Jumat, 03 September 2010

SLB Kekurangan Guru Terapi Autis

JAMBI–Autisme merupakan suatu kondisi seseorang yang tak dapat menjalin hubungan secara sosial atau berkomunikasi secara normal dengan lingkungannya sejak lahir atau balita.Akibatnya, penyandang autisme cenderung diisolasi dari lingkungannya. Biasanya anak-anak penyandang autisme ini mengalami gangguan dalam interaksi sosial, berbicara, perilaku serta emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik, serta perkembangan yang lambat atau tidak normal.

Untuk membantu anak-anak penyandang autisme ini, Yayasan Sekolah Luar Biasa (SLB) Prof Dr Sri Soedewi Masjchun Sofwan SH, Jambi baru-baru ini membuka kelas terapi autis. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Sapari, Rabu (1/9) lalu, kelas ini baru satu tahun dibuka.
Dalam satu hari diadakan kelas terapi, yang berlangsung selama 90 menit.

Materi yang diberikan berupa latihan berbicara dan latihan berkonsentrasi. Metode pengajarannya adalah satu orang guru untuk satu orang anak, “Sehingga peserta bisa mendapatkan terapi yang intensif,” jelasnya.
Latar pendidikan guru yang ada juga berbeda. Dua orang guru yang ditemui Jambi Independent kemarin, masing-masing, Anisa berasal dari jurusan Psikologi. Satunya lagi, Ari berasal dari jurusan Terapi Bicara.
Karena hanya ada dua guru, maka, kata Sapari, kelas itu terkendala tenaga pengajar.

Hanya ada tiga guru yang memberi materi terapi. Tentu jumlah yang diterapi setiap hari sangat terbatas, jelasnya. Yakni hanya tiga anak.
Terapi yang katanya menangani berbagai jenis autisme. Di antaranya autis murni, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas, Down Syndrome (DS), serta autisme akibat terinfeksi toksoplasma.

Guru Terapi Wicara Ari, menambahkan bahwa anak-anak dengan kasus di atas memerlukan penanganan yang serius, dari pihak sekolah dan yang lebih penting adalah dari keluarganya.

Kesulitan yang dihadapi oleh guru-guru ini dalm proses terapi adalah kebiasaan-kebiasaan anak yang berbeda-beda. “Ada yang membeo,” kata Ari, sehingga apa yang disebutkan dan dilakukan gurunya selalu diulangi. Untuk kasus ini, kata Ari, peran orang tua sangat diperlukan, karena ada pengaruh bahasa ibu dalam kegiatan anak dengan kasus seperti ini. Ditambahkan oleh Anisa, ada juga anak yang cenderung menyakiti dirinya sendiri bahkan orang lain. Kasus seperti ini juga menjadi tantangan sendiri bagi tenaga pendidik untuk memberikan terapi. “Kesabaran harus dilatih,” kata Anisa.

Sekolah tersebut, selain dilengkapi dengan ruang terapi, juga tersedia ruang bermain untuk peserta terapi. Ada berbagai macam mainan yang disediakan, seperti bola-bola karet, huruf-huruf yang terbuat dari plastik, miniatur binatang, balok-balok, miniatur rambu lalu lintas, dan sebagainya.

Dengan jenis-jenis permainan yang ada, kata Sapari, dapat melatih anak-anak penyandang autisme untuk bisa mengembangkan dirinya, serta lebih mengenal lingkungan sekitarnya.(cr02)

Foto: eddi Junaedi/Jambi Independent


PENYEMBUHAN: SLB menyediakan terapi untuk anak autis. Antara lain untuk autis murni, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas, Down Syndrome (DS), serta autisme akibat terinfeksi toksoplasma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar