JAMBI – Sarana pendukung dalam proses belajar mengajar sangatlah penting, demi peguasaan bahan secara lebih maksimal. Salah satunya dengan sarana multimedia. Hal inilah yang diterapkan olen SMAN 1 Jambi. Ditemui di ruang kerjanya kemarin (3/9), Wakil Kepala Sekolah Bidang Informasi dan Komunikasi, Karnama, menyatakan SMAN 1 telah menggunakan multimedia untuk mendukung proses belajar mengajar.
Sekolah ini telah mempunyai labor multimedia yang mulai dipergunakan sejak tahun 2008 ini memiliki 36 komputer dan jaringan internet. Labor ini juga dilengkapi dengan sound system serta TV. Ketika ditanya apakah komputer itu cukup untuk satu kelas? Dikatakannya, jumlah siswa satu kelas hanya 32 orang, belum melebihi quota. Sekolah ini menggunakan jaringan internet sendiri memakai speedy.
Menurut Karnama, saat ini semua mata pelajaran bisa menggunakan fasilitas labor multimedia. “Namun tergantung kemauan guru dan siswanya,” ungkapnya. Dengan demikian, guru-guru terlebih dahulu dibekali dengan pelatihan mengenai multimedia. “Gru-guru dilatih mengenai E-Learning, membuat web, serta mengisi web,” tambahnya. Pelatihan ini berupa workshop, dan pematerinya berasal dari SMAN 1 Jambi sendiri. Apakah siswa juga diberi pelatihan tentang mulmedia? Karnama mengatakan, siswa tentu lebih update dari pada gurunya. Sehingga tidak perlu lagi dibekali dengan pelatihan.
Berhubungan dengan multimedia, tentu siswa sangat akrab dengan jejaring sosial yang marak saat ini. Dikhawatirkan konsentrasi siswa akan terpecah jika berada di labor multimedia. Karena akan ada siswa yang membuka situs jejaring social seperti facebook dan lain sebagainya. Namun Karnama menyatakan bahwa hal itu tidak perlu dikhawatirkan. “Zaman seperti ini, belajar harus fleksibel, mereka buka facebook kita juga buka,” katanya. Jika ada siswa yang bermain facebook ketika sedang belajar, otomatis akan terlihat di akun gurunya. “Kita bisa kirim pesan serta pertanyaan ke akun mereka,” tambahnya lagi.
Kebijakan yang diambil di labor multimedia adalah otoritas guru bidang studi. Guru-guru berkewajiban mengawasi kegiatan siswa di dalam labor. Mengenai filter multimedia sendiri, dalam hal ini situs-situs yang menyimpang, tidak diblokir oleh pihak sekolah. “Kami bisa mengawasi melalui history server,” katanya. Diakuinya, sampai saat ini belum pernah terlihat siswa yang membuka situs-situs porno dan sebagainya di sekolah “pastinya mereka segan,” tambahnya. Namun jika ada, katanya, pihak sekolah akan memberikan pendekatan secara psikologis. Karena bukan jamannya lagi siswa dididik secara strick.
Siswa tidak dikenakan biaya dalam penggunaan labor multimedia ini, labor hanya bisa dipergunakan dalam jam pelajaran “kerana kita perlu memelihara alat-alat ini,” katanya. Namun rencananya, pihak sekolah akan menambah fungsi labor ini sebagai warnet setelah jam sekolah. Untuk itu siswa akan dikenai biaya sama seperti warnet lainnya. Namun hal tersebut belum dilaksanakan, “Perlu pertimbangan lebih lanjut,” ungkapnya. (cr02).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar