JENNIFER AGUSTIA, THEHOK
“Mati Kau Jay” begitu teriakan yang didengar Fijay, sesaat setelah darah mengalir lewat matanya di malam naas tersebut. Sekitar jam 22.30 malam minggu (2/4) lalu, ketika dirinya sedang menemani teman perempuannya untuk membeli voucher pulsa isi ulang di kawasan thehok, tepatnya disamping Pempek Selamat, tiga orang yang yang mengendarai satu motor, tiba-tiba mendekat kearahnya dan menebas wajahnya menggunakans sebuah samurai.
Ditemui di kediaman kakaknya, Fizay terlihat terbaring lemah ditempat tidurnya. Dengan mata kiri yang masih ditutup perban, serta beberapa jahitan di alis matanya. Atlet sepeda yang bebebera kali membawa nama Jambi ke tingkat nasional ini, kini hanya bisa terbaring di tempat tidur, sampil sesekali duduk dan ngobrol dengan kakak-kakaknya.
Fizay menceritakan sedikit apa yang dialaminya pada malam minggu, delapan hari yang lalu itu. Ditemani kedua kakak perempuannya yang dengan sabar merawab si adik bungsu.
Terlihat raut agak kecewa diwajah kegdua kakanya. Ketika Jambi Independent bertanya, Zaimar, sang kakak mengatakan bahwa Fizay telah divonis buta permanen. “Dia buta, masa depannya sudah hancur sekarang,” katanya. Bagaimana tidak, sepanjang delapan centimeter luka sabetan samurai membentang di alisnya menembus bola mata, sehingga sangat mustahil penglihatannya akan kembali normal.
Hal yang membuat keluarga juga kecewa adalah pernyataan pihak rumah sakit bahwa merkipun ada donor mata nantinya, tetap tidak akan mengembalikan penglihatan Fijay. Wajah kuyu kakaknya yang lain, Zan, terlihat ketiga kata-kata itu meluncur dari mulutnya. “Itu yang membuat kami kecewa, pupus sudah harapan untuk mengembalikan penglihatan Jay. Meskipun ada donor, karena bola matanya sudah belah, dokter bilang tidak mungkin lagi sembuh ” katanya miris.
Apakah Jay mengenali si pelaku? Dirinya mengaku kenal. Salah seorang dari tiga pelaku tersebut memanggil nama Jay seraya berteriak “Mati Kau Jay” kearahnya, dan jay mengenali suara itu. “Saya kenal siapa dia, meskipun pake helm, suaranya terdengar sangat akrab ditelinga saya, ada dendam pribadi memang dia kepada saya,” katanya. Namun Jay tidak mau menyebutkan nama si pelaku, karena khawatir si pelaku akan melarikan diri.
“Polisi masih belum menangkapnya, kalau saya sebut namanya di koran, dia pasti lari,” kata Jay. Keluarga Jay sendiri juga mengaku kenal dengan keluarga si pelaku. Namun, untuk saat ini belum ada pertemuan antar kelaurga untuk merundingkan penyelesaian kasus ini.
Apakah keluarga Jay sudah mendatangi keluarga si pelaku? Sayangnya hal tersebut belum dilakukan, Zaimar mengatakan, untuk menemui keluarga si pelaku, butuh ada pihak ketiga yang menjembatani. “Seperti Polisi, karena mereka punya data-datanya untuk memberikan tuduhan, kalau kita sendiri yang kesana, bisa-bisa bertengkar hebat,” katanya.
Karena memang, menurut pengakuan keluarga Jay, pelaku hingga saat ini belum ditangkap. Sudah berulang kali pihak keluarga menanyakan perkembangan kasus ini, “Namun polisis tetap saja menyuruh kami sabar, mau sabar sampai kapan? Sedangkan mata adik saya sudah buta permanen,” kata Zaimar.
Diakui Zaimar, saat ini keluarga Jay hanya membutuhkan pertanggung jawaban dari keluarga tersangka untuk biaya pengobatan yang seamakin hari semakin membengkak. Untuk empat hari saja, selama berada di rumah sakit siloam, sudah menghabiskan biaya hampir Rp 11,5 juta. “Itu hanya biaya rumah sakit dan obat, belum lagi biaya-biaya yang tak terduga, sudah habis hampir mencapai 20 juta,” ungkap Zaimar.
Untuk menutupi biaya uyang sebegitu besar, kata Zan, pihak keluarga berhutang sana-sini, “Karena kami memang tidak punya uang lagi untuk mebayar biaya pengobatan, untuk membayar hutang ini saja belum terpikir dapat uang dari mana,” ujarnya sedih. Diakuinya, belum ada bantuan apapun dari pihak manapun untuk masalah pembiayaan.
Sedangkan mengenai tuntutan, pihak Jay menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang. “Yang jelas kami sekarang butuh pertanggung jawaban, biaya pengobatan. Dia sudah mengambil mata adik saya, dan tidak mungkin lagi dikembalikan penglihatannya, harusnya mereka sadar betapa berharganya mata, tidak bisa tergantikan dengan apapun,” ucap Zan.
Kepada Jay sendiri, Jambi Independent sempat bertanya apa yang akan dilakukannya kedepan. Jay mengaku belum memikirkan untuk kembali bersepeda, karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana dirinya bisa sembuh meskipun mustahil mata kirinya itu bisa melihat lagi.
Kesempatannya untuk menjadi seorang polisi kini juga pupus sudah. Karena, seharunya setelah tamat sekolah tahun ini, Jay berpeluang untuk menjaid seorang polisi. Ketika jadi duta lingkungan hidup di Nusa Dua Bali dua tiga tahun lalu, SBY pernah menjanjikan peluang bagi Jay untuk menjadi polisi. “Ketika ketemu SBY dulu, dia janjikan saya jadi polisis setelah tamat sekolah. Data-data sudah ada ditangan kapolri, tapi kini tentu tidak mungkin lagi,” katanya.
Hal lain, yang dipikirkannya adalah untuk mengikuti ujian nasioanl Senin, 18 apriil mendatang. Jay yang bersekolah di SMA Megatama ini mengatakan dirinya tetap ingin mengikuti ujian nasional, namun belum dapat memastikan apakah akan mengikuti ujian sesuai jadwal atau tidak, “Karena mata ini belum boleh kena angin. Saya tunggu kebijakan sekolah, mungkin akan mengikuti ujian susulan,” tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar