JAMBI – Bahasa asing telah mendominasi masyarakat Indonesia saat ini. Terbukti dengan jarangnya dipakai Bahasa Indonesia sebagai nama pusat perebelanjaan, toko, serta tempat-tempat umum lainnya. Ditemui di ruangannya Senin (6/9) lalu, Kasubbag Tata Usaha Kantor Bahasa Indonesia Jambi, Yarmalus menyatakan penyesalannya tentang ini.
Dikatakannya, generasi saat ini lebih bangga menggunakan kata-kata asing seperti town square untuk tempat perbelanjaan, convention centre untuk tempat pertunjukan dan lain sebagainya. Penyebabnya, dikatakannya adalah kurangnya rasa bangga dan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia sebagaimana tertera dalam sumpah pemuda. Peran kita sebagai masyarakat, katanya adalah untuk menumbuhkan kembali budaya berbahasa Indonesia.
Demikian juga dikalangan pelajar, rasa bangga terhadap Bahasa Kesatuan Indonesia harus ditanamkan sejak dini. Salah satunya dengan festifal-festifal serta lomba-lomba yang berkaitan dengan bahsa dan sastra Indonesia. Hal ini telah dilakukan oleh Kantor Bahasa Jambi baru-baru ini. Lomba-lomba ini merupakan langkah lanjutan serta aplikasi metari Bahasa Indonesia yang mereka dapat di sekolah.
“Hanya kantor bahasa yang menyelenggarakan acara semacam ini, karena bahasa dan sastra dianggap sepele selama ini,” ungkap Yarmalus. Namun kenyataannya, antusias para siswa ini sangat tinggi. Terbukti dengan jumlah peserta serta pendukung mereka yang beramai-ramai datang ke Kantor Bahasa. Ini memnandakan bahwa siswa-siswa butuh sarana dan media untuk menyalurkan bakat mereka. Bukan hanya mendapatkan materi formal di sekolah yang kebanyakan berorientasi pada buku pegangan.
Yarmalus lebih lanjut menjelaskan, ada beberapa kategori lomba yang diadakan, yaitu debat Bahasa Indonesia, Lomba Cerpen, Lomba Menulis Kreatif, Festival Musikalisasi Puisi. Dikatakannya, untuk debat Bahasa Indonesia, peserta akan diberikan pilihan ‘positif’ atau ‘negatif’. Selama perdebatan, peserta harus berjuang mempertahankan pendapat mereka. “Yang kita utamakan adalah bagaimana cara mereka berdebat dan bertahan, bukan menentukan mana yang benar atau mana yang salah,” katanya. Sedangkan dalam menulis kreatif, peserta diharuskan mengembangkan idenya tentang topik yang diberikan oleh panitia. Selain bidang sastra, siswa juga bisa berkreasi dibidang seni melalui festival musikalisasi puisi. “Mereka kan main musik juga,” kata Yarmalus.
Selain lomba-lomba dan berbagai festifal, Kantor ini juga telah membuka suatu bengkel sastra. Kegiatan di bengkel sastra ini melingkupi semua jenis sastra Indonesia. “Disana ada puisi, cerpen, fiksi, dll,” kata Yarmalus. Selain itu, di bengkel sastra ini juga diberikan materi-materi oleh instruktur-instruktur kompeten. Dalam waktu tertentu, pemateri didatangkan langsung dari pusat. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, siswa-siswa lebih bisa mengembangkan ide-idenya dibidang sastra Indonesia. (cr02).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar