Senin, 28 Maret 2011

INVESTIGASI

Komunitas Gay di Kota Jambi, Bagaimana Kehidupan Mereka?

Paling Muda SMP, Masih Malu Disebut Homo

Selain waria (wanita pria/banci), jumlah kelompok homoseksual, man sex man atau lelaki suka lelaki (LSL) di Jambi ternyata tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Bagaimana kehidupan mereka? Dan apa saja aktivitas mereka ?

Seperti waria, gay di Kota Jambi juga hidup berkelompok. Bedanya, mereka masih tertutup. Tidak tampil terang-terangan seperti para waria. Sebagian dari mereka menutup diri dari masayarakat lantaran malu diejek. Sebagian lagi tampil dalam watak seorang lelaki normal.
Namun ada juga yang terang-terangan membuka diri, serta menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa dirinya adalah seorang homo atau gay, atau lelaki suka lelaki (LSL). Hal ini lah yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas atau yang mereka sebut sebagai organisasi.
Komunitas gay di Kota Jambi bernama Male Working Group Jambi (MWGJ). Sebagian besar anggotanya merupakan kaum gay di Kota Jambi dan beberapa kabupaten lainnya.
Ketika ditemui di rumahnya, Sekretaris MWGJ, Robert (bukan nama sebenarnya) mengatakan bahwa organisasi ini adalah wadah tempat berkumpulnya para gay untuk berbagi. “Banyak hal yang dibahas. Kita share info mengenai kesehatan, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pencegahan IMS dan HIV/AIDS,” jelasnya.
Menurut Robert, selama ini kaum gay sangat didiskriminasi. Padahal, mereka menginginkan hidup berdampingan secara normal dengan masyarakat. Dia juga menepis anggapan, bahwa gay dekat dengan penyalahgunaan narkotika.
Saat mereka berkumpul, menurut Robert, tidak ada yang menggunakan narkoba, apalagi jadi pencandu. Karena, jika ada, maka tugas teman-temannya lah sebagai sahabat memberikan pengertian mengenai bahaya narkoba.
Robert menjelaskan, MWGJ terbentuk tahun 2010 lalu. Tapi, sebelumnya para gay di Kota Jambi sudah ngumpul-ngumpul semenjak tahun 1995. Banyak hal yang mereka bicarakan. Salah satunya mengenai pria-pria temuan mereka di lapangan.
Lalu, apa saja kegiatan MWGJ? Robert menceritakan banyak hal positif yang mereka lakukan bersama. “Kadang-kadang kami ngumpul buat makan-makan, bakar ikan, atau karaoke bareng. Selain itu, kita juga adakan penyuluhan mengenai penyakit menular,” katanya.
Namun, dia melanjutkan, bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegitan-kegiatan tersebut tidak selalu sama. Karena masih bayak yang tidak berminat mengikuti kegiatan semacam penyuluhan. “Kalau acaranya senang-senang, seperti maka-makan, jalan-jalan, itu rame yang datang. Tapi kalau udah judulnya penyuluhan, yang datang cuma dikit,” ceritanya.
Untuk mensiasati hal itu, belakangan mereka penyelipkan kegiatan-kegiatan serius pada kegiatan senang-senang mereka. Robert mencontohkan, jika ada acara makan-makan atau jalan-jalan, diselingin dengan penyuluhan mengenai HIV/AIDS dan pembagian buku. “Jadi, senang-senangnya dapet, ilmunya juga dapet,” ujarnya.
Untuk mengadakan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, Robert mengaku biayanya berasal dari swadaya anggota. Ketika ditanyakan berapa jumlah anggota MWGJ, Robert tidak bisa menyebutkan secara pasti. “Karena banyak yang datang, banyak pula yang pergi dan tidak muncul-muncul lagi lantaran bekerja di luar kota,” katanya.
Apakah anggota MWGJ ada yang pasangan kekasih? Tentu saja ada. Diceritakan Robert, banyak kisah yang mereka buat selama berada dalam organisasi ini. Ada pasangan kekasih, ada juga yang menjalani hubungan tanpa status. “Kalo yang tanpa status, mereka hari ini jalan, besoknya ganti pasangan lagi. Eh besoknya jalan lagi, begitulah kehidupan para gay,” katanya.
Lain lagi dengan pasangan kekasih. Menurut dia, beberapa di antara mereka sangat cemburuan. Banyak pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi, lantaran sang pacar cemburu kalau cowoknya melirik cowok lain. “Ada juga yang cemburu karena menggaet cowok yang sama. Tapi tidak sampai musuhan, sebentar juga baikan lagi. Cari lagi cowok yang lain,” katanya.
Banyak kejadian lucu yang terjadi antara anggota kelompok gay tersebut. Ada yang musuhan gara-gara dianggap memakan teman sendiri. “Lantaran teman curhatnya menggaet cowok yang ditaksirnya,” kenang Robert.
Lalu, biasanya berapa lama hubungan sepasang kekasih gay bisa bertahan? Menurut Robert, berdasarkan pengalamannya dalam organisasi ini paling cepat satu pekan. “Ya.. mereka tidak cocok, dan telah menemukan pengganti masing-masing. Dijalani saja,” katanya. Namun ada juga yang telah menjalani hubungan sesama jenis ini selama bertahun-tahun setia pada satu pria.
Robert juga mengungkapkan, bahwa kalangan gay di Jambi terdiri dari berbagai status dan pekerjaan. Yang paling muda, menurut dia, ada yang masih kelas tiga SMP. Namun, kata Robert, mereka tidak selalu berkumpul di sekretariat MWGJ, karena orientasi mereka adalah uang.
“Kalau anak-anak sekolah itu jarang banget yang ikut kegiatan-kegiatan penyuluhan. Mereka datang minta dicarikan pria-pria yang bisa ngasih mereka duit. Ya dengan imbalan mereka harus melayani nafsu pria yang membayar itu,” jelasnya.
Menariknya, menurut Robert, kalangan gay yang masih ABG (anak baru gede) itu bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Mereka cuma ingin punya duit jajan lebih, terus bisa gonta-ganti hape (HP) yang canggih, itu saja,” katanya.(een)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar