Rabu, 29 September 2010

KESURUPAN MASSAL

Analisa Paranormal tentang Makhluk Gaib di SDN 59
Dihuni Satu Arwah Pria dan Lima Arwah Perempuan Muda
Dalam rentang waktu singkat, puluhan siswa SDN 59 Kota Jambi menjadi korban. Analisa orang pintar (Paranormal), mereka kesurupan makhluk gaib yang merasa terganggu oleh keramaian dan aktivitas siswa di sekolah itu. Berikut penelusuran Jambi Independent terkait kasus tersebut.

Jenaii- Wijayapura

Fenomena kesurupan seringkali dihubung-hubungkan dengan peristiwa masa lalu. Entah itu sejarah kelam lokasi kesurupan, maupun masa lalu roh yang merasuki tubuh korban.
Bagaimana tidak? Korban kesurupan biasanya mengucapkan kata-kata yang tidak pernah dikatakannya. Begitu juga dengan siswa-siswa SDN 59 yang Senin (27/9) lalu, kesurupan lagi setelah kejadian yang sama terjadi tiga hari sebelumnya.
SDN 59, berdiri di atas tanah seluas 3.210 meter persegi, dengan luas bangunan 2.807 meter persegi. Di halaman sekolah, terdapat beberapa pohon rindang yang berfungsi sebagai tempat berteduh warga sekolah.
Namun tak banyak yang mengetahui, dari sisi mistik, pohon-pohon berdaun rindang itu ternyata tempat bernaung segala hal gaib. Begitu kebanyakan yang dikatakan “orang pintar”.
Ketika ditemui di ruangannya, Kepala Sekolah SDN 59 Bukri Usman, kemarin (28/9), menjelaskan bahwa dirinya baru saja berbincang-bincang dengan seorang paranormal.
Sambil mengingat-ngingat, Bukri menceritakan apa sebenarnya yang merasuki tubuh siswa kelas enam di sekolahnya tersebut. Dikatakannya, Julio, siswa yang paling parah dan lama penanganannya dirasuki arwah pria yang ingin membalas dendam atas kematian istri dan anaknya.
Konon, kematian tersebut karena ditabrak mobil. “Merinding saya kalau cerita ini,” kata Bukri sambil mengusap-usap lengannya.
Sedangkan lima orang anak lainnya dirasuki oleh arwah lima perempuan muda. Menurut paranormal yang menangani kejadian itu, kelima perempuan muda dan cantik-cantik itu merupakan gadis buangan pada masa lalunya.
Sambil menerawang keluar sekolah, Bukri mencoba menafsirkan apa yang dikatakan paranormal tersebut.
“Menurut pemikiran saya, kelima gadis ini dulunya pernah berbuat yang tidak benar, sehingga mereka diejek dan dibuang dari lingkungan sekitarnya,” katanya.
Benar saja, ketika siswa yang kerasukan ditanya kenapa mengganggu, roh yang merasukinya menjawab, “kami selalu diejek!”. Hal ini juga dibenarkan oleh para guru yang duduk-duduk sembari bercerita kembali mengenai peristiwa yang baru pertama kali terjadi itu.
Dikatakan Bukri, paranormal baru saja memberi tahu bahwa kelima roh gadis buangan itu bersarang di salah satu pohon besar di luar lingkungan sekolah. Namun, mereka seringkali “bermain-main” di sekolah.
“Mungkin mereka terganggu dengan keramaian sekolah saat ini,” katanya.
Dijelaskan bahwa Ramadan lalu, ketika siswa sedang libur Lebaran, saat itulah roh gadis-gadis tersebut menemukan tempat “bermain” barunya, yaitu di lingkungan SDN 59.
Menanggapi kejadian ini, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari berdoa bersama, yasinan yang memang rutin dilakukan setiap hari Jumat, sampai “memagari” sekolah yang dibantu oleh seorang paranormal.
“Kita harus melakukan berbagai upaya agar hal ini tidak terjadi lagi,” kata Bukri.
Diakui, saking paniknya saat itu, dirinya serta pihak sekolah tidak sempat bertanya siapa nama paranormal tersebut. Namun pihak sekolah bersyukur bahwa paranormal itu mau membantu tanpa dibayar.
Paranormal hanya meminta sekolah menyediakan bahan yang terdiri dari garam, kemenyan dan benda-benda magis lainnya. Namun pihak sekolah menyerahkan semua urusan itu kepada paranormal, untuk mencari bahan-bahan yang dimintanya itu. Pihak sekolah hanya mengganti biaya pembelian benda-benda yang dibutuhkan untuk memagari SDN 59.
Dengan kejadian itu, pihak sekolah mengambil kebijakan untuk meliburkan aktivitas sekolah mulai dari tanggal 28 September, dan mulai kembali sekolah pada tanggal 3 Oktober nanti.
Hal ini semata-mata bertujuan agar siswa-siswa kembali tenang, dan menganggap kejadian ini sebagai musibah. Namun guru-guru serta semua staf sekolah diwajibkan hadir untuk berjaga-jaga.
Sebagai bentuk tanggung jawab serta perhatian pihak sekolah, kepala sekolah bersama Guru Olahraga Jumina, sore kemarin mengunjungi siswa-siswa korban kesurupan tersebut ke rumah mereka masing-masing. Dikatakan Jumina, respon keluarga siswa sangat positif. Mereka berterima kasih atas perhatian pihak sekolah. (*/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar