dengan orientasi seksual yang sama dengan teman-teman lainnya,” ungkapnya.
Baru pada tahun 2003, dia menerima sepenuhnya kepribadiannya yang berbeda dengan orang lain. Robert menerima bahwa dirinya memang penyuka sesama jenis, dan merasa nyaman bergaul dengan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas ini. “Awalnya nongkrong bareng, eh taunya nyambung, jadinya sering curhat juga,” katanya.
Untuk mendapatkan pasangan, banyak cara yang dilakukan. Seperti ngerumpi, bahkan menjalin hubungan lewat dunia maya. Selama manjalani kehidupannya sebagai gay, Robert sudah beberapa kali berganti pasangan. Namun untuk kekasihnya yang sekarang, Robert sudah menjalaninya selama empat tahun.
Siapa menyangka, kekasih Robert saat ini adalah pria beristri dan juga telah memiliki anak. “Pacar saya sudah beristri. Bahkan saya akrab dengan istrinya, karena istrinya tidak tau kalau si suami berorientasi seksual seperti itu,” jelasnya.
Robert juga mengaku sering berkunjung ke rumah pacarnya itu dan juga akrab dengan dua orang anaknya. “Mereka taunya kami berteman,” kata Robert. Namun, dia tak dapat memungkiri, bahwa suatu saat dirinya ingin menikah dengan seorang wanita. Tiga kali sudah dia hampir menikah, namun Robert tidak menceritakan alasan kenapa pernikahan itu batal.
Apakah masih memiliki rasa terhadap perempuan? “Saya masih selera lihat perempuan,” tegasnya. (enn)
Senin, 28 Maret 2011
INVESTIGASI
Komunitas Gay di Kota Jambi, Bagaimana Kehidupan Mereka?
Paling Muda SMP, Masih Malu Disebut Homo
Selain waria (wanita pria/banci), jumlah kelompok homoseksual, man sex man atau lelaki suka lelaki (LSL) di Jambi ternyata tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Bagaimana kehidupan mereka? Dan apa saja aktivitas mereka ?
Seperti waria, gay di Kota Jambi juga hidup berkelompok. Bedanya, mereka masih tertutup. Tidak tampil terang-terangan seperti para waria. Sebagian dari mereka menutup diri dari masayarakat lantaran malu diejek. Sebagian lagi tampil dalam watak seorang lelaki normal.
Namun ada juga yang terang-terangan membuka diri, serta menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa dirinya adalah seorang homo atau gay, atau lelaki suka lelaki (LSL). Hal ini lah yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas atau yang mereka sebut sebagai organisasi.
Komunitas gay di Kota Jambi bernama Male Working Group Jambi (MWGJ). Sebagian besar anggotanya merupakan kaum gay di Kota Jambi dan beberapa kabupaten lainnya.
Ketika ditemui di rumahnya, Sekretaris MWGJ, Robert (bukan nama sebenarnya) mengatakan bahwa organisasi ini adalah wadah tempat berkumpulnya para gay untuk berbagi. “Banyak hal yang dibahas. Kita share info mengenai kesehatan, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pencegahan IMS dan HIV/AIDS,” jelasnya.
Menurut Robert, selama ini kaum gay sangat didiskriminasi. Padahal, mereka menginginkan hidup berdampingan secara normal dengan masyarakat. Dia juga menepis anggapan, bahwa gay dekat dengan penyalahgunaan narkotika.
Saat mereka berkumpul, menurut Robert, tidak ada yang menggunakan narkoba, apalagi jadi pencandu. Karena, jika ada, maka tugas teman-temannya lah sebagai sahabat memberikan pengertian mengenai bahaya narkoba.
Robert menjelaskan, MWGJ terbentuk tahun 2010 lalu. Tapi, sebelumnya para gay di Kota Jambi sudah ngumpul-ngumpul semenjak tahun 1995. Banyak hal yang mereka bicarakan. Salah satunya mengenai pria-pria temuan mereka di lapangan.
Lalu, apa saja kegiatan MWGJ? Robert menceritakan banyak hal positif yang mereka lakukan bersama. “Kadang-kadang kami ngumpul buat makan-makan, bakar ikan, atau karaoke bareng. Selain itu, kita juga adakan penyuluhan mengenai penyakit menular,” katanya.
Namun, dia melanjutkan, bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegitan-kegiatan tersebut tidak selalu sama. Karena masih bayak yang tidak berminat mengikuti kegiatan semacam penyuluhan. “Kalau acaranya senang-senang, seperti maka-makan, jalan-jalan, itu rame yang datang. Tapi kalau udah judulnya penyuluhan, yang datang cuma dikit,” ceritanya.
Untuk mensiasati hal itu, belakangan mereka penyelipkan kegiatan-kegiatan serius pada kegiatan senang-senang mereka. Robert mencontohkan, jika ada acara makan-makan atau jalan-jalan, diselingin dengan penyuluhan mengenai HIV/AIDS dan pembagian buku. “Jadi, senang-senangnya dapet, ilmunya juga dapet,” ujarnya.
Untuk mengadakan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, Robert mengaku biayanya berasal dari swadaya anggota. Ketika ditanyakan berapa jumlah anggota MWGJ, Robert tidak bisa menyebutkan secara pasti. “Karena banyak yang datang, banyak pula yang pergi dan tidak muncul-muncul lagi lantaran bekerja di luar kota,” katanya.
Apakah anggota MWGJ ada yang pasangan kekasih? Tentu saja ada. Diceritakan Robert, banyak kisah yang mereka buat selama berada dalam organisasi ini. Ada pasangan kekasih, ada juga yang menjalani hubungan tanpa status. “Kalo yang tanpa status, mereka hari ini jalan, besoknya ganti pasangan lagi. Eh besoknya jalan lagi, begitulah kehidupan para gay,” katanya.
Lain lagi dengan pasangan kekasih. Menurut dia, beberapa di antara mereka sangat cemburuan. Banyak pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi, lantaran sang pacar cemburu kalau cowoknya melirik cowok lain. “Ada juga yang cemburu karena menggaet cowok yang sama. Tapi tidak sampai musuhan, sebentar juga baikan lagi. Cari lagi cowok yang lain,” katanya.
Banyak kejadian lucu yang terjadi antara anggota kelompok gay tersebut. Ada yang musuhan gara-gara dianggap memakan teman sendiri. “Lantaran teman curhatnya menggaet cowok yang ditaksirnya,” kenang Robert.
Lalu, biasanya berapa lama hubungan sepasang kekasih gay bisa bertahan? Menurut Robert, berdasarkan pengalamannya dalam organisasi ini paling cepat satu pekan. “Ya.. mereka tidak cocok, dan telah menemukan pengganti masing-masing. Dijalani saja,” katanya. Namun ada juga yang telah menjalani hubungan sesama jenis ini selama bertahun-tahun setia pada satu pria.
Robert juga mengungkapkan, bahwa kalangan gay di Jambi terdiri dari berbagai status dan pekerjaan. Yang paling muda, menurut dia, ada yang masih kelas tiga SMP. Namun, kata Robert, mereka tidak selalu berkumpul di sekretariat MWGJ, karena orientasi mereka adalah uang.
“Kalau anak-anak sekolah itu jarang banget yang ikut kegiatan-kegiatan penyuluhan. Mereka datang minta dicarikan pria-pria yang bisa ngasih mereka duit. Ya dengan imbalan mereka harus melayani nafsu pria yang membayar itu,” jelasnya.
Menariknya, menurut Robert, kalangan gay yang masih ABG (anak baru gede) itu bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Mereka cuma ingin punya duit jajan lebih, terus bisa gonta-ganti hape (HP) yang canggih, itu saja,” katanya.(een)
Paling Muda SMP, Masih Malu Disebut Homo
Selain waria (wanita pria/banci), jumlah kelompok homoseksual, man sex man atau lelaki suka lelaki (LSL) di Jambi ternyata tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Bagaimana kehidupan mereka? Dan apa saja aktivitas mereka ?
Seperti waria, gay di Kota Jambi juga hidup berkelompok. Bedanya, mereka masih tertutup. Tidak tampil terang-terangan seperti para waria. Sebagian dari mereka menutup diri dari masayarakat lantaran malu diejek. Sebagian lagi tampil dalam watak seorang lelaki normal.
Namun ada juga yang terang-terangan membuka diri, serta menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa dirinya adalah seorang homo atau gay, atau lelaki suka lelaki (LSL). Hal ini lah yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas atau yang mereka sebut sebagai organisasi.
Komunitas gay di Kota Jambi bernama Male Working Group Jambi (MWGJ). Sebagian besar anggotanya merupakan kaum gay di Kota Jambi dan beberapa kabupaten lainnya.
Ketika ditemui di rumahnya, Sekretaris MWGJ, Robert (bukan nama sebenarnya) mengatakan bahwa organisasi ini adalah wadah tempat berkumpulnya para gay untuk berbagi. “Banyak hal yang dibahas. Kita share info mengenai kesehatan, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pencegahan IMS dan HIV/AIDS,” jelasnya.
Menurut Robert, selama ini kaum gay sangat didiskriminasi. Padahal, mereka menginginkan hidup berdampingan secara normal dengan masyarakat. Dia juga menepis anggapan, bahwa gay dekat dengan penyalahgunaan narkotika.
Saat mereka berkumpul, menurut Robert, tidak ada yang menggunakan narkoba, apalagi jadi pencandu. Karena, jika ada, maka tugas teman-temannya lah sebagai sahabat memberikan pengertian mengenai bahaya narkoba.
Robert menjelaskan, MWGJ terbentuk tahun 2010 lalu. Tapi, sebelumnya para gay di Kota Jambi sudah ngumpul-ngumpul semenjak tahun 1995. Banyak hal yang mereka bicarakan. Salah satunya mengenai pria-pria temuan mereka di lapangan.
Lalu, apa saja kegiatan MWGJ? Robert menceritakan banyak hal positif yang mereka lakukan bersama. “Kadang-kadang kami ngumpul buat makan-makan, bakar ikan, atau karaoke bareng. Selain itu, kita juga adakan penyuluhan mengenai penyakit menular,” katanya.
Namun, dia melanjutkan, bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegitan-kegiatan tersebut tidak selalu sama. Karena masih bayak yang tidak berminat mengikuti kegiatan semacam penyuluhan. “Kalau acaranya senang-senang, seperti maka-makan, jalan-jalan, itu rame yang datang. Tapi kalau udah judulnya penyuluhan, yang datang cuma dikit,” ceritanya.
Untuk mensiasati hal itu, belakangan mereka penyelipkan kegiatan-kegiatan serius pada kegiatan senang-senang mereka. Robert mencontohkan, jika ada acara makan-makan atau jalan-jalan, diselingin dengan penyuluhan mengenai HIV/AIDS dan pembagian buku. “Jadi, senang-senangnya dapet, ilmunya juga dapet,” ujarnya.
Untuk mengadakan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, Robert mengaku biayanya berasal dari swadaya anggota. Ketika ditanyakan berapa jumlah anggota MWGJ, Robert tidak bisa menyebutkan secara pasti. “Karena banyak yang datang, banyak pula yang pergi dan tidak muncul-muncul lagi lantaran bekerja di luar kota,” katanya.
Apakah anggota MWGJ ada yang pasangan kekasih? Tentu saja ada. Diceritakan Robert, banyak kisah yang mereka buat selama berada dalam organisasi ini. Ada pasangan kekasih, ada juga yang menjalani hubungan tanpa status. “Kalo yang tanpa status, mereka hari ini jalan, besoknya ganti pasangan lagi. Eh besoknya jalan lagi, begitulah kehidupan para gay,” katanya.
Lain lagi dengan pasangan kekasih. Menurut dia, beberapa di antara mereka sangat cemburuan. Banyak pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi, lantaran sang pacar cemburu kalau cowoknya melirik cowok lain. “Ada juga yang cemburu karena menggaet cowok yang sama. Tapi tidak sampai musuhan, sebentar juga baikan lagi. Cari lagi cowok yang lain,” katanya.
Banyak kejadian lucu yang terjadi antara anggota kelompok gay tersebut. Ada yang musuhan gara-gara dianggap memakan teman sendiri. “Lantaran teman curhatnya menggaet cowok yang ditaksirnya,” kenang Robert.
Lalu, biasanya berapa lama hubungan sepasang kekasih gay bisa bertahan? Menurut Robert, berdasarkan pengalamannya dalam organisasi ini paling cepat satu pekan. “Ya.. mereka tidak cocok, dan telah menemukan pengganti masing-masing. Dijalani saja,” katanya. Namun ada juga yang telah menjalani hubungan sesama jenis ini selama bertahun-tahun setia pada satu pria.
Robert juga mengungkapkan, bahwa kalangan gay di Jambi terdiri dari berbagai status dan pekerjaan. Yang paling muda, menurut dia, ada yang masih kelas tiga SMP. Namun, kata Robert, mereka tidak selalu berkumpul di sekretariat MWGJ, karena orientasi mereka adalah uang.
“Kalau anak-anak sekolah itu jarang banget yang ikut kegiatan-kegiatan penyuluhan. Mereka datang minta dicarikan pria-pria yang bisa ngasih mereka duit. Ya dengan imbalan mereka harus melayani nafsu pria yang membayar itu,” jelasnya.
Menariknya, menurut Robert, kalangan gay yang masih ABG (anak baru gede) itu bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Mereka cuma ingin punya duit jajan lebih, terus bisa gonta-ganti hape (HP) yang canggih, itu saja,” katanya.(een)
Razia Dilaksanakan Mei
KOTABARU – Terkait dengan perda baru mengenai minuman beralkohol (minol), yang disahkan pada akhir tahun 2010 yang lalu, dinas perindustrian dan perdagangan Kota Jambi saat ini belum melakukan razia-razia ke tempat-tempat dimana minol biasanya dijual. Hal ini dikatakn oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi Izhar Muzani.
Disebutkannya, masyarakat perlu diberikan sosialisasi terlebih dahulu sebelum razia diadakan. “Jadi tidak ada alsan nantinya kita razia, mereka bilang belum tau ada aturan seperti itu,” ungkapnya. Perda yang mengatur jenis minuman apa saja terkait dengan kadar alkohol di dalamnya serta tempat-tempat yang diijinkan untuk menjualnya tersebut baru disahkan pada Desember 2010 lalu. Dengan alasan itulah, hingga saat ini, belum dilaksanakan sidak.
Menurut Azhar, razia ataupun sidak selambat-lambatnya akan dilaksanakan mulai dari bulan Mei mendatang. Karena, katanya butuh waktu untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat luas. “Paling lambat, Mei kita sudah turun ke lapangan, dibantu oleh pihak-pihak terkait, salah satunya Satpol PP,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai perizinan menjual minol, pada tahun 2011 ini belum ada yang mengurus ijin. “Yang tahun ini belum ada yang ngurus ijin, barangkali karena perda baru ini belum tersosialisasi secara merata,” katanya.
Ditahun 2010 lalu, para penjual telah menagntongi surat ijin menjual miol. Namun, kata Izhar, hanya tempat-tempat tertentu saja yang mengurus surat ijin. “Hanya tempat-tempat tertentu saja yang jelas-jelas di dalamnya tersedia minuman beralkohol, seperti club, hotel, dan sejenisnya,” katanya. Pedagang-pedagang di pinggir jalan, katanya tidak mengurus surat ijin.
Ketika ditanyakan mengenai ijin beredarnya minol Cap Macan, Izhar menyatakan hal itu tdak ada sangkut pautnya dengan Disperindag Kota Jambi. Katanya, izin beredarnya Cap Macam keluar dari Departemen Perdagangan pusat. “Kan subdistributornya dari Departemen Perdagangan pusat,” katanya. Karena memang, banyak kalangan yang memprotes beredarnya minuman keras dengan kadar alkohol 14 persen tersebut.
Yang jelas, kata Izhar, minuman beralkohol golongan B tidak boleh beredar di tempat-tempat umum. “Termasuk Cap Macan yang termasuk ke dalam golongan B,” katanya.
Ketika ditanyakan kepada kepala Satpol PP Sabrianto mengenai sidak yang akan dilakukan bersama Disperindag, dirinya mangatakan akan memeriksa secara teliti minuman-minuman apa saja yang diijinkan beredar di tempat-tempat tersebut. “Jangan sampai izinnya apa, terus minumannya yang dijual beda dengan izin yang dikantongi,” tandasnya.(enn)
KOTABARU – Terkait dengan perda baru mengenai minuman beralkohol (minol), yang disahkan pada akhir tahun 2010 yang lalu, dinas perindustrian dan perdagangan Kota Jambi saat ini belum melakukan razia-razia ke tempat-tempat dimana minol biasanya dijual. Hal ini dikatakn oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi Izhar Muzani.
Disebutkannya, masyarakat perlu diberikan sosialisasi terlebih dahulu sebelum razia diadakan. “Jadi tidak ada alsan nantinya kita razia, mereka bilang belum tau ada aturan seperti itu,” ungkapnya. Perda yang mengatur jenis minuman apa saja terkait dengan kadar alkohol di dalamnya serta tempat-tempat yang diijinkan untuk menjualnya tersebut baru disahkan pada Desember 2010 lalu. Dengan alasan itulah, hingga saat ini, belum dilaksanakan sidak.
Menurut Azhar, razia ataupun sidak selambat-lambatnya akan dilaksanakan mulai dari bulan Mei mendatang. Karena, katanya butuh waktu untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat luas. “Paling lambat, Mei kita sudah turun ke lapangan, dibantu oleh pihak-pihak terkait, salah satunya Satpol PP,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai perizinan menjual minol, pada tahun 2011 ini belum ada yang mengurus ijin. “Yang tahun ini belum ada yang ngurus ijin, barangkali karena perda baru ini belum tersosialisasi secara merata,” katanya.
Ditahun 2010 lalu, para penjual telah menagntongi surat ijin menjual miol. Namun, kata Izhar, hanya tempat-tempat tertentu saja yang mengurus surat ijin. “Hanya tempat-tempat tertentu saja yang jelas-jelas di dalamnya tersedia minuman beralkohol, seperti club, hotel, dan sejenisnya,” katanya. Pedagang-pedagang di pinggir jalan, katanya tidak mengurus surat ijin.
Ketika ditanyakan mengenai ijin beredarnya minol Cap Macan, Izhar menyatakan hal itu tdak ada sangkut pautnya dengan Disperindag Kota Jambi. Katanya, izin beredarnya Cap Macam keluar dari Departemen Perdagangan pusat. “Kan subdistributornya dari Departemen Perdagangan pusat,” katanya. Karena memang, banyak kalangan yang memprotes beredarnya minuman keras dengan kadar alkohol 14 persen tersebut.
Yang jelas, kata Izhar, minuman beralkohol golongan B tidak boleh beredar di tempat-tempat umum. “Termasuk Cap Macan yang termasuk ke dalam golongan B,” katanya.
Ketika ditanyakan kepada kepala Satpol PP Sabrianto mengenai sidak yang akan dilakukan bersama Disperindag, dirinya mangatakan akan memeriksa secara teliti minuman-minuman apa saja yang diijinkan beredar di tempat-tempat tersebut. “Jangan sampai izinnya apa, terus minumannya yang dijual beda dengan izin yang dikantongi,” tandasnya.(enn)
Rabu, 23 Maret 2011
GAS... ELPIJI... GAS...
Kualitas Kompor Gas Diragukan
KOTABARU-Kualitas kompor gas yang disediakan Pertamina untuk dibagikan kepada masyarakat, diragukan kualitasnya. Meski sudah berlogo SNI, keraguan tetap muncul karena bahan kompor yang terlalu tipis, serta bahan tungku yang juga tipis. Kompor ini digunakan oleh pihak Pertamina serta konsultan beberapa waktu lalu.
Pihak Pertamina membantah. Soldag, utusan Pertamina menjelaskan, kompor itu bisa tahan hidup selama sepuluh jam. Namun tidak dijelaskannya berapa berat maksimalnya, dan hingga berapa lama kompor ini bisa dikatakan masih layak pakai.
Disebutkan Sekretaris Daerah Kota Jambi Budidaya, kualitas kompor harus bagus, sehingga masyarakat bisa menggunakannya tanpa rasa khawatir. Seandainya masyarakat tidak yakin dengan kompor ini, maka mereka tidak akan menggunakannya. “Namun masyarakat tetap menerima pembagian kompor tersebut lantaran gratis, kami tidak bagikan kompor untuk dibuang, tapi untuk dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat,” ungkapnya.
Sekda sendiri agak meragukan kualitas kompor bertungku satu tersebut. Katanya, masyarakat tentu juga ragu untuk menggunakannya. “Jangankan bahan seng yang tipis itu, besi saja dibakar beberapa lama pasti akan melunak, apalagi dengan ahan seperti ini,” ungkap Budidaya, kemarin (21/3).
Dikatakan, kompor berbahan seperti itu pasti ada kapasitas maksimalnya, namun pihak Pertamina tidak menjelaskan secara pasti. “Tidak mungkin kompor itu bisa mengangkat beban yang sangat berat, seperti membuat rendang, namun mereka tidak menjelaskan,” katanya.
Ditambahkan, kemungkinan harus ada aksesoris tambahan untuk mengangkat beban berat. “Apakah Pertamina yang menyediakan, atau masyarakat beli sendiri, itu yang harus dijelaskan oleh Pertamina dan konsultan dalam sosialisasi, agar masyarakat yakin menggunakan kompor itu,” katanya.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi yang berperan sebagai pengawas, saat ditanyakan mengenai kompor gas itu mengaku akan melakukan pengecekan lagi. “Dalam waktu dekat kami akan lakukan pengecekan,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jambi Izhar Muzani.
Ditambahkan, pengecekan sudah pernah dilakukan, namun tidak secara keseluruhan. “Tidak mungkin dicek satu-satu, karena butuh tenaga yang banyak, sedangkan tenaga kami di sini kurang,” ungkapnya.
Dilanjutkan, jika barang tersebut terlalu lama disimpan di gudang, kemungkinan bisa saja terjadi kerusakan. Ketika ditanyakan berapa lama masa berfungsinya serta berat maksimal yang bisa diangkat kompor, Izhar tidak bisa menyebutkan secara pasti. Begitu juga ketika ditanyakan mengenai kriteria kompor sehingga bisa mendapatkan SNI, Izhar mengaku tidak hapal, “Saya juga tidak bawa kriterianya sekarang,” ungkapnya.
Selanjutnya, ditanyakan kapan akan dilakukan pengecekkan, dia juga tidak bisa memastikan. “Yang jelas secepatnya, sesuai peran kami. Nanti sama-sama kita cek, saya akan informasikan nanti,” tandasnya.(enn)
KOTABARU-Kualitas kompor gas yang disediakan Pertamina untuk dibagikan kepada masyarakat, diragukan kualitasnya. Meski sudah berlogo SNI, keraguan tetap muncul karena bahan kompor yang terlalu tipis, serta bahan tungku yang juga tipis. Kompor ini digunakan oleh pihak Pertamina serta konsultan beberapa waktu lalu.
Pihak Pertamina membantah. Soldag, utusan Pertamina menjelaskan, kompor itu bisa tahan hidup selama sepuluh jam. Namun tidak dijelaskannya berapa berat maksimalnya, dan hingga berapa lama kompor ini bisa dikatakan masih layak pakai.
Disebutkan Sekretaris Daerah Kota Jambi Budidaya, kualitas kompor harus bagus, sehingga masyarakat bisa menggunakannya tanpa rasa khawatir. Seandainya masyarakat tidak yakin dengan kompor ini, maka mereka tidak akan menggunakannya. “Namun masyarakat tetap menerima pembagian kompor tersebut lantaran gratis, kami tidak bagikan kompor untuk dibuang, tapi untuk dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat,” ungkapnya.
Sekda sendiri agak meragukan kualitas kompor bertungku satu tersebut. Katanya, masyarakat tentu juga ragu untuk menggunakannya. “Jangankan bahan seng yang tipis itu, besi saja dibakar beberapa lama pasti akan melunak, apalagi dengan ahan seperti ini,” ungkap Budidaya, kemarin (21/3).
Dikatakan, kompor berbahan seperti itu pasti ada kapasitas maksimalnya, namun pihak Pertamina tidak menjelaskan secara pasti. “Tidak mungkin kompor itu bisa mengangkat beban yang sangat berat, seperti membuat rendang, namun mereka tidak menjelaskan,” katanya.
Ditambahkan, kemungkinan harus ada aksesoris tambahan untuk mengangkat beban berat. “Apakah Pertamina yang menyediakan, atau masyarakat beli sendiri, itu yang harus dijelaskan oleh Pertamina dan konsultan dalam sosialisasi, agar masyarakat yakin menggunakan kompor itu,” katanya.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi yang berperan sebagai pengawas, saat ditanyakan mengenai kompor gas itu mengaku akan melakukan pengecekan lagi. “Dalam waktu dekat kami akan lakukan pengecekan,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jambi Izhar Muzani.
Ditambahkan, pengecekan sudah pernah dilakukan, namun tidak secara keseluruhan. “Tidak mungkin dicek satu-satu, karena butuh tenaga yang banyak, sedangkan tenaga kami di sini kurang,” ungkapnya.
Dilanjutkan, jika barang tersebut terlalu lama disimpan di gudang, kemungkinan bisa saja terjadi kerusakan. Ketika ditanyakan berapa lama masa berfungsinya serta berat maksimal yang bisa diangkat kompor, Izhar tidak bisa menyebutkan secara pasti. Begitu juga ketika ditanyakan mengenai kriteria kompor sehingga bisa mendapatkan SNI, Izhar mengaku tidak hapal, “Saya juga tidak bawa kriterianya sekarang,” ungkapnya.
Selanjutnya, ditanyakan kapan akan dilakukan pengecekkan, dia juga tidak bisa memastikan. “Yang jelas secepatnya, sesuai peran kami. Nanti sama-sama kita cek, saya akan informasikan nanti,” tandasnya.(enn)
Dewan Ikut Meragukan
Kompor Gratis
Konversi Minyak
Tanah ke Gas
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Diragukannya kualitas kompor gas yang akan didistribusikan kepada masyarakat Kota Jambi, turut dirasa anggota DPRD Kota Jambi. Sama halnya dengan kekhawatiran berbagai pihak beberapa waktu lalu, anggota dewan juga menyatakan keraguannya terhadap bahan pembuat kompor gas yang tipis tersebut. Sehingga dinilai tidak layak digunakan meskipun sudah berlabel SNI.
Disampaikan anggota Komisi B DPRD Kota Jambi Fuad Safari kemarin (22/3), kalau memang kompor tersebut tidak layak, distribusi tidak perlu dipaksakan. “Kalau tidak sesuai, jangan dipaksakan,” katanya.
Disebutkan, DPRD Kota Jambi juga tidak bisa menyatakan apakah kompor tersebut sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan SNI atau tidak, “kami tidak punya daftar apa-apa saja syarat dan kriterianya,” ungkapnya.
Yang jelas, kata Fuad, semua pihak yang terkait harus proaktif dalam menangani hal ini. Disampaikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) harus turun ke lapangan dan mengecek langsung. Jika ditemukan sesuatu yang tidak sesuai, harus dilaporkan. “Pertamina juga jangan lepas tangan. Mentang-mentang kompor itu sudah bertaraf SNI, langsung dibagikan. Nyawa warga jadi taruhannya. Jangan nyawa warga disamakan dengan tabung kiloan, itulah istilah kasarnya,” tukasnya. Karena menurutnya, program ini memang berisiko.
Selain pemerintah, dia juga menghimbau, agar masyarakat juga ikut serta mengawasi pendistribusian kompor tersebut. “Masyarakat, sebaiknya juga ikut berperan untuk mengawasi berjalannya program ini,” ungkapnya.
Ditambahkan, perlu sosialisasi kepada masyarakat cara penggunaan dan pemasangan peralatannya hingga masyarakat mengerti. Jangan sampai barang yang tidak baik dipaksakan untuk diberikan kepada masyarakat.
Ketika ditanyakan kepada pihak Pertamina, Sales Representative Area Jambi Achmad Rifky mengatakan, pihak Pertamina hanya bertugas mendistribusikan kompor tersebut. “Yang jelas, yang akan kami distribusikan adalah kompor yang telah mendapatkan SNI,” katanya.
Apakah kompor tersebut sudah layak, berkaitan dengan bahan seng yang digunakan, Rifky mengatakan bukan wewenang Pertamina untuk menyampaikan hal tersebut. Karena, Pertamina tidak punya kapasitas untuk menyampaikan. “Kami punya kode etik mngenai hal-hal apa saja yang bisa disampaikan, kalau berkaitan dengan kriteria SNI, itu Disperindag yang tahu pasti,” ungkapnya.
Sementara berapa lama masa paling lambat menggunakan kompor tersebut, Rifky menyatakan tergantung pemakaian. “Tidak ada batas waktu, kalau makenya benar bias lama,” ungkapnya.
Kepala Disperindag Kota Jambi Izhar Muzani menjelaskan, pihaknya akan segera mengecek kompor-kompor gratis yang dibagikan pada program konversi minyak tanah ke gas tersebut. Jika ada kerusakan maka akan segera ditindaklanjuti.
Sementara itu, Mustamar, Ketua Komisi B DPRD Kota Jambi mengatakan, dalam beberapa hari ini akan segera melakukan tinjauan ke lapangan. Komisi B bermaksud mengunjungi SPBE dan juga gudang tempat penyimpanan kompor yang akan didistribusikan kepada warga. Sejauh mana tahap-tahap yang telah dilakukan. Apakah masyarakat telah siap menerima semua rencana.
“Jika belum, maka kami juga berhak menimbang rencana tersebut dengan dasar penolakan masyarakat. Dalam satu, dua hari ini kita akan melakukan sidak ke penyedia tabung dan kompor yang dianggap bermasalah. Jika benar, kita akan sikapi dengan pernyataan bahwa konversi belum layak dilakukan,” tandasnya.(*)
Kompor Gratis
Konversi Minyak
Tanah ke Gas
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Diragukannya kualitas kompor gas yang akan didistribusikan kepada masyarakat Kota Jambi, turut dirasa anggota DPRD Kota Jambi. Sama halnya dengan kekhawatiran berbagai pihak beberapa waktu lalu, anggota dewan juga menyatakan keraguannya terhadap bahan pembuat kompor gas yang tipis tersebut. Sehingga dinilai tidak layak digunakan meskipun sudah berlabel SNI.
Disampaikan anggota Komisi B DPRD Kota Jambi Fuad Safari kemarin (22/3), kalau memang kompor tersebut tidak layak, distribusi tidak perlu dipaksakan. “Kalau tidak sesuai, jangan dipaksakan,” katanya.
Disebutkan, DPRD Kota Jambi juga tidak bisa menyatakan apakah kompor tersebut sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan SNI atau tidak, “kami tidak punya daftar apa-apa saja syarat dan kriterianya,” ungkapnya.
Yang jelas, kata Fuad, semua pihak yang terkait harus proaktif dalam menangani hal ini. Disampaikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) harus turun ke lapangan dan mengecek langsung. Jika ditemukan sesuatu yang tidak sesuai, harus dilaporkan. “Pertamina juga jangan lepas tangan. Mentang-mentang kompor itu sudah bertaraf SNI, langsung dibagikan. Nyawa warga jadi taruhannya. Jangan nyawa warga disamakan dengan tabung kiloan, itulah istilah kasarnya,” tukasnya. Karena menurutnya, program ini memang berisiko.
Selain pemerintah, dia juga menghimbau, agar masyarakat juga ikut serta mengawasi pendistribusian kompor tersebut. “Masyarakat, sebaiknya juga ikut berperan untuk mengawasi berjalannya program ini,” ungkapnya.
Ditambahkan, perlu sosialisasi kepada masyarakat cara penggunaan dan pemasangan peralatannya hingga masyarakat mengerti. Jangan sampai barang yang tidak baik dipaksakan untuk diberikan kepada masyarakat.
Ketika ditanyakan kepada pihak Pertamina, Sales Representative Area Jambi Achmad Rifky mengatakan, pihak Pertamina hanya bertugas mendistribusikan kompor tersebut. “Yang jelas, yang akan kami distribusikan adalah kompor yang telah mendapatkan SNI,” katanya.
Apakah kompor tersebut sudah layak, berkaitan dengan bahan seng yang digunakan, Rifky mengatakan bukan wewenang Pertamina untuk menyampaikan hal tersebut. Karena, Pertamina tidak punya kapasitas untuk menyampaikan. “Kami punya kode etik mngenai hal-hal apa saja yang bisa disampaikan, kalau berkaitan dengan kriteria SNI, itu Disperindag yang tahu pasti,” ungkapnya.
Sementara berapa lama masa paling lambat menggunakan kompor tersebut, Rifky menyatakan tergantung pemakaian. “Tidak ada batas waktu, kalau makenya benar bias lama,” ungkapnya.
Kepala Disperindag Kota Jambi Izhar Muzani menjelaskan, pihaknya akan segera mengecek kompor-kompor gratis yang dibagikan pada program konversi minyak tanah ke gas tersebut. Jika ada kerusakan maka akan segera ditindaklanjuti.
Sementara itu, Mustamar, Ketua Komisi B DPRD Kota Jambi mengatakan, dalam beberapa hari ini akan segera melakukan tinjauan ke lapangan. Komisi B bermaksud mengunjungi SPBE dan juga gudang tempat penyimpanan kompor yang akan didistribusikan kepada warga. Sejauh mana tahap-tahap yang telah dilakukan. Apakah masyarakat telah siap menerima semua rencana.
“Jika belum, maka kami juga berhak menimbang rencana tersebut dengan dasar penolakan masyarakat. Dalam satu, dua hari ini kita akan melakukan sidak ke penyedia tabung dan kompor yang dianggap bermasalah. Jika benar, kita akan sikapi dengan pernyataan bahwa konversi belum layak dilakukan,” tandasnya.(*)
Langganan:
Komentar (Atom)