Rabu, 27 April 2011

KUNCI UN

Kunci UN
Dibagikan
Satpam

Hasil Sidak
Disdik Nihil

JENNIFER AGUSTIA, Jambi

Beredarnya kunci jawaban soal UN SMP di SMPN 7 dan SMPN 17 Selasa (26/4) lalu, membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jambi menggelar razia ke SMPN 7. Kepala Disdik Jumisar turun langsung pada razia yang digelar kemarin (27/4) itu. Tapi, hasil sidak nihil. Faktanya, kunci jawaban masih beredar leluasa di kalangan siswa.
Jumisar yang saat itu didampingi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Jambi Sukarman mengatakan, razia dilakukan untuk memastikan kebenaran kabar tentang beredarnya kunci jawaban soal UN. Namun dalam razia yang dilakukan sebelum UN dimulai tersebut, Disdik tidak menemukan hal-hal yang mengindikasikan adanya kecurangan.
“Melihat pemberitaan pagi ini, Disdik langsung merazia ke sekolah ini, untuk memastikan apakah ada indikasi kecurangan, namun setelah dilakukan razia, kami tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan,” katanya.
Pemberitaan tersebut juga dibantah oleh Kepala SMPN 7 Syahrial Thaib. Disebutkan, pihak sekolah sangat terkejut dengan temuan beredarnya jawaban soal tersebut. “Pengawas juga kaget karena mereka menganggap tidak bertugas dengan baik. Padahal kami diawasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi, Kota, dan Kepolisian,” ungkapnya.
Meski dibantah, toh, bukti kunci UN itu telah didapat awak media, termasuk Jambi Independent. Bukti selebaran kunci jawaban tersebut berbentuk sobekan kertas bertuliskan abdjad A sampai D.
Malah, kemarin, dari pengamatan Jambi Independent pagi sebelum ujian dimulai, di sekitar SMPN 7 terlihat segerombolan siswa sedang membagi-bagikan secarik kertas yang dilansir sebagai jawaban dari soal Ujian Bahasa Inggris yang diujikan. Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Kepala Sekolah, dia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan ulah dari oknum.
Katanya, semua orang bisa saja menyebarkan yang dianggap kunci jawaban, “Kalau kami lihat kopekan bertebaran di pinggir jalan, bisa saja terjadi, karena siapapun bisa membuatnya,” kata Sayhrial.
Ditambahkan, secara pribadi dia berani menjamin tidak ada kecurangan yang terjadi yang disebabkan oleh pihak sekolah. Jika terbukti ada indikasi kecurangan, dirinya akan mengambil tindakan.
“Yang melihat langsung jalannya ujian itu kan hanya pengawas, kepsek saja tidak bisa masuk, jadi bagaimana pihak sekolah bisa membantu siswanya untuk hal-hal yang demikian?” sesal Syahrial.
Syahrial juga mengatakan semua siswa SMPN 7 sudah sangat matang dalam mempersiapkan UN ini, “karena siswa kami dari SD sudah pintar, masuk ke sini juga dengan tes, tidak mungkin terjadi hal seperti itu,” katanya.
Dengan NEM tertinggi, lanjut Sayhrial, sekolah yang dipimpinnya memastikan bahwa kecurangan tersebut tidak pernah dilakukan oleh pihak sekolah, meskipun di luar banyak yang menyebarluaskan jawaban UN tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Jumisar juga membenarkan hal ini, karena dengan adanya sebaran lembar jawaban tersebut, barangkali dapat menghancurkan nama baik sekolah ini. “Oknum inilah yang akan kita selidiki, siapa sebenarnya yang menyebarkan,” ujarnya.
Terpisah, Rudi-sebut saja begitu-, pelajar SMPN 14 Kota Jambi mengatakan mendapat bocoran kunci jawaban dari gurunya langsung. Pada hari pertama UN, dia sempat ditegur oleh sekuriti karena datang telat. Sekuriti pun menyuruh dia untuk bergabung dengan rekannya yang lain yang sudah mendapat kunci jawaban.
Kata Rudi, dia tidak tahu bakal diberi kunci jawaban. Meski isunya sempat terdengar. Bahkan katanya ada temannya beda kelas sudah standby sejak pukul 03.00 dinihari. “Ngapo kau lambat nian, tau dak aku sudah dari jam tigo subuh di siko,” jelas rekannya.
Kunci jawaban yang diterima pada hari pertama dan kedua pelaksanaan UN cukup rapi. Tertulis tangan sesuai paket soal dan sudah difotokopi dalam ukuran kecil. Namun pada hari ketiga kemarin (27/4), kunci jawaban diedarkan dalam bentuk sms. Artinya, siswa harus mencatat sendiri jawaban itu. “Ado jugo kawan tadi yang nekat bawa hape disimpan di legging ketat, untung lolos, Kak,” ujar seorang siswa yang lain kepada Jambi Independent.
Dari pengamatan Jambi Independent di salah satu SMPN kawasan Thehok, siswa yang minta namanya dirahasikan mengaku bahwa kunci jawaban disediakan di sekolah. Siswa itu menambahkan, sebelum pelaksanan ujian dimulai, kunci jawaban telah dibagikan oleh satpam sekolah. Diakuinya, kunci jawaban dibagikan dengan leluasa. ”Pengawasnya kan sibuk main HP dan makan kue,” ujarnya.
Untuk mendapatkan kunci jawaban, para siswa sudah diminta pihak sekolah untuk hadir lebih awal sebelum proses ujian dimulai. Bahkan sebelum pengawas ujian datang, satpam sekolah sudah terlebih dahulu membagikan kunji jawaban yang diyakini siswa kunci jawaban tersebut benar. “Jawaban tu betul semua, tapi tidak kami ikuti semua, takut ketauan,” jelasnya.
Berdasar pengamatan Jambi Independent kemarin (27/4) di sekolah tersebut, memang terlihat pada pukul 6.00, beberapa siswa sudah berada di sekolah. Masing-masing siswa tampak sudah memasuki ruangan Ujian. Di depan pintu masuk sekolah terlihat satpam dan beberapa orang yang diketahui adalah guru di sekolah tersebut berada di pos satpam. Oknum guru itu tampak sedang mengoperasikan laptop.
Ketika pelaksanan ujian berakhir, tak terlihat seorang siswa pun meningalkan sekolah. Salah seorang siswa mengaku mereka belum dibolehkan pulang terlebih dahulu karna masih ada yang akan disampaikan oleh pihak sekolah, “belum boleh pulang sama wakil kepala sekolah,” ujarnya.
Dari pengakuan salah seorang siswa, sebelum siswa diperkenankan pulang, terlebih dahulu dipastikan tidak ada kunci jawaban yang terbawa oleh siswa ke rumah masing.

Aktivis Sesalkan Oknum RS

JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru

JOTHI (Jaringan Orang Terinveksi HIV Indonesia) serta Komisi penanggulangan AIDS Kota Jambi menyesalkan tindakan oknum Rumah skait Raden Mattaher yang membocorkan identitas pasien yang positif terjangkit virus HIV AIDS kepada Masyarakat. Akibatnya, masyarakat menjadi resah dan muncul wacana untuk mengusir yang bersangkutan dari wilayah tempat tinggalnya.

Yuli, Koordinato JOTHI mengatakan bahwa tindakan tersebut sangat bertentangan dengan kode ietik, serta bisa dikatyakan sebagai pelanggaran HAM. “Setelah adanya isu bahwa ada diskriminasi terhadap pengidap HIV ini, kami langsung follow up ke pak RT. Mengapa bisa terjadi seperti ini dan awalnya seperti apa. Rupanya warga tahu dari pihak RSUD. Namun, yang kita pertanyakan, kenapa pihak RSUD membocorkan status pasien,” keluhnya.

Sesuai dengan undang-undang kesehatan yang ada, katanya, kerahasian status penyakit seorang pasien itu harus terjamin dan terjaga oleh pihak rumah sakit. Sebab, hal itu menyangkut privasi dan nama baik seseorang. Disamping itu, juga berkaitan dengan HAM (Hak Azazi Manusia).
“Sebenarnya kan sesuai Undang-undang kesehatan kan ada suatu kerahasiaan pasien yang harus selalu dijaga terkait HAM. Mengapa RSUD membocorkan. Kita kecewa dengan RSUD,” tukasnya.

Menurut Yuli, sebelumnya pihak JOTHI pernah melakukan perembukan dengan pihak RSUD Raden Mattaher dan kesepakatan yang di dapat, pihak RSUD Raden Mattaher berjanji tidak akan membocorkan hal tersebut.
“Hal yang membuat kita bertambah kecewa adalah, waktu kita rembuk dengan RSUD, katanya berita ini tidak akan keluar. Tapi nyatanya berita ini keluar. Apakah mereka tidak melihat dampak kepada pasiennya,” sebutnya.

“Kita kecewa, kok hari gini setelah dana penanggulangan untuk Kota Jambi bahkan Provinsi Jambi begitu banyak mengenai ini, kok masih ada diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV. Apalagi katanya HIV gampang menular, itu tidak benar,” tegasnya.

Menurutnya, RSUD harus bertanggung jawab karena berita mengenai penyakit yang di derita pasiennya sampai keluar. “Karena oknum dari awalnya yang membocorkan dan menyebarkan masalah ini adalah oknum dari pihak RSUD,” tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan JOTHI akan mengambil langkah tegas mengenai diskriminasi yang terjadi kepada pengidap virus HIV seperti hal tersebut. “Kita pastinya akan melawan dengan tegas. Dengan hukum juga kita siap dan bahkan nasional. Karena, JOTHI skopnya nasional maka kita kalau ada pelanggaran terhadap orang yang terinfeksi kita akan lawan tegas,” tukasnya.

Dari pengamatan Jambi Independent yang berkunjung ke rumah pasien kemarin (27/4), rumah yang berlokasi di RT 19 Kelurahan Rawasari, Kotabaru, terlihat sepi dan keluarganya juga terlihat sedikit mengurung diri karena persoalan tersebut.

M Hatta, Ketua RT 19 Kelurahan Rawasari, menegaskan, isu tentang niat pengusiran yang dilakukan oleh warga terhadap si pasien masih belum bisa dipastikan. Karena, katanya belum ada warga yang mendatangi rumah tempat tinggal tersebut dan mengusir yang bersangkutan untuk tidak tinggal lagi di sana.

“Saya tidak berani mengusir tetangga saya ini. Saya masih berusaha menahan emosi dari warga agar tidak mengusir warga itu dengan melakukan sosialisasi dengan warga malam besok, melalui kegiatan yasinan rutin,” ungkapnya.

Menurutnya, langkah itu diambil untuk mengajak warga agar tidak mudah percaya dengan isu yang menyebutkan bahwa virus HIV bisa menular dengan mudah. “Itu kita lakukan supaya nenek mamak tuo tengganai di sini tidak menerima isu dari orang bahwa penyakit itu menular. Jangan sampai mengusir warga kita yang menderita, akan kita usahakan,” tegasnya.

Selasa, 26 April 2011

ADA KONGKALIKONG PIHAK SEKOLAH

5 Paket
Jawaban
UN Beredar

Dua Sekolah
Miliki Paket
yang Sama

JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru

Di hari kedua pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP di Kota Jambi, ternyata masih saja beredar kunci jawaban di beberapa sekolah. Kemarin, Jambi Independent berkunjung ke SMPN 7 dan SMPN 17 Kota Jambi. Di dua sekolah itu ditemukan dua kunci jawaban UN yang dikantongi beberapa siswa.
Salah satu siswa di SMPN 7 yang tidak mau disebutkan namanya memperlihatkan kunci jawaban UN untuk semua nomor soal yang diujikan kemarin, Matematika. Hal yang mengagetkan lagi, kunci jawaban tersebut sebanyak lima paket, sesuai dengan jumlah paket soal UN tahun ini. Kelima paket tersebut adalah Paket 12, paket 25, paket 39, paket 46 dan paket 54. Jawaban soal tersebut ditulis dalam selembar kertas. “Kami tulis jawabannya dalam kertas, jawaban itu kami dapat tadi malam lewat SMS,” katanya.
Demikian juga dengan siswa SMPN 17 yang juga mengaku mengantongi kunci jawaban. “Kami catat dalam kertas, dan dibawa ke dalam kelas, kertasnya digulung kecil-kecil,” katanya. Ketika dibandingkan Jambi Independent, kedua lembar jawaban dari dua sekolah tersebut semuanya sama.
Terkait temuan ini, Kepala Dinas Pendidikan Jumisar mengatakan, jawaban soal UN tersebut dipastikan dibuat oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. “Kunci jawaban itu sendiri saat ini masih berada di pusat, bagaimana bisa lihat kuncinya,” kata Jumisar.
Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah mengenai sistem pengawasan yang terkesan lebih longgar dibanding UN beberapa waktu lalu. Menanggapi hal ini, Jumisar juga mengatakan, meski pengawas ujian kali ini tidak lagi didampingi oleh Perguruan Tinggi, namun tetap harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. “Pangawas kan sistemnya silang, bukan guru di sekolah yang berangkutan, dan setiap hari pengawasnya berbeda-beda. Tidak meungkin terjadi kerjasama antara semua pengawas dengan sekolah,” katanya.
Dilanjutkan, pengawas yang berada di dalam kelas juga tidak boleh membaca soal setelah soal tersebut dibagikan kepada siswa. “Jika ada soal berlebih, langsung dimasukkan ke dalam amplop lagi, tidak boleh dibaca sedikitpun,” katanya.
Jika ada pengawas yang melanggar aturan tersebut, maka akan dikenakai sanksi. Sanksi tidak diijinkan untuk menjadi pengawas ujian di tahun-tahun berikutnya, dinilai Jumisar terlalu ringan untuk kasus semacam itu. “Kalau cuma tidak boleh mengawas lagi, itu terlalu ringan. Yang disalahgunakan itu adalah dokumen negara. Kan sudah tertulis di dalam amplopnya, rahasia negara, bisa dipidana kalau ada yang melanggar,” katanya.
Dia juga mengatakan, siswa kembali dihimbau untuk tidak percaya dengan jawabaan yang beredar. “Itu kan spekulatif, semua orang bisa bikin soal. Kalau mereka terlalu percaya, maka resikoanya terlalu besar. Bisa tidak lulus,” tandasnya.
Terkait siswa yang mengikuti UN SMP hari kedua ini, tercatat sebanyak 11 orang yang tidak hadir karena sakit. Dikatakan Sukarman, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Jambi, secara rinci yang tidak hadir itu adalah, siswa SMP Negeri yang sakit sebanyak 5 orang, SMP Swasta 5 orang dan MTs 1 orang.
“Berkurang dari jumlah hari pertama yaitu 13 orang sakit. Sedangkan jumlah DO hari pertama dan kedua tetap sebanyak 122 orang,” tandasnya.(*)

Mengunjungi Sang Atlet Sepeda, Muhammad Fijay Z. Divonis Buta Permanen

JENNIFER AGUSTIA, THEHOK

“Mati Kau Jay” begitu teriakan yang didengar Fijay, sesaat setelah darah mengalir lewat matanya di malam naas tersebut. Sekitar jam 22.30 malam minggu (2/4) lalu, ketika dirinya sedang menemani teman perempuannya untuk membeli voucher pulsa isi ulang di kawasan thehok, tepatnya disamping Pempek Selamat, tiga orang yang yang mengendarai satu motor, tiba-tiba mendekat kearahnya dan menebas wajahnya menggunakans sebuah samurai.
Ditemui di kediaman kakaknya, Fizay terlihat terbaring lemah ditempat tidurnya. Dengan mata kiri yang masih ditutup perban, serta beberapa jahitan di alis matanya. Atlet sepeda yang bebebera kali membawa nama Jambi ke tingkat nasional ini, kini hanya bisa terbaring di tempat tidur, sampil sesekali duduk dan ngobrol dengan kakak-kakaknya.
Fizay menceritakan sedikit apa yang dialaminya pada malam minggu, delapan hari yang lalu itu. Ditemani kedua kakak perempuannya yang dengan sabar merawab si adik bungsu.
Terlihat raut agak kecewa diwajah kegdua kakanya. Ketika Jambi Independent bertanya, Zaimar, sang kakak mengatakan bahwa Fizay telah divonis buta permanen. “Dia buta, masa depannya sudah hancur sekarang,” katanya. Bagaimana tidak, sepanjang delapan centimeter luka sabetan samurai membentang di alisnya menembus bola mata, sehingga sangat mustahil penglihatannya akan kembali normal.
Hal yang membuat keluarga juga kecewa adalah pernyataan pihak rumah sakit bahwa merkipun ada donor mata nantinya, tetap tidak akan mengembalikan penglihatan Fijay. Wajah kuyu kakaknya yang lain, Zan, terlihat ketiga kata-kata itu meluncur dari mulutnya. “Itu yang membuat kami kecewa, pupus sudah harapan untuk mengembalikan penglihatan Jay. Meskipun ada donor, karena bola matanya sudah belah, dokter bilang tidak mungkin lagi sembuh ” katanya miris.
Apakah Jay mengenali si pelaku? Dirinya mengaku kenal. Salah seorang dari tiga pelaku tersebut memanggil nama Jay seraya berteriak “Mati Kau Jay” kearahnya, dan jay mengenali suara itu. “Saya kenal siapa dia, meskipun pake helm, suaranya terdengar sangat akrab ditelinga saya, ada dendam pribadi memang dia kepada saya,” katanya. Namun Jay tidak mau menyebutkan nama si pelaku, karena khawatir si pelaku akan melarikan diri.
“Polisi masih belum menangkapnya, kalau saya sebut namanya di koran, dia pasti lari,” kata Jay. Keluarga Jay sendiri juga mengaku kenal dengan keluarga si pelaku. Namun, untuk saat ini belum ada pertemuan antar kelaurga untuk merundingkan penyelesaian kasus ini.
Apakah keluarga Jay sudah mendatangi keluarga si pelaku? Sayangnya hal tersebut belum dilakukan, Zaimar mengatakan, untuk menemui keluarga si pelaku, butuh ada pihak ketiga yang menjembatani. “Seperti Polisi, karena mereka punya data-datanya untuk memberikan tuduhan, kalau kita sendiri yang kesana, bisa-bisa bertengkar hebat,” katanya.
Karena memang, menurut pengakuan keluarga Jay, pelaku hingga saat ini belum ditangkap. Sudah berulang kali pihak keluarga menanyakan perkembangan kasus ini, “Namun polisis tetap saja menyuruh kami sabar, mau sabar sampai kapan? Sedangkan mata adik saya sudah buta permanen,” kata Zaimar.
Diakui Zaimar, saat ini keluarga Jay hanya membutuhkan pertanggung jawaban dari keluarga tersangka untuk biaya pengobatan yang seamakin hari semakin membengkak. Untuk empat hari saja, selama berada di rumah sakit siloam, sudah menghabiskan biaya hampir Rp 11,5 juta. “Itu hanya biaya rumah sakit dan obat, belum lagi biaya-biaya yang tak terduga, sudah habis hampir mencapai 20 juta,” ungkap Zaimar.
Untuk menutupi biaya uyang sebegitu besar, kata Zan, pihak keluarga berhutang sana-sini, “Karena kami memang tidak punya uang lagi untuk mebayar biaya pengobatan, untuk membayar hutang ini saja belum terpikir dapat uang dari mana,” ujarnya sedih. Diakuinya, belum ada bantuan apapun dari pihak manapun untuk masalah pembiayaan.
Sedangkan mengenai tuntutan, pihak Jay menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang. “Yang jelas kami sekarang butuh pertanggung jawaban, biaya pengobatan. Dia sudah mengambil mata adik saya, dan tidak mungkin lagi dikembalikan penglihatannya, harusnya mereka sadar betapa berharganya mata, tidak bisa tergantikan dengan apapun,” ucap Zan.
Kepada Jay sendiri, Jambi Independent sempat bertanya apa yang akan dilakukannya kedepan. Jay mengaku belum memikirkan untuk kembali bersepeda, karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana dirinya bisa sembuh meskipun mustahil mata kirinya itu bisa melihat lagi.
Kesempatannya untuk menjadi seorang polisi kini juga pupus sudah. Karena, seharunya setelah tamat sekolah tahun ini, Jay berpeluang untuk menjaid seorang polisi. Ketika jadi duta lingkungan hidup di Nusa Dua Bali dua tiga tahun lalu, SBY pernah menjanjikan peluang bagi Jay untuk menjadi polisi. “Ketika ketemu SBY dulu, dia janjikan saya jadi polisis setelah tamat sekolah. Data-data sudah ada ditangan kapolri, tapi kini tentu tidak mungkin lagi,” katanya.
Hal lain, yang dipikirkannya adalah untuk mengikuti ujian nasioanl Senin, 18 apriil mendatang. Jay yang bersekolah di SMA Megatama ini mengatakan dirinya tetap ingin mengikuti ujian nasional, namun belum dapat memastikan apakah akan mengikuti ujian sesuai jadwal atau tidak, “Karena mata ini belum boleh kena angin. Saya tunggu kebijakan sekolah, mungkin akan mengikuti ujian susulan,” tandasnya.

Jumat, 08 April 2011

GAJI CS

Gaji CS
RS Kota
Belum Dibayar

Menunggak
2 Bulan

JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru

Sudah dua bulan lebih para petugas kebersihan atau cleaning service (CS) di Rumah Sakit Abdul Manaf Kota Jambi belum memperoleh gaji. Seperti diakui oleh salah seorang CS yang tak mau disebutkan namanya kepada Jambi Independent, kemarin (5/3).
Tenaga kebersihan yang ada di RS Abdul Manaf ini, sebenarnya merupakan tenaga outsourcing yang disalurkan oleh CV Mitra Mayang Mandiri. CV ini telah habis masa kontraknya pada akhir tahun 2010 lalu. Disebutkan, sejak kontrak tersebut habis, urusan gaji dilimpahkan ke rumah sakit.
“Ditanya ke CV-nya, mereka bilang gaji kami dua bulan itu sekarang jadi tanggung jawab rumah sakit, tapi sampai saat ini masih belum dibayar,” katanya.
Tenaga kebersihan yang belum menerima gaji bulan Januari dan Februari tersebut berjumlah lebih dari 15 orang. “Tapi mereka tidak mau demo, karena takut nanti dipecat, kasihan juga yang ibu-ibu, kalau dipecat mereka mau kerja apalagi?” katanya.
Namun, saat ini sudah ada CV baru yang mengurus tenaga kebersihan ini, dan para CS dijanjikan akan dibayarkan gajinya pada bulan ini. “Tapi hanya bulan Maret saja, bulan Januari dan Februari tidak. Kami sudah tanya ke rumah sakit, mereka bilang sabar. Bagaimana kami bisa sabar, uang buat makan tidak ada,” katanya.
Ketika ditanyakan berapa gaji para CS ini per bulannya, dia menjawab hanya Rp 500 ribu. Dengan jam kerja lebih dari tujuh jam sehari. “Sudah gaji tidak dibayar, kami juga sering ditekan dalam bekerja. Rumah sakit beralasan, membayar gaji kami berdasarkan SK Wali Kota, tapi belum-belum juga,” ungkapnya.
Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada pihak rumah sakit, Darmawi, Kepala Bagian Tata Usaha RS Abdul Manaf membenarkan bahwa gaji CS Januari dan Februari merupakan tanggung jawab rumah sakit. “Bukannya kami tidak mau bayar, kami juga memikirkan nasib mereka,” katanya.
Disebutkan Damawi, dana dari pemerintah belum masuk pada bulan Januari. “Mereka kan mulai kerja tanpa CV pada bulan Januari, nah pada bulan itu dana belum turun dari pemerintah, baru bulan Maret ini lah dana turun sebesar 583 juta rupiah untuk satu tahun, tapi tetap harus nunggu SK selesai dulu. Pasti akan dibayar,” katanya.
Berbeda dengan apa yang dikatakan salah seorang CS tadi, Darmawi mengatakan, gaji CS tersebut sebesar Rp 600 ribu. Jumlah semua CS adalah 28 orang. “Termasuk satu orang pengawas, mereka bekerja menurut shift,” katanya.
Ketika ditanyakan, kapan tepatnya gaji CS tersebut akan dibayarkan, Darmawi tidak dapat memastikan. “SK wako sedang dalam proses, kemarin itu sudah di ACC, tapi ada kesalahan sedikit pada nomor rekening, jadinya diperbaiki lagi. Kami minta mereka bersabar,” katanya.
Sedangkan untuk gaji bulan Maret ini merupakan tanggung jawab dari CV pemenang tender, yaitu CV Mega Resik. Katanya, CV pemenang tender ini pernah menawarkan pinjaman kepada para CS dengan jumlah dibawah jumlah gaji. “Tapi itu terserah pada CS, mereka mau ambil atau tidak,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai pinjaman ini kepada salah satu CS, dirinya membenarkan. Namun tidak mau menerima pinjaman tersebut, “Jumlah pinjamannya dua ratus ribu, tapi banyak yang tidak ngambil,” katanya.
Perihal penundaan bembayaran gaji ini juga dikomentari oleh Anggota Komisi D DPRD Kota Jambi, Maria Magdalena. Disebutkannya, harus ada pihak ketiga yang menanggulangi permasalahan ini terlebih dahulu. “Kita juga akan panggil pihak rumah sakit, segera kita diagendakan,” tandasnya.(*)