Analisa Paranormal tentang Makhluk Gaib di SDN 59
Dihuni Satu Arwah Pria dan Lima Arwah Perempuan Muda
Dalam rentang waktu singkat, puluhan siswa SDN 59 Kota Jambi menjadi korban. Analisa orang pintar (Paranormal), mereka kesurupan makhluk gaib yang merasa terganggu oleh keramaian dan aktivitas siswa di sekolah itu. Berikut penelusuran Jambi Independent terkait kasus tersebut.
Jenaii- Wijayapura
Fenomena kesurupan seringkali dihubung-hubungkan dengan peristiwa masa lalu. Entah itu sejarah kelam lokasi kesurupan, maupun masa lalu roh yang merasuki tubuh korban.
Bagaimana tidak? Korban kesurupan biasanya mengucapkan kata-kata yang tidak pernah dikatakannya. Begitu juga dengan siswa-siswa SDN 59 yang Senin (27/9) lalu, kesurupan lagi setelah kejadian yang sama terjadi tiga hari sebelumnya.
SDN 59, berdiri di atas tanah seluas 3.210 meter persegi, dengan luas bangunan 2.807 meter persegi. Di halaman sekolah, terdapat beberapa pohon rindang yang berfungsi sebagai tempat berteduh warga sekolah.
Namun tak banyak yang mengetahui, dari sisi mistik, pohon-pohon berdaun rindang itu ternyata tempat bernaung segala hal gaib. Begitu kebanyakan yang dikatakan “orang pintar”.
Ketika ditemui di ruangannya, Kepala Sekolah SDN 59 Bukri Usman, kemarin (28/9), menjelaskan bahwa dirinya baru saja berbincang-bincang dengan seorang paranormal.
Sambil mengingat-ngingat, Bukri menceritakan apa sebenarnya yang merasuki tubuh siswa kelas enam di sekolahnya tersebut. Dikatakannya, Julio, siswa yang paling parah dan lama penanganannya dirasuki arwah pria yang ingin membalas dendam atas kematian istri dan anaknya.
Konon, kematian tersebut karena ditabrak mobil. “Merinding saya kalau cerita ini,” kata Bukri sambil mengusap-usap lengannya.
Sedangkan lima orang anak lainnya dirasuki oleh arwah lima perempuan muda. Menurut paranormal yang menangani kejadian itu, kelima perempuan muda dan cantik-cantik itu merupakan gadis buangan pada masa lalunya.
Sambil menerawang keluar sekolah, Bukri mencoba menafsirkan apa yang dikatakan paranormal tersebut.
“Menurut pemikiran saya, kelima gadis ini dulunya pernah berbuat yang tidak benar, sehingga mereka diejek dan dibuang dari lingkungan sekitarnya,” katanya.
Benar saja, ketika siswa yang kerasukan ditanya kenapa mengganggu, roh yang merasukinya menjawab, “kami selalu diejek!”. Hal ini juga dibenarkan oleh para guru yang duduk-duduk sembari bercerita kembali mengenai peristiwa yang baru pertama kali terjadi itu.
Dikatakan Bukri, paranormal baru saja memberi tahu bahwa kelima roh gadis buangan itu bersarang di salah satu pohon besar di luar lingkungan sekolah. Namun, mereka seringkali “bermain-main” di sekolah.
“Mungkin mereka terganggu dengan keramaian sekolah saat ini,” katanya.
Dijelaskan bahwa Ramadan lalu, ketika siswa sedang libur Lebaran, saat itulah roh gadis-gadis tersebut menemukan tempat “bermain” barunya, yaitu di lingkungan SDN 59.
Menanggapi kejadian ini, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari berdoa bersama, yasinan yang memang rutin dilakukan setiap hari Jumat, sampai “memagari” sekolah yang dibantu oleh seorang paranormal.
“Kita harus melakukan berbagai upaya agar hal ini tidak terjadi lagi,” kata Bukri.
Diakui, saking paniknya saat itu, dirinya serta pihak sekolah tidak sempat bertanya siapa nama paranormal tersebut. Namun pihak sekolah bersyukur bahwa paranormal itu mau membantu tanpa dibayar.
Paranormal hanya meminta sekolah menyediakan bahan yang terdiri dari garam, kemenyan dan benda-benda magis lainnya. Namun pihak sekolah menyerahkan semua urusan itu kepada paranormal, untuk mencari bahan-bahan yang dimintanya itu. Pihak sekolah hanya mengganti biaya pembelian benda-benda yang dibutuhkan untuk memagari SDN 59.
Dengan kejadian itu, pihak sekolah mengambil kebijakan untuk meliburkan aktivitas sekolah mulai dari tanggal 28 September, dan mulai kembali sekolah pada tanggal 3 Oktober nanti.
Hal ini semata-mata bertujuan agar siswa-siswa kembali tenang, dan menganggap kejadian ini sebagai musibah. Namun guru-guru serta semua staf sekolah diwajibkan hadir untuk berjaga-jaga.
Sebagai bentuk tanggung jawab serta perhatian pihak sekolah, kepala sekolah bersama Guru Olahraga Jumina, sore kemarin mengunjungi siswa-siswa korban kesurupan tersebut ke rumah mereka masing-masing. Dikatakan Jumina, respon keluarga siswa sangat positif. Mereka berterima kasih atas perhatian pihak sekolah. (*/)
Rabu, 29 September 2010
Minggu, 19 September 2010
Sekolah Harus Tingkatkan Mutu
JAMBI – SMKN 4 merupakan salah satu sekolah kejuruan terkemuka di Kota Jambi. Hal ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi kepala sekolah, majelis guru, staf, dan siswa-siswanya. Nilai tambah yang dimiliki serta yang berbeda dengan sekolah kejuruan lain adalah kelengkapan sarana dan prasarana yang ada.
Kepala Sekolah SMKN 4 Jambi Suhita Sulastri, Jumat (17/9) lalu menyatakan tidak hanya kualitas sumber daya manusia (SDM) yang harus ditingkatkan, tapi sarana dan prasarana sekolah juga harus dilengkapi.
Sekolah ini memiliki empat jurusan kejuruan yang sudah terakreditasi. Suhita menyebutkan jurusan-jurusan tersebut, yakni tata busana (butik), tata boga (jasa boga dan artiseri), tata kecantikan (kulit dan rambut), dan akomodasi perhotelan. “Semuanya terakreditasi A. Ini merupakan nilai tambah dalam penilaian RSBI menuju SBI. Sementara, untuk jurusan yang digemari, yakni akomodasi perhotelan, salah satunya karena ketersediaan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Disamping itu, ada juga jurusan-jurusan yang juga banyak mengukir prestasi, baik tingkat lokal maupun nasional. Prestasi tersebut, yakni juara I lomba desain pakaian di Pekan Kreatif LPP RRI Jambi 2010. Juara II lomba desain pakaian di Pekan Kreatif LPP RRI Jambi 2010. Juara I lomba keterampilan kursus merancang gaun malam kreasi batik Jambi pada Pameran Kursus dan Pelatihan Privinsi Jambi 2009.
Selanjutnya, juara I akomodasi perhotelan LKS-SMK tingkat nasional 2007, dan yang paling membanggakan sekolah kejuruan ini adalah terpilihnya salah satu siswa untuk mengikuti ASIAN SKILL (suatu kompetisi bidang kecantikan) di Bangkok, Thailand, pada November mendatang.
“Ini sangat membanggakan sekolah. Untuk siswa yang berasal dari jurusan kecantikan rambut, mampu menyisihkan semua sekolah kejuruan yang ada di Indonesia. Siswa yang bernama Natasya ini, sekarang sedang menjalani pelatihan serta persiapan lomba bertaraf internasional tersebut,” katanya.
SMKN 4 Jambi sangat serius serta gencar dalam meningkatkan mutu dan kualitas SDM maupun fisik sekolahnya. Disamping labor yang lebih lengkap dari sekolah-sekolah kejuruan lainnya, saat ini SMKN 4 Jambi juga dilengkapi dengan tiga CCTV di lingkungan sekolah untuk mengawasi semua kegiatan siswa. (cr02)
Kepala Sekolah SMKN 4 Jambi Suhita Sulastri, Jumat (17/9) lalu menyatakan tidak hanya kualitas sumber daya manusia (SDM) yang harus ditingkatkan, tapi sarana dan prasarana sekolah juga harus dilengkapi.
Sekolah ini memiliki empat jurusan kejuruan yang sudah terakreditasi. Suhita menyebutkan jurusan-jurusan tersebut, yakni tata busana (butik), tata boga (jasa boga dan artiseri), tata kecantikan (kulit dan rambut), dan akomodasi perhotelan. “Semuanya terakreditasi A. Ini merupakan nilai tambah dalam penilaian RSBI menuju SBI. Sementara, untuk jurusan yang digemari, yakni akomodasi perhotelan, salah satunya karena ketersediaan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Disamping itu, ada juga jurusan-jurusan yang juga banyak mengukir prestasi, baik tingkat lokal maupun nasional. Prestasi tersebut, yakni juara I lomba desain pakaian di Pekan Kreatif LPP RRI Jambi 2010. Juara II lomba desain pakaian di Pekan Kreatif LPP RRI Jambi 2010. Juara I lomba keterampilan kursus merancang gaun malam kreasi batik Jambi pada Pameran Kursus dan Pelatihan Privinsi Jambi 2009.
Selanjutnya, juara I akomodasi perhotelan LKS-SMK tingkat nasional 2007, dan yang paling membanggakan sekolah kejuruan ini adalah terpilihnya salah satu siswa untuk mengikuti ASIAN SKILL (suatu kompetisi bidang kecantikan) di Bangkok, Thailand, pada November mendatang.
“Ini sangat membanggakan sekolah. Untuk siswa yang berasal dari jurusan kecantikan rambut, mampu menyisihkan semua sekolah kejuruan yang ada di Indonesia. Siswa yang bernama Natasya ini, sekarang sedang menjalani pelatihan serta persiapan lomba bertaraf internasional tersebut,” katanya.
SMKN 4 Jambi sangat serius serta gencar dalam meningkatkan mutu dan kualitas SDM maupun fisik sekolahnya. Disamping labor yang lebih lengkap dari sekolah-sekolah kejuruan lainnya, saat ini SMKN 4 Jambi juga dilengkapi dengan tiga CCTV di lingkungan sekolah untuk mengawasi semua kegiatan siswa. (cr02)
Sabtu, 18 September 2010
STMIK Jambi Menuju Universitas
JAMBI- Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Nurdin Hamzah Jambi menyatakan dengan pasti bahwa Sekolah Tinggi ini akan resmi menjadi sebuah universitas dalam waktu dekat. Hal ini dinyatakan oleh Ketua STMIK, Chandra Sabtia Irawan, Sabtu (18/9) lalu. Ia menyatakan bahwa berbagai langkah telah dilakukan untuk mewujudkan rencana itu.
Langkah yang dilakukan oleh pihak yayasan ini salah satunya adalah menggabungkan tiga perguruan tinggi yang bernaung dibawah payung Yayasan Nurdin Hamzah. Ketiga perguruan tinggi tersebut adalah STMIK Nurdin Hamzah, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Nurdin Hamzah, serta Akademi Bahasa Asing (ABA) Nurdin Hamzah.
Langkah lainnya adalah pembangunan gedung kampus baru yang akan dimulai pada akhir September ini. Diakui Chandra, pihak yayasan sangat mendukung penuh semua proses yang dilakukan demi kemajuan kampus di bawah yayasan ini. Proses pembangunan gedung baru lima lantai ini ditargetkan selesai selama 8-12 bulan. “Kami datangkan tukang dari Jawa yang bersedia bekerja 24 jam,” katanya. Untuk itu dibutuhkan sekitar 50 orang tukang yang akan dibagi shift kerja mereka.
Dana yang digunakan untuk membangun gedung baru ini murni berasal dari yayasan. Sehingga tidak ada alasan untuk menunda-nunda pembangunan kampus lagi. “Uang sudah tersedia, kita tinggal nunggu tukang datang,” ujar Chandra. Dengan adanya gedung baru ini, diharapkan proses belajar mengajar lebih kondusif. Pihak yaysan optimis bahwa pembangunan gedung baru ini akan berlangsung dengan lancar, dan target waktu yang ditetapkan bisa tercapai.
Menurut Chandra, dalam satu tahun yayasan Nurdin Hamzah ini akan beroperasi sebagai universitas. Kelak, akan ada lima fakultas yang bisa dipilih oleh calon mahasiswa baru. Yaitu, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Program Studi Statistik. Diakuinya, untuk mendapatkan akreditasi dari kelima fakultas ini dibutuhkan waktu minimal dua tahun. Mengingat proses penilaian serta baru beroperasinya sebuah universitas.
Pihak yayasan dapat memastikan bahwa universitas dibawah yayasan Nurdin Hamzah akan beroperasi dalam waktu dekat, karena diakui Chandra, Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) sudah mengeluarkan surat izinnya untuk yayasan Nurdin Hanzah. Namun masih menunggu surat izin dari dikti keluar, “Izin sudah keluar, Cuma nunggu suratnya saja,” ujar Chandra. (cr02).
Langkah yang dilakukan oleh pihak yayasan ini salah satunya adalah menggabungkan tiga perguruan tinggi yang bernaung dibawah payung Yayasan Nurdin Hamzah. Ketiga perguruan tinggi tersebut adalah STMIK Nurdin Hamzah, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Nurdin Hamzah, serta Akademi Bahasa Asing (ABA) Nurdin Hamzah.
Langkah lainnya adalah pembangunan gedung kampus baru yang akan dimulai pada akhir September ini. Diakui Chandra, pihak yayasan sangat mendukung penuh semua proses yang dilakukan demi kemajuan kampus di bawah yayasan ini. Proses pembangunan gedung baru lima lantai ini ditargetkan selesai selama 8-12 bulan. “Kami datangkan tukang dari Jawa yang bersedia bekerja 24 jam,” katanya. Untuk itu dibutuhkan sekitar 50 orang tukang yang akan dibagi shift kerja mereka.
Dana yang digunakan untuk membangun gedung baru ini murni berasal dari yayasan. Sehingga tidak ada alasan untuk menunda-nunda pembangunan kampus lagi. “Uang sudah tersedia, kita tinggal nunggu tukang datang,” ujar Chandra. Dengan adanya gedung baru ini, diharapkan proses belajar mengajar lebih kondusif. Pihak yaysan optimis bahwa pembangunan gedung baru ini akan berlangsung dengan lancar, dan target waktu yang ditetapkan bisa tercapai.
Menurut Chandra, dalam satu tahun yayasan Nurdin Hamzah ini akan beroperasi sebagai universitas. Kelak, akan ada lima fakultas yang bisa dipilih oleh calon mahasiswa baru. Yaitu, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Program Studi Statistik. Diakuinya, untuk mendapatkan akreditasi dari kelima fakultas ini dibutuhkan waktu minimal dua tahun. Mengingat proses penilaian serta baru beroperasinya sebuah universitas.
Pihak yayasan dapat memastikan bahwa universitas dibawah yayasan Nurdin Hamzah akan beroperasi dalam waktu dekat, karena diakui Chandra, Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) sudah mengeluarkan surat izinnya untuk yayasan Nurdin Hanzah. Namun masih menunggu surat izin dari dikti keluar, “Izin sudah keluar, Cuma nunggu suratnya saja,” ujar Chandra. (cr02).
Pelatihan TOEFL untuk Tingkatkan Kualitas Bahasa Inggris Guru
JAMBI – Sebagai sekolah RSBI menuju SBI, SMKN 4 Jambi gencar melakukan pembenahan di lingkungan sekolah. Tidak hanya kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, penampilan sekolah, tapi juga yang paling adalah peningkatan mutu para pengajar, khususnya dalam hal bahsa Inggris. Untuk itu, puhak sekolah saat ini sedang mengupayakan pelatihan TOEFL (Test Of English as Foreign Language) dua minggu dimulai dari tanggal 26 September sampai 10 Oktober mendatang . Demikian disampaikan oleh Kepala Sekolah, Suhita Sulastri, Jumat (17/9) lalu.
Tujuan utama dari pelatihan tersebut adalah peningkatan kemampuan komunikasi dan kualifikasi bahasa Inggris guru-guru SMKN 4. Pelatihan ini hampir sama dengan kursus TOEFL lainnya, namun demi mendapatkan hasil yang maksimal, pihak sekolah meminta seorang professor yang sudah berpengalaman di dunia internasional untuk memberikan materi pelatihan. Pihak sekolah juga menjalin kerjasama dengan Internasional Test Center (ITC) agar pelatihan dan test dapat terorganisir dengan baik. Disamapaikan Suhita, syarat nilai TOEFL yang harus dipenuhi guru-guru tersebut adalah 450.
Pihak sekolah telah menyeleksi guru-guru yang akan diutus untuk mengikuti pelatihan sebanyak 30 orang. Masing-masing berasal dari jurusan kejuruan, Matematika dan IPA. Untuk mengikuti pelatihan tersebut, tentu saja membutuhkan biaya. Sejauh ini pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya seperti mengirimkan proposal ke dinas pendidikan propinsi dan telah mendapatkan tanggapan positif dari diknas.
Dalam proposal yang dikirimkan, terdapat berbagai program kegiatan pelatihan. Yang pertama adalah kegiatan pengukuran kemampuan awal bahasa Inggris guru. Yang kedua, program pelatihan bahasa Inggris secara intensif. Dan yang ketiga yaitu kegiatan pengukuran kemampuan bahasa Inggri guru yang diwujudkan dalam serangkaian TOEFL. Test ini biasanya melingkupi listening (mendengar), structure (struktur kalimat), dan reading (membaca). Jika guru-guru tersebut lulus dengan nilai test minimal 450 tersebut, maka kemampuan bahasa Inggris mereka sudah bisa dipergunakan dalam proses belajar mengajar sekolah RSBI.
Diakuinya, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi telah menyetujui untuk menanggung semua biaya yang dibutuhkan untuk pelatihan tersebut. Butuh dukungan penuh dari berbagai dinas pemerintahan baik moril maupun materil agar kegiatan ini dapat terealisasikan dengan baik. Karena, jika program ini berhasil dan mmenciptakan guru-guru yang cakap dalam berbahasa Inggris, maka akan memberkan nilai lebih bagi SMKN 4. Ditambahkannya, nilai lebih tersebut juga akan membawa nama baik provinsi Jambi. (cr02)
Tujuan utama dari pelatihan tersebut adalah peningkatan kemampuan komunikasi dan kualifikasi bahasa Inggris guru-guru SMKN 4. Pelatihan ini hampir sama dengan kursus TOEFL lainnya, namun demi mendapatkan hasil yang maksimal, pihak sekolah meminta seorang professor yang sudah berpengalaman di dunia internasional untuk memberikan materi pelatihan. Pihak sekolah juga menjalin kerjasama dengan Internasional Test Center (ITC) agar pelatihan dan test dapat terorganisir dengan baik. Disamapaikan Suhita, syarat nilai TOEFL yang harus dipenuhi guru-guru tersebut adalah 450.
Pihak sekolah telah menyeleksi guru-guru yang akan diutus untuk mengikuti pelatihan sebanyak 30 orang. Masing-masing berasal dari jurusan kejuruan, Matematika dan IPA. Untuk mengikuti pelatihan tersebut, tentu saja membutuhkan biaya. Sejauh ini pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya seperti mengirimkan proposal ke dinas pendidikan propinsi dan telah mendapatkan tanggapan positif dari diknas.
Dalam proposal yang dikirimkan, terdapat berbagai program kegiatan pelatihan. Yang pertama adalah kegiatan pengukuran kemampuan awal bahasa Inggris guru. Yang kedua, program pelatihan bahasa Inggris secara intensif. Dan yang ketiga yaitu kegiatan pengukuran kemampuan bahasa Inggri guru yang diwujudkan dalam serangkaian TOEFL. Test ini biasanya melingkupi listening (mendengar), structure (struktur kalimat), dan reading (membaca). Jika guru-guru tersebut lulus dengan nilai test minimal 450 tersebut, maka kemampuan bahasa Inggris mereka sudah bisa dipergunakan dalam proses belajar mengajar sekolah RSBI.
Diakuinya, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi telah menyetujui untuk menanggung semua biaya yang dibutuhkan untuk pelatihan tersebut. Butuh dukungan penuh dari berbagai dinas pemerintahan baik moril maupun materil agar kegiatan ini dapat terealisasikan dengan baik. Karena, jika program ini berhasil dan mmenciptakan guru-guru yang cakap dalam berbahasa Inggris, maka akan memberkan nilai lebih bagi SMKN 4. Ditambahkannya, nilai lebih tersebut juga akan membawa nama baik provinsi Jambi. (cr02)
Jumat, 17 September 2010
Rangkul Minat Baca dan Pengunjung //Perpustakaan Kota Jambi
JAMBI– Membaca adalah jendela dunia. Begitu istilah yang selama ini diturunkan dari generasi ke generasi guna meningkatkan minat baca.
Namun, istilah tersebut saat ini, sepertinya tidak lagi berpengaruh terhadap minat baca terutama anak-anak. Karena mereka disibukkan dengan permainan modern dan tontonan yang menyita perhatian.
Meski demikian, Perpustakaan Kota Jambi tetap berusaha untuk menarik kembali minat baca anak-anak yang sudah mulai pudar itu. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Kota Jambi Jufriyono, kemarin (16/9).
Menurutnya, untuk menarik minat baca dan berkunjung, pihak BPAD mengadakan serangkaian lomba. Lomba yang digelar, yakni lomba minat baca untuk menarik anak-anak usia sekolah mulai dari TK sampai SMA. Dalam lomba minat baca itu, peserta diberikan ringkasan cerita dari sebuah novel atau buku lainnya, kemudian peserta diharuskan menceritakan kembali dengan gaya dan bahasa mereka sendiri. Namun perlombaan tersebut baru dilaksanakan untuk tingkat SD dan SMP, “Perpustakaan kita ini baru jalan satu tahun, dipastikan tahun depan tingkat TK dan SMA juga akan diadakan,” katanya.
Selain itu, upaya yang dilakukan perpustakaan yakni dengan merangkul sekolah-sekolah untuk membuat program belajar di perpustakaan. “Saya rasa cukup efektif, kami akan menfasilitasi jika mereka ingin belajar di sini,” katanya. Untuk melaksanakannya, dibutuhkan kerjasama yang baik antara perpustakaan kota dengan sekolah-sekolah yang ada di Kota Jambi.
Mengenai jumlah pengunjung perpustakaan, kata Jufriyono, setiap hari rata-rata jumlah pengunjung mencapai 60 sampai 75 orang. Menurutnya, jumlah ini sudah lebih dari cukup untuk sebuah perpustakaan yang baru beroperasi pada Januari 2010 itu. Namun pada bulan Ramadan lalu, pengunjung berkurang drastis, per hari berkisar antara 15 sampai 20 orang saja, keluhnya.
Di tempat yang sama, Kabid Pelayanan dan Pelestarian Leon Fadenan menambahkan, pengunjung cenderung bertambah dari bulan ke bulannya. Disebutkannya, perpustakaan yang buka dari pukul 7.30 sampai 15.30 itu ramai dikunjungi siswa pada pada jam ketika mereka istirahat atau pulang sekolah. “Tidak jarang juga para purnawirawan mampir ke perpus (perpustakaan) setelah mereka lari pagi,” katanya. Jadi dapat dikatakan, perpustakaan ini dikunjungi oleh semua umur.
Disamping itu, pihak perpustakaan juga menyediakan pelayanan untuk menampung saran dan kritik dari para pengunjung. Juga menampung apa saja kebutuhan buku para pengunjung. Selanjutnya, dilakukan upaya untuk mendatangkan buku-buku yang diminta oleh pengunjung. “Tentu dengan serangkaian proses-proses tertentu,” tambah Jufriyono. Buku yang tersedia di perpustakaan tersebut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu untuk TK, SD sampai SMA, serta mahasiswa dan umum. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengunjung memilih buku sesuai dengan usia dan keperluannya.
Pengadaan buku biasanya memakai dana APBD, bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional, serta Badan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sampai saat ini, jumlah buku yang tersedia adalah 2.701 judul buku baru sebanyak 13.505 eksemplar. Sedangkan untuk buku lama sebanyak 13.366 judul, sebanyak 25.541 eksemplar. Jumlah itu diakuinya masih jauh di bawah jumlah yang seharusnya disediakan oleh perpustakaan, yaitu 1 juta buku.(cr02)
Foto: Jenifer Agustia/Jambi Independent
BELUM CAPAI: Gedung Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Kota Jambi. Perpustakaan Kota Jambi, belum capai target miliki buku sebanyak 1 juta.
Namun, istilah tersebut saat ini, sepertinya tidak lagi berpengaruh terhadap minat baca terutama anak-anak. Karena mereka disibukkan dengan permainan modern dan tontonan yang menyita perhatian.
Meski demikian, Perpustakaan Kota Jambi tetap berusaha untuk menarik kembali minat baca anak-anak yang sudah mulai pudar itu. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Kota Jambi Jufriyono, kemarin (16/9).
Menurutnya, untuk menarik minat baca dan berkunjung, pihak BPAD mengadakan serangkaian lomba. Lomba yang digelar, yakni lomba minat baca untuk menarik anak-anak usia sekolah mulai dari TK sampai SMA. Dalam lomba minat baca itu, peserta diberikan ringkasan cerita dari sebuah novel atau buku lainnya, kemudian peserta diharuskan menceritakan kembali dengan gaya dan bahasa mereka sendiri. Namun perlombaan tersebut baru dilaksanakan untuk tingkat SD dan SMP, “Perpustakaan kita ini baru jalan satu tahun, dipastikan tahun depan tingkat TK dan SMA juga akan diadakan,” katanya.
Selain itu, upaya yang dilakukan perpustakaan yakni dengan merangkul sekolah-sekolah untuk membuat program belajar di perpustakaan. “Saya rasa cukup efektif, kami akan menfasilitasi jika mereka ingin belajar di sini,” katanya. Untuk melaksanakannya, dibutuhkan kerjasama yang baik antara perpustakaan kota dengan sekolah-sekolah yang ada di Kota Jambi.
Mengenai jumlah pengunjung perpustakaan, kata Jufriyono, setiap hari rata-rata jumlah pengunjung mencapai 60 sampai 75 orang. Menurutnya, jumlah ini sudah lebih dari cukup untuk sebuah perpustakaan yang baru beroperasi pada Januari 2010 itu. Namun pada bulan Ramadan lalu, pengunjung berkurang drastis, per hari berkisar antara 15 sampai 20 orang saja, keluhnya.
Di tempat yang sama, Kabid Pelayanan dan Pelestarian Leon Fadenan menambahkan, pengunjung cenderung bertambah dari bulan ke bulannya. Disebutkannya, perpustakaan yang buka dari pukul 7.30 sampai 15.30 itu ramai dikunjungi siswa pada pada jam ketika mereka istirahat atau pulang sekolah. “Tidak jarang juga para purnawirawan mampir ke perpus (perpustakaan) setelah mereka lari pagi,” katanya. Jadi dapat dikatakan, perpustakaan ini dikunjungi oleh semua umur.
Disamping itu, pihak perpustakaan juga menyediakan pelayanan untuk menampung saran dan kritik dari para pengunjung. Juga menampung apa saja kebutuhan buku para pengunjung. Selanjutnya, dilakukan upaya untuk mendatangkan buku-buku yang diminta oleh pengunjung. “Tentu dengan serangkaian proses-proses tertentu,” tambah Jufriyono. Buku yang tersedia di perpustakaan tersebut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu untuk TK, SD sampai SMA, serta mahasiswa dan umum. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengunjung memilih buku sesuai dengan usia dan keperluannya.
Pengadaan buku biasanya memakai dana APBD, bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional, serta Badan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sampai saat ini, jumlah buku yang tersedia adalah 2.701 judul buku baru sebanyak 13.505 eksemplar. Sedangkan untuk buku lama sebanyak 13.366 judul, sebanyak 25.541 eksemplar. Jumlah itu diakuinya masih jauh di bawah jumlah yang seharusnya disediakan oleh perpustakaan, yaitu 1 juta buku.(cr02)
Foto: Jenifer Agustia/Jambi Independent
BELUM CAPAI: Gedung Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Kota Jambi. Perpustakaan Kota Jambi, belum capai target miliki buku sebanyak 1 juta.
Senin, 06 September 2010
Sekolah dengan Bantuan Donatur
JAMBI- Panti Asuhan Muhammadiyah yang berlokasi di Sipin saat ini memiliki anak-anak asuh sebanyak 63 orang. Masing-masingnya 11 orang usia sekolah dasar, 23 orang usia sekolah menengah pertama, dan 30 orang usia menengah atas. Semua anak-anak ini bisa melanjutkan sekolah mereka di sekolah umum tanpa terkendala biaya.
Menurut Kepala Panti Asuhan, Syahrial, Senin (6/9) lalu, anak-anak penghuni panti tidak ada yang putus sekolah. dikatakannya, mereka belajar di sekolah umum seperti anak-anak biasanya. Karena memang Panti Asuhan ini tidak punya sekolah sendiri. Tapi pihak panti berani menjamin kelangsungan pendidikan mereka selama tinggal di panti asuhan ini.
Anak-anak penghuni panti masing-masing usia SD terdiri dari dua orang yatim piatu, empat orang yatim dan lima orang dhuafa. Usia SMP terdiri dari tiga orang yatim piatu, 12 orang yatim, dan delapan orang orang dhuafa. Sedangkan usia SMA, dua orang yatim piatu, 14 orang yatim, dan 14 orang dhuafa. Semua anak ini, dikatakan Syahrial tidak ada yang putus sekolah.
Untuk anak usia SD, mereka bersekolah di SD sekitar panti, anak-anak SMP bersekolah di SMP Muhammadiyah, sedangkan untuk usia SMA dibebaskan memilih sesuai dengan keinginan mereka. “Ada yang di SMKN 1, SMKN 4, MAM, dan sebagainya,” kata Syahrial. Bahkan ada juga penghuni panti yang berhasil kuliah di STIE IKABAMA. Hal tersebut menjadi bukti bagi Panti Asuhan bahwa mereka menjamin pendidikan anak-anak asuhnya.
Mengenai biaya pendidikan, pihak panti menjelaskan bahwa ada donatur rutin yang menyumbangkan dana bagi yayasan. Sampai saat ini, pihak panti mengakui tidak pernah mengalami kekurangan dana pendidikan dan keseharian anak-anak panti. Para donatur berasal dari kalangan masyarakat umum, namun tidak rutin. Sedangkan organisasi-organisasi dan perusahaan seperti Telkom, Telkomsel, Pelindo, dsb setiap tahun selalu menyalurkan bantuannya untuk Panti ini.
Selain pendidikan, pihak panti juga berhati-hati dalam hal adopsi. Kata Syahrial, sering kali ada calon orang tua yang akan mengadopsi anak panti asuhannya, namun prosedur yang harus dilalui sedemikian panjang. “Harus melalui pengadilan, mereka tidak mau repot,” katanya. Sampai saat ini belum ada anak yang diadopsi dari panti asuhan ini, karena ketatnya peraturan serta syarat-syarat adopsi. (cr02).
Menurut Kepala Panti Asuhan, Syahrial, Senin (6/9) lalu, anak-anak penghuni panti tidak ada yang putus sekolah. dikatakannya, mereka belajar di sekolah umum seperti anak-anak biasanya. Karena memang Panti Asuhan ini tidak punya sekolah sendiri. Tapi pihak panti berani menjamin kelangsungan pendidikan mereka selama tinggal di panti asuhan ini.
Anak-anak penghuni panti masing-masing usia SD terdiri dari dua orang yatim piatu, empat orang yatim dan lima orang dhuafa. Usia SMP terdiri dari tiga orang yatim piatu, 12 orang yatim, dan delapan orang orang dhuafa. Sedangkan usia SMA, dua orang yatim piatu, 14 orang yatim, dan 14 orang dhuafa. Semua anak ini, dikatakan Syahrial tidak ada yang putus sekolah.
Untuk anak usia SD, mereka bersekolah di SD sekitar panti, anak-anak SMP bersekolah di SMP Muhammadiyah, sedangkan untuk usia SMA dibebaskan memilih sesuai dengan keinginan mereka. “Ada yang di SMKN 1, SMKN 4, MAM, dan sebagainya,” kata Syahrial. Bahkan ada juga penghuni panti yang berhasil kuliah di STIE IKABAMA. Hal tersebut menjadi bukti bagi Panti Asuhan bahwa mereka menjamin pendidikan anak-anak asuhnya.
Mengenai biaya pendidikan, pihak panti menjelaskan bahwa ada donatur rutin yang menyumbangkan dana bagi yayasan. Sampai saat ini, pihak panti mengakui tidak pernah mengalami kekurangan dana pendidikan dan keseharian anak-anak panti. Para donatur berasal dari kalangan masyarakat umum, namun tidak rutin. Sedangkan organisasi-organisasi dan perusahaan seperti Telkom, Telkomsel, Pelindo, dsb setiap tahun selalu menyalurkan bantuannya untuk Panti ini.
Selain pendidikan, pihak panti juga berhati-hati dalam hal adopsi. Kata Syahrial, sering kali ada calon orang tua yang akan mengadopsi anak panti asuhannya, namun prosedur yang harus dilalui sedemikian panjang. “Harus melalui pengadilan, mereka tidak mau repot,” katanya. Sampai saat ini belum ada anak yang diadopsi dari panti asuhan ini, karena ketatnya peraturan serta syarat-syarat adopsi. (cr02).
Bangga Punya Bahasa Indonesia
JAMBI – Bahasa asing telah mendominasi masyarakat Indonesia saat ini. Terbukti dengan jarangnya dipakai Bahasa Indonesia sebagai nama pusat perebelanjaan, toko, serta tempat-tempat umum lainnya. Ditemui di ruangannya Senin (6/9) lalu, Kasubbag Tata Usaha Kantor Bahasa Indonesia Jambi, Yarmalus menyatakan penyesalannya tentang ini.
Dikatakannya, generasi saat ini lebih bangga menggunakan kata-kata asing seperti town square untuk tempat perbelanjaan, convention centre untuk tempat pertunjukan dan lain sebagainya. Penyebabnya, dikatakannya adalah kurangnya rasa bangga dan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia sebagaimana tertera dalam sumpah pemuda. Peran kita sebagai masyarakat, katanya adalah untuk menumbuhkan kembali budaya berbahasa Indonesia.
Demikian juga dikalangan pelajar, rasa bangga terhadap Bahasa Kesatuan Indonesia harus ditanamkan sejak dini. Salah satunya dengan festifal-festifal serta lomba-lomba yang berkaitan dengan bahsa dan sastra Indonesia. Hal ini telah dilakukan oleh Kantor Bahasa Jambi baru-baru ini. Lomba-lomba ini merupakan langkah lanjutan serta aplikasi metari Bahasa Indonesia yang mereka dapat di sekolah.
“Hanya kantor bahasa yang menyelenggarakan acara semacam ini, karena bahasa dan sastra dianggap sepele selama ini,” ungkap Yarmalus. Namun kenyataannya, antusias para siswa ini sangat tinggi. Terbukti dengan jumlah peserta serta pendukung mereka yang beramai-ramai datang ke Kantor Bahasa. Ini memnandakan bahwa siswa-siswa butuh sarana dan media untuk menyalurkan bakat mereka. Bukan hanya mendapatkan materi formal di sekolah yang kebanyakan berorientasi pada buku pegangan.
Yarmalus lebih lanjut menjelaskan, ada beberapa kategori lomba yang diadakan, yaitu debat Bahasa Indonesia, Lomba Cerpen, Lomba Menulis Kreatif, Festival Musikalisasi Puisi. Dikatakannya, untuk debat Bahasa Indonesia, peserta akan diberikan pilihan ‘positif’ atau ‘negatif’. Selama perdebatan, peserta harus berjuang mempertahankan pendapat mereka. “Yang kita utamakan adalah bagaimana cara mereka berdebat dan bertahan, bukan menentukan mana yang benar atau mana yang salah,” katanya. Sedangkan dalam menulis kreatif, peserta diharuskan mengembangkan idenya tentang topik yang diberikan oleh panitia. Selain bidang sastra, siswa juga bisa berkreasi dibidang seni melalui festival musikalisasi puisi. “Mereka kan main musik juga,” kata Yarmalus.
Selain lomba-lomba dan berbagai festifal, Kantor ini juga telah membuka suatu bengkel sastra. Kegiatan di bengkel sastra ini melingkupi semua jenis sastra Indonesia. “Disana ada puisi, cerpen, fiksi, dll,” kata Yarmalus. Selain itu, di bengkel sastra ini juga diberikan materi-materi oleh instruktur-instruktur kompeten. Dalam waktu tertentu, pemateri didatangkan langsung dari pusat. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, siswa-siswa lebih bisa mengembangkan ide-idenya dibidang sastra Indonesia. (cr02).
Dikatakannya, generasi saat ini lebih bangga menggunakan kata-kata asing seperti town square untuk tempat perbelanjaan, convention centre untuk tempat pertunjukan dan lain sebagainya. Penyebabnya, dikatakannya adalah kurangnya rasa bangga dan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia sebagaimana tertera dalam sumpah pemuda. Peran kita sebagai masyarakat, katanya adalah untuk menumbuhkan kembali budaya berbahasa Indonesia.
Demikian juga dikalangan pelajar, rasa bangga terhadap Bahasa Kesatuan Indonesia harus ditanamkan sejak dini. Salah satunya dengan festifal-festifal serta lomba-lomba yang berkaitan dengan bahsa dan sastra Indonesia. Hal ini telah dilakukan oleh Kantor Bahasa Jambi baru-baru ini. Lomba-lomba ini merupakan langkah lanjutan serta aplikasi metari Bahasa Indonesia yang mereka dapat di sekolah.
“Hanya kantor bahasa yang menyelenggarakan acara semacam ini, karena bahasa dan sastra dianggap sepele selama ini,” ungkap Yarmalus. Namun kenyataannya, antusias para siswa ini sangat tinggi. Terbukti dengan jumlah peserta serta pendukung mereka yang beramai-ramai datang ke Kantor Bahasa. Ini memnandakan bahwa siswa-siswa butuh sarana dan media untuk menyalurkan bakat mereka. Bukan hanya mendapatkan materi formal di sekolah yang kebanyakan berorientasi pada buku pegangan.
Yarmalus lebih lanjut menjelaskan, ada beberapa kategori lomba yang diadakan, yaitu debat Bahasa Indonesia, Lomba Cerpen, Lomba Menulis Kreatif, Festival Musikalisasi Puisi. Dikatakannya, untuk debat Bahasa Indonesia, peserta akan diberikan pilihan ‘positif’ atau ‘negatif’. Selama perdebatan, peserta harus berjuang mempertahankan pendapat mereka. “Yang kita utamakan adalah bagaimana cara mereka berdebat dan bertahan, bukan menentukan mana yang benar atau mana yang salah,” katanya. Sedangkan dalam menulis kreatif, peserta diharuskan mengembangkan idenya tentang topik yang diberikan oleh panitia. Selain bidang sastra, siswa juga bisa berkreasi dibidang seni melalui festival musikalisasi puisi. “Mereka kan main musik juga,” kata Yarmalus.
Selain lomba-lomba dan berbagai festifal, Kantor ini juga telah membuka suatu bengkel sastra. Kegiatan di bengkel sastra ini melingkupi semua jenis sastra Indonesia. “Disana ada puisi, cerpen, fiksi, dll,” kata Yarmalus. Selain itu, di bengkel sastra ini juga diberikan materi-materi oleh instruktur-instruktur kompeten. Dalam waktu tertentu, pemateri didatangkan langsung dari pusat. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, siswa-siswa lebih bisa mengembangkan ide-idenya dibidang sastra Indonesia. (cr02).
Yang Muda yang Berprestasi
JAMBI-Yoshua Yonatan, lahir di Bandung 15 Desember 1993 merupakan siswa berprestasi kebanggaan SMA Xaverius 2 Jambi. Ditemui di sekolahnya kemarin (23/8), pemuda yang akrab dipanggil Yos ini memaparkan sederet prestasi yang telah diraihnya selama bersekolah di SMA Vaverius 2 Jambi. Semua prestasi tersebut berkaitan dengan bidang studi matematika yang sangat diminatinya.
Semenjak kelas satu SMA, putra pertama dari pasangan (alm) DPP Sormin dan Magdalena Jamilah ini telah mengukir prestasi yang gemilang dibidang Sains. Di kelas I, Yos meraih sederet prestasi, antara lain Juara II Olimpiade Matematika UNJA (2009), Juara I Olimpiade Matematika tingkat kota dan provinsi (2009), serta Juara III Nuansa Matematika IAIN (2008).
Di kelas II Yos juga mengukir prestasi serupa, antara lain Juara I Nuansa Matematika IAIN se Provinsi Jambi (2009), Juara I Olimpiade matematika UNJA (2010), Juara I Olimpiade Sains tingkat kota dan provinsi (2010), Juara 3 lomba Cepat Tepat UI se Provinsi jambi (2010), serta baru-baru ini, kakak dari Rachelia Febriani ini meraih medali emas dengan predikat absolute winner pada Olimpiade Sains Nasional di Medan (2010).
Siswa yang tahun ini duduk dikelas III ini mengaku sangat menyukai bidang studi matematika karena polanya yang berantai. Ia mengatakan bahwa jika sudah paham bab 1, bab berikutnya dapat dikerjakan dengan mudah karena semuanya berkaitan.
Bidang yang paling disukainya dalam matematika adalah Geometri, “karena kerjanya real, nyata” ungkapnya. Sedangkan yang kurang disukai adalah Kalkulus karena pemuda ini tak suka dengan kegiatan menghafal.
Namun tak semua siswa menyukai mata pelajaran Matematika, bahkan tak jarang juga yang membenci. Ketika ditanyakan tentang hal ini, Yos menjawab “saya siap membantu teman-teman kalau ada masalah.” Namun jangan harap Yos mau memberikan contekan disaat ujian “ga fair,” ungkapnya. Ketika ditanya, siswa yang punya motto ‘just do my best’ ini bercita-cita ingin menjadi dosen Matematika, dan menargetkan untuk bisa masuk ke Massachusetts Institute of Technology, USA. (cr02)
Semenjak kelas satu SMA, putra pertama dari pasangan (alm) DPP Sormin dan Magdalena Jamilah ini telah mengukir prestasi yang gemilang dibidang Sains. Di kelas I, Yos meraih sederet prestasi, antara lain Juara II Olimpiade Matematika UNJA (2009), Juara I Olimpiade Matematika tingkat kota dan provinsi (2009), serta Juara III Nuansa Matematika IAIN (2008).
Di kelas II Yos juga mengukir prestasi serupa, antara lain Juara I Nuansa Matematika IAIN se Provinsi Jambi (2009), Juara I Olimpiade matematika UNJA (2010), Juara I Olimpiade Sains tingkat kota dan provinsi (2010), Juara 3 lomba Cepat Tepat UI se Provinsi jambi (2010), serta baru-baru ini, kakak dari Rachelia Febriani ini meraih medali emas dengan predikat absolute winner pada Olimpiade Sains Nasional di Medan (2010).
Siswa yang tahun ini duduk dikelas III ini mengaku sangat menyukai bidang studi matematika karena polanya yang berantai. Ia mengatakan bahwa jika sudah paham bab 1, bab berikutnya dapat dikerjakan dengan mudah karena semuanya berkaitan.
Bidang yang paling disukainya dalam matematika adalah Geometri, “karena kerjanya real, nyata” ungkapnya. Sedangkan yang kurang disukai adalah Kalkulus karena pemuda ini tak suka dengan kegiatan menghafal.
Namun tak semua siswa menyukai mata pelajaran Matematika, bahkan tak jarang juga yang membenci. Ketika ditanyakan tentang hal ini, Yos menjawab “saya siap membantu teman-teman kalau ada masalah.” Namun jangan harap Yos mau memberikan contekan disaat ujian “ga fair,” ungkapnya. Ketika ditanya, siswa yang punya motto ‘just do my best’ ini bercita-cita ingin menjadi dosen Matematika, dan menargetkan untuk bisa masuk ke Massachusetts Institute of Technology, USA. (cr02)
Membosankan, Pelajar Tidak Antusias Belajar Bahasa Indonesia
JAMBI- Bahasa Indonesia merupakan bidang studi wajib dalam pendidikan Indonesia. Mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun, tak jarang siswa menganggap sepele bidang studi mendasar ini. Ditemui di ruangannya kemarin (6/9), Kasubbag Tata Usaha Kantor Bahasa Jambi, Yarmalus menyetujui pernyataan ini. Hal ini disebabkan kurangnya minat siswa terhadap bidang studi Bahasa Indonesia. dikatakannya, siswa-siswa jenuh dan bosan menghadapi permasalahan ejaan, tanda baca, paragraf, dan hal yang dianggap sepele lainnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, pihak kantor bahasa baru-baru ini memberikan penyuluhan terhadap guru-guru Bahasa Indonesia di Kota Jambi. Dalam penyuluhan tersebut, guru-guru diberikan pendalaman materi lagi mengenai bentuk dan pilihan kata, metodologi penelitian, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), bentuk paragraf, dll. “Ada juga guru-guru yang pemahaman materinya masih kurang sempurna,” katanya. Setelah diberikan penyuluhan ini, para guru bisa menerapkannya kepada siswa di kelas.
Diakuinya, Kantor Bahasa hanya berhubungan langsung dengan guru-guru bahasa, kemudian guru-guru tersebut bertanggung jawab terhadap pemahaman siswanya di kelas. Selain materi-materi bidang studi Bahasa Indonesia yang diberikan, guru-guru juga dibekali dengan metode pengajaran agar siswa lebih tertarik dan antusias mengikuti pelajaran tersebut. Pemateri berasal dari pihak Kantor Bahasa.
Mengenai sejauh mana penggunakan bahasa Indonesia di kalangan pelajar di Provinsi Jambi, Yarmalus tidak dapat memberi gambaran. Dikatakannya, kantor bahasa tidak punya wewenang untuk menilai langsung siswa di sekolah-sekolah. Guru mempunyai otoritas sendiri serta tanggung jawab untuk mengawasi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh siswanya.
Namun, Yarmalus berencena untuk mengadakan penelitian terhadap beberapa siswa tentang pemahaman mereka terhadap Bahasa Indonesia. Menurutnya, penelitian ini akan dilakukannya dengan metode kuesioner atau angket yang akan disebar di beberapa sekolah. Dalam kuesioner itu, dirinya akan memberikan pertanyaan-pertanyaan menyangkut aspek-aspek dalam bidang studi Bahasa Indonesia. “Pertanyaannya mungkin berupa penyusunan kalimat, pemakaian tanda baca, paragraf, dll,” katanya. Dengan cara itu, kantor bahasa bisa menilai seberapa jauh pemahaman pemakaian siswa-siswa sekolah terhadap Bahasa Indonesia. “Namun itu baru rencana, realisasinya kita lihat saja nanti,” tandasnya. (cr02).
Untuk menyiasati hal tersebut, pihak kantor bahasa baru-baru ini memberikan penyuluhan terhadap guru-guru Bahasa Indonesia di Kota Jambi. Dalam penyuluhan tersebut, guru-guru diberikan pendalaman materi lagi mengenai bentuk dan pilihan kata, metodologi penelitian, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), bentuk paragraf, dll. “Ada juga guru-guru yang pemahaman materinya masih kurang sempurna,” katanya. Setelah diberikan penyuluhan ini, para guru bisa menerapkannya kepada siswa di kelas.
Diakuinya, Kantor Bahasa hanya berhubungan langsung dengan guru-guru bahasa, kemudian guru-guru tersebut bertanggung jawab terhadap pemahaman siswanya di kelas. Selain materi-materi bidang studi Bahasa Indonesia yang diberikan, guru-guru juga dibekali dengan metode pengajaran agar siswa lebih tertarik dan antusias mengikuti pelajaran tersebut. Pemateri berasal dari pihak Kantor Bahasa.
Mengenai sejauh mana penggunakan bahasa Indonesia di kalangan pelajar di Provinsi Jambi, Yarmalus tidak dapat memberi gambaran. Dikatakannya, kantor bahasa tidak punya wewenang untuk menilai langsung siswa di sekolah-sekolah. Guru mempunyai otoritas sendiri serta tanggung jawab untuk mengawasi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh siswanya.
Namun, Yarmalus berencena untuk mengadakan penelitian terhadap beberapa siswa tentang pemahaman mereka terhadap Bahasa Indonesia. Menurutnya, penelitian ini akan dilakukannya dengan metode kuesioner atau angket yang akan disebar di beberapa sekolah. Dalam kuesioner itu, dirinya akan memberikan pertanyaan-pertanyaan menyangkut aspek-aspek dalam bidang studi Bahasa Indonesia. “Pertanyaannya mungkin berupa penyusunan kalimat, pemakaian tanda baca, paragraf, dll,” katanya. Dengan cara itu, kantor bahasa bisa menilai seberapa jauh pemahaman pemakaian siswa-siswa sekolah terhadap Bahasa Indonesia. “Namun itu baru rencana, realisasinya kita lihat saja nanti,” tandasnya. (cr02).
Bekali Anak-Anak Panti Asuhan dengan Bimbingan dan Keterampilan
JAMBI- Panti Asuhan Muhammadiyah Jambi mencanangkan beberapa program untuk anak-anak asuh. Program-program tersebut difokuskan kepada bimbingan serta pelatihan keterampilan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Panti Asuhan, Syahrial kemarin (6/9).
Program-program tersebut melingkupi bimbingan fisik dan kesehatan, mental dan psikososial, sosial, keterampilan, bimbingan kelompok, pendidikan, bimbingan individu, serta bimbingan penyiapan lingkungan sosial. Tujuan dari program-program ini sendiri adalah untuk menciptakan anak-anak yang mandiri sesuai dengan visi dan misi Panti Asuhan Muhammadiyah.
Dijelaskan oleh Syahrial, bimbingan fisik dan kesehatan meliputi pemeliharaan kebugaran dan pelayanan menu dalam rangka peningkatan gizi. Sarana dan prasarana untuk ini disediakan oleh pihak panti. Bimbingan mental dan psikososial, dijelaskannya berupa bimbingan keagamaan, kedisiplinan, dan akhlaqul karimah. Hal lain yang dibimbing adalah hubungan sosial anak-anak panti asuhan. Untuk program ini, pihak panti asuhan memberikan bimbingan terhadap aktifitas sehari-hari, integrasi sosial, serta dengan mengadakan rekreasi bersama untuk membentuk pribadi anak agar terbuka terhadap lingkungan sosialnya.
Untuk menyiapkan anal-anak dalam menghadapi lingkungan yang lebih luas, Panti Asuhan Muhammadiyah juga mengadakan bimbingan integrasi dengan lingkungan luarnya. Hal tersebut mencakup lingkungan keluarga, lingkuangan sekitar keluarga, serta lingkungan sosial yang lebih luas lagi. Bimbingan-bimbingan ini diberikan oleh lima instruktur serta dilakukan pada siang sampai sore hari.
Selain bimbingan pembentukan kepribadian diatas, anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah juga mendapatkan bimbingan pendidikan serta keterampilan. Hal ini dinilai pihak panti sangat bermanfaat bagi anak-anak setelah mereka dewasa dan keluar dari panti. bimbingan yang diberikan berupa bimbingan pendidikan dan keterampilan.
Syharial mengatakan, bimbingan pendidikan dilakukan untuk membantu anak-anak dalam memahami pelajaran yang diterimanya di sekolah. Bimbingan tersebut direalisasikan dalam bentuk kelompok belajar yang dibimbing langsung oleh instruktur dari panti asuhan. Dalam kelompok belajar ini, kata Syahrial, anak-anak diajarkan berdiskusi dan bersama-sama memecahkan persoalan yang dihadapi disekolahnya. Untuk lebih memotivasi anak-anak dalam belajar, pihak panti juga menyediakan bonus atau hadiah bagi yang berprestasi di sekolahnya.
Pihak panti saat ini mempersiapkan anak-anaknya untuk berkarya sehingga dapat memenuhi kebutuhan pribadinya kelak. Anak-anak dibekali dengan berbagai macam keterampilan, “kelak mereka bisa mendapatkan penghasilan dari situ,” ungkap Syahrial. Keterampilan tersebut berupa menjahit dan tata boga dibimbing langsung oleh pihak panti. “Instruktur kami datangkan kesini,” katanya. (cr02).
Program-program tersebut melingkupi bimbingan fisik dan kesehatan, mental dan psikososial, sosial, keterampilan, bimbingan kelompok, pendidikan, bimbingan individu, serta bimbingan penyiapan lingkungan sosial. Tujuan dari program-program ini sendiri adalah untuk menciptakan anak-anak yang mandiri sesuai dengan visi dan misi Panti Asuhan Muhammadiyah.
Dijelaskan oleh Syahrial, bimbingan fisik dan kesehatan meliputi pemeliharaan kebugaran dan pelayanan menu dalam rangka peningkatan gizi. Sarana dan prasarana untuk ini disediakan oleh pihak panti. Bimbingan mental dan psikososial, dijelaskannya berupa bimbingan keagamaan, kedisiplinan, dan akhlaqul karimah. Hal lain yang dibimbing adalah hubungan sosial anak-anak panti asuhan. Untuk program ini, pihak panti asuhan memberikan bimbingan terhadap aktifitas sehari-hari, integrasi sosial, serta dengan mengadakan rekreasi bersama untuk membentuk pribadi anak agar terbuka terhadap lingkungan sosialnya.
Untuk menyiapkan anal-anak dalam menghadapi lingkungan yang lebih luas, Panti Asuhan Muhammadiyah juga mengadakan bimbingan integrasi dengan lingkungan luarnya. Hal tersebut mencakup lingkungan keluarga, lingkuangan sekitar keluarga, serta lingkungan sosial yang lebih luas lagi. Bimbingan-bimbingan ini diberikan oleh lima instruktur serta dilakukan pada siang sampai sore hari.
Selain bimbingan pembentukan kepribadian diatas, anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah juga mendapatkan bimbingan pendidikan serta keterampilan. Hal ini dinilai pihak panti sangat bermanfaat bagi anak-anak setelah mereka dewasa dan keluar dari panti. bimbingan yang diberikan berupa bimbingan pendidikan dan keterampilan.
Syharial mengatakan, bimbingan pendidikan dilakukan untuk membantu anak-anak dalam memahami pelajaran yang diterimanya di sekolah. Bimbingan tersebut direalisasikan dalam bentuk kelompok belajar yang dibimbing langsung oleh instruktur dari panti asuhan. Dalam kelompok belajar ini, kata Syahrial, anak-anak diajarkan berdiskusi dan bersama-sama memecahkan persoalan yang dihadapi disekolahnya. Untuk lebih memotivasi anak-anak dalam belajar, pihak panti juga menyediakan bonus atau hadiah bagi yang berprestasi di sekolahnya.
Pihak panti saat ini mempersiapkan anak-anaknya untuk berkarya sehingga dapat memenuhi kebutuhan pribadinya kelak. Anak-anak dibekali dengan berbagai macam keterampilan, “kelak mereka bisa mendapatkan penghasilan dari situ,” ungkap Syahrial. Keterampilan tersebut berupa menjahit dan tata boga dibimbing langsung oleh pihak panti. “Instruktur kami datangkan kesini,” katanya. (cr02).
Jumat, 03 September 2010
SLB Kekurangan Guru Terapi Autis
JAMBI–Autisme merupakan suatu kondisi seseorang yang tak dapat menjalin hubungan secara sosial atau berkomunikasi secara normal dengan lingkungannya sejak lahir atau balita.Akibatnya, penyandang autisme cenderung diisolasi dari lingkungannya. Biasanya anak-anak penyandang autisme ini mengalami gangguan dalam interaksi sosial, berbicara, perilaku serta emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik, serta perkembangan yang lambat atau tidak normal.
Untuk membantu anak-anak penyandang autisme ini, Yayasan Sekolah Luar Biasa (SLB) Prof Dr Sri Soedewi Masjchun Sofwan SH, Jambi baru-baru ini membuka kelas terapi autis. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Sapari, Rabu (1/9) lalu, kelas ini baru satu tahun dibuka.
Dalam satu hari diadakan kelas terapi, yang berlangsung selama 90 menit.
Materi yang diberikan berupa latihan berbicara dan latihan berkonsentrasi. Metode pengajarannya adalah satu orang guru untuk satu orang anak, “Sehingga peserta bisa mendapatkan terapi yang intensif,” jelasnya.
Latar pendidikan guru yang ada juga berbeda. Dua orang guru yang ditemui Jambi Independent kemarin, masing-masing, Anisa berasal dari jurusan Psikologi. Satunya lagi, Ari berasal dari jurusan Terapi Bicara.
Karena hanya ada dua guru, maka, kata Sapari, kelas itu terkendala tenaga pengajar.
Hanya ada tiga guru yang memberi materi terapi. Tentu jumlah yang diterapi setiap hari sangat terbatas, jelasnya. Yakni hanya tiga anak.
Terapi yang katanya menangani berbagai jenis autisme. Di antaranya autis murni, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas, Down Syndrome (DS), serta autisme akibat terinfeksi toksoplasma.
Guru Terapi Wicara Ari, menambahkan bahwa anak-anak dengan kasus di atas memerlukan penanganan yang serius, dari pihak sekolah dan yang lebih penting adalah dari keluarganya.
Kesulitan yang dihadapi oleh guru-guru ini dalm proses terapi adalah kebiasaan-kebiasaan anak yang berbeda-beda. “Ada yang membeo,” kata Ari, sehingga apa yang disebutkan dan dilakukan gurunya selalu diulangi. Untuk kasus ini, kata Ari, peran orang tua sangat diperlukan, karena ada pengaruh bahasa ibu dalam kegiatan anak dengan kasus seperti ini. Ditambahkan oleh Anisa, ada juga anak yang cenderung menyakiti dirinya sendiri bahkan orang lain. Kasus seperti ini juga menjadi tantangan sendiri bagi tenaga pendidik untuk memberikan terapi. “Kesabaran harus dilatih,” kata Anisa.
Sekolah tersebut, selain dilengkapi dengan ruang terapi, juga tersedia ruang bermain untuk peserta terapi. Ada berbagai macam mainan yang disediakan, seperti bola-bola karet, huruf-huruf yang terbuat dari plastik, miniatur binatang, balok-balok, miniatur rambu lalu lintas, dan sebagainya.
Dengan jenis-jenis permainan yang ada, kata Sapari, dapat melatih anak-anak penyandang autisme untuk bisa mengembangkan dirinya, serta lebih mengenal lingkungan sekitarnya.(cr02)
Foto: eddi Junaedi/Jambi Independent
PENYEMBUHAN: SLB menyediakan terapi untuk anak autis. Antara lain untuk autis murni, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas, Down Syndrome (DS), serta autisme akibat terinfeksi toksoplasma.
Untuk membantu anak-anak penyandang autisme ini, Yayasan Sekolah Luar Biasa (SLB) Prof Dr Sri Soedewi Masjchun Sofwan SH, Jambi baru-baru ini membuka kelas terapi autis. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Sapari, Rabu (1/9) lalu, kelas ini baru satu tahun dibuka.
Dalam satu hari diadakan kelas terapi, yang berlangsung selama 90 menit.
Materi yang diberikan berupa latihan berbicara dan latihan berkonsentrasi. Metode pengajarannya adalah satu orang guru untuk satu orang anak, “Sehingga peserta bisa mendapatkan terapi yang intensif,” jelasnya.
Latar pendidikan guru yang ada juga berbeda. Dua orang guru yang ditemui Jambi Independent kemarin, masing-masing, Anisa berasal dari jurusan Psikologi. Satunya lagi, Ari berasal dari jurusan Terapi Bicara.
Karena hanya ada dua guru, maka, kata Sapari, kelas itu terkendala tenaga pengajar.
Hanya ada tiga guru yang memberi materi terapi. Tentu jumlah yang diterapi setiap hari sangat terbatas, jelasnya. Yakni hanya tiga anak.
Terapi yang katanya menangani berbagai jenis autisme. Di antaranya autis murni, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas, Down Syndrome (DS), serta autisme akibat terinfeksi toksoplasma.
Guru Terapi Wicara Ari, menambahkan bahwa anak-anak dengan kasus di atas memerlukan penanganan yang serius, dari pihak sekolah dan yang lebih penting adalah dari keluarganya.
Kesulitan yang dihadapi oleh guru-guru ini dalm proses terapi adalah kebiasaan-kebiasaan anak yang berbeda-beda. “Ada yang membeo,” kata Ari, sehingga apa yang disebutkan dan dilakukan gurunya selalu diulangi. Untuk kasus ini, kata Ari, peran orang tua sangat diperlukan, karena ada pengaruh bahasa ibu dalam kegiatan anak dengan kasus seperti ini. Ditambahkan oleh Anisa, ada juga anak yang cenderung menyakiti dirinya sendiri bahkan orang lain. Kasus seperti ini juga menjadi tantangan sendiri bagi tenaga pendidik untuk memberikan terapi. “Kesabaran harus dilatih,” kata Anisa.
Sekolah tersebut, selain dilengkapi dengan ruang terapi, juga tersedia ruang bermain untuk peserta terapi. Ada berbagai macam mainan yang disediakan, seperti bola-bola karet, huruf-huruf yang terbuat dari plastik, miniatur binatang, balok-balok, miniatur rambu lalu lintas, dan sebagainya.
Dengan jenis-jenis permainan yang ada, kata Sapari, dapat melatih anak-anak penyandang autisme untuk bisa mengembangkan dirinya, serta lebih mengenal lingkungan sekitarnya.(cr02)
Foto: eddi Junaedi/Jambi Independent
PENYEMBUHAN: SLB menyediakan terapi untuk anak autis. Antara lain untuk autis murni, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas, Down Syndrome (DS), serta autisme akibat terinfeksi toksoplasma.
Juarai Lomba Merakit Robot, Hanif Siap Dikirim ke Jogja
JAMBI – Salah satu siswa SMAN 1 Jambi baru-baru ini berhasil Juarai Lomba merakit robot tingkat provinsi. M. Hanif Addienda, siswa kelas X SMAN 1 Jambi ini berhasil membawa nama baik sekolahnya pada Lomba Kreatifitas dan Gebyar PK-PLK Tingkat Provinsi Jambi pada 12 Agustus 2010 lalu. Ditemui di ruang kepala sekolah kemarin (3/9), Hanif bercerita mengenai lomba tersebut.
Siswa kelahiran Jambi, 25 November 1996 ini berhasil membuat program robot mobil. Dikatakannya, robot mobil tersebut akan melalui lintasan yang ditentukan oleh panitia lomba di Provinsi. Pemprograman ini dikerjakan secara individu, dangan bimbingan guru di sekolahnya. Namun, katanya, perakitan fisik robot tersebut dikerjakan dengan kerjasama tim, yakni siswa di sekolahnya.
Anak tunggal dari pasangan Karnama dan Septia Ekawati ini mengatakan, dengan menjuarai lomba tingkat Provinsi ini, pada bulan Oktober mendatang Hanif akan dikirim ke Jogja untuk mengikuti lomba merakit robot tingkat Nasional. Mengenai tempatnya, Hanif mengaku belum ada pemberitahuan “Biasanya di hotel,” katanya. Namun persiapan-persiapan telah dimulai sejak jauh-jauh hari, termasuk mengikuti pelatihan di Stikom. Hal ini dikarenakan oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang lebih lengkap. Pelatihan ini juga dibantu oleh dosen-dosen pengajar Stikom.
Sejak Sekolah Dasar, siswa yang mempunyai hobi membaca ini sudah menunjukan prestasinya. Hal ini dibuktikannya dengan memasuki kelas akselerasi dengan masa studi lima tahun. Selain itu dimasa sekolah dasar, Hanif juga telah dikirim mewakili sekolahnya dalam Lomba Sains bidang IPA di Semarang pada tahun 2006.
Prestasi serupa juga diraihnya ketika duduk di bangku SMP. Pada tahun 2009, Hanif berhasil meraih Juara I Lomba Lintas Jalan Jauh tingkat Provinsi Kategori Umum. Selain itu, di tahun yang sama, Hanif berhasil meraih gelar Juara III Kompetisi Matematika PASIAD tingkat kota. Di tahun itu juga ia dikirim ke Jakarta untuk mengikuti Lomba Biologi tingkat Nasional, “meskipun tidak meraih gelar, tapi saya cukup puas,” katanya.
Siswa yang punya motto hidup ‘jadikan kegagalan sebagai motivasi’ ini mengaku punya pola belajar yang berbeda dengan siswa yang lainnya. Belajar santai, katanya, membaca sambil nonton televisi “belajar tanpa TV bikin ngantuk,” katanya. Selanjutnya, Hanif mempunyai target berkuliah di Universitas Gajah Mada Fakultas Kedokteran. (cr02).
Siswa kelahiran Jambi, 25 November 1996 ini berhasil membuat program robot mobil. Dikatakannya, robot mobil tersebut akan melalui lintasan yang ditentukan oleh panitia lomba di Provinsi. Pemprograman ini dikerjakan secara individu, dangan bimbingan guru di sekolahnya. Namun, katanya, perakitan fisik robot tersebut dikerjakan dengan kerjasama tim, yakni siswa di sekolahnya.
Anak tunggal dari pasangan Karnama dan Septia Ekawati ini mengatakan, dengan menjuarai lomba tingkat Provinsi ini, pada bulan Oktober mendatang Hanif akan dikirim ke Jogja untuk mengikuti lomba merakit robot tingkat Nasional. Mengenai tempatnya, Hanif mengaku belum ada pemberitahuan “Biasanya di hotel,” katanya. Namun persiapan-persiapan telah dimulai sejak jauh-jauh hari, termasuk mengikuti pelatihan di Stikom. Hal ini dikarenakan oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang lebih lengkap. Pelatihan ini juga dibantu oleh dosen-dosen pengajar Stikom.
Sejak Sekolah Dasar, siswa yang mempunyai hobi membaca ini sudah menunjukan prestasinya. Hal ini dibuktikannya dengan memasuki kelas akselerasi dengan masa studi lima tahun. Selain itu dimasa sekolah dasar, Hanif juga telah dikirim mewakili sekolahnya dalam Lomba Sains bidang IPA di Semarang pada tahun 2006.
Prestasi serupa juga diraihnya ketika duduk di bangku SMP. Pada tahun 2009, Hanif berhasil meraih Juara I Lomba Lintas Jalan Jauh tingkat Provinsi Kategori Umum. Selain itu, di tahun yang sama, Hanif berhasil meraih gelar Juara III Kompetisi Matematika PASIAD tingkat kota. Di tahun itu juga ia dikirim ke Jakarta untuk mengikuti Lomba Biologi tingkat Nasional, “meskipun tidak meraih gelar, tapi saya cukup puas,” katanya.
Siswa yang punya motto hidup ‘jadikan kegagalan sebagai motivasi’ ini mengaku punya pola belajar yang berbeda dengan siswa yang lainnya. Belajar santai, katanya, membaca sambil nonton televisi “belajar tanpa TV bikin ngantuk,” katanya. Selanjutnya, Hanif mempunyai target berkuliah di Universitas Gajah Mada Fakultas Kedokteran. (cr02).
Fasilitas Multimedia, Sarana Penunjang Bagi Siswa dan Guru
JAMBI – Sarana pendukung dalam proses belajar mengajar sangatlah penting, demi peguasaan bahan secara lebih maksimal. Salah satunya dengan sarana multimedia. Hal inilah yang diterapkan olen SMAN 1 Jambi. Ditemui di ruang kerjanya kemarin (3/9), Wakil Kepala Sekolah Bidang Informasi dan Komunikasi, Karnama, menyatakan SMAN 1 telah menggunakan multimedia untuk mendukung proses belajar mengajar.
Sekolah ini telah mempunyai labor multimedia yang mulai dipergunakan sejak tahun 2008 ini memiliki 36 komputer dan jaringan internet. Labor ini juga dilengkapi dengan sound system serta TV. Ketika ditanya apakah komputer itu cukup untuk satu kelas? Dikatakannya, jumlah siswa satu kelas hanya 32 orang, belum melebihi quota. Sekolah ini menggunakan jaringan internet sendiri memakai speedy.
Menurut Karnama, saat ini semua mata pelajaran bisa menggunakan fasilitas labor multimedia. “Namun tergantung kemauan guru dan siswanya,” ungkapnya. Dengan demikian, guru-guru terlebih dahulu dibekali dengan pelatihan mengenai multimedia. “Gru-guru dilatih mengenai E-Learning, membuat web, serta mengisi web,” tambahnya. Pelatihan ini berupa workshop, dan pematerinya berasal dari SMAN 1 Jambi sendiri. Apakah siswa juga diberi pelatihan tentang mulmedia? Karnama mengatakan, siswa tentu lebih update dari pada gurunya. Sehingga tidak perlu lagi dibekali dengan pelatihan.
Berhubungan dengan multimedia, tentu siswa sangat akrab dengan jejaring sosial yang marak saat ini. Dikhawatirkan konsentrasi siswa akan terpecah jika berada di labor multimedia. Karena akan ada siswa yang membuka situs jejaring social seperti facebook dan lain sebagainya. Namun Karnama menyatakan bahwa hal itu tidak perlu dikhawatirkan. “Zaman seperti ini, belajar harus fleksibel, mereka buka facebook kita juga buka,” katanya. Jika ada siswa yang bermain facebook ketika sedang belajar, otomatis akan terlihat di akun gurunya. “Kita bisa kirim pesan serta pertanyaan ke akun mereka,” tambahnya lagi.
Kebijakan yang diambil di labor multimedia adalah otoritas guru bidang studi. Guru-guru berkewajiban mengawasi kegiatan siswa di dalam labor. Mengenai filter multimedia sendiri, dalam hal ini situs-situs yang menyimpang, tidak diblokir oleh pihak sekolah. “Kami bisa mengawasi melalui history server,” katanya. Diakuinya, sampai saat ini belum pernah terlihat siswa yang membuka situs-situs porno dan sebagainya di sekolah “pastinya mereka segan,” tambahnya. Namun jika ada, katanya, pihak sekolah akan memberikan pendekatan secara psikologis. Karena bukan jamannya lagi siswa dididik secara strick.
Siswa tidak dikenakan biaya dalam penggunaan labor multimedia ini, labor hanya bisa dipergunakan dalam jam pelajaran “kerana kita perlu memelihara alat-alat ini,” katanya. Namun rencananya, pihak sekolah akan menambah fungsi labor ini sebagai warnet setelah jam sekolah. Untuk itu siswa akan dikenai biaya sama seperti warnet lainnya. Namun hal tersebut belum dilaksanakan, “Perlu pertimbangan lebih lanjut,” ungkapnya. (cr02).
Sekolah ini telah mempunyai labor multimedia yang mulai dipergunakan sejak tahun 2008 ini memiliki 36 komputer dan jaringan internet. Labor ini juga dilengkapi dengan sound system serta TV. Ketika ditanya apakah komputer itu cukup untuk satu kelas? Dikatakannya, jumlah siswa satu kelas hanya 32 orang, belum melebihi quota. Sekolah ini menggunakan jaringan internet sendiri memakai speedy.
Menurut Karnama, saat ini semua mata pelajaran bisa menggunakan fasilitas labor multimedia. “Namun tergantung kemauan guru dan siswanya,” ungkapnya. Dengan demikian, guru-guru terlebih dahulu dibekali dengan pelatihan mengenai multimedia. “Gru-guru dilatih mengenai E-Learning, membuat web, serta mengisi web,” tambahnya. Pelatihan ini berupa workshop, dan pematerinya berasal dari SMAN 1 Jambi sendiri. Apakah siswa juga diberi pelatihan tentang mulmedia? Karnama mengatakan, siswa tentu lebih update dari pada gurunya. Sehingga tidak perlu lagi dibekali dengan pelatihan.
Berhubungan dengan multimedia, tentu siswa sangat akrab dengan jejaring sosial yang marak saat ini. Dikhawatirkan konsentrasi siswa akan terpecah jika berada di labor multimedia. Karena akan ada siswa yang membuka situs jejaring social seperti facebook dan lain sebagainya. Namun Karnama menyatakan bahwa hal itu tidak perlu dikhawatirkan. “Zaman seperti ini, belajar harus fleksibel, mereka buka facebook kita juga buka,” katanya. Jika ada siswa yang bermain facebook ketika sedang belajar, otomatis akan terlihat di akun gurunya. “Kita bisa kirim pesan serta pertanyaan ke akun mereka,” tambahnya lagi.
Kebijakan yang diambil di labor multimedia adalah otoritas guru bidang studi. Guru-guru berkewajiban mengawasi kegiatan siswa di dalam labor. Mengenai filter multimedia sendiri, dalam hal ini situs-situs yang menyimpang, tidak diblokir oleh pihak sekolah. “Kami bisa mengawasi melalui history server,” katanya. Diakuinya, sampai saat ini belum pernah terlihat siswa yang membuka situs-situs porno dan sebagainya di sekolah “pastinya mereka segan,” tambahnya. Namun jika ada, katanya, pihak sekolah akan memberikan pendekatan secara psikologis. Karena bukan jamannya lagi siswa dididik secara strick.
Siswa tidak dikenakan biaya dalam penggunaan labor multimedia ini, labor hanya bisa dipergunakan dalam jam pelajaran “kerana kita perlu memelihara alat-alat ini,” katanya. Namun rencananya, pihak sekolah akan menambah fungsi labor ini sebagai warnet setelah jam sekolah. Untuk itu siswa akan dikenai biaya sama seperti warnet lainnya. Namun hal tersebut belum dilaksanakan, “Perlu pertimbangan lebih lanjut,” ungkapnya. (cr02).
Kamis, 02 September 2010
MARZUKI ALI TENTANG GEDUNG BARU DPR (dr TVONE)
Marzuki Alie: Gedung Baru Menghemat DPR
Kamis, 2 September 2010 11:50 WIB
Jakarta, (tvOne)
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Marzuki Alie mengatakan, pembangunan gedung baru DPR akan menghemat anggaran DPR.
"Sebab nanti fasilitas ruangan akan dibangun sesuai kebutuhan. Jadi rapat-rapat yang selama ini dilakukan di luar dengan alasan tidak bisa dilakukan di gedung DPR, tidak ada lagi," kata Marzuki dalam program acara Apa Kabar Indonesia Pagi di tvOne, Kamis (2/9/2010).
Marzuki melanjutkan, pembangunan gedung baru DPR sudah diperhitungkan secara matang. Seperti mempertimbangkan manfaat dan biaya yang dikeluarkan.
"Ini investasi. Benefitnya tinggi dari kinerja dewan," ujarnya.
Untuk itu, kata Marzuki, pembangunan gedung baru DPR tidak bisa ditunda. Terlebih, DPR harus mengimbangi pemerintah yang notabene terus melakukan perbaikan. "Supaya ada keseimbangan pemerintah dan DPR," kata dia.
ed
Kamis, 2 September 2010 11:50 WIB
Jakarta, (tvOne)
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Marzuki Alie mengatakan, pembangunan gedung baru DPR akan menghemat anggaran DPR.
"Sebab nanti fasilitas ruangan akan dibangun sesuai kebutuhan. Jadi rapat-rapat yang selama ini dilakukan di luar dengan alasan tidak bisa dilakukan di gedung DPR, tidak ada lagi," kata Marzuki dalam program acara Apa Kabar Indonesia Pagi di tvOne, Kamis (2/9/2010).
Marzuki melanjutkan, pembangunan gedung baru DPR sudah diperhitungkan secara matang. Seperti mempertimbangkan manfaat dan biaya yang dikeluarkan.
"Ini investasi. Benefitnya tinggi dari kinerja dewan," ujarnya.
Untuk itu, kata Marzuki, pembangunan gedung baru DPR tidak bisa ditunda. Terlebih, DPR harus mengimbangi pemerintah yang notabene terus melakukan perbaikan. "Supaya ada keseimbangan pemerintah dan DPR," kata dia.
ed
Rabu, 01 September 2010
AUTISME (copas dari website)
Diagnosa Autisme Sesuai DSM IV
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Seorang anak penderita autisme, dengan jajaran mainan yang ia buat
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Pervasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
* Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
* The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
* The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
* The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan observasi yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.
[sunting] Gejala
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Seorang anak penderita autisme, dengan jajaran mainan yang ia buat
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Pervasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
* Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
* The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
* The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
* The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan observasi yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.
[sunting] Gejala
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.
ADHD BERBEDA DENGAN AUTISME (copas dari website)
ADHD
ADHD ( attention deficit hyperactivity disorder)
Gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas
Defenisi
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah, suka meletup-letup, aktifitas berlebihan, dan suka membuat keributan
Epidemiologi
Angka kejadian DHD di seluruh dunia diperkirakan mencapai hingga lebih dari 5 %. Dimana dilaporkan lebih banyak terdapat pada laki-laki dibandingkan dengan wanita. Di amerika penelitian menunjukan kejadian ADHD mencapai hingga 7 %
Patogenesis
Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD. Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya (autisme), beberapa faktor yang berperan dalam timbulnya ADHD adalah faktor genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak saat perinatal, Tingkat kecerdasan (IQ), terjadi disfungsi metabolism, hormonal, lingkungan fisik dan sosial sekitar, asupan gizi, dan orang-orang dilingkungan sekitar termasuk keluarga.
Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmitter dopamine dan epinephrine. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki resiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD.
Terori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmitter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas diri.
Beberapa faktor resiko yang meningkatkan terjadinya ADHD.
* Kurangnya Deteksi dini
* Gangguan pada masa kehamilan (infeksi, genetic, keracuanan obat dan alkohol, rokok dan stress psikogenik)
* Gangguan pada masa persalinan (premature, postmatur, hambatan persalinan, induksi, kelainan persalinan)
Gejala Klinis
Gejala yang timbul dapat bervariASI mulai dari yang ringan hingga yang berat, gejala ADHD sudah dapat dilihat sejak usia bayi, gejala yang harus dicermati adalah sensitive terhadap suara dan cahaya, menangis, suka menjerit dan sulit tidur. Waktu tidur yang kurang sehingga bayi seringkali terbangun. Sulit makan ASI dan minum ASI. Tidak senang digendong, suka membenturkan kepala dan sering marah berlebihan. Keluhan yang terlihat pada anak yang lebih besar adalah, tampak canggung, sering mengalami kecelakaan, perilaku berubah-ubah, gerakan konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak-anak lainnya, kurang konsentrASI, tidak bisa diam, mudah marah, nafsu makan buruk, koordinASI mata dan tangan tidak baik, suka menyakiti diri sendiri dan gangguan tidur.
Untuk mempermudah diagnosis pada ADHD harus memiliki tiga gejala utama yang nampak pada perilaku seorang anak yaitu:
* Inatensi
Kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian
* Hiperaktif
Perilaku yang tidak bisa diam
* Impulsive
Kesulitan untuk menunda respon (dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak sabar)
Tatalaksana
Terapi yang diberikan untuk tatalaksana pASIen ADHD harus dilaksanakan secara menyeluruh, dimulai dari EdukASI dengan keluarga, terapi perilaku hingga penatalaksanaan dengan obat-obatan farmASI. Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah
* Terapi Obat-obatan
Terapi penunjang terhadap impuls-impuls hiperaktif dan tidak terkendelai, biasanya digunakan antidepresan seperti Ritalin, Dexedrine, desoxyn, adderal, cylert,buspar, clonidine
* Terapi nutrisi dan diet
Keseimbangan diet karbohidrat protrein
* Terapi biomedis
Suplemen nutrisi, defisiensi mineral, dan gangguan asam amino
* Terapi perilaku
-------------------------------
AUTISME
Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
ADHD ( attention deficit hyperactivity disorder)
Gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas
Defenisi
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah, suka meletup-letup, aktifitas berlebihan, dan suka membuat keributan
Epidemiologi
Angka kejadian DHD di seluruh dunia diperkirakan mencapai hingga lebih dari 5 %. Dimana dilaporkan lebih banyak terdapat pada laki-laki dibandingkan dengan wanita. Di amerika penelitian menunjukan kejadian ADHD mencapai hingga 7 %
Patogenesis
Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD. Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya (autisme), beberapa faktor yang berperan dalam timbulnya ADHD adalah faktor genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak saat perinatal, Tingkat kecerdasan (IQ), terjadi disfungsi metabolism, hormonal, lingkungan fisik dan sosial sekitar, asupan gizi, dan orang-orang dilingkungan sekitar termasuk keluarga.
Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmitter dopamine dan epinephrine. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki resiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD.
Terori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmitter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas diri.
Beberapa faktor resiko yang meningkatkan terjadinya ADHD.
* Kurangnya Deteksi dini
* Gangguan pada masa kehamilan (infeksi, genetic, keracuanan obat dan alkohol, rokok dan stress psikogenik)
* Gangguan pada masa persalinan (premature, postmatur, hambatan persalinan, induksi, kelainan persalinan)
Gejala Klinis
Gejala yang timbul dapat bervariASI mulai dari yang ringan hingga yang berat, gejala ADHD sudah dapat dilihat sejak usia bayi, gejala yang harus dicermati adalah sensitive terhadap suara dan cahaya, menangis, suka menjerit dan sulit tidur. Waktu tidur yang kurang sehingga bayi seringkali terbangun. Sulit makan ASI dan minum ASI. Tidak senang digendong, suka membenturkan kepala dan sering marah berlebihan. Keluhan yang terlihat pada anak yang lebih besar adalah, tampak canggung, sering mengalami kecelakaan, perilaku berubah-ubah, gerakan konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak-anak lainnya, kurang konsentrASI, tidak bisa diam, mudah marah, nafsu makan buruk, koordinASI mata dan tangan tidak baik, suka menyakiti diri sendiri dan gangguan tidur.
Untuk mempermudah diagnosis pada ADHD harus memiliki tiga gejala utama yang nampak pada perilaku seorang anak yaitu:
* Inatensi
Kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian
* Hiperaktif
Perilaku yang tidak bisa diam
* Impulsive
Kesulitan untuk menunda respon (dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak sabar)
Tatalaksana
Terapi yang diberikan untuk tatalaksana pASIen ADHD harus dilaksanakan secara menyeluruh, dimulai dari EdukASI dengan keluarga, terapi perilaku hingga penatalaksanaan dengan obat-obatan farmASI. Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah
* Terapi Obat-obatan
Terapi penunjang terhadap impuls-impuls hiperaktif dan tidak terkendelai, biasanya digunakan antidepresan seperti Ritalin, Dexedrine, desoxyn, adderal, cylert,buspar, clonidine
* Terapi nutrisi dan diet
Keseimbangan diet karbohidrat protrein
* Terapi biomedis
Suplemen nutrisi, defisiensi mineral, dan gangguan asam amino
* Terapi perilaku
-------------------------------
AUTISME
Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Langganan:
Komentar (Atom)