JENNIFER AGUSTIA, KOTABARU
Siang kemarin (2/8), Pemerintah Kota Jambi melakukan ekspos mengenai pembangunan Mall dikawasan terminal simpang kawat dihadapan Anggota DPRD Kota Jambi. Pembangunan yang direncanakan dalam waktu dekat ini terancam batal lantaran banyaknya protes dari Anggota DPRD Kota Jambi. Selain itu, pemaparan yang dilakukan oleh Walikota dalam ekspos tersebut dinilai prematur oleh sebagian anggota DPRD, karena belum dibicarakan secara matang.
Bachtiar Chan dari fraksi PDI P dan Komisi C DPRD Kota Jambi mengungkapkan, pemaparan tersebut belum bisa dikatakan ekspos, akrena belum dibicarakan secara matang. “Ini baru rencana belum ada penelitian secara mendalam. Kalau disebut ekspos berarti sudah pasti terlaksana, sudah dibicarakan secara matang,” ujarnya.
Selain itu, berbagai pertimbangan nampaknya juga akan semakin menghalangi rencana pemerintah kota untuk membangun mall di terminal tersebut. Syafrudin Dwi Apriyanto, anggota Komisi B DPRD Kota Jambi mengatakan, pemerintah kota harus memikirkan nasib pedagang-pedagang yang ada di pasar sekitarnya. “Seperti di pasar keluarga, kalau dibangun mall mereka akan semakin terjepit,” ujarnya. Hal ini menurut Dwi sangat bertentangan dengan Visi dan Misi Bernas 2013 tentang ekonomi maju kerakyatan.
Dalam hal ini, pemerintah dianggap terlalu responsif terhadap adanya pihak ketiga yang akan membangun mall. “jangan terlalu cepat merespon tawaran pihak ketiga, pikirkan apakah ini akan mengangkat serajat pedagang kecil atau tidak,” katanya lagi.
Menanggapi hal ini, Walikota Jambi mengakui masih banyak yang perlu dipelajari dalam rencana pembangunan ini. “Memang masih banyak kurangnya, perlu kita rapatkan lagi, yang jelas keputusan ini kan belum final,” ujarnya. Namun tetap harus ada pembanguan, karena kawasan terminal simpang kawat tersebut tidak lagi efektif. “Kawasan treminal tersebut tidak lagi produktif, sudah terlantar,” ujarnya.
Dalam eksposnya, walikota menyebutkan, retribusi yang diterima pemerintah Kota Jambi dari terminal simpang kawat ini di tahun 2010 hanya Rp 17.821.600, sehingga perlu ada pembangunan untuk meningkatkan PAD. Hal ini juga disetujui oleh Hamid Jufri dari Komisi A DPRD Kota Jambi. Menurutnya, jumlah tersebut bisa dikatakan tidak rasional untuk pemasukan PAD Pemkot.
Sementara itu, Zayadi dari Komisi C DPRD Kota Jambi menyebutkan, pemerintah Kota tidak harus membangun mall untuk meningkatkan PAD. Dirinya mengusulkan agar Kota membangun Pasar Rakyat, sehingga pedagang-pedagang kecil bisa bergabung berjualan di kawasan tersebut. “Kan tidak harus Mall, sebaiknya buat pasar rakyat, jadi pedagang-pedagang kecil bisa berjualan disana, hal ini akan lebih terasa ke pedagang kecil, dibandingkan dengan pembangun mall,” tegasnya.
Ketika dimintai tanggapan mengenai usulan tersebut, Walikota Jambi mengakui akan membicarakan lagi hal tersebut dengan instansi terkait. “Usulan itu bagus sekali, kan kita juga belum final. Secepatnya akan kembali kita bicarakan, karena memang terminal itu kan tempat terlantar,” jawabnya. Namun ketika ditanyakan kapan keputusan akan diambil, Walikota tidak dapat menyebutkan.
Rabu, 03 Agustus 2011
Kamis, 14 Juli 2011
SENGKETA ANGSO DUO
Status Lahan Relokasi Disoal
Diduga Bukan
Milik Pemprov
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Status lahan relokasi Pasar Angsoduo (PA) dipertanyakan. Di tengah-tengah polemik pembangunan dan pengelolaan PA yang baru, tiba-tiba seorang anggota Komisi B DPRD Kota Jambi, Agus Somad, mengklaim bahwa sebagian lahan itu sebenarnya milik pribadi warga Kota Jambi.
“Di sana (lahan relokasi PA), ada lahan yang milik pribadi warga. Saya termasuk salah satu yang punya lahan,” beber Agus Somad kepada Jambi Independent, kemarin (14/7).
Agus mengaku punya sertifikat. Sertifikat itu dikeluarkan sebelum Pemprov Jambi membuat sertifikat di lahan yang sama. Atas dasar itu, dia menilai sebaiknya pembangunan PA yang baru dilakukan oleh Pemkot, bukan Pemprov. Bahkan, jika dana pembangunan kurang, sebaiknya pasar itu dibangun dengan swadaya para pedagang.
Cukupkah dana swadaya para pedagang tersebut? Abdul Somad mengatakan dengan kesepakatan para pedagang, dana yang mereka kumpulkan cukup untuk melakukan perbaikan. “Kan ada pedagang yang kaya, dengan kesepakatan mereka, saya yakin cukup untuk membangun. Saya sudah melihat animo di antara para pedagang tersebut, ada yang bersedia,” ujarnya. Namun, pemkot diminta untuk menjadi fasilitastor untuk membuat perjanjian pengembalian hak milik lahan.
Lalu bagaimana dengan klaim yang disebutkan, bahwa lahan tersebut merupakan milik Provinsi, bertukar guling dengan PT Pelindo. Abdul Somad menyangkal hal tersebut. Katanya, pembebasan serta pembelian lahan Angso Duo dilakukan oleh pihak ketiga yakni PT Angso Duo Propertindo. “Dan saya merupakan saksi pembayarannya, sekarang ada yang mengklaim itu tanah provinsi, bertukar guling dengan PT Pelindo, apa dasar PT Pelindo menukar gulingkan,” ujarnya.
Tentu ada sertifikat pada Provinsi atas lahan tersebut, namun, disebutkan Abdul Somad, harus ditelusuri dulu asal usul tanah tersebut. “Harus ditelusuri, dari mana Pelindo dapat tanah itu,” katanya. Dia juga menantang PT Pelindo untuk mengekspos dokumen-dokumennya.
Selanjutnya, dia juga mempermasalahkan penimbunan tanah yang dilakukan di area tersebut. Sesuai dengan sejarah yang beredar, tidak diketahui siapa yang menimbun lahan tersebut pada awalnya. Jika memang lahan tersebut milik PT Pelindo, harus ada dokumen kerjasama antara Pelindo dengan Pemerintah Kota. Atau jika memang lahan tersebut milik provinsi, maka juga harus ada dokumen kerjasama antara PT Pelindo dengan Pemerintah Provinsi. “Adakah bukti dokumen otentik dari Provinsi?” tanyanya.
Terkait penimbunan tersebut, dirinya selaku anggota Komisi B DPRD Kota Jambi mempertanyakan jenis kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah Kota. Karena, disinyalir, penimbunan tersebut memakan biaya sebanyak Rp 24 miliar. Anggaran itu dinilai sangat mahal, melihat jenis pasir yang digunakan. “Saya sangat paham mengenai harga-harga pasir, untuk luas Angso Duo yang segitu, paling hanya habis Rp 6 M, lagi pula yang digunakan adalah pasir bercampur lumpur, bisa lebih murah,” katanya. Dia menduga ada indikasi mark up dalam proyek penimbunan lahan itu.
Saat ini, permukaan tanah tersebut mengalami penurunan, dan pemerintah provinsi berencana untuk menimbun kembali dengan anggaran sekitar Rp 2 M. Abdul Somad menghimbau kepada DPRD Provinsi Jambi untuk tidak menyetujui rencana tersebut. “Yang ini harus diaudit terlebih dahulu, jelas ada mark up,” tegasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota selama ini sudah mengelola Pasar Angso Duo, membangun, serta menarik retribusi. Katanya lagi, secara otomatis Pemkot lah yang memliki Angso Duo. “Daripada pedagang sengsara, mending yang ada ini dulu dibenahi, soalnya pemprov juga tidak memastikan kapan akan dilaksanakan. Saya berani berbicara berdasar fakta, selesaikan dulu masalah lahan, yang menuntut adalah masyarakat yang punya sebagian lahan di sana,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Biro Hukum Setda Provinsi Jambi Jailani, dikonfirmasi soal ini langsung bungkam. Dia mengaku belum bisa berkomentar, baik soal status lahan maupun persoalan penimbunan lahan relokasi PA yang lama.
“Saya belum tahu duduk persoalannya. Karena saya masih baru (menjabat),” tandasnya, dihubungi via ponsel semalam.(*)
Diduga Bukan
Milik Pemprov
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Status lahan relokasi Pasar Angsoduo (PA) dipertanyakan. Di tengah-tengah polemik pembangunan dan pengelolaan PA yang baru, tiba-tiba seorang anggota Komisi B DPRD Kota Jambi, Agus Somad, mengklaim bahwa sebagian lahan itu sebenarnya milik pribadi warga Kota Jambi.
“Di sana (lahan relokasi PA), ada lahan yang milik pribadi warga. Saya termasuk salah satu yang punya lahan,” beber Agus Somad kepada Jambi Independent, kemarin (14/7).
Agus mengaku punya sertifikat. Sertifikat itu dikeluarkan sebelum Pemprov Jambi membuat sertifikat di lahan yang sama. Atas dasar itu, dia menilai sebaiknya pembangunan PA yang baru dilakukan oleh Pemkot, bukan Pemprov. Bahkan, jika dana pembangunan kurang, sebaiknya pasar itu dibangun dengan swadaya para pedagang.
Cukupkah dana swadaya para pedagang tersebut? Abdul Somad mengatakan dengan kesepakatan para pedagang, dana yang mereka kumpulkan cukup untuk melakukan perbaikan. “Kan ada pedagang yang kaya, dengan kesepakatan mereka, saya yakin cukup untuk membangun. Saya sudah melihat animo di antara para pedagang tersebut, ada yang bersedia,” ujarnya. Namun, pemkot diminta untuk menjadi fasilitastor untuk membuat perjanjian pengembalian hak milik lahan.
Lalu bagaimana dengan klaim yang disebutkan, bahwa lahan tersebut merupakan milik Provinsi, bertukar guling dengan PT Pelindo. Abdul Somad menyangkal hal tersebut. Katanya, pembebasan serta pembelian lahan Angso Duo dilakukan oleh pihak ketiga yakni PT Angso Duo Propertindo. “Dan saya merupakan saksi pembayarannya, sekarang ada yang mengklaim itu tanah provinsi, bertukar guling dengan PT Pelindo, apa dasar PT Pelindo menukar gulingkan,” ujarnya.
Tentu ada sertifikat pada Provinsi atas lahan tersebut, namun, disebutkan Abdul Somad, harus ditelusuri dulu asal usul tanah tersebut. “Harus ditelusuri, dari mana Pelindo dapat tanah itu,” katanya. Dia juga menantang PT Pelindo untuk mengekspos dokumen-dokumennya.
Selanjutnya, dia juga mempermasalahkan penimbunan tanah yang dilakukan di area tersebut. Sesuai dengan sejarah yang beredar, tidak diketahui siapa yang menimbun lahan tersebut pada awalnya. Jika memang lahan tersebut milik PT Pelindo, harus ada dokumen kerjasama antara Pelindo dengan Pemerintah Kota. Atau jika memang lahan tersebut milik provinsi, maka juga harus ada dokumen kerjasama antara PT Pelindo dengan Pemerintah Provinsi. “Adakah bukti dokumen otentik dari Provinsi?” tanyanya.
Terkait penimbunan tersebut, dirinya selaku anggota Komisi B DPRD Kota Jambi mempertanyakan jenis kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah Kota. Karena, disinyalir, penimbunan tersebut memakan biaya sebanyak Rp 24 miliar. Anggaran itu dinilai sangat mahal, melihat jenis pasir yang digunakan. “Saya sangat paham mengenai harga-harga pasir, untuk luas Angso Duo yang segitu, paling hanya habis Rp 6 M, lagi pula yang digunakan adalah pasir bercampur lumpur, bisa lebih murah,” katanya. Dia menduga ada indikasi mark up dalam proyek penimbunan lahan itu.
Saat ini, permukaan tanah tersebut mengalami penurunan, dan pemerintah provinsi berencana untuk menimbun kembali dengan anggaran sekitar Rp 2 M. Abdul Somad menghimbau kepada DPRD Provinsi Jambi untuk tidak menyetujui rencana tersebut. “Yang ini harus diaudit terlebih dahulu, jelas ada mark up,” tegasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota selama ini sudah mengelola Pasar Angso Duo, membangun, serta menarik retribusi. Katanya lagi, secara otomatis Pemkot lah yang memliki Angso Duo. “Daripada pedagang sengsara, mending yang ada ini dulu dibenahi, soalnya pemprov juga tidak memastikan kapan akan dilaksanakan. Saya berani berbicara berdasar fakta, selesaikan dulu masalah lahan, yang menuntut adalah masyarakat yang punya sebagian lahan di sana,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Biro Hukum Setda Provinsi Jambi Jailani, dikonfirmasi soal ini langsung bungkam. Dia mengaku belum bisa berkomentar, baik soal status lahan maupun persoalan penimbunan lahan relokasi PA yang lama.
“Saya belum tahu duduk persoalannya. Karena saya masih baru (menjabat),” tandasnya, dihubungi via ponsel semalam.(*)
COPOT JABATAN
Lagi,
Pejabat
Diancam
Dicopot Wali Kota
Jika Gagal Bertugas
JENNIFER AGUSTIA, KOTABARU
Lagi-lagi Wali Kota Jambi Bambang Priyanto mengeluarkan ancaman kepada pejabat di lingkup Pemkot Jambi. Katanya, jika pejabat gagal dalam bertugas, akan dicopot jabatannya. Sementara, di Pemkot kini ada 81 jabatan yang kosong. Baik itu karena pensiun, atau mungkin karena takut dicopot tiba-tiba.
Informasi yang dirangkum Jambi Independent beberapa pekan ini, diketahui ada kecemasan di kalangan PNS lingkup Pemkot Jambi akan jabatan. Sudah banyak contoh pejabat yang baru dilantik, tak berapa lama dicopot dari jabatannya. Kecemasan ini menghantui PNS di pemkot hingga kini. Bahkan, pergantian jabatan di tubuh pemkot sejak Wali Kota Bambang Priyanto-Wakil Wali Kota Sum Indra menjabat, telah terjadi beberapa kali.
Tetapi Bambang terkesan tak peduli. Dia malah kembali melontarkan ancaman pencopotan jabatan kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) kota saat mengikuti rapat evaluasi kinerja SKPD di ruang Pola Kantor Wali Kota Jambi, kemarin (13/7).
Katanya, jika masing-masing kepala SKPD tidak mampu melaksanakan programnya, wali kota mengatakan akan memberikan sanksi tegas. “Kalau tidak mampu akan diganti,” tegas Bambang. Dia menyebut, masing-masing kepala SKPD memang harus mempertanggungjawabkan tugas yang diembannya selama ini. “Makanya tadi kita rapat, untuk apa kita mencari yang tidak mampu,” ujarnya.
Rapat itu sendiri membahas mengenai penyerapan dana yang sudah dikerjakan oleh masing-masing SKPD. “Kita ingin mengetahui jumlah penyerapan dana yang sudah mereka kerjakan, dan yang belum dikerjakan kita minta alasan, apa kendalanya,” ujar wali kota.
Wali kota tidak menyebut secara gamblang SKPD mana saja yang tidak memenuhi standar penggunaan dana. Namun yang jelas, ada beberapa yang masih di bawah standar. “Ada yang penggunaannya baru tiga puluh tujuh persen,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Kota Jambi Budidaya, ketika ditanyakan adakah target yang diberikan terhadap masing-masing SKPD untuk menggunakan dana yang tersedia, dengan tegas dia menyatakan semua SKPD harus memegang komitmen terhadap program kerja yang telah direncanakan masing-masing SKPD.
“Minimal harus lima puluh persen, kita akan koordinasi terus dan minta komitmen dari masing-masing SKPD. Pada triwulan ketiga kita lihat berapa pencapaian mereka,” ujar Budidaya.
Selanjutnya dirinya menyebutkan akan mengevaluasi kembali pancapaian masing-masing SKPD. “Mungkin ada yang sudah mencapai 70 persen atau bahkan 75 persen, nanti kita lihat,” katanya.
Sementara itu, ketika disinggung mengenai kekosongan 81 jabatan strategis di pemkot, wali kota mengaku sudah menerima ekspos dari Badan Perencanaan Jabatan Dan Pangkat (Baperjakat). “Saya sudah terima ekspos dari Baperjakat, dan sedang dipelajari,” ujarnya.
Lalu, kapan 81 jabatan tersebut akan diisi? Wali kota menyebutkan, dalam waktu dua minggu ke depan akan segera ada pelantikan. “Namanya sudah dalam kotak, Insya Allah dua minggu ini positif akan ada pelantikan,” tandasnya, santai.(*)
Pejabat
Diancam
Dicopot Wali Kota
Jika Gagal Bertugas
JENNIFER AGUSTIA, KOTABARU
Lagi-lagi Wali Kota Jambi Bambang Priyanto mengeluarkan ancaman kepada pejabat di lingkup Pemkot Jambi. Katanya, jika pejabat gagal dalam bertugas, akan dicopot jabatannya. Sementara, di Pemkot kini ada 81 jabatan yang kosong. Baik itu karena pensiun, atau mungkin karena takut dicopot tiba-tiba.
Informasi yang dirangkum Jambi Independent beberapa pekan ini, diketahui ada kecemasan di kalangan PNS lingkup Pemkot Jambi akan jabatan. Sudah banyak contoh pejabat yang baru dilantik, tak berapa lama dicopot dari jabatannya. Kecemasan ini menghantui PNS di pemkot hingga kini. Bahkan, pergantian jabatan di tubuh pemkot sejak Wali Kota Bambang Priyanto-Wakil Wali Kota Sum Indra menjabat, telah terjadi beberapa kali.
Tetapi Bambang terkesan tak peduli. Dia malah kembali melontarkan ancaman pencopotan jabatan kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) kota saat mengikuti rapat evaluasi kinerja SKPD di ruang Pola Kantor Wali Kota Jambi, kemarin (13/7).
Katanya, jika masing-masing kepala SKPD tidak mampu melaksanakan programnya, wali kota mengatakan akan memberikan sanksi tegas. “Kalau tidak mampu akan diganti,” tegas Bambang. Dia menyebut, masing-masing kepala SKPD memang harus mempertanggungjawabkan tugas yang diembannya selama ini. “Makanya tadi kita rapat, untuk apa kita mencari yang tidak mampu,” ujarnya.
Rapat itu sendiri membahas mengenai penyerapan dana yang sudah dikerjakan oleh masing-masing SKPD. “Kita ingin mengetahui jumlah penyerapan dana yang sudah mereka kerjakan, dan yang belum dikerjakan kita minta alasan, apa kendalanya,” ujar wali kota.
Wali kota tidak menyebut secara gamblang SKPD mana saja yang tidak memenuhi standar penggunaan dana. Namun yang jelas, ada beberapa yang masih di bawah standar. “Ada yang penggunaannya baru tiga puluh tujuh persen,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Kota Jambi Budidaya, ketika ditanyakan adakah target yang diberikan terhadap masing-masing SKPD untuk menggunakan dana yang tersedia, dengan tegas dia menyatakan semua SKPD harus memegang komitmen terhadap program kerja yang telah direncanakan masing-masing SKPD.
“Minimal harus lima puluh persen, kita akan koordinasi terus dan minta komitmen dari masing-masing SKPD. Pada triwulan ketiga kita lihat berapa pencapaian mereka,” ujar Budidaya.
Selanjutnya dirinya menyebutkan akan mengevaluasi kembali pancapaian masing-masing SKPD. “Mungkin ada yang sudah mencapai 70 persen atau bahkan 75 persen, nanti kita lihat,” katanya.
Sementara itu, ketika disinggung mengenai kekosongan 81 jabatan strategis di pemkot, wali kota mengaku sudah menerima ekspos dari Badan Perencanaan Jabatan Dan Pangkat (Baperjakat). “Saya sudah terima ekspos dari Baperjakat, dan sedang dipelajari,” ujarnya.
Lalu, kapan 81 jabatan tersebut akan diisi? Wali kota menyebutkan, dalam waktu dua minggu ke depan akan segera ada pelantikan. “Namanya sudah dalam kotak, Insya Allah dua minggu ini positif akan ada pelantikan,” tandasnya, santai.(*)
JABATAN KOSONG
81 Jabatan Strategis Masih Kosong
KOTABARU – Sebanyak 81 jabatan strategis di lingkup pemerintahan Kota Jambi yang kosong, hingga saat ini masih belum terisi. Dari ke 81 jabatan tersebut, 77 di antaranya adalah eselon IV, dua jabatan eselon III dan dua jabatan pula untuk eselon II. Semua posisi tersebut mulai dari pemerintahan kota hingga ke kelurahan.
Anggota DPRD Kota Jambi, kemarin (12/7), mempertanyakan kenapa belum juga terjadi pengisian kekosongan tersebut kepada pemerintahan kota. Hal itu disampaikan dalam hearing DPRD Kota Jambi bersama Baperjakat, kemarin.
Sutiyono, anggota Komisi A DPRD Kota Jambi yang juga berasal dari fraksi PDI P menyatakan, dirinya mendesak agar pemerintah kota mengisi kekosongan tersebut secepatnya. “Bulan Juli ini harus sudah terisi,” tegasnya seusai hearing tersebut. Dirinya menyatakan tidak habis pikir, kenapa lama sekali dibutuhkan untuk mencari pengganti pejabat yang sudah tidak menjabat lagi tersebut.
Di Kota Jambi sendiri, jumlah pegawai sudah lebih dari delapan ribu orang. Logikanya, dengan jumlah tersebut, kota sudah mengalami kelebihan pegawai. DPRD Kota Jambi tidak habis pikir kenapa dengan jumlah tersebut, kekosongan tersebut dibiarkan berlama-lama. “Saya prihatin, kenapa sulit sekali mencari penggantinya, padahal kota sudah kelebihan pegawai, saya usulkan bagi pegawai yang berkompeten seperti yang sudah studi banding dinaikkan untuk mengisi kekosongan itu,” ujarnya.
Hal tersebut juga disebutkan oleh Muhili. Ketua Komisi C DPRD Kota Jambi mengatakan, kota seolah-olah kekurangan pegawai. Padahal, katanya pada kenyataannya, Pemerintahan Kota Jambi memiliki hampir sembilan ribu pegawai, dan 63 persen APBD dialokasikan untuk menggaji mereka. “Kita seperti kekurangan pegawai padahal sudah overload. Masak tidak bisa mencari 81 orang yang berpotensi,” katanya.
Said Abdul Kasim, Ketua Balegda DPRD Kota Jambi mengungkapkan, dengan dibiarkannya kekosongan tersebut terjadi, maka akan mengganggu pelayanan terhadap masyarakat. “Contohnya kosongnya posisi Camat Jelutung, orang mau bikin KTP, camat tidak ada untuk tanda tangan,” ujarnya.
Menaggapi hal tersebut, Kepala Baperjakat Kota Jambi, yang juga merupakan Sekretaris Daerah Kota Jambi mengatakan, harus menyeleksi para calon pengisi jabatan yang kosong tersebut. “Kita sangat selektif dalam menentukan calon,” katanya. Namun, diakuinya, saat ini sudah ada nama-nama yang akan mengisi kekosongan jabatan strategis, untuk kemudian diekspos kepada wali kota terlebih dahulu.
Pengeksposan nama-nama yang sudah dikantongi tersebut akan dilakukan pada minggu ini, agar wali kota bisa membaca serta mempertimbangkan calon-calon tersebut. “Kita ekspos kepada wako dulu, agar beliau bisa mempelajari serta membaca tentang calon yang kita anjurkan. Dengan ekpsos tersebut, wali kota bisa lihat, dan mempertanyakan juga kepada kita kenapa orang tersebut dicalonkan, nanti kita langsung jelaskan kepada beliau,” katanya.
Lalu, sudah berapa lama terjadi kekosongan jabatan tersebut? disebutkan Budidaya, beragam, bahkan ada yang sampai setahun. Penyebab kosongnya bervariasi, karena pensiun, pindah ke provinsi, dan lantaran mutasi. Kendala yang dihadapi pemkot sehingga terjadi keterlambatan, kata Budidaya, adalah karena tidak adanya database yang dimiliki pemkot. “Itulah kelemahan kita, database kita tidak ada, ada juga terkadang, yang kosong tersebut, lambat dilaporkan. Dan setelah kita verifikasi, kita surati pihak terkait, baru mereka memberikan laporan,” kata Budidaya.
Ketika ditanyakan, kapan kekosongan tersebut bisa diisi? Budidaya mengatakan, Juli ini, semua sudah bisa diselesaikan. Yakni untuk pejabat eselon III dan IV. “Karena kalau eselon dua kan provinsi,” tandasnya. Untuk diketahui, tunjangan yang didapat pejabat-pejabat tersebut, untuk eselon IIIa adalah Rp 1,2 juta. Eselon III B sebanyak Rp 900 ribu, sementara untuk eselon IVA dan IVB masing-masingnya adalah Rp 600 ribu dan Rp 540 ribu.(enn)
KOTABARU – Sebanyak 81 jabatan strategis di lingkup pemerintahan Kota Jambi yang kosong, hingga saat ini masih belum terisi. Dari ke 81 jabatan tersebut, 77 di antaranya adalah eselon IV, dua jabatan eselon III dan dua jabatan pula untuk eselon II. Semua posisi tersebut mulai dari pemerintahan kota hingga ke kelurahan.
Anggota DPRD Kota Jambi, kemarin (12/7), mempertanyakan kenapa belum juga terjadi pengisian kekosongan tersebut kepada pemerintahan kota. Hal itu disampaikan dalam hearing DPRD Kota Jambi bersama Baperjakat, kemarin.
Sutiyono, anggota Komisi A DPRD Kota Jambi yang juga berasal dari fraksi PDI P menyatakan, dirinya mendesak agar pemerintah kota mengisi kekosongan tersebut secepatnya. “Bulan Juli ini harus sudah terisi,” tegasnya seusai hearing tersebut. Dirinya menyatakan tidak habis pikir, kenapa lama sekali dibutuhkan untuk mencari pengganti pejabat yang sudah tidak menjabat lagi tersebut.
Di Kota Jambi sendiri, jumlah pegawai sudah lebih dari delapan ribu orang. Logikanya, dengan jumlah tersebut, kota sudah mengalami kelebihan pegawai. DPRD Kota Jambi tidak habis pikir kenapa dengan jumlah tersebut, kekosongan tersebut dibiarkan berlama-lama. “Saya prihatin, kenapa sulit sekali mencari penggantinya, padahal kota sudah kelebihan pegawai, saya usulkan bagi pegawai yang berkompeten seperti yang sudah studi banding dinaikkan untuk mengisi kekosongan itu,” ujarnya.
Hal tersebut juga disebutkan oleh Muhili. Ketua Komisi C DPRD Kota Jambi mengatakan, kota seolah-olah kekurangan pegawai. Padahal, katanya pada kenyataannya, Pemerintahan Kota Jambi memiliki hampir sembilan ribu pegawai, dan 63 persen APBD dialokasikan untuk menggaji mereka. “Kita seperti kekurangan pegawai padahal sudah overload. Masak tidak bisa mencari 81 orang yang berpotensi,” katanya.
Said Abdul Kasim, Ketua Balegda DPRD Kota Jambi mengungkapkan, dengan dibiarkannya kekosongan tersebut terjadi, maka akan mengganggu pelayanan terhadap masyarakat. “Contohnya kosongnya posisi Camat Jelutung, orang mau bikin KTP, camat tidak ada untuk tanda tangan,” ujarnya.
Menaggapi hal tersebut, Kepala Baperjakat Kota Jambi, yang juga merupakan Sekretaris Daerah Kota Jambi mengatakan, harus menyeleksi para calon pengisi jabatan yang kosong tersebut. “Kita sangat selektif dalam menentukan calon,” katanya. Namun, diakuinya, saat ini sudah ada nama-nama yang akan mengisi kekosongan jabatan strategis, untuk kemudian diekspos kepada wali kota terlebih dahulu.
Pengeksposan nama-nama yang sudah dikantongi tersebut akan dilakukan pada minggu ini, agar wali kota bisa membaca serta mempertimbangkan calon-calon tersebut. “Kita ekspos kepada wako dulu, agar beliau bisa mempelajari serta membaca tentang calon yang kita anjurkan. Dengan ekpsos tersebut, wali kota bisa lihat, dan mempertanyakan juga kepada kita kenapa orang tersebut dicalonkan, nanti kita langsung jelaskan kepada beliau,” katanya.
Lalu, sudah berapa lama terjadi kekosongan jabatan tersebut? disebutkan Budidaya, beragam, bahkan ada yang sampai setahun. Penyebab kosongnya bervariasi, karena pensiun, pindah ke provinsi, dan lantaran mutasi. Kendala yang dihadapi pemkot sehingga terjadi keterlambatan, kata Budidaya, adalah karena tidak adanya database yang dimiliki pemkot. “Itulah kelemahan kita, database kita tidak ada, ada juga terkadang, yang kosong tersebut, lambat dilaporkan. Dan setelah kita verifikasi, kita surati pihak terkait, baru mereka memberikan laporan,” kata Budidaya.
Ketika ditanyakan, kapan kekosongan tersebut bisa diisi? Budidaya mengatakan, Juli ini, semua sudah bisa diselesaikan. Yakni untuk pejabat eselon III dan IV. “Karena kalau eselon dua kan provinsi,” tandasnya. Untuk diketahui, tunjangan yang didapat pejabat-pejabat tersebut, untuk eselon IIIa adalah Rp 1,2 juta. Eselon III B sebanyak Rp 900 ribu, sementara untuk eselon IVA dan IVB masing-masingnya adalah Rp 600 ribu dan Rp 540 ribu.(enn)
BENSIN LAGI
Pertamina:
Stok Premium
Ditambah
SPBU Masih
Layani Jeriken
JENNIFER AGUSTIA, Kasang
Pertamina mengaku sudah menambah stok premium untuk Provinsi Jambi. Itu dilakukan sebagai antisipasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya premium yang terjadi di sebagian wilayah Provinsi Jambi, khususnya Kota Jambi. Fakta itu diungkap Darso Abdullah, Pengawas Penerimaan, Penimbunan, dan Penyimpanan Pertamina Jambi, kemarin (11/7).
Penambahan sudah dilakukan sejak kemarin lusa sebayak 255 kilo liter. “Biasanya pada hari biasa, premium untuk Jambi sebanyak 700 sampai 750 kilo liter per hari, mulai Sabtu kemarin, kita tambah menjadi 955 kilo liter per hari,” ujarnya.
Namun penambahan tampaknya tak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan permintaan masyarakat Kota Jambi terhadap premium. Antrean panjang masih saja terjadi di semua SPBU yang ada di Kota Jambi.
Disebutkan Darso, sebenarnya tidak terjadi kekurangan stok BBM di Kota Jambi, hanya saja, ketakutan masyarakat akan habisnya BBM yang menyebabkan antrean panjang terjadi. “Kebutuhan masyarakat Jambi itu sendiri pada hari biasanya hanya 700 KL per hari, sekarang sudah kita tambah menjadi 955. Artinya, untuk stok sebenarnya tidak ada masalah,” ujarnya.
Dilanjutkan, antrean panjang juga disebabkan oleh masyarakat yang memakai genset, karena sebagian wilayah Kota Jambi masih mengalami pemadaman listrik total. Untuk itu, masyarakat jangan panik dengan ketersediaan premium di Jambi saat ini.
Terhitung sejak Jumat lalu, stok BBM di Jambi disebutkan bisa bertahan untuk tujuh hari, dan hari ini merupakan hari kelima. Lalu, adakah kekhawatiran akan terjadi kekosongan BBM dua hari berikutnya, mengingat meningkat drastisnya permintaan masyarakat akan BBM? Darso kembali menyatakan, masyarakat jangan panik, karena tidak akan ada kekosongan BBM. “Saat ini BBM sedang di perjalanan, kemungkinan akan segera merapat,” ujarnya.
Lalu, adakah upaya Pertamina untuk melakukan pembatasan bagi masyarakat yang membeli BBM? Darso mengaku, hal tersebut bukanlah wewenang Pertamina malainkan pihak kepolisisan. Namun, disebutkannya, kemarin lusa, pihak Pertamina sudah melakukan rapat dengan pihak kepolisian untuk mengawasi pembeli di SPBU. “Kita juga sudah imbau agar masyarakat tidak membeli BBM secara berlebihan,” katanya.
Pantauan Jambi Independent di Talang Banjar, salah satu SPBU masih menerima pembeli dengan jeriken. Bahkan, pembeli yang membawa jeriken itu tampak bebas antre di antara motor-motor yang antre. Petugas kepolisian terlihat tidak bertindak. Momen ini sempat diabadikan fotografer Jambi Independent Eddy Junaedy.
SPBU Akui Tak Terima Penambahan
Terpisah, penambahan stok tersebut tidak dirasakan oleh beberapa SPBU yang ada di Kota Jambi. SPBU Kebun Jeruk misalnya, masih menyediakan premium sebanyak 30 ton sehari. Tidak terjadi perubahan dibandingkan stok premium yang ada di hari-hari normal. Deni, Pengawas SPBU Kebun Jeruk mengatakan, pihaknya sudah mengajukan penambahan stok premium menjadi 40 ton seri, namun hingga saat ini belum ada. “Sebelum krisis BBM ini terjadi, kami sudah ajukan penambahan, tapi belum ada,” ujarnya.
Dari keterangan Deni, antrean di SPBU Kebun Jeruk ini dimulai dari pagi hari dan pada pukul 17.00 premiun sudah habis, bahkan juga solar dan pertamax. “Jam setengah enam paling lama, itu sudah bubar, sudah habis semua,” ujarnya. Dari pantauan Jambi Independent di lapangan, antrean mencapai puluhan meter, dan memakan separo jalan raya. Akibatnya, jalan raya kemarin hanya dibukan untuk satu jalur. Di Simpang Pulai arah Sipin, terlihat garis polisi yang menyatakan dilarang melewati jalur tersebut.
Untuk antisipasi, menurut Deni, pihak SPBU sejak Minggu (10/7) lalu, memberlakukan pembatasan pembelian premium bagi kendaraan. Yakni, untuk mobil hanya boleh membeli premium maksimal Rp 100 ribu, motor besar maksimalnya Rp 20 ribu, sedangkan motor kecil Rp. 10 ribu. “Kita sudah berlakukan kebijakan ini sejak kemarin,” tandasnya.
Sementara itu, di SPBU Paal V antrean juga terlihat panjang, juga memakan separo jalan raya. Di SPBU ini juga tidak terjadi penambahan stok. Meijek Subakti, pemilik SPBU Pall V mengatakan, stok tetap 20 ton per hari, dan habis sekitar pukul 20.00. Sedangkan Petrus, pemilik SPBU Simpang Rimbo mengatakan, memang ada penambahan stok sebanyak 8 ton untuk tiga hari ini. Jadi, apakah bisa dikatakan penyebaran penambahan BBM ini tidak merata?
Ketua Komisi B Kota Jambi A. Fauzi mengatakan, pihaknya mempertanyakan terjadinya penambahan BBM, namum antrean masih terjadi. “Kita akan pertanyakan kembali kenapa bisa terjadi seperti ini antrean panjang setelah terjadi penambahan. Mungkin disebabkan juga adanya isu BBM akan naik, masyarakat panik, lalu menimbun BBM,” ujarnya. Dirinya juga mempertanyakan kenapa ada SPBU yang tidak mengalami penambahan. “Kemana itu larinya penambahan BBM,” katanya.
Akibat antrean yang begitu panjang ini, harga eceran menjadi semakin melambung tinggi. Harga premium eceran kemarin menembus angka Rp 20 ribu per liternya, lebih dari empat kali lipat harga biasanya. Sementara di hari sebelumnya masih berkisar pada angka Rp 15 ribu per liter. Di sepanjang jalan, banyak yang beralih profesi menjadi pengecer premium dadakan. Masyarakat yang tidak tahan berlama-lama mengantri terpaksa harus membeli premium eceren dengan harga yang tinggi tersebut.(*)
Stok Premium
Ditambah
SPBU Masih
Layani Jeriken
JENNIFER AGUSTIA, Kasang
Pertamina mengaku sudah menambah stok premium untuk Provinsi Jambi. Itu dilakukan sebagai antisipasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya premium yang terjadi di sebagian wilayah Provinsi Jambi, khususnya Kota Jambi. Fakta itu diungkap Darso Abdullah, Pengawas Penerimaan, Penimbunan, dan Penyimpanan Pertamina Jambi, kemarin (11/7).
Penambahan sudah dilakukan sejak kemarin lusa sebayak 255 kilo liter. “Biasanya pada hari biasa, premium untuk Jambi sebanyak 700 sampai 750 kilo liter per hari, mulai Sabtu kemarin, kita tambah menjadi 955 kilo liter per hari,” ujarnya.
Namun penambahan tampaknya tak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan permintaan masyarakat Kota Jambi terhadap premium. Antrean panjang masih saja terjadi di semua SPBU yang ada di Kota Jambi.
Disebutkan Darso, sebenarnya tidak terjadi kekurangan stok BBM di Kota Jambi, hanya saja, ketakutan masyarakat akan habisnya BBM yang menyebabkan antrean panjang terjadi. “Kebutuhan masyarakat Jambi itu sendiri pada hari biasanya hanya 700 KL per hari, sekarang sudah kita tambah menjadi 955. Artinya, untuk stok sebenarnya tidak ada masalah,” ujarnya.
Dilanjutkan, antrean panjang juga disebabkan oleh masyarakat yang memakai genset, karena sebagian wilayah Kota Jambi masih mengalami pemadaman listrik total. Untuk itu, masyarakat jangan panik dengan ketersediaan premium di Jambi saat ini.
Terhitung sejak Jumat lalu, stok BBM di Jambi disebutkan bisa bertahan untuk tujuh hari, dan hari ini merupakan hari kelima. Lalu, adakah kekhawatiran akan terjadi kekosongan BBM dua hari berikutnya, mengingat meningkat drastisnya permintaan masyarakat akan BBM? Darso kembali menyatakan, masyarakat jangan panik, karena tidak akan ada kekosongan BBM. “Saat ini BBM sedang di perjalanan, kemungkinan akan segera merapat,” ujarnya.
Lalu, adakah upaya Pertamina untuk melakukan pembatasan bagi masyarakat yang membeli BBM? Darso mengaku, hal tersebut bukanlah wewenang Pertamina malainkan pihak kepolisisan. Namun, disebutkannya, kemarin lusa, pihak Pertamina sudah melakukan rapat dengan pihak kepolisian untuk mengawasi pembeli di SPBU. “Kita juga sudah imbau agar masyarakat tidak membeli BBM secara berlebihan,” katanya.
Pantauan Jambi Independent di Talang Banjar, salah satu SPBU masih menerima pembeli dengan jeriken. Bahkan, pembeli yang membawa jeriken itu tampak bebas antre di antara motor-motor yang antre. Petugas kepolisian terlihat tidak bertindak. Momen ini sempat diabadikan fotografer Jambi Independent Eddy Junaedy.
SPBU Akui Tak Terima Penambahan
Terpisah, penambahan stok tersebut tidak dirasakan oleh beberapa SPBU yang ada di Kota Jambi. SPBU Kebun Jeruk misalnya, masih menyediakan premium sebanyak 30 ton sehari. Tidak terjadi perubahan dibandingkan stok premium yang ada di hari-hari normal. Deni, Pengawas SPBU Kebun Jeruk mengatakan, pihaknya sudah mengajukan penambahan stok premium menjadi 40 ton seri, namun hingga saat ini belum ada. “Sebelum krisis BBM ini terjadi, kami sudah ajukan penambahan, tapi belum ada,” ujarnya.
Dari keterangan Deni, antrean di SPBU Kebun Jeruk ini dimulai dari pagi hari dan pada pukul 17.00 premiun sudah habis, bahkan juga solar dan pertamax. “Jam setengah enam paling lama, itu sudah bubar, sudah habis semua,” ujarnya. Dari pantauan Jambi Independent di lapangan, antrean mencapai puluhan meter, dan memakan separo jalan raya. Akibatnya, jalan raya kemarin hanya dibukan untuk satu jalur. Di Simpang Pulai arah Sipin, terlihat garis polisi yang menyatakan dilarang melewati jalur tersebut.
Untuk antisipasi, menurut Deni, pihak SPBU sejak Minggu (10/7) lalu, memberlakukan pembatasan pembelian premium bagi kendaraan. Yakni, untuk mobil hanya boleh membeli premium maksimal Rp 100 ribu, motor besar maksimalnya Rp 20 ribu, sedangkan motor kecil Rp. 10 ribu. “Kita sudah berlakukan kebijakan ini sejak kemarin,” tandasnya.
Sementara itu, di SPBU Paal V antrean juga terlihat panjang, juga memakan separo jalan raya. Di SPBU ini juga tidak terjadi penambahan stok. Meijek Subakti, pemilik SPBU Pall V mengatakan, stok tetap 20 ton per hari, dan habis sekitar pukul 20.00. Sedangkan Petrus, pemilik SPBU Simpang Rimbo mengatakan, memang ada penambahan stok sebanyak 8 ton untuk tiga hari ini. Jadi, apakah bisa dikatakan penyebaran penambahan BBM ini tidak merata?
Ketua Komisi B Kota Jambi A. Fauzi mengatakan, pihaknya mempertanyakan terjadinya penambahan BBM, namum antrean masih terjadi. “Kita akan pertanyakan kembali kenapa bisa terjadi seperti ini antrean panjang setelah terjadi penambahan. Mungkin disebabkan juga adanya isu BBM akan naik, masyarakat panik, lalu menimbun BBM,” ujarnya. Dirinya juga mempertanyakan kenapa ada SPBU yang tidak mengalami penambahan. “Kemana itu larinya penambahan BBM,” katanya.
Akibat antrean yang begitu panjang ini, harga eceran menjadi semakin melambung tinggi. Harga premium eceran kemarin menembus angka Rp 20 ribu per liternya, lebih dari empat kali lipat harga biasanya. Sementara di hari sebelumnya masih berkisar pada angka Rp 15 ribu per liter. Di sepanjang jalan, banyak yang beralih profesi menjadi pengecer premium dadakan. Masyarakat yang tidak tahan berlama-lama mengantri terpaksa harus membeli premium eceren dengan harga yang tinggi tersebut.(*)
BENSIN
Bensin
Capai
Rp 15.000
Akibat
Kelangkaan
BBM
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Langkanya BBM terutama bensin membuat warga Kota Jambi kian resah. Di semua sarana pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang ada di Kota Jambi, antrean panjang hingga kemarin (10/7), masih terlihat. Sehingga, warga lebih memilih untuk membeli bensin pada pengecer ketimbang di SPBU.
Situasi tersebut malah menjadikan harga bensin di masing-masing pengecer menjadi tinggi. Harga penjualan mulai Rp 8.000 hingga Rp 15.000 per liternya. Sementara, jika beli di SPBU hanya Rp 5.500 per liter.
Seperti diakui Ririn, salaah seorang warga Jelutung, dia baru saja membeli bensin untuk motornya. Dia memutuskan membeli di pengecer kawasan Jelutung, karena tidak sanggup mengantre selama berjam-jam, apalagi di tengah terik matahari.
“Keterlaluan sekali, masak di sana dijual bensin Rp 12.000 seliter? Saya pikir awalnya cuma delapan ribu,” katanya.
Hal ini juga dikeluhkan Yati, warga Pall V yang mengaku tidak mau mengantre panjang. Bahkan, karena itu, dia tidak menggunakan motor. “Mau cari tukang ojek, motor bensin kosong, pening palak di Jambi sekarang ni,” ujarnya, kesal.
Di kawasan Telanaipura, harga bensin eceran tembus hingga Rp 15.000 per liter. Dari informasi masyarakat sekitar, pada umumnya, harga bensin eceran di kawasan Telanai sudah mematok harga sebesar itu. Salah seorang pengecer mengatakan, terpaksa menjual dengan harga tinggi lantaran ada kebijakan larangan membeli bensin dengan jeriken.
“Kami terpaksa menjual dengan harga segitu, karena dilarang membeli pakai jeriken, lalu kami antri pakai kendaraan masukkan ke tanki lalu keluarkan untuk dijual eceran,” cetusnya.
Terkait hal ini, Wali Kota Jambi Bambang Priyanto mengimbau agar para pengecer tidak terlalu memanfaatkan situasi tersebut, sehingga menakar harga bensin eceran setinggi-tingginya. “Kita imbau pengecer jangan mematok harga terlalu tinggi,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, di setiap tempat, memang terjadi hal yang demikian. Karena langkanya BBM di SPBU, menyebabkan antrean sangat panjang sehingga harga bensin eceran meroket.
Langkanya BBM ini juga tidak lepas dari imbas pemadaman listrik total yang terjadi di sebagian besar Kota Jambi selama tiga hari. Karena, bagi pengguna genset, tentu membutuhkan solar ataupun bensin. Sehingga, permintaan bahan bakar semakin banyak.
“Ini juga disebabkan mati lampu, mereka yang pakai genset beli bensin atau solar, kita akan upayakan agar SKPD terkait melakukan pengawasan untuk segera mengatasi masalah ini, agar kondisi seperti ini tidak terus terjadi. Juga agar penjualan di kalangan pengecer tidak terlalu tinggi,” katanya.
Sementara itu, terkait terbakarnya Gardu Induk PLN di Selincah, Bambang mengatakan agar cepat diselesaikan. Karena itu menyangkut rutinitas masyarakat. “Kan tidak semuanya pakai genset, di delapan kecamatan yang ada di Kota Jambi, lebih dari separuh yang kena pemadaman, saat ini perbaikan sedang diupayakan,” tandasnya.(*)
Capai
Rp 15.000
Akibat
Kelangkaan
BBM
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Langkanya BBM terutama bensin membuat warga Kota Jambi kian resah. Di semua sarana pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang ada di Kota Jambi, antrean panjang hingga kemarin (10/7), masih terlihat. Sehingga, warga lebih memilih untuk membeli bensin pada pengecer ketimbang di SPBU.
Situasi tersebut malah menjadikan harga bensin di masing-masing pengecer menjadi tinggi. Harga penjualan mulai Rp 8.000 hingga Rp 15.000 per liternya. Sementara, jika beli di SPBU hanya Rp 5.500 per liter.
Seperti diakui Ririn, salaah seorang warga Jelutung, dia baru saja membeli bensin untuk motornya. Dia memutuskan membeli di pengecer kawasan Jelutung, karena tidak sanggup mengantre selama berjam-jam, apalagi di tengah terik matahari.
“Keterlaluan sekali, masak di sana dijual bensin Rp 12.000 seliter? Saya pikir awalnya cuma delapan ribu,” katanya.
Hal ini juga dikeluhkan Yati, warga Pall V yang mengaku tidak mau mengantre panjang. Bahkan, karena itu, dia tidak menggunakan motor. “Mau cari tukang ojek, motor bensin kosong, pening palak di Jambi sekarang ni,” ujarnya, kesal.
Di kawasan Telanaipura, harga bensin eceran tembus hingga Rp 15.000 per liter. Dari informasi masyarakat sekitar, pada umumnya, harga bensin eceran di kawasan Telanai sudah mematok harga sebesar itu. Salah seorang pengecer mengatakan, terpaksa menjual dengan harga tinggi lantaran ada kebijakan larangan membeli bensin dengan jeriken.
“Kami terpaksa menjual dengan harga segitu, karena dilarang membeli pakai jeriken, lalu kami antri pakai kendaraan masukkan ke tanki lalu keluarkan untuk dijual eceran,” cetusnya.
Terkait hal ini, Wali Kota Jambi Bambang Priyanto mengimbau agar para pengecer tidak terlalu memanfaatkan situasi tersebut, sehingga menakar harga bensin eceran setinggi-tingginya. “Kita imbau pengecer jangan mematok harga terlalu tinggi,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, di setiap tempat, memang terjadi hal yang demikian. Karena langkanya BBM di SPBU, menyebabkan antrean sangat panjang sehingga harga bensin eceran meroket.
Langkanya BBM ini juga tidak lepas dari imbas pemadaman listrik total yang terjadi di sebagian besar Kota Jambi selama tiga hari. Karena, bagi pengguna genset, tentu membutuhkan solar ataupun bensin. Sehingga, permintaan bahan bakar semakin banyak.
“Ini juga disebabkan mati lampu, mereka yang pakai genset beli bensin atau solar, kita akan upayakan agar SKPD terkait melakukan pengawasan untuk segera mengatasi masalah ini, agar kondisi seperti ini tidak terus terjadi. Juga agar penjualan di kalangan pengecer tidak terlalu tinggi,” katanya.
Sementara itu, terkait terbakarnya Gardu Induk PLN di Selincah, Bambang mengatakan agar cepat diselesaikan. Karena itu menyangkut rutinitas masyarakat. “Kan tidak semuanya pakai genset, di delapan kecamatan yang ada di Kota Jambi, lebih dari separuh yang kena pemadaman, saat ini perbaikan sedang diupayakan,” tandasnya.(*)
Selasa, 05 Juli 2011
PKB Vs. ZS
DPC PKB Pertanyakan PAW ZS Ke Wako
KOTABARU - Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC-PKB) Kota jambi mempertanyakan surat pemberhentian tetap dan surat Pengganti Antar Waktu atas Zulkifli Somad kepada Walikota jambi yang diberikan 24 juni lalu. Selanjutnya DPC PKB kota jambi juga menyatakan siap megahadapi somasi yang akan diajukan Zulkifli Somad ke Pengadilan Negeri (PN) jambi.
Ketua DPC-PKB kota jambi, Sulaiman syawal mengatakan harusnya DPC telah mendapat jawaban Walikota.” Surat pemberhentian tetap maupun surat PAW saudara Zulkifli Somad telah kita layangkan ke Walikota jambi pada 24 juni lalu dimana sebelumnya DPC juga telah melakukan hal yang sama ke ketua DPRD kota jambi pada 17 juni, harusnya sesuai dengan undang-undang, pasca 7 hari kita sudah mendapat jawaban dari Wako, sebab hal ini juga harus di sampaikan ke Gubernur jambi,” katanya.
Dan kata Sulaiman, DPC hari ini akan mempertanyakan ke bagian hukum Setda kota jambi,” sesuai UU dan sudah lebih dari 7 hari, maka hari akan kita pertanyakan ke pemkot jambi melalui bagian hukumnya, jika tidak juga ada kepastian, maka DPC-PKB kota jambi kembali akan melayangkan surat ke -2, dan perlu di garis bawahi jika surat pemberhentian tetap maupun PAW saudara ZS tersebut juga dikuatkan dengan hasil rapat DPC PKB kota jambi tertanggal 30 juni kemarin.” jelas Sulaiman pula.
Kemudian tegas Sulaiman, DPC PKB Kota jambi siap mengahadapi somasi ZS .” saat ini DPC PKB kota jambi telah menyiapkan tim pengacara terkait somasi saudara ZS, dan DPC PKB telah bulat untuk memberhentikan Saudara ZS dengan dasar alasan antara lain tidak bisa aktif lagi sebagai kader maupun anggota DPRD, yang memberatkan adalah saudara ZS tersangkut masalah hukum dan kami menilai sangat merugikan partai,” tandasnya.
KOTABARU - Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC-PKB) Kota jambi mempertanyakan surat pemberhentian tetap dan surat Pengganti Antar Waktu atas Zulkifli Somad kepada Walikota jambi yang diberikan 24 juni lalu. Selanjutnya DPC PKB kota jambi juga menyatakan siap megahadapi somasi yang akan diajukan Zulkifli Somad ke Pengadilan Negeri (PN) jambi.
Ketua DPC-PKB kota jambi, Sulaiman syawal mengatakan harusnya DPC telah mendapat jawaban Walikota.” Surat pemberhentian tetap maupun surat PAW saudara Zulkifli Somad telah kita layangkan ke Walikota jambi pada 24 juni lalu dimana sebelumnya DPC juga telah melakukan hal yang sama ke ketua DPRD kota jambi pada 17 juni, harusnya sesuai dengan undang-undang, pasca 7 hari kita sudah mendapat jawaban dari Wako, sebab hal ini juga harus di sampaikan ke Gubernur jambi,” katanya.
Dan kata Sulaiman, DPC hari ini akan mempertanyakan ke bagian hukum Setda kota jambi,” sesuai UU dan sudah lebih dari 7 hari, maka hari akan kita pertanyakan ke pemkot jambi melalui bagian hukumnya, jika tidak juga ada kepastian, maka DPC-PKB kota jambi kembali akan melayangkan surat ke -2, dan perlu di garis bawahi jika surat pemberhentian tetap maupun PAW saudara ZS tersebut juga dikuatkan dengan hasil rapat DPC PKB kota jambi tertanggal 30 juni kemarin.” jelas Sulaiman pula.
Kemudian tegas Sulaiman, DPC PKB Kota jambi siap mengahadapi somasi ZS .” saat ini DPC PKB kota jambi telah menyiapkan tim pengacara terkait somasi saudara ZS, dan DPC PKB telah bulat untuk memberhentikan Saudara ZS dengan dasar alasan antara lain tidak bisa aktif lagi sebagai kader maupun anggota DPRD, yang memberatkan adalah saudara ZS tersangkut masalah hukum dan kami menilai sangat merugikan partai,” tandasnya.
TERMINAL DISULAP JADI MALL
Rencana Alih
Fungsi Terminal
Simpang Kawat
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Kota Jambi terus berkembang. Setelah beberapa mal besar berdiri di kota ini, kembali satu mal akan menyusul dibangun. Menariknya, mal yang baru ini, nanti akan dibangun di terminal penyangga Simpang Kawat. Informasinya, investor telah mengurus perizinan untuk mendirikan mal, tapi jadwal pembangunan belum diketahui.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jambi Ertati Achmad, kemarin (4/7), membenarkan perihal itu. Katanya, rencana pembangunan mal yang dikelola pihak swasta ini baru sampai tahap pengajuan dari investor, dan rapat baru dilaksanakan sebanyak satu kali. “Saat ini investor masih dalam tahap pengajuan, sekarang kita sedang melakukan pengkajian dan penjajakan,” ujar Ertati.
Tanah kawasan terminal Simpang Kawat itu milik siapa sebenarnya? Hertati menjawab, hak milik tanah terminal tersebut saat ini sedang diteliti. “Setahu saya, tanah tersebut merupakan hak milik pemerintah kota, yang merupakan hibah dari pemerintah provinsi, namun akan kita teliti lebih lanjut lagi,” katanya.
Kalau memang aset tersebut terbukti hak milik pemerintah kota, berarti akan ada kemungkinan penambahan PAD masuk ke pemkot. “Nantinya terserah pemeritah kota mau bekerja sama dengan investor atau tidak, kalau memang aset itu milik kota, namun secara RTRW, lokasi tersebut memungkinkan untuk dibangun mal,” ujar Hertati.
Apakah pemkot menyetujui pembangunan mal tersebut? Ertati mengatakan, bersyukur bahwa ada yang akan membangun mal di sana. Dengan pembangunan mal, maka akan ada perekrutan tenaga kerja dalam jumlah besar yang akan mengurangi jumlah angka pengangguran di Kota Jambi. “Setidaknya bisa membuka lapangan pekerjaan,” katanya. Sesuai dengan salah satu visi pemerintah Kota Jambi untuk membangun ekonomi kerakyatan.
Namun, pembangunan mal tersebut tentu akan memiliki dampak yang luas, seperti terhadap pedagang-pedangang kecil. Seharusnya, rencana pembangunan mall tersebut jangan sampai mengabaikan kepentingan pedagang-pedagang kecil.
Syafrudin Dwi Apriyanto, anggota Komisi B DPRD Kota Jambi mengaku, hingga kini hal tersebut belum sampai ke DPRD Kota Jambi. Karena memang surat-surat izin terkait pembangunan mal itu belum jadi. Namun, dirinya mengatakan, dengan pembangunan mall tersebut, tetap harus melindungi UMKM. “Memang benar, dengan membangun mal akan ada perekrutan tenaga kerja, tapi pedagang-pedagang kecil di sekitarnya harus dipikirkan juga,” katanya.
Tidak hanya keuntungan yang didapat yang harus dipikirkan, namun pihak terkait juga harus memikirkan dampak jangka panjang yang akan ditimbulkan. “Karena khawatir jika tidak ada regulasi yang jelas, maka pembangunan itu akan mematikan pedagang kecil,” katanya. Tidak bisa dipungkiri, mal memiliki daya tarik tersendiri bagi bagi sebagian besar kalangan masyarakat. Mereka lebih memilih berbelanja di mal dibandingkan dengan di pasar.
Dwi Apriyanto mencontohkan hal yang terjadi saat Jamtos dibangun, secara tidak langsung telah mematikan pedangang yang ada di pasar keluarga. “Lihat saja dampak pembangunan Jamtos bagi pasar keluarga, posisi mereka saat ini tidak sebaik sebelum mal itu dibangun,” katanya. Sehingga, hampir bisa dipastikan, pembangunan mal akan merugikan pedagang kecil di sekitarnya.
Untuk itu, sebelum mal ini dibangun, dibutuhkan diskusi yang panjang, agar tidak merugikan kalangan lain. “Meskipun belum pasti kapan akan mulai pembangunan, kita minta jangan terburu-buru, harus ada diskusi panjang lintas sektor. Ini menynangkut kepentingan pedagang kecil juga,” katanya. Yang jelas, harus ada jaminan keberpihakan pemerintah kota terhadap pedagang kecil. “Jangan mereka dimatikan dengan adanya mal-mal ini,” tandas Dwi.(*)
Fungsi Terminal
Simpang Kawat
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Kota Jambi terus berkembang. Setelah beberapa mal besar berdiri di kota ini, kembali satu mal akan menyusul dibangun. Menariknya, mal yang baru ini, nanti akan dibangun di terminal penyangga Simpang Kawat. Informasinya, investor telah mengurus perizinan untuk mendirikan mal, tapi jadwal pembangunan belum diketahui.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jambi Ertati Achmad, kemarin (4/7), membenarkan perihal itu. Katanya, rencana pembangunan mal yang dikelola pihak swasta ini baru sampai tahap pengajuan dari investor, dan rapat baru dilaksanakan sebanyak satu kali. “Saat ini investor masih dalam tahap pengajuan, sekarang kita sedang melakukan pengkajian dan penjajakan,” ujar Ertati.
Tanah kawasan terminal Simpang Kawat itu milik siapa sebenarnya? Hertati menjawab, hak milik tanah terminal tersebut saat ini sedang diteliti. “Setahu saya, tanah tersebut merupakan hak milik pemerintah kota, yang merupakan hibah dari pemerintah provinsi, namun akan kita teliti lebih lanjut lagi,” katanya.
Kalau memang aset tersebut terbukti hak milik pemerintah kota, berarti akan ada kemungkinan penambahan PAD masuk ke pemkot. “Nantinya terserah pemeritah kota mau bekerja sama dengan investor atau tidak, kalau memang aset itu milik kota, namun secara RTRW, lokasi tersebut memungkinkan untuk dibangun mal,” ujar Hertati.
Apakah pemkot menyetujui pembangunan mal tersebut? Ertati mengatakan, bersyukur bahwa ada yang akan membangun mal di sana. Dengan pembangunan mal, maka akan ada perekrutan tenaga kerja dalam jumlah besar yang akan mengurangi jumlah angka pengangguran di Kota Jambi. “Setidaknya bisa membuka lapangan pekerjaan,” katanya. Sesuai dengan salah satu visi pemerintah Kota Jambi untuk membangun ekonomi kerakyatan.
Namun, pembangunan mal tersebut tentu akan memiliki dampak yang luas, seperti terhadap pedagang-pedangang kecil. Seharusnya, rencana pembangunan mall tersebut jangan sampai mengabaikan kepentingan pedagang-pedagang kecil.
Syafrudin Dwi Apriyanto, anggota Komisi B DPRD Kota Jambi mengaku, hingga kini hal tersebut belum sampai ke DPRD Kota Jambi. Karena memang surat-surat izin terkait pembangunan mal itu belum jadi. Namun, dirinya mengatakan, dengan pembangunan mall tersebut, tetap harus melindungi UMKM. “Memang benar, dengan membangun mal akan ada perekrutan tenaga kerja, tapi pedagang-pedagang kecil di sekitarnya harus dipikirkan juga,” katanya.
Tidak hanya keuntungan yang didapat yang harus dipikirkan, namun pihak terkait juga harus memikirkan dampak jangka panjang yang akan ditimbulkan. “Karena khawatir jika tidak ada regulasi yang jelas, maka pembangunan itu akan mematikan pedagang kecil,” katanya. Tidak bisa dipungkiri, mal memiliki daya tarik tersendiri bagi bagi sebagian besar kalangan masyarakat. Mereka lebih memilih berbelanja di mal dibandingkan dengan di pasar.
Dwi Apriyanto mencontohkan hal yang terjadi saat Jamtos dibangun, secara tidak langsung telah mematikan pedangang yang ada di pasar keluarga. “Lihat saja dampak pembangunan Jamtos bagi pasar keluarga, posisi mereka saat ini tidak sebaik sebelum mal itu dibangun,” katanya. Sehingga, hampir bisa dipastikan, pembangunan mal akan merugikan pedagang kecil di sekitarnya.
Untuk itu, sebelum mal ini dibangun, dibutuhkan diskusi yang panjang, agar tidak merugikan kalangan lain. “Meskipun belum pasti kapan akan mulai pembangunan, kita minta jangan terburu-buru, harus ada diskusi panjang lintas sektor. Ini menynangkut kepentingan pedagang kecil juga,” katanya. Yang jelas, harus ada jaminan keberpihakan pemerintah kota terhadap pedagang kecil. “Jangan mereka dimatikan dengan adanya mal-mal ini,” tandas Dwi.(*)
SURAT SAKTI
Kadishub Siap Face to Face dengan Polisi
KOTABARU – Kepala Dinas Perhubungan Kota Jambi, Alamina Pinem mengaku siap berhadapan dengan pihak kepolisian. Hal ini terkait dengan munsulnya ‘surat sakti’ yang dikeluarkan Dishub untuk mengijinkan kendaraan bertonase berat masuk ke jalanan kota Jambi. Hal ini disampaikan langsung oleh Pinem kemarin (16/6) ketika dihubungi.
Namun, sayangnya Pinem tidak bersedia berkomentar banyak mengenai munculnya surat sakti tersebut karena saat ini dirinya sedang berada di Jakarta. “Untuk saat ini, saya tidak bisa berkomentar banyak, karena sednag berada di Jakarta,” ujarnya. Dirinya berjanji akan memberi keterangan kepada wartwan pada Senin depan. Menurutnya, jika dirinya saat ini berkomentar banyak, maka kondisi masing-masing institusi akan tidak kondusif.
Jadi, apakah surat sakti itu benar-benar ada, dengan bukti-bukti yang ada? Pinem tidak membantahnya. “Saya tidak membantah adanya surat itu, tapi tunjukan siapa oknum polisi yang mengatakan adanya surat itu?,” tegasnya. Dirinya mengaku siap berhadapan langsung dengan oknum yang bertanggung jawab memegang surat sakti tersebut.
Ketika ditanyakan, apakah dirinya merasa bertanggung jawab atas surat tersebut, Pinem mengatakan semuanya ada payung hukumnya. “Jangan karena ketidak mengertian masyarakat umum tentang surat itu, semuanya menjadi tidak baik,” kata Pinem.
Terkait dengan hal itu, anggota Komisi C DPRD Kota Jambi mengaku belum mendapatkan penjelasan langsung dari kadishub. M. Zayadi, anggota Komisi C DPRD Kota Jambi mengatakan pihaknya baru mendapat berita tersebut dari media. Namun, segera, pihak dishub akan dimintai keterangan mengenai surat sakti tersebut. “Kita akan segera panggil yang bersangkutan, yakni Poltabes dan Dishub. Namun dari Dishub harus Kadishub langsung yang datang,” tegasnya.
Komisi C juga memberikan peringatan, jika memang terbukti ada surat sakti yang melanggar vaturan, pihaknya akan memberikan rekomendasi kepada Walikta untuk menindak tegas Kadishub. “Kalau memang melanggar aturan, kita akan rekomendasikan kepada Walikoat untuk menindak tegas Kadishub, tentu keputusan ada di tangan walikota melalui pertimbangan beliau,” ujar Zayadi.
Ketika hal ini ditanyakan kepada Sekretari Daerah kota Jambi, Budidaya tidak bersedai berkomentar banyak, karena dirinya mengaku belum berkomunikasi dengan Kadishub mengenai permasalahan ini.
Selanjutnya Zayadi mengatakan, Pemkot melalui Dishub juga harus memperbaiki fasilitas yakni terminal truk agar semua truk yang masuk bisa singgah ke terminal tersebut. “Karena yang merasakan dampaknya kan semua masyarakat Kota Jambi,” tandasnya. (enn).
KOTABARU – Kepala Dinas Perhubungan Kota Jambi, Alamina Pinem mengaku siap berhadapan dengan pihak kepolisian. Hal ini terkait dengan munsulnya ‘surat sakti’ yang dikeluarkan Dishub untuk mengijinkan kendaraan bertonase berat masuk ke jalanan kota Jambi. Hal ini disampaikan langsung oleh Pinem kemarin (16/6) ketika dihubungi.
Namun, sayangnya Pinem tidak bersedia berkomentar banyak mengenai munculnya surat sakti tersebut karena saat ini dirinya sedang berada di Jakarta. “Untuk saat ini, saya tidak bisa berkomentar banyak, karena sednag berada di Jakarta,” ujarnya. Dirinya berjanji akan memberi keterangan kepada wartwan pada Senin depan. Menurutnya, jika dirinya saat ini berkomentar banyak, maka kondisi masing-masing institusi akan tidak kondusif.
Jadi, apakah surat sakti itu benar-benar ada, dengan bukti-bukti yang ada? Pinem tidak membantahnya. “Saya tidak membantah adanya surat itu, tapi tunjukan siapa oknum polisi yang mengatakan adanya surat itu?,” tegasnya. Dirinya mengaku siap berhadapan langsung dengan oknum yang bertanggung jawab memegang surat sakti tersebut.
Ketika ditanyakan, apakah dirinya merasa bertanggung jawab atas surat tersebut, Pinem mengatakan semuanya ada payung hukumnya. “Jangan karena ketidak mengertian masyarakat umum tentang surat itu, semuanya menjadi tidak baik,” kata Pinem.
Terkait dengan hal itu, anggota Komisi C DPRD Kota Jambi mengaku belum mendapatkan penjelasan langsung dari kadishub. M. Zayadi, anggota Komisi C DPRD Kota Jambi mengatakan pihaknya baru mendapat berita tersebut dari media. Namun, segera, pihak dishub akan dimintai keterangan mengenai surat sakti tersebut. “Kita akan segera panggil yang bersangkutan, yakni Poltabes dan Dishub. Namun dari Dishub harus Kadishub langsung yang datang,” tegasnya.
Komisi C juga memberikan peringatan, jika memang terbukti ada surat sakti yang melanggar vaturan, pihaknya akan memberikan rekomendasi kepada Walikta untuk menindak tegas Kadishub. “Kalau memang melanggar aturan, kita akan rekomendasikan kepada Walikoat untuk menindak tegas Kadishub, tentu keputusan ada di tangan walikota melalui pertimbangan beliau,” ujar Zayadi.
Ketika hal ini ditanyakan kepada Sekretari Daerah kota Jambi, Budidaya tidak bersedai berkomentar banyak, karena dirinya mengaku belum berkomunikasi dengan Kadishub mengenai permasalahan ini.
Selanjutnya Zayadi mengatakan, Pemkot melalui Dishub juga harus memperbaiki fasilitas yakni terminal truk agar semua truk yang masuk bisa singgah ke terminal tersebut. “Karena yang merasakan dampaknya kan semua masyarakat Kota Jambi,” tandasnya. (enn).
Senin, 09 Mei 2011
BAYI TERBAKAR
Mengunjungi Korban Kebakaran Di Lingkar Selatan
Anak Bungsunya Tewas Terbakar, Hanya Baju yang Melekat di Badan Tersisa
Rumah kayu berukuran 4x7 meter itu kini hanya tinggal abu, rata dengan tanah. Sabtu lalu, kebakaran naas menghanguskan seisi rumah, tak ada harta yang tersisa, bahkan bayi kecil berumur 1,5 tahun itupun menjadi korban kebakaran yang hanya berlangsung tak lebih dari 30 menit itu. Bagaiamana ihwal kejadian yang sesungguhnya, berikut liputan Jambi Independent bersama keluarga korban.
JENNIFER AGUSTIA, Kota Jambi
Ditemui di rumah tetangganya yang beralamat di Jalan Lingkar Selatan II RT 22, Keluarahan Lingkar Selatan, Kecamatan Jambi Selatan, Mailinda (35) terlihat kuyu dengan matanya yang masih merah. Barangkali dirinya masih belum bisa menerima bahwa anak bungsunya yang bernama Mahdi Dafa Muakhir telah tewas dalam sebuah kebakaran tragis.
Mailinda bercerita kepada Jambi Independent, dirinya tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Yang menjadi beban fikirannya saat ini adalah, dirinya tidak melihat sang putra bungsu sebelum dikuburkan.
Mailinda sebenarnya memiliki enam orang anak. Tiga anak pertamanya berada di Padang untuk sekolah, dan tiga anak terakirnya tinggal bersamanya di Kota Jambi. Pada saat kejadian, Mailinda sedang tidak berada di rumah. Pada pukul 9.00, dirinya berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan pembuat kue. Sedangkan kebakaran terjadi pada pukul 10.00. “Sebelumnya, saya tidak punya firasat apa-apa, ketiga anak saya biasa ditinggal dirumah,” katanya.
Ketiga anaknya yang berada di rumah pada saat itu adalah Gema (6), Gefal (4) dan si bungsu Dafa (1,5). Anak-anak tersebut biasa bermain bersama-sama, dan Gemal selalu menemani Dafa bermain. “Bahkan Gema bisa membuat susu adiknya, kalau Dafa nangis di kasih susu buatan Gema langsung diam,” katanya.
Disnawati, tetangga korban juga membenarkan hal itu. Dirinya yang juga masih famili jauh Dismiyati biasanya selalu mengecek kegiatan ketiga bocah yang sudah dianggapnya anak tersebut, apabila orang tuanya tidak di rumah. Namun yang disesalkannya, adalah sebelum kejadian itu, Gema sempat ingin ikut dengannya, tapi dilarang.
Sambil berlinang air mata, dirinya mengatakan, “Yang jadi penyesalan buat saya, mereka bilang mau ikut mak uwo, tapi saya larang, saya mau pergi meras kelapa. Cuman sebentar, ketika saya kembali api sudah berkobar,” katanya. Dilanjutkannya, seketika itu juga Disnawati langsung berlari mendekati rumah papan yang dilalap api tersebut untuk mencari ketiga bocah itu.
“Saya langsung teriak, dimano kalian???” ungkapanya. Dari kejauhan, katanya, dirinya mendengar suara Gema dan Gefal berteriak. Dirinya mendekati, dan menemukan dua kakak beradik tersebut berdiri bergandengan di sudut agak jauh dari rumah yang terbakar itu. Dirinya mengaku lemas ketika Gema mengatakan, Dafa masih di dalam rumah, “Adek bobok dalam rumah” ungkap Gema saat itu.
Disnawati mengaku seperti kakinya tidak lagi menginjak tanah, karena dengan perasaannya yang bercampur aduk, dirinya berlari mendekati rumah yang terbakar itu. Ketika hendak melangkah masuk menerobos api, dirinya mengkau ditarik seseorang lalu pingsan. “Saat itu, saya berpikir untuk menyelamatkan Dafa, biarlah say yang mati dari pada Dafa. Karena mereka sudah saay anggap seperti anak saya sendiri,” katanya.
Gema dan Gefal, masih terlihat riang di hari ketiga kematian adik bungsu mereka. Layaknya bocah, yang tidak mengenal apa artinya kehilangan. Jambi Independent mencoba mengorek informasi ihwal terjadinya kebakarak di Sabtu pagi itu. Apa yang sedang mereka lalukan, dan dari mana asal api itu?
Tanpa diduga, Gema mengaku bermain korek api di kamar ibunya bersama Gefal, sambil menjaga adiknya yang sedang tertidur pulas. Ketika ditanyakan kenapa rumah bisa terbakar, “Gema main korek, diatas kasur ibu,” katanya. Menurut perkiraan warga, api dari korek tersebutlah yang menjadi penyebab kabakaran. Gema juga mengatakan, korek api itu ditemukannya didekat kompor.
Mailinda ketika ditanya, apakah sudah ikhlas dengan kepergian Dafa? Saat ini meski masih terelihat gurat kesedihan diwajahnya, dengan tegas dia menjawas bahwa kejadian ini sudah menjadi takdir bagi Dafa, “Dia sudah pasti masuk syurga,” kata Linda lirih. Namun diakuinya, saat kejadian, dirinya tak dapat membendung emosinya, kalimat yang terucap dari mulutnya tak bisa dikendalikannya. “Sabtu itu saya ngamuk, mau bunuh siapa saja yang mendekat,” katanya.
Kedepannya, Mailinda hanya ingin kembali membangun rumah diatas tanah yang dibelinya tahun 1997 tersebut. Namun kendalanya adalah biaya, sementatar pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang berprofesi sebagai supir taksi tidak memungkinkan membangun rumah. “Harta yang tertinggal saja hanya baju yang terpasang di badan, saat ini, untng saja ada bantuan yang datang berupa makanan, pakaian, dan kain,” katanya.
Diperkirakan, untuk membangun rumah kayu seperti yang terbakar tersebut, membutuhkan biaya Rp 15 hingga Rp 20 juta. Untuk membantu kebutuhan biaya hidup saja, kata Disnawati, belakangan Linda berjualan kue yang ditaroh di warung-warung, itupun dalam jumlah yang sedikit.
“Ada modal sepuluh tibu, dia belikan bahan kue, terus dititipkan ke warung-warung. Kebetulan kemarin itu ada yang kasih modal seratus ribu, nah dengan uang seratus ribu itu lah dia ke pasar, rencananya buat beli bahan kue yang mau di jual,” kenang Disnawati.
Sementara ini, Linda tinggal di rumah Disnawati entah untuk berapa lama. Yang jelas dalam pikirannya hanya ingin kembali punya rumah. Mengenai rencana membuka usaha lagi, belum terpikirkan olehnya. “Yang jelas saya punya rumah dulu untuk tidur,” tandasnya seraya menerawang keluar jendela.
Anak Bungsunya Tewas Terbakar, Hanya Baju yang Melekat di Badan Tersisa
Rumah kayu berukuran 4x7 meter itu kini hanya tinggal abu, rata dengan tanah. Sabtu lalu, kebakaran naas menghanguskan seisi rumah, tak ada harta yang tersisa, bahkan bayi kecil berumur 1,5 tahun itupun menjadi korban kebakaran yang hanya berlangsung tak lebih dari 30 menit itu. Bagaiamana ihwal kejadian yang sesungguhnya, berikut liputan Jambi Independent bersama keluarga korban.
JENNIFER AGUSTIA, Kota Jambi
Ditemui di rumah tetangganya yang beralamat di Jalan Lingkar Selatan II RT 22, Keluarahan Lingkar Selatan, Kecamatan Jambi Selatan, Mailinda (35) terlihat kuyu dengan matanya yang masih merah. Barangkali dirinya masih belum bisa menerima bahwa anak bungsunya yang bernama Mahdi Dafa Muakhir telah tewas dalam sebuah kebakaran tragis.
Mailinda bercerita kepada Jambi Independent, dirinya tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Yang menjadi beban fikirannya saat ini adalah, dirinya tidak melihat sang putra bungsu sebelum dikuburkan.
Mailinda sebenarnya memiliki enam orang anak. Tiga anak pertamanya berada di Padang untuk sekolah, dan tiga anak terakirnya tinggal bersamanya di Kota Jambi. Pada saat kejadian, Mailinda sedang tidak berada di rumah. Pada pukul 9.00, dirinya berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan pembuat kue. Sedangkan kebakaran terjadi pada pukul 10.00. “Sebelumnya, saya tidak punya firasat apa-apa, ketiga anak saya biasa ditinggal dirumah,” katanya.
Ketiga anaknya yang berada di rumah pada saat itu adalah Gema (6), Gefal (4) dan si bungsu Dafa (1,5). Anak-anak tersebut biasa bermain bersama-sama, dan Gemal selalu menemani Dafa bermain. “Bahkan Gema bisa membuat susu adiknya, kalau Dafa nangis di kasih susu buatan Gema langsung diam,” katanya.
Disnawati, tetangga korban juga membenarkan hal itu. Dirinya yang juga masih famili jauh Dismiyati biasanya selalu mengecek kegiatan ketiga bocah yang sudah dianggapnya anak tersebut, apabila orang tuanya tidak di rumah. Namun yang disesalkannya, adalah sebelum kejadian itu, Gema sempat ingin ikut dengannya, tapi dilarang.
Sambil berlinang air mata, dirinya mengatakan, “Yang jadi penyesalan buat saya, mereka bilang mau ikut mak uwo, tapi saya larang, saya mau pergi meras kelapa. Cuman sebentar, ketika saya kembali api sudah berkobar,” katanya. Dilanjutkannya, seketika itu juga Disnawati langsung berlari mendekati rumah papan yang dilalap api tersebut untuk mencari ketiga bocah itu.
“Saya langsung teriak, dimano kalian???” ungkapanya. Dari kejauhan, katanya, dirinya mendengar suara Gema dan Gefal berteriak. Dirinya mendekati, dan menemukan dua kakak beradik tersebut berdiri bergandengan di sudut agak jauh dari rumah yang terbakar itu. Dirinya mengaku lemas ketika Gema mengatakan, Dafa masih di dalam rumah, “Adek bobok dalam rumah” ungkap Gema saat itu.
Disnawati mengaku seperti kakinya tidak lagi menginjak tanah, karena dengan perasaannya yang bercampur aduk, dirinya berlari mendekati rumah yang terbakar itu. Ketika hendak melangkah masuk menerobos api, dirinya mengkau ditarik seseorang lalu pingsan. “Saat itu, saya berpikir untuk menyelamatkan Dafa, biarlah say yang mati dari pada Dafa. Karena mereka sudah saay anggap seperti anak saya sendiri,” katanya.
Gema dan Gefal, masih terlihat riang di hari ketiga kematian adik bungsu mereka. Layaknya bocah, yang tidak mengenal apa artinya kehilangan. Jambi Independent mencoba mengorek informasi ihwal terjadinya kebakarak di Sabtu pagi itu. Apa yang sedang mereka lalukan, dan dari mana asal api itu?
Tanpa diduga, Gema mengaku bermain korek api di kamar ibunya bersama Gefal, sambil menjaga adiknya yang sedang tertidur pulas. Ketika ditanyakan kenapa rumah bisa terbakar, “Gema main korek, diatas kasur ibu,” katanya. Menurut perkiraan warga, api dari korek tersebutlah yang menjadi penyebab kabakaran. Gema juga mengatakan, korek api itu ditemukannya didekat kompor.
Mailinda ketika ditanya, apakah sudah ikhlas dengan kepergian Dafa? Saat ini meski masih terelihat gurat kesedihan diwajahnya, dengan tegas dia menjawas bahwa kejadian ini sudah menjadi takdir bagi Dafa, “Dia sudah pasti masuk syurga,” kata Linda lirih. Namun diakuinya, saat kejadian, dirinya tak dapat membendung emosinya, kalimat yang terucap dari mulutnya tak bisa dikendalikannya. “Sabtu itu saya ngamuk, mau bunuh siapa saja yang mendekat,” katanya.
Kedepannya, Mailinda hanya ingin kembali membangun rumah diatas tanah yang dibelinya tahun 1997 tersebut. Namun kendalanya adalah biaya, sementatar pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang berprofesi sebagai supir taksi tidak memungkinkan membangun rumah. “Harta yang tertinggal saja hanya baju yang terpasang di badan, saat ini, untng saja ada bantuan yang datang berupa makanan, pakaian, dan kain,” katanya.
Diperkirakan, untuk membangun rumah kayu seperti yang terbakar tersebut, membutuhkan biaya Rp 15 hingga Rp 20 juta. Untuk membantu kebutuhan biaya hidup saja, kata Disnawati, belakangan Linda berjualan kue yang ditaroh di warung-warung, itupun dalam jumlah yang sedikit.
“Ada modal sepuluh tibu, dia belikan bahan kue, terus dititipkan ke warung-warung. Kebetulan kemarin itu ada yang kasih modal seratus ribu, nah dengan uang seratus ribu itu lah dia ke pasar, rencananya buat beli bahan kue yang mau di jual,” kenang Disnawati.
Sementara ini, Linda tinggal di rumah Disnawati entah untuk berapa lama. Yang jelas dalam pikirannya hanya ingin kembali punya rumah. Mengenai rencana membuka usaha lagi, belum terpikirkan olehnya. “Yang jelas saya punya rumah dulu untuk tidur,” tandasnya seraya menerawang keluar jendela.
Rabu, 04 Mei 2011
AMAZONE GA BAYAR PAJAK
PASAR - Wahana permainan anak-anak Amazone The Rain Forest yang berlokasi di lantai empat WTC Batanghari Kota Jambi, kemarin (4/5), didatangi DPRD Kota Jambi. Adalah Komisi A DPRD Kota Jambi yang mendatangi Amazone tersebut.
Menurut Hamid Jufri, Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Jambi, Senin (2/5) lalu, para anggota dewan sudah turun langsung ke Amazone mempertanyakan dokumen-dokumen perizinannya. “Kita datang ke sini, katanya perizinan itu siap hari itu. Nah, hari Selasa (3/5), kita suruh datang ke kantor untuk membawa surat-surat izin yang asli, namun hingga sore kami tunggu, yang bersangkutan tidak datang,” katanya. Atas dasar tersebut, kemarin anggota Komisi A DPRD Kota Jambi mendatangi kembali tempat hiburan anak-anak tersebut.
Pada saat anggota komisi A datang ke Amazone dan masuk ke ruangan manajemen, telah tertempel beberapa surat izin yang telah dibingkai rapi. Anggota dewan langsung memanggil supervisor Amazone untuk segera datang ke lokasi untuk memperlihatkan surat izin yang asli.
Hal yang dipertanyakan dewan adalah surat izin tersebut baru keluar pada April. Sedangkan Amazone sendiri sudah beroperasi semenjak akhir Januari. “Mereka bilang sudah bayar pajak selama dua bulan, sedangkan izinnya saja baru keluar April, berarti ada indikasi pungutan liar di sini, logikanya saja, izin dulu baru bayar pajak,” ungkap Hamid Jufri.
Terkait dengan hal itu, pihak Amazone yang diwakili oleh Yuyun Agus Supriadi, Supervisor Amazone, membantah tuduhan tersebut. Dikatakannya kepada Jambi Independent, pihaknya telah mengurus izin semenjak Februari lalu, namun izin tersebut baru keluar pada April. “Namun kita berani buka Amazone karena sudah diberikan garansi oleh pihak WTC, mereka bilang harus segera dibuka,” katanya.
Dikonfirmasi kepada pihak WTC, Ameng, General Manager WTC Batanghari mengaku hanya memfasilitasi tempat bagi siapa saja yang berniat menyewa. “Kalau ada yang mau nyewa tempat, masak harus kita tolak,” katanya. Diakuinya, pihak mal memang memberikan garansi terhadap setiap penyewanya, namun hanya garansi keamanan. “Kalau masalah gedung, HO, atau Amdal itu baru tanggung jawab kita. Kalau izin bukan ruang lingkup kita,” ungkapnya.
Ketika ditanya, alasan ketidakhadiran Yuyun ketika dipanggil dewan, dirinya menjawab memang sengaja tidak datang. Menurut Yuyun, untuk menghadiri panggilan tersebut harus ada surat panggilan resmi dari dewan, karena dirinya harus membuat surat laporan ke kantor pusat. “Saya memang tidak datang, karena tidak ada surat panggilan resmi, sementara saya harus buat surat juga ke kantor pusat. Atas alasan itu, kantor menyarankan saya untuk tidak datang, karena kami harus jelas panggilan dari instansi mana, keperluannya apa,” katanya.
Yuyun lalu menunjukkan surat izin usaha perdagangan (SIUP) yang sudah keluar pada tanggal 22 Maret yang lalu. Sabriyanto, Kepala Satpol PP Kota Jambi yang juga ikut dalam sidak ini membacakan beberapa surat izin yang dimiliki oleh Amazone. Izin operasional hiburan umum keluar pada tanggal 19 April 2011, SIUP pada tanggal 18 April, TDP pada 13 April, SITU pada tanggal 13 April. “Seharusnya, yang diurus pertama kali adalah izin tempat usaha atau SITU dulu, baru yang lain-lain, kalau kita lihat di sini tidak seperti itu,” ungkap Sabriyanto. Komisi A DPRD Kota Jambi akhirnya mengundang pihak Amazone untuk hadir dalam hearing yang dilaksanakan pada Senin, 9 Mei mendatang.
Menurut Hamid Jufri, Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Jambi, Senin (2/5) lalu, para anggota dewan sudah turun langsung ke Amazone mempertanyakan dokumen-dokumen perizinannya. “Kita datang ke sini, katanya perizinan itu siap hari itu. Nah, hari Selasa (3/5), kita suruh datang ke kantor untuk membawa surat-surat izin yang asli, namun hingga sore kami tunggu, yang bersangkutan tidak datang,” katanya. Atas dasar tersebut, kemarin anggota Komisi A DPRD Kota Jambi mendatangi kembali tempat hiburan anak-anak tersebut.
Pada saat anggota komisi A datang ke Amazone dan masuk ke ruangan manajemen, telah tertempel beberapa surat izin yang telah dibingkai rapi. Anggota dewan langsung memanggil supervisor Amazone untuk segera datang ke lokasi untuk memperlihatkan surat izin yang asli.
Hal yang dipertanyakan dewan adalah surat izin tersebut baru keluar pada April. Sedangkan Amazone sendiri sudah beroperasi semenjak akhir Januari. “Mereka bilang sudah bayar pajak selama dua bulan, sedangkan izinnya saja baru keluar April, berarti ada indikasi pungutan liar di sini, logikanya saja, izin dulu baru bayar pajak,” ungkap Hamid Jufri.
Terkait dengan hal itu, pihak Amazone yang diwakili oleh Yuyun Agus Supriadi, Supervisor Amazone, membantah tuduhan tersebut. Dikatakannya kepada Jambi Independent, pihaknya telah mengurus izin semenjak Februari lalu, namun izin tersebut baru keluar pada April. “Namun kita berani buka Amazone karena sudah diberikan garansi oleh pihak WTC, mereka bilang harus segera dibuka,” katanya.
Dikonfirmasi kepada pihak WTC, Ameng, General Manager WTC Batanghari mengaku hanya memfasilitasi tempat bagi siapa saja yang berniat menyewa. “Kalau ada yang mau nyewa tempat, masak harus kita tolak,” katanya. Diakuinya, pihak mal memang memberikan garansi terhadap setiap penyewanya, namun hanya garansi keamanan. “Kalau masalah gedung, HO, atau Amdal itu baru tanggung jawab kita. Kalau izin bukan ruang lingkup kita,” ungkapnya.
Ketika ditanya, alasan ketidakhadiran Yuyun ketika dipanggil dewan, dirinya menjawab memang sengaja tidak datang. Menurut Yuyun, untuk menghadiri panggilan tersebut harus ada surat panggilan resmi dari dewan, karena dirinya harus membuat surat laporan ke kantor pusat. “Saya memang tidak datang, karena tidak ada surat panggilan resmi, sementara saya harus buat surat juga ke kantor pusat. Atas alasan itu, kantor menyarankan saya untuk tidak datang, karena kami harus jelas panggilan dari instansi mana, keperluannya apa,” katanya.
Yuyun lalu menunjukkan surat izin usaha perdagangan (SIUP) yang sudah keluar pada tanggal 22 Maret yang lalu. Sabriyanto, Kepala Satpol PP Kota Jambi yang juga ikut dalam sidak ini membacakan beberapa surat izin yang dimiliki oleh Amazone. Izin operasional hiburan umum keluar pada tanggal 19 April 2011, SIUP pada tanggal 18 April, TDP pada 13 April, SITU pada tanggal 13 April. “Seharusnya, yang diurus pertama kali adalah izin tempat usaha atau SITU dulu, baru yang lain-lain, kalau kita lihat di sini tidak seperti itu,” ungkap Sabriyanto. Komisi A DPRD Kota Jambi akhirnya mengundang pihak Amazone untuk hadir dalam hearing yang dilaksanakan pada Senin, 9 Mei mendatang.
AIR MATI
KOTABARU – Bagi pelanggan perusahaan daerah air minum (PDAM) yang tinggal di wilayah timur, Pasar, Jelutung, dan Selatan, harus bersiap menghadapi paceklik air selama lima bulan. Ini diberlakukan selama perbaikan serta rehab alat-alat PDAM di beberapa tempat.
“Pembangunan Tengosari di wilayah timur dan rehab benteng tetap berjalan. Hal ini bertujuan untuk perbaikan pelayanan terhadap masyarakat,” terang Firdaus, Direktur Utama PDAM Tirta Mayang, Kota Jambi, kemarin (4/5).
Namun, katanya, untuk melakukan perbaikan-perbaikan tersebut dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan dikhawatirkan akan menganggu pelayanan PDAM terhadap masyarakat. “Seperti perbaikan benteng itu tidak bisa tambal sulam, karena kerusakannya sudah cukup parah dan kronis. Dalam prosesnya, tentu akan mengganggu pelayanan air terhadap masyarakat, air harus dimatikan,” ungkapnya.
Berapa lama air tak beroperasi? Ketika proses perbaikan dilaksanakan, Firdaus mengatakan tidak bisa dalam hitungan hari. “Paling tidak lima bulan air harus mati, mana mau masyarakat dimatikan airnya selama itu, lagian mau dapat air dari mana lagi,” katanya.
Untuk mengatasi hal itu, PDAM akan mengaktifkan kembali menara lama sebagai cadangan serta antisipasi dalam perbaikan benteng tersebut. “Menara lama kita aktifkan kembali, pindahkan produksi ke sana, baru dimatikan sebanyak 50 persen,” katanya. Disebutkannya, dalam perbaikan tersebut sekitar 10 ribu pelanggan akan terganggu, yakni pelanggan yang berada di wilayah Timur, Pasar, Jelutung, dan Selatan.
Pelaksanaan sendiri, disebutkan Firdaus, akan dimulai pada awal 2012 mendatang. “Baru kita perbaiki separuhnya selama enam bulan, kalau keseluruhan kemungkinan akhir 2012 selesai,” katanya. Yang menjadi kendala saat ini adalah persetujuan masyarakat untuk mematikan air. “Apakah mereka mau, dari mana bisa dapat air, namun akan kita koordinasi lagi,” katanya.
Saat ini jumlah pelanggan PDAM Tirta Mayang berjumlah sebanyak 56 ribu. Di tahun 2015 nanti, ditargetkan sudah mencapai 81 ribu pelanggan dengan pelayanan sebanyak 80 persen. “Itu lima tahun yang akan datang,” tandasnya.
“Pembangunan Tengosari di wilayah timur dan rehab benteng tetap berjalan. Hal ini bertujuan untuk perbaikan pelayanan terhadap masyarakat,” terang Firdaus, Direktur Utama PDAM Tirta Mayang, Kota Jambi, kemarin (4/5).
Namun, katanya, untuk melakukan perbaikan-perbaikan tersebut dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan dikhawatirkan akan menganggu pelayanan PDAM terhadap masyarakat. “Seperti perbaikan benteng itu tidak bisa tambal sulam, karena kerusakannya sudah cukup parah dan kronis. Dalam prosesnya, tentu akan mengganggu pelayanan air terhadap masyarakat, air harus dimatikan,” ungkapnya.
Berapa lama air tak beroperasi? Ketika proses perbaikan dilaksanakan, Firdaus mengatakan tidak bisa dalam hitungan hari. “Paling tidak lima bulan air harus mati, mana mau masyarakat dimatikan airnya selama itu, lagian mau dapat air dari mana lagi,” katanya.
Untuk mengatasi hal itu, PDAM akan mengaktifkan kembali menara lama sebagai cadangan serta antisipasi dalam perbaikan benteng tersebut. “Menara lama kita aktifkan kembali, pindahkan produksi ke sana, baru dimatikan sebanyak 50 persen,” katanya. Disebutkannya, dalam perbaikan tersebut sekitar 10 ribu pelanggan akan terganggu, yakni pelanggan yang berada di wilayah Timur, Pasar, Jelutung, dan Selatan.
Pelaksanaan sendiri, disebutkan Firdaus, akan dimulai pada awal 2012 mendatang. “Baru kita perbaiki separuhnya selama enam bulan, kalau keseluruhan kemungkinan akhir 2012 selesai,” katanya. Yang menjadi kendala saat ini adalah persetujuan masyarakat untuk mematikan air. “Apakah mereka mau, dari mana bisa dapat air, namun akan kita koordinasi lagi,” katanya.
Saat ini jumlah pelanggan PDAM Tirta Mayang berjumlah sebanyak 56 ribu. Di tahun 2015 nanti, ditargetkan sudah mencapai 81 ribu pelanggan dengan pelayanan sebanyak 80 persen. “Itu lima tahun yang akan datang,” tandasnya.
Senin, 02 Mei 2011
ULET BULU!!!!
Awas, Ulat Bulu Masuk Kota
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Ini informasi penting yang harus diketahui warga Kota Jambi. Wabah ulat bulu yang belakangan marak menyerang daerah-daerah di Indonesia, ternyata kini sudah masuk ke Kota Jambi. Bahkan, di salah satu RT dalam Kota Jambi, telah terserang ulat-ulat yang membuat gatal pada kulit manusia itu.
Salah seorang ketua RT di Kota Jambi melaporkan keberadaan ulat bulu di kawasan yang dipimpinnya, yakni di Jalan Slamet Riyadi, Lorong Flamboyan, RT 12, No 27, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, kemarin (2/5).
Nila, ketua Rt mengatakan, dirinya baru melihat keberadaan ulat bulu tersebut dua hari lalu. Namun diakuinya, dua minggu yang lalu, dia beserta masyarakat sekitar menemukan banyak kupu-kupu beterbangan di kawasan tersebut.
Ketika ditanyakan berapa jumlah kupu-kupu tersebut, Mila mengatakan sekitar 15 ekor lebih. Ciri-cirinya, kupu-kupu tersebut memiliki warna yang tidak menarik, dan beberapa hari kemudian kupu-kupu tersebut ditemukan mati di daerah itu. “Warnanya hitam bintik-bintik. Dan jumlah tersebut kami pikir sudah tidak wajar lagi,” katanya.
Disebutkan, di bagian bawah pohon ditemukan ulat bulu dalam jumlah yang sangat banyak. “Kalau diperkirakan, bisa mencapai 300 ekor, mengerikan,” ungkapnya.
Ketika ditanyakan apakah ada reaksi gatal-gatal, Nila mengatakan, anak-anaknya mengalami gatal-gatal semenjak dua hari tersebut. “Makanya, anak-anak saya larang dulu mendekati tumbuhan-tumbuhan,” katanya.
Berdasarkan pantauan Jambi Independent, ulat bulu tersebut berdiameter sekitar 5 mm, dengan panjang 3 sampai 5 cm, warna ulat bulu tersebut cokelat tua.
Mendapatkan laporan pertama adanya ulat bulu di Kota Jambi, Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Jambi, mengambil tindakan penyemprotan pada tumbuhan yang dihinggapi ulat bulu tersebut.
“Setelah mendapat laporan itu, kita langsung melakukan penyemprotan insektisida Convidor untuk membasmi kloni ulat bulu itu di lokasi yang dimaksud,” kata Harlik, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kota Jambi.
“Diperkirakan memang ada 300 ekor, namun yang tadi berhasil kita kumpulkan setelah dilakukan penyemprotan sebanyak sekitar 50 ekor,” katanya.
Menurutnya, yang menjadi kendala dalam pembasmian tersebut adalah karena cuaca yang siang kemarin cukup panas. “Kalau panas kan mereka itu naik ke atas pohon. Kalau malam, biasanya mereka turun. Itu yang menjadi kendala kita untuk membasminya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, ulat bulu tersebut mirip dengan yang sering menjadi pemberitaan nasional, dengan nama Limantaria Marginata. Disebutkan, yang diserang oleh ulat bulu saat ini adalah daun mangga yang berada di pekarangan rumah warga. “Saat ini yang diserangnya baru satu pohon. Tapi, pohon yang terancam diserang ada tujuh pohon,” sebutnya.
Setelah dilakukan penyemprotan, ulat bulu dibawa ke laboratorium untuk kemudian diteliti. “Kami imbau kepada warga, jika ada kejadian seperti ini, segera laporkan kepada kami ke nomor 0741-580573. Akan langsung kami tindak lanjuti dengan melakukan penyemprotan,” tambahnya.
Posisi saat ini sudah bisa dikatakan dengan status siaga. Oleh karenanya, warga diimbau untuk berhati-hati. Sementara yang mengakibatkan mewabahnya ulat bulu ini, kata Harlik, adalah faktor cuaca ekstrim. “Bisa dikatakan siaga. Ini akibat dari cuaca ekstrem yang beberapa hari belakangan terjadi. Sehingga, ulat bulu jadi lebih mudah berkembang biak dengan cepat,” tandasnya.(*)
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Ini informasi penting yang harus diketahui warga Kota Jambi. Wabah ulat bulu yang belakangan marak menyerang daerah-daerah di Indonesia, ternyata kini sudah masuk ke Kota Jambi. Bahkan, di salah satu RT dalam Kota Jambi, telah terserang ulat-ulat yang membuat gatal pada kulit manusia itu.
Salah seorang ketua RT di Kota Jambi melaporkan keberadaan ulat bulu di kawasan yang dipimpinnya, yakni di Jalan Slamet Riyadi, Lorong Flamboyan, RT 12, No 27, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, kemarin (2/5).
Nila, ketua Rt mengatakan, dirinya baru melihat keberadaan ulat bulu tersebut dua hari lalu. Namun diakuinya, dua minggu yang lalu, dia beserta masyarakat sekitar menemukan banyak kupu-kupu beterbangan di kawasan tersebut.
Ketika ditanyakan berapa jumlah kupu-kupu tersebut, Mila mengatakan sekitar 15 ekor lebih. Ciri-cirinya, kupu-kupu tersebut memiliki warna yang tidak menarik, dan beberapa hari kemudian kupu-kupu tersebut ditemukan mati di daerah itu. “Warnanya hitam bintik-bintik. Dan jumlah tersebut kami pikir sudah tidak wajar lagi,” katanya.
Disebutkan, di bagian bawah pohon ditemukan ulat bulu dalam jumlah yang sangat banyak. “Kalau diperkirakan, bisa mencapai 300 ekor, mengerikan,” ungkapnya.
Ketika ditanyakan apakah ada reaksi gatal-gatal, Nila mengatakan, anak-anaknya mengalami gatal-gatal semenjak dua hari tersebut. “Makanya, anak-anak saya larang dulu mendekati tumbuhan-tumbuhan,” katanya.
Berdasarkan pantauan Jambi Independent, ulat bulu tersebut berdiameter sekitar 5 mm, dengan panjang 3 sampai 5 cm, warna ulat bulu tersebut cokelat tua.
Mendapatkan laporan pertama adanya ulat bulu di Kota Jambi, Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Jambi, mengambil tindakan penyemprotan pada tumbuhan yang dihinggapi ulat bulu tersebut.
“Setelah mendapat laporan itu, kita langsung melakukan penyemprotan insektisida Convidor untuk membasmi kloni ulat bulu itu di lokasi yang dimaksud,” kata Harlik, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kota Jambi.
“Diperkirakan memang ada 300 ekor, namun yang tadi berhasil kita kumpulkan setelah dilakukan penyemprotan sebanyak sekitar 50 ekor,” katanya.
Menurutnya, yang menjadi kendala dalam pembasmian tersebut adalah karena cuaca yang siang kemarin cukup panas. “Kalau panas kan mereka itu naik ke atas pohon. Kalau malam, biasanya mereka turun. Itu yang menjadi kendala kita untuk membasminya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, ulat bulu tersebut mirip dengan yang sering menjadi pemberitaan nasional, dengan nama Limantaria Marginata. Disebutkan, yang diserang oleh ulat bulu saat ini adalah daun mangga yang berada di pekarangan rumah warga. “Saat ini yang diserangnya baru satu pohon. Tapi, pohon yang terancam diserang ada tujuh pohon,” sebutnya.
Setelah dilakukan penyemprotan, ulat bulu dibawa ke laboratorium untuk kemudian diteliti. “Kami imbau kepada warga, jika ada kejadian seperti ini, segera laporkan kepada kami ke nomor 0741-580573. Akan langsung kami tindak lanjuti dengan melakukan penyemprotan,” tambahnya.
Posisi saat ini sudah bisa dikatakan dengan status siaga. Oleh karenanya, warga diimbau untuk berhati-hati. Sementara yang mengakibatkan mewabahnya ulat bulu ini, kata Harlik, adalah faktor cuaca ekstrim. “Bisa dikatakan siaga. Ini akibat dari cuaca ekstrem yang beberapa hari belakangan terjadi. Sehingga, ulat bulu jadi lebih mudah berkembang biak dengan cepat,” tandasnya.(*)
Rabu, 27 April 2011
KUNCI UN
Kunci UN
Dibagikan
Satpam
Hasil Sidak
Disdik Nihil
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Beredarnya kunci jawaban soal UN SMP di SMPN 7 dan SMPN 17 Selasa (26/4) lalu, membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jambi menggelar razia ke SMPN 7. Kepala Disdik Jumisar turun langsung pada razia yang digelar kemarin (27/4) itu. Tapi, hasil sidak nihil. Faktanya, kunci jawaban masih beredar leluasa di kalangan siswa.
Jumisar yang saat itu didampingi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Jambi Sukarman mengatakan, razia dilakukan untuk memastikan kebenaran kabar tentang beredarnya kunci jawaban soal UN. Namun dalam razia yang dilakukan sebelum UN dimulai tersebut, Disdik tidak menemukan hal-hal yang mengindikasikan adanya kecurangan.
“Melihat pemberitaan pagi ini, Disdik langsung merazia ke sekolah ini, untuk memastikan apakah ada indikasi kecurangan, namun setelah dilakukan razia, kami tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan,” katanya.
Pemberitaan tersebut juga dibantah oleh Kepala SMPN 7 Syahrial Thaib. Disebutkan, pihak sekolah sangat terkejut dengan temuan beredarnya jawaban soal tersebut. “Pengawas juga kaget karena mereka menganggap tidak bertugas dengan baik. Padahal kami diawasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi, Kota, dan Kepolisian,” ungkapnya.
Meski dibantah, toh, bukti kunci UN itu telah didapat awak media, termasuk Jambi Independent. Bukti selebaran kunci jawaban tersebut berbentuk sobekan kertas bertuliskan abdjad A sampai D.
Malah, kemarin, dari pengamatan Jambi Independent pagi sebelum ujian dimulai, di sekitar SMPN 7 terlihat segerombolan siswa sedang membagi-bagikan secarik kertas yang dilansir sebagai jawaban dari soal Ujian Bahasa Inggris yang diujikan. Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Kepala Sekolah, dia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan ulah dari oknum.
Katanya, semua orang bisa saja menyebarkan yang dianggap kunci jawaban, “Kalau kami lihat kopekan bertebaran di pinggir jalan, bisa saja terjadi, karena siapapun bisa membuatnya,” kata Sayhrial.
Ditambahkan, secara pribadi dia berani menjamin tidak ada kecurangan yang terjadi yang disebabkan oleh pihak sekolah. Jika terbukti ada indikasi kecurangan, dirinya akan mengambil tindakan.
“Yang melihat langsung jalannya ujian itu kan hanya pengawas, kepsek saja tidak bisa masuk, jadi bagaimana pihak sekolah bisa membantu siswanya untuk hal-hal yang demikian?” sesal Syahrial.
Syahrial juga mengatakan semua siswa SMPN 7 sudah sangat matang dalam mempersiapkan UN ini, “karena siswa kami dari SD sudah pintar, masuk ke sini juga dengan tes, tidak mungkin terjadi hal seperti itu,” katanya.
Dengan NEM tertinggi, lanjut Sayhrial, sekolah yang dipimpinnya memastikan bahwa kecurangan tersebut tidak pernah dilakukan oleh pihak sekolah, meskipun di luar banyak yang menyebarluaskan jawaban UN tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Jumisar juga membenarkan hal ini, karena dengan adanya sebaran lembar jawaban tersebut, barangkali dapat menghancurkan nama baik sekolah ini. “Oknum inilah yang akan kita selidiki, siapa sebenarnya yang menyebarkan,” ujarnya.
Terpisah, Rudi-sebut saja begitu-, pelajar SMPN 14 Kota Jambi mengatakan mendapat bocoran kunci jawaban dari gurunya langsung. Pada hari pertama UN, dia sempat ditegur oleh sekuriti karena datang telat. Sekuriti pun menyuruh dia untuk bergabung dengan rekannya yang lain yang sudah mendapat kunci jawaban.
Kata Rudi, dia tidak tahu bakal diberi kunci jawaban. Meski isunya sempat terdengar. Bahkan katanya ada temannya beda kelas sudah standby sejak pukul 03.00 dinihari. “Ngapo kau lambat nian, tau dak aku sudah dari jam tigo subuh di siko,” jelas rekannya.
Kunci jawaban yang diterima pada hari pertama dan kedua pelaksanaan UN cukup rapi. Tertulis tangan sesuai paket soal dan sudah difotokopi dalam ukuran kecil. Namun pada hari ketiga kemarin (27/4), kunci jawaban diedarkan dalam bentuk sms. Artinya, siswa harus mencatat sendiri jawaban itu. “Ado jugo kawan tadi yang nekat bawa hape disimpan di legging ketat, untung lolos, Kak,” ujar seorang siswa yang lain kepada Jambi Independent.
Dari pengamatan Jambi Independent di salah satu SMPN kawasan Thehok, siswa yang minta namanya dirahasikan mengaku bahwa kunci jawaban disediakan di sekolah. Siswa itu menambahkan, sebelum pelaksanan ujian dimulai, kunci jawaban telah dibagikan oleh satpam sekolah. Diakuinya, kunci jawaban dibagikan dengan leluasa. ”Pengawasnya kan sibuk main HP dan makan kue,” ujarnya.
Untuk mendapatkan kunci jawaban, para siswa sudah diminta pihak sekolah untuk hadir lebih awal sebelum proses ujian dimulai. Bahkan sebelum pengawas ujian datang, satpam sekolah sudah terlebih dahulu membagikan kunji jawaban yang diyakini siswa kunci jawaban tersebut benar. “Jawaban tu betul semua, tapi tidak kami ikuti semua, takut ketauan,” jelasnya.
Berdasar pengamatan Jambi Independent kemarin (27/4) di sekolah tersebut, memang terlihat pada pukul 6.00, beberapa siswa sudah berada di sekolah. Masing-masing siswa tampak sudah memasuki ruangan Ujian. Di depan pintu masuk sekolah terlihat satpam dan beberapa orang yang diketahui adalah guru di sekolah tersebut berada di pos satpam. Oknum guru itu tampak sedang mengoperasikan laptop.
Ketika pelaksanan ujian berakhir, tak terlihat seorang siswa pun meningalkan sekolah. Salah seorang siswa mengaku mereka belum dibolehkan pulang terlebih dahulu karna masih ada yang akan disampaikan oleh pihak sekolah, “belum boleh pulang sama wakil kepala sekolah,” ujarnya.
Dari pengakuan salah seorang siswa, sebelum siswa diperkenankan pulang, terlebih dahulu dipastikan tidak ada kunci jawaban yang terbawa oleh siswa ke rumah masing.
Dibagikan
Satpam
Hasil Sidak
Disdik Nihil
JENNIFER AGUSTIA, Jambi
Beredarnya kunci jawaban soal UN SMP di SMPN 7 dan SMPN 17 Selasa (26/4) lalu, membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jambi menggelar razia ke SMPN 7. Kepala Disdik Jumisar turun langsung pada razia yang digelar kemarin (27/4) itu. Tapi, hasil sidak nihil. Faktanya, kunci jawaban masih beredar leluasa di kalangan siswa.
Jumisar yang saat itu didampingi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Jambi Sukarman mengatakan, razia dilakukan untuk memastikan kebenaran kabar tentang beredarnya kunci jawaban soal UN. Namun dalam razia yang dilakukan sebelum UN dimulai tersebut, Disdik tidak menemukan hal-hal yang mengindikasikan adanya kecurangan.
“Melihat pemberitaan pagi ini, Disdik langsung merazia ke sekolah ini, untuk memastikan apakah ada indikasi kecurangan, namun setelah dilakukan razia, kami tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan,” katanya.
Pemberitaan tersebut juga dibantah oleh Kepala SMPN 7 Syahrial Thaib. Disebutkan, pihak sekolah sangat terkejut dengan temuan beredarnya jawaban soal tersebut. “Pengawas juga kaget karena mereka menganggap tidak bertugas dengan baik. Padahal kami diawasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi, Kota, dan Kepolisian,” ungkapnya.
Meski dibantah, toh, bukti kunci UN itu telah didapat awak media, termasuk Jambi Independent. Bukti selebaran kunci jawaban tersebut berbentuk sobekan kertas bertuliskan abdjad A sampai D.
Malah, kemarin, dari pengamatan Jambi Independent pagi sebelum ujian dimulai, di sekitar SMPN 7 terlihat segerombolan siswa sedang membagi-bagikan secarik kertas yang dilansir sebagai jawaban dari soal Ujian Bahasa Inggris yang diujikan. Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Kepala Sekolah, dia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan ulah dari oknum.
Katanya, semua orang bisa saja menyebarkan yang dianggap kunci jawaban, “Kalau kami lihat kopekan bertebaran di pinggir jalan, bisa saja terjadi, karena siapapun bisa membuatnya,” kata Sayhrial.
Ditambahkan, secara pribadi dia berani menjamin tidak ada kecurangan yang terjadi yang disebabkan oleh pihak sekolah. Jika terbukti ada indikasi kecurangan, dirinya akan mengambil tindakan.
“Yang melihat langsung jalannya ujian itu kan hanya pengawas, kepsek saja tidak bisa masuk, jadi bagaimana pihak sekolah bisa membantu siswanya untuk hal-hal yang demikian?” sesal Syahrial.
Syahrial juga mengatakan semua siswa SMPN 7 sudah sangat matang dalam mempersiapkan UN ini, “karena siswa kami dari SD sudah pintar, masuk ke sini juga dengan tes, tidak mungkin terjadi hal seperti itu,” katanya.
Dengan NEM tertinggi, lanjut Sayhrial, sekolah yang dipimpinnya memastikan bahwa kecurangan tersebut tidak pernah dilakukan oleh pihak sekolah, meskipun di luar banyak yang menyebarluaskan jawaban UN tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Jumisar juga membenarkan hal ini, karena dengan adanya sebaran lembar jawaban tersebut, barangkali dapat menghancurkan nama baik sekolah ini. “Oknum inilah yang akan kita selidiki, siapa sebenarnya yang menyebarkan,” ujarnya.
Terpisah, Rudi-sebut saja begitu-, pelajar SMPN 14 Kota Jambi mengatakan mendapat bocoran kunci jawaban dari gurunya langsung. Pada hari pertama UN, dia sempat ditegur oleh sekuriti karena datang telat. Sekuriti pun menyuruh dia untuk bergabung dengan rekannya yang lain yang sudah mendapat kunci jawaban.
Kata Rudi, dia tidak tahu bakal diberi kunci jawaban. Meski isunya sempat terdengar. Bahkan katanya ada temannya beda kelas sudah standby sejak pukul 03.00 dinihari. “Ngapo kau lambat nian, tau dak aku sudah dari jam tigo subuh di siko,” jelas rekannya.
Kunci jawaban yang diterima pada hari pertama dan kedua pelaksanaan UN cukup rapi. Tertulis tangan sesuai paket soal dan sudah difotokopi dalam ukuran kecil. Namun pada hari ketiga kemarin (27/4), kunci jawaban diedarkan dalam bentuk sms. Artinya, siswa harus mencatat sendiri jawaban itu. “Ado jugo kawan tadi yang nekat bawa hape disimpan di legging ketat, untung lolos, Kak,” ujar seorang siswa yang lain kepada Jambi Independent.
Dari pengamatan Jambi Independent di salah satu SMPN kawasan Thehok, siswa yang minta namanya dirahasikan mengaku bahwa kunci jawaban disediakan di sekolah. Siswa itu menambahkan, sebelum pelaksanan ujian dimulai, kunci jawaban telah dibagikan oleh satpam sekolah. Diakuinya, kunci jawaban dibagikan dengan leluasa. ”Pengawasnya kan sibuk main HP dan makan kue,” ujarnya.
Untuk mendapatkan kunci jawaban, para siswa sudah diminta pihak sekolah untuk hadir lebih awal sebelum proses ujian dimulai. Bahkan sebelum pengawas ujian datang, satpam sekolah sudah terlebih dahulu membagikan kunji jawaban yang diyakini siswa kunci jawaban tersebut benar. “Jawaban tu betul semua, tapi tidak kami ikuti semua, takut ketauan,” jelasnya.
Berdasar pengamatan Jambi Independent kemarin (27/4) di sekolah tersebut, memang terlihat pada pukul 6.00, beberapa siswa sudah berada di sekolah. Masing-masing siswa tampak sudah memasuki ruangan Ujian. Di depan pintu masuk sekolah terlihat satpam dan beberapa orang yang diketahui adalah guru di sekolah tersebut berada di pos satpam. Oknum guru itu tampak sedang mengoperasikan laptop.
Ketika pelaksanan ujian berakhir, tak terlihat seorang siswa pun meningalkan sekolah. Salah seorang siswa mengaku mereka belum dibolehkan pulang terlebih dahulu karna masih ada yang akan disampaikan oleh pihak sekolah, “belum boleh pulang sama wakil kepala sekolah,” ujarnya.
Dari pengakuan salah seorang siswa, sebelum siswa diperkenankan pulang, terlebih dahulu dipastikan tidak ada kunci jawaban yang terbawa oleh siswa ke rumah masing.
Aktivis Sesalkan Oknum RS
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
JOTHI (Jaringan Orang Terinveksi HIV Indonesia) serta Komisi penanggulangan AIDS Kota Jambi menyesalkan tindakan oknum Rumah skait Raden Mattaher yang membocorkan identitas pasien yang positif terjangkit virus HIV AIDS kepada Masyarakat. Akibatnya, masyarakat menjadi resah dan muncul wacana untuk mengusir yang bersangkutan dari wilayah tempat tinggalnya.
Yuli, Koordinato JOTHI mengatakan bahwa tindakan tersebut sangat bertentangan dengan kode ietik, serta bisa dikatyakan sebagai pelanggaran HAM. “Setelah adanya isu bahwa ada diskriminasi terhadap pengidap HIV ini, kami langsung follow up ke pak RT. Mengapa bisa terjadi seperti ini dan awalnya seperti apa. Rupanya warga tahu dari pihak RSUD. Namun, yang kita pertanyakan, kenapa pihak RSUD membocorkan status pasien,” keluhnya.
Sesuai dengan undang-undang kesehatan yang ada, katanya, kerahasian status penyakit seorang pasien itu harus terjamin dan terjaga oleh pihak rumah sakit. Sebab, hal itu menyangkut privasi dan nama baik seseorang. Disamping itu, juga berkaitan dengan HAM (Hak Azazi Manusia).
“Sebenarnya kan sesuai Undang-undang kesehatan kan ada suatu kerahasiaan pasien yang harus selalu dijaga terkait HAM. Mengapa RSUD membocorkan. Kita kecewa dengan RSUD,” tukasnya.
Menurut Yuli, sebelumnya pihak JOTHI pernah melakukan perembukan dengan pihak RSUD Raden Mattaher dan kesepakatan yang di dapat, pihak RSUD Raden Mattaher berjanji tidak akan membocorkan hal tersebut.
“Hal yang membuat kita bertambah kecewa adalah, waktu kita rembuk dengan RSUD, katanya berita ini tidak akan keluar. Tapi nyatanya berita ini keluar. Apakah mereka tidak melihat dampak kepada pasiennya,” sebutnya.
“Kita kecewa, kok hari gini setelah dana penanggulangan untuk Kota Jambi bahkan Provinsi Jambi begitu banyak mengenai ini, kok masih ada diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV. Apalagi katanya HIV gampang menular, itu tidak benar,” tegasnya.
Menurutnya, RSUD harus bertanggung jawab karena berita mengenai penyakit yang di derita pasiennya sampai keluar. “Karena oknum dari awalnya yang membocorkan dan menyebarkan masalah ini adalah oknum dari pihak RSUD,” tegasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan JOTHI akan mengambil langkah tegas mengenai diskriminasi yang terjadi kepada pengidap virus HIV seperti hal tersebut. “Kita pastinya akan melawan dengan tegas. Dengan hukum juga kita siap dan bahkan nasional. Karena, JOTHI skopnya nasional maka kita kalau ada pelanggaran terhadap orang yang terinfeksi kita akan lawan tegas,” tukasnya.
Dari pengamatan Jambi Independent yang berkunjung ke rumah pasien kemarin (27/4), rumah yang berlokasi di RT 19 Kelurahan Rawasari, Kotabaru, terlihat sepi dan keluarganya juga terlihat sedikit mengurung diri karena persoalan tersebut.
M Hatta, Ketua RT 19 Kelurahan Rawasari, menegaskan, isu tentang niat pengusiran yang dilakukan oleh warga terhadap si pasien masih belum bisa dipastikan. Karena, katanya belum ada warga yang mendatangi rumah tempat tinggal tersebut dan mengusir yang bersangkutan untuk tidak tinggal lagi di sana.
“Saya tidak berani mengusir tetangga saya ini. Saya masih berusaha menahan emosi dari warga agar tidak mengusir warga itu dengan melakukan sosialisasi dengan warga malam besok, melalui kegiatan yasinan rutin,” ungkapnya.
Menurutnya, langkah itu diambil untuk mengajak warga agar tidak mudah percaya dengan isu yang menyebutkan bahwa virus HIV bisa menular dengan mudah. “Itu kita lakukan supaya nenek mamak tuo tengganai di sini tidak menerima isu dari orang bahwa penyakit itu menular. Jangan sampai mengusir warga kita yang menderita, akan kita usahakan,” tegasnya.
JOTHI (Jaringan Orang Terinveksi HIV Indonesia) serta Komisi penanggulangan AIDS Kota Jambi menyesalkan tindakan oknum Rumah skait Raden Mattaher yang membocorkan identitas pasien yang positif terjangkit virus HIV AIDS kepada Masyarakat. Akibatnya, masyarakat menjadi resah dan muncul wacana untuk mengusir yang bersangkutan dari wilayah tempat tinggalnya.
Yuli, Koordinato JOTHI mengatakan bahwa tindakan tersebut sangat bertentangan dengan kode ietik, serta bisa dikatyakan sebagai pelanggaran HAM. “Setelah adanya isu bahwa ada diskriminasi terhadap pengidap HIV ini, kami langsung follow up ke pak RT. Mengapa bisa terjadi seperti ini dan awalnya seperti apa. Rupanya warga tahu dari pihak RSUD. Namun, yang kita pertanyakan, kenapa pihak RSUD membocorkan status pasien,” keluhnya.
Sesuai dengan undang-undang kesehatan yang ada, katanya, kerahasian status penyakit seorang pasien itu harus terjamin dan terjaga oleh pihak rumah sakit. Sebab, hal itu menyangkut privasi dan nama baik seseorang. Disamping itu, juga berkaitan dengan HAM (Hak Azazi Manusia).
“Sebenarnya kan sesuai Undang-undang kesehatan kan ada suatu kerahasiaan pasien yang harus selalu dijaga terkait HAM. Mengapa RSUD membocorkan. Kita kecewa dengan RSUD,” tukasnya.
Menurut Yuli, sebelumnya pihak JOTHI pernah melakukan perembukan dengan pihak RSUD Raden Mattaher dan kesepakatan yang di dapat, pihak RSUD Raden Mattaher berjanji tidak akan membocorkan hal tersebut.
“Hal yang membuat kita bertambah kecewa adalah, waktu kita rembuk dengan RSUD, katanya berita ini tidak akan keluar. Tapi nyatanya berita ini keluar. Apakah mereka tidak melihat dampak kepada pasiennya,” sebutnya.
“Kita kecewa, kok hari gini setelah dana penanggulangan untuk Kota Jambi bahkan Provinsi Jambi begitu banyak mengenai ini, kok masih ada diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV. Apalagi katanya HIV gampang menular, itu tidak benar,” tegasnya.
Menurutnya, RSUD harus bertanggung jawab karena berita mengenai penyakit yang di derita pasiennya sampai keluar. “Karena oknum dari awalnya yang membocorkan dan menyebarkan masalah ini adalah oknum dari pihak RSUD,” tegasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan JOTHI akan mengambil langkah tegas mengenai diskriminasi yang terjadi kepada pengidap virus HIV seperti hal tersebut. “Kita pastinya akan melawan dengan tegas. Dengan hukum juga kita siap dan bahkan nasional. Karena, JOTHI skopnya nasional maka kita kalau ada pelanggaran terhadap orang yang terinfeksi kita akan lawan tegas,” tukasnya.
Dari pengamatan Jambi Independent yang berkunjung ke rumah pasien kemarin (27/4), rumah yang berlokasi di RT 19 Kelurahan Rawasari, Kotabaru, terlihat sepi dan keluarganya juga terlihat sedikit mengurung diri karena persoalan tersebut.
M Hatta, Ketua RT 19 Kelurahan Rawasari, menegaskan, isu tentang niat pengusiran yang dilakukan oleh warga terhadap si pasien masih belum bisa dipastikan. Karena, katanya belum ada warga yang mendatangi rumah tempat tinggal tersebut dan mengusir yang bersangkutan untuk tidak tinggal lagi di sana.
“Saya tidak berani mengusir tetangga saya ini. Saya masih berusaha menahan emosi dari warga agar tidak mengusir warga itu dengan melakukan sosialisasi dengan warga malam besok, melalui kegiatan yasinan rutin,” ungkapnya.
Menurutnya, langkah itu diambil untuk mengajak warga agar tidak mudah percaya dengan isu yang menyebutkan bahwa virus HIV bisa menular dengan mudah. “Itu kita lakukan supaya nenek mamak tuo tengganai di sini tidak menerima isu dari orang bahwa penyakit itu menular. Jangan sampai mengusir warga kita yang menderita, akan kita usahakan,” tegasnya.
Selasa, 26 April 2011
ADA KONGKALIKONG PIHAK SEKOLAH
5 Paket
Jawaban
UN Beredar
Dua Sekolah
Miliki Paket
yang Sama
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Di hari kedua pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP di Kota Jambi, ternyata masih saja beredar kunci jawaban di beberapa sekolah. Kemarin, Jambi Independent berkunjung ke SMPN 7 dan SMPN 17 Kota Jambi. Di dua sekolah itu ditemukan dua kunci jawaban UN yang dikantongi beberapa siswa.
Salah satu siswa di SMPN 7 yang tidak mau disebutkan namanya memperlihatkan kunci jawaban UN untuk semua nomor soal yang diujikan kemarin, Matematika. Hal yang mengagetkan lagi, kunci jawaban tersebut sebanyak lima paket, sesuai dengan jumlah paket soal UN tahun ini. Kelima paket tersebut adalah Paket 12, paket 25, paket 39, paket 46 dan paket 54. Jawaban soal tersebut ditulis dalam selembar kertas. “Kami tulis jawabannya dalam kertas, jawaban itu kami dapat tadi malam lewat SMS,” katanya.
Demikian juga dengan siswa SMPN 17 yang juga mengaku mengantongi kunci jawaban. “Kami catat dalam kertas, dan dibawa ke dalam kelas, kertasnya digulung kecil-kecil,” katanya. Ketika dibandingkan Jambi Independent, kedua lembar jawaban dari dua sekolah tersebut semuanya sama.
Terkait temuan ini, Kepala Dinas Pendidikan Jumisar mengatakan, jawaban soal UN tersebut dipastikan dibuat oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. “Kunci jawaban itu sendiri saat ini masih berada di pusat, bagaimana bisa lihat kuncinya,” kata Jumisar.
Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah mengenai sistem pengawasan yang terkesan lebih longgar dibanding UN beberapa waktu lalu. Menanggapi hal ini, Jumisar juga mengatakan, meski pengawas ujian kali ini tidak lagi didampingi oleh Perguruan Tinggi, namun tetap harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. “Pangawas kan sistemnya silang, bukan guru di sekolah yang berangkutan, dan setiap hari pengawasnya berbeda-beda. Tidak meungkin terjadi kerjasama antara semua pengawas dengan sekolah,” katanya.
Dilanjutkan, pengawas yang berada di dalam kelas juga tidak boleh membaca soal setelah soal tersebut dibagikan kepada siswa. “Jika ada soal berlebih, langsung dimasukkan ke dalam amplop lagi, tidak boleh dibaca sedikitpun,” katanya.
Jika ada pengawas yang melanggar aturan tersebut, maka akan dikenakai sanksi. Sanksi tidak diijinkan untuk menjadi pengawas ujian di tahun-tahun berikutnya, dinilai Jumisar terlalu ringan untuk kasus semacam itu. “Kalau cuma tidak boleh mengawas lagi, itu terlalu ringan. Yang disalahgunakan itu adalah dokumen negara. Kan sudah tertulis di dalam amplopnya, rahasia negara, bisa dipidana kalau ada yang melanggar,” katanya.
Dia juga mengatakan, siswa kembali dihimbau untuk tidak percaya dengan jawabaan yang beredar. “Itu kan spekulatif, semua orang bisa bikin soal. Kalau mereka terlalu percaya, maka resikoanya terlalu besar. Bisa tidak lulus,” tandasnya.
Terkait siswa yang mengikuti UN SMP hari kedua ini, tercatat sebanyak 11 orang yang tidak hadir karena sakit. Dikatakan Sukarman, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Jambi, secara rinci yang tidak hadir itu adalah, siswa SMP Negeri yang sakit sebanyak 5 orang, SMP Swasta 5 orang dan MTs 1 orang.
“Berkurang dari jumlah hari pertama yaitu 13 orang sakit. Sedangkan jumlah DO hari pertama dan kedua tetap sebanyak 122 orang,” tandasnya.(*)
Jawaban
UN Beredar
Dua Sekolah
Miliki Paket
yang Sama
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Di hari kedua pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP di Kota Jambi, ternyata masih saja beredar kunci jawaban di beberapa sekolah. Kemarin, Jambi Independent berkunjung ke SMPN 7 dan SMPN 17 Kota Jambi. Di dua sekolah itu ditemukan dua kunci jawaban UN yang dikantongi beberapa siswa.
Salah satu siswa di SMPN 7 yang tidak mau disebutkan namanya memperlihatkan kunci jawaban UN untuk semua nomor soal yang diujikan kemarin, Matematika. Hal yang mengagetkan lagi, kunci jawaban tersebut sebanyak lima paket, sesuai dengan jumlah paket soal UN tahun ini. Kelima paket tersebut adalah Paket 12, paket 25, paket 39, paket 46 dan paket 54. Jawaban soal tersebut ditulis dalam selembar kertas. “Kami tulis jawabannya dalam kertas, jawaban itu kami dapat tadi malam lewat SMS,” katanya.
Demikian juga dengan siswa SMPN 17 yang juga mengaku mengantongi kunci jawaban. “Kami catat dalam kertas, dan dibawa ke dalam kelas, kertasnya digulung kecil-kecil,” katanya. Ketika dibandingkan Jambi Independent, kedua lembar jawaban dari dua sekolah tersebut semuanya sama.
Terkait temuan ini, Kepala Dinas Pendidikan Jumisar mengatakan, jawaban soal UN tersebut dipastikan dibuat oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. “Kunci jawaban itu sendiri saat ini masih berada di pusat, bagaimana bisa lihat kuncinya,” kata Jumisar.
Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah mengenai sistem pengawasan yang terkesan lebih longgar dibanding UN beberapa waktu lalu. Menanggapi hal ini, Jumisar juga mengatakan, meski pengawas ujian kali ini tidak lagi didampingi oleh Perguruan Tinggi, namun tetap harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. “Pangawas kan sistemnya silang, bukan guru di sekolah yang berangkutan, dan setiap hari pengawasnya berbeda-beda. Tidak meungkin terjadi kerjasama antara semua pengawas dengan sekolah,” katanya.
Dilanjutkan, pengawas yang berada di dalam kelas juga tidak boleh membaca soal setelah soal tersebut dibagikan kepada siswa. “Jika ada soal berlebih, langsung dimasukkan ke dalam amplop lagi, tidak boleh dibaca sedikitpun,” katanya.
Jika ada pengawas yang melanggar aturan tersebut, maka akan dikenakai sanksi. Sanksi tidak diijinkan untuk menjadi pengawas ujian di tahun-tahun berikutnya, dinilai Jumisar terlalu ringan untuk kasus semacam itu. “Kalau cuma tidak boleh mengawas lagi, itu terlalu ringan. Yang disalahgunakan itu adalah dokumen negara. Kan sudah tertulis di dalam amplopnya, rahasia negara, bisa dipidana kalau ada yang melanggar,” katanya.
Dia juga mengatakan, siswa kembali dihimbau untuk tidak percaya dengan jawabaan yang beredar. “Itu kan spekulatif, semua orang bisa bikin soal. Kalau mereka terlalu percaya, maka resikoanya terlalu besar. Bisa tidak lulus,” tandasnya.
Terkait siswa yang mengikuti UN SMP hari kedua ini, tercatat sebanyak 11 orang yang tidak hadir karena sakit. Dikatakan Sukarman, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Jambi, secara rinci yang tidak hadir itu adalah, siswa SMP Negeri yang sakit sebanyak 5 orang, SMP Swasta 5 orang dan MTs 1 orang.
“Berkurang dari jumlah hari pertama yaitu 13 orang sakit. Sedangkan jumlah DO hari pertama dan kedua tetap sebanyak 122 orang,” tandasnya.(*)
Mengunjungi Sang Atlet Sepeda, Muhammad Fijay Z. Divonis Buta Permanen
JENNIFER AGUSTIA, THEHOK
“Mati Kau Jay” begitu teriakan yang didengar Fijay, sesaat setelah darah mengalir lewat matanya di malam naas tersebut. Sekitar jam 22.30 malam minggu (2/4) lalu, ketika dirinya sedang menemani teman perempuannya untuk membeli voucher pulsa isi ulang di kawasan thehok, tepatnya disamping Pempek Selamat, tiga orang yang yang mengendarai satu motor, tiba-tiba mendekat kearahnya dan menebas wajahnya menggunakans sebuah samurai.
Ditemui di kediaman kakaknya, Fizay terlihat terbaring lemah ditempat tidurnya. Dengan mata kiri yang masih ditutup perban, serta beberapa jahitan di alis matanya. Atlet sepeda yang bebebera kali membawa nama Jambi ke tingkat nasional ini, kini hanya bisa terbaring di tempat tidur, sampil sesekali duduk dan ngobrol dengan kakak-kakaknya.
Fizay menceritakan sedikit apa yang dialaminya pada malam minggu, delapan hari yang lalu itu. Ditemani kedua kakak perempuannya yang dengan sabar merawab si adik bungsu.
Terlihat raut agak kecewa diwajah kegdua kakanya. Ketika Jambi Independent bertanya, Zaimar, sang kakak mengatakan bahwa Fizay telah divonis buta permanen. “Dia buta, masa depannya sudah hancur sekarang,” katanya. Bagaimana tidak, sepanjang delapan centimeter luka sabetan samurai membentang di alisnya menembus bola mata, sehingga sangat mustahil penglihatannya akan kembali normal.
Hal yang membuat keluarga juga kecewa adalah pernyataan pihak rumah sakit bahwa merkipun ada donor mata nantinya, tetap tidak akan mengembalikan penglihatan Fijay. Wajah kuyu kakaknya yang lain, Zan, terlihat ketiga kata-kata itu meluncur dari mulutnya. “Itu yang membuat kami kecewa, pupus sudah harapan untuk mengembalikan penglihatan Jay. Meskipun ada donor, karena bola matanya sudah belah, dokter bilang tidak mungkin lagi sembuh ” katanya miris.
Apakah Jay mengenali si pelaku? Dirinya mengaku kenal. Salah seorang dari tiga pelaku tersebut memanggil nama Jay seraya berteriak “Mati Kau Jay” kearahnya, dan jay mengenali suara itu. “Saya kenal siapa dia, meskipun pake helm, suaranya terdengar sangat akrab ditelinga saya, ada dendam pribadi memang dia kepada saya,” katanya. Namun Jay tidak mau menyebutkan nama si pelaku, karena khawatir si pelaku akan melarikan diri.
“Polisi masih belum menangkapnya, kalau saya sebut namanya di koran, dia pasti lari,” kata Jay. Keluarga Jay sendiri juga mengaku kenal dengan keluarga si pelaku. Namun, untuk saat ini belum ada pertemuan antar kelaurga untuk merundingkan penyelesaian kasus ini.
Apakah keluarga Jay sudah mendatangi keluarga si pelaku? Sayangnya hal tersebut belum dilakukan, Zaimar mengatakan, untuk menemui keluarga si pelaku, butuh ada pihak ketiga yang menjembatani. “Seperti Polisi, karena mereka punya data-datanya untuk memberikan tuduhan, kalau kita sendiri yang kesana, bisa-bisa bertengkar hebat,” katanya.
Karena memang, menurut pengakuan keluarga Jay, pelaku hingga saat ini belum ditangkap. Sudah berulang kali pihak keluarga menanyakan perkembangan kasus ini, “Namun polisis tetap saja menyuruh kami sabar, mau sabar sampai kapan? Sedangkan mata adik saya sudah buta permanen,” kata Zaimar.
Diakui Zaimar, saat ini keluarga Jay hanya membutuhkan pertanggung jawaban dari keluarga tersangka untuk biaya pengobatan yang seamakin hari semakin membengkak. Untuk empat hari saja, selama berada di rumah sakit siloam, sudah menghabiskan biaya hampir Rp 11,5 juta. “Itu hanya biaya rumah sakit dan obat, belum lagi biaya-biaya yang tak terduga, sudah habis hampir mencapai 20 juta,” ungkap Zaimar.
Untuk menutupi biaya uyang sebegitu besar, kata Zan, pihak keluarga berhutang sana-sini, “Karena kami memang tidak punya uang lagi untuk mebayar biaya pengobatan, untuk membayar hutang ini saja belum terpikir dapat uang dari mana,” ujarnya sedih. Diakuinya, belum ada bantuan apapun dari pihak manapun untuk masalah pembiayaan.
Sedangkan mengenai tuntutan, pihak Jay menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang. “Yang jelas kami sekarang butuh pertanggung jawaban, biaya pengobatan. Dia sudah mengambil mata adik saya, dan tidak mungkin lagi dikembalikan penglihatannya, harusnya mereka sadar betapa berharganya mata, tidak bisa tergantikan dengan apapun,” ucap Zan.
Kepada Jay sendiri, Jambi Independent sempat bertanya apa yang akan dilakukannya kedepan. Jay mengaku belum memikirkan untuk kembali bersepeda, karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana dirinya bisa sembuh meskipun mustahil mata kirinya itu bisa melihat lagi.
Kesempatannya untuk menjadi seorang polisi kini juga pupus sudah. Karena, seharunya setelah tamat sekolah tahun ini, Jay berpeluang untuk menjaid seorang polisi. Ketika jadi duta lingkungan hidup di Nusa Dua Bali dua tiga tahun lalu, SBY pernah menjanjikan peluang bagi Jay untuk menjadi polisi. “Ketika ketemu SBY dulu, dia janjikan saya jadi polisis setelah tamat sekolah. Data-data sudah ada ditangan kapolri, tapi kini tentu tidak mungkin lagi,” katanya.
Hal lain, yang dipikirkannya adalah untuk mengikuti ujian nasioanl Senin, 18 apriil mendatang. Jay yang bersekolah di SMA Megatama ini mengatakan dirinya tetap ingin mengikuti ujian nasional, namun belum dapat memastikan apakah akan mengikuti ujian sesuai jadwal atau tidak, “Karena mata ini belum boleh kena angin. Saya tunggu kebijakan sekolah, mungkin akan mengikuti ujian susulan,” tandasnya.
“Mati Kau Jay” begitu teriakan yang didengar Fijay, sesaat setelah darah mengalir lewat matanya di malam naas tersebut. Sekitar jam 22.30 malam minggu (2/4) lalu, ketika dirinya sedang menemani teman perempuannya untuk membeli voucher pulsa isi ulang di kawasan thehok, tepatnya disamping Pempek Selamat, tiga orang yang yang mengendarai satu motor, tiba-tiba mendekat kearahnya dan menebas wajahnya menggunakans sebuah samurai.
Ditemui di kediaman kakaknya, Fizay terlihat terbaring lemah ditempat tidurnya. Dengan mata kiri yang masih ditutup perban, serta beberapa jahitan di alis matanya. Atlet sepeda yang bebebera kali membawa nama Jambi ke tingkat nasional ini, kini hanya bisa terbaring di tempat tidur, sampil sesekali duduk dan ngobrol dengan kakak-kakaknya.
Fizay menceritakan sedikit apa yang dialaminya pada malam minggu, delapan hari yang lalu itu. Ditemani kedua kakak perempuannya yang dengan sabar merawab si adik bungsu.
Terlihat raut agak kecewa diwajah kegdua kakanya. Ketika Jambi Independent bertanya, Zaimar, sang kakak mengatakan bahwa Fizay telah divonis buta permanen. “Dia buta, masa depannya sudah hancur sekarang,” katanya. Bagaimana tidak, sepanjang delapan centimeter luka sabetan samurai membentang di alisnya menembus bola mata, sehingga sangat mustahil penglihatannya akan kembali normal.
Hal yang membuat keluarga juga kecewa adalah pernyataan pihak rumah sakit bahwa merkipun ada donor mata nantinya, tetap tidak akan mengembalikan penglihatan Fijay. Wajah kuyu kakaknya yang lain, Zan, terlihat ketiga kata-kata itu meluncur dari mulutnya. “Itu yang membuat kami kecewa, pupus sudah harapan untuk mengembalikan penglihatan Jay. Meskipun ada donor, karena bola matanya sudah belah, dokter bilang tidak mungkin lagi sembuh ” katanya miris.
Apakah Jay mengenali si pelaku? Dirinya mengaku kenal. Salah seorang dari tiga pelaku tersebut memanggil nama Jay seraya berteriak “Mati Kau Jay” kearahnya, dan jay mengenali suara itu. “Saya kenal siapa dia, meskipun pake helm, suaranya terdengar sangat akrab ditelinga saya, ada dendam pribadi memang dia kepada saya,” katanya. Namun Jay tidak mau menyebutkan nama si pelaku, karena khawatir si pelaku akan melarikan diri.
“Polisi masih belum menangkapnya, kalau saya sebut namanya di koran, dia pasti lari,” kata Jay. Keluarga Jay sendiri juga mengaku kenal dengan keluarga si pelaku. Namun, untuk saat ini belum ada pertemuan antar kelaurga untuk merundingkan penyelesaian kasus ini.
Apakah keluarga Jay sudah mendatangi keluarga si pelaku? Sayangnya hal tersebut belum dilakukan, Zaimar mengatakan, untuk menemui keluarga si pelaku, butuh ada pihak ketiga yang menjembatani. “Seperti Polisi, karena mereka punya data-datanya untuk memberikan tuduhan, kalau kita sendiri yang kesana, bisa-bisa bertengkar hebat,” katanya.
Karena memang, menurut pengakuan keluarga Jay, pelaku hingga saat ini belum ditangkap. Sudah berulang kali pihak keluarga menanyakan perkembangan kasus ini, “Namun polisis tetap saja menyuruh kami sabar, mau sabar sampai kapan? Sedangkan mata adik saya sudah buta permanen,” kata Zaimar.
Diakui Zaimar, saat ini keluarga Jay hanya membutuhkan pertanggung jawaban dari keluarga tersangka untuk biaya pengobatan yang seamakin hari semakin membengkak. Untuk empat hari saja, selama berada di rumah sakit siloam, sudah menghabiskan biaya hampir Rp 11,5 juta. “Itu hanya biaya rumah sakit dan obat, belum lagi biaya-biaya yang tak terduga, sudah habis hampir mencapai 20 juta,” ungkap Zaimar.
Untuk menutupi biaya uyang sebegitu besar, kata Zan, pihak keluarga berhutang sana-sini, “Karena kami memang tidak punya uang lagi untuk mebayar biaya pengobatan, untuk membayar hutang ini saja belum terpikir dapat uang dari mana,” ujarnya sedih. Diakuinya, belum ada bantuan apapun dari pihak manapun untuk masalah pembiayaan.
Sedangkan mengenai tuntutan, pihak Jay menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang. “Yang jelas kami sekarang butuh pertanggung jawaban, biaya pengobatan. Dia sudah mengambil mata adik saya, dan tidak mungkin lagi dikembalikan penglihatannya, harusnya mereka sadar betapa berharganya mata, tidak bisa tergantikan dengan apapun,” ucap Zan.
Kepada Jay sendiri, Jambi Independent sempat bertanya apa yang akan dilakukannya kedepan. Jay mengaku belum memikirkan untuk kembali bersepeda, karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana dirinya bisa sembuh meskipun mustahil mata kirinya itu bisa melihat lagi.
Kesempatannya untuk menjadi seorang polisi kini juga pupus sudah. Karena, seharunya setelah tamat sekolah tahun ini, Jay berpeluang untuk menjaid seorang polisi. Ketika jadi duta lingkungan hidup di Nusa Dua Bali dua tiga tahun lalu, SBY pernah menjanjikan peluang bagi Jay untuk menjadi polisi. “Ketika ketemu SBY dulu, dia janjikan saya jadi polisis setelah tamat sekolah. Data-data sudah ada ditangan kapolri, tapi kini tentu tidak mungkin lagi,” katanya.
Hal lain, yang dipikirkannya adalah untuk mengikuti ujian nasioanl Senin, 18 apriil mendatang. Jay yang bersekolah di SMA Megatama ini mengatakan dirinya tetap ingin mengikuti ujian nasional, namun belum dapat memastikan apakah akan mengikuti ujian sesuai jadwal atau tidak, “Karena mata ini belum boleh kena angin. Saya tunggu kebijakan sekolah, mungkin akan mengikuti ujian susulan,” tandasnya.
Jumat, 08 April 2011
GAJI CS
Gaji CS
RS Kota
Belum Dibayar
Menunggak
2 Bulan
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Sudah dua bulan lebih para petugas kebersihan atau cleaning service (CS) di Rumah Sakit Abdul Manaf Kota Jambi belum memperoleh gaji. Seperti diakui oleh salah seorang CS yang tak mau disebutkan namanya kepada Jambi Independent, kemarin (5/3).
Tenaga kebersihan yang ada di RS Abdul Manaf ini, sebenarnya merupakan tenaga outsourcing yang disalurkan oleh CV Mitra Mayang Mandiri. CV ini telah habis masa kontraknya pada akhir tahun 2010 lalu. Disebutkan, sejak kontrak tersebut habis, urusan gaji dilimpahkan ke rumah sakit.
“Ditanya ke CV-nya, mereka bilang gaji kami dua bulan itu sekarang jadi tanggung jawab rumah sakit, tapi sampai saat ini masih belum dibayar,” katanya.
Tenaga kebersihan yang belum menerima gaji bulan Januari dan Februari tersebut berjumlah lebih dari 15 orang. “Tapi mereka tidak mau demo, karena takut nanti dipecat, kasihan juga yang ibu-ibu, kalau dipecat mereka mau kerja apalagi?” katanya.
Namun, saat ini sudah ada CV baru yang mengurus tenaga kebersihan ini, dan para CS dijanjikan akan dibayarkan gajinya pada bulan ini. “Tapi hanya bulan Maret saja, bulan Januari dan Februari tidak. Kami sudah tanya ke rumah sakit, mereka bilang sabar. Bagaimana kami bisa sabar, uang buat makan tidak ada,” katanya.
Ketika ditanyakan berapa gaji para CS ini per bulannya, dia menjawab hanya Rp 500 ribu. Dengan jam kerja lebih dari tujuh jam sehari. “Sudah gaji tidak dibayar, kami juga sering ditekan dalam bekerja. Rumah sakit beralasan, membayar gaji kami berdasarkan SK Wali Kota, tapi belum-belum juga,” ungkapnya.
Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada pihak rumah sakit, Darmawi, Kepala Bagian Tata Usaha RS Abdul Manaf membenarkan bahwa gaji CS Januari dan Februari merupakan tanggung jawab rumah sakit. “Bukannya kami tidak mau bayar, kami juga memikirkan nasib mereka,” katanya.
Disebutkan Damawi, dana dari pemerintah belum masuk pada bulan Januari. “Mereka kan mulai kerja tanpa CV pada bulan Januari, nah pada bulan itu dana belum turun dari pemerintah, baru bulan Maret ini lah dana turun sebesar 583 juta rupiah untuk satu tahun, tapi tetap harus nunggu SK selesai dulu. Pasti akan dibayar,” katanya.
Berbeda dengan apa yang dikatakan salah seorang CS tadi, Darmawi mengatakan, gaji CS tersebut sebesar Rp 600 ribu. Jumlah semua CS adalah 28 orang. “Termasuk satu orang pengawas, mereka bekerja menurut shift,” katanya.
Ketika ditanyakan, kapan tepatnya gaji CS tersebut akan dibayarkan, Darmawi tidak dapat memastikan. “SK wako sedang dalam proses, kemarin itu sudah di ACC, tapi ada kesalahan sedikit pada nomor rekening, jadinya diperbaiki lagi. Kami minta mereka bersabar,” katanya.
Sedangkan untuk gaji bulan Maret ini merupakan tanggung jawab dari CV pemenang tender, yaitu CV Mega Resik. Katanya, CV pemenang tender ini pernah menawarkan pinjaman kepada para CS dengan jumlah dibawah jumlah gaji. “Tapi itu terserah pada CS, mereka mau ambil atau tidak,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai pinjaman ini kepada salah satu CS, dirinya membenarkan. Namun tidak mau menerima pinjaman tersebut, “Jumlah pinjamannya dua ratus ribu, tapi banyak yang tidak ngambil,” katanya.
Perihal penundaan bembayaran gaji ini juga dikomentari oleh Anggota Komisi D DPRD Kota Jambi, Maria Magdalena. Disebutkannya, harus ada pihak ketiga yang menanggulangi permasalahan ini terlebih dahulu. “Kita juga akan panggil pihak rumah sakit, segera kita diagendakan,” tandasnya.(*)
RS Kota
Belum Dibayar
Menunggak
2 Bulan
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Sudah dua bulan lebih para petugas kebersihan atau cleaning service (CS) di Rumah Sakit Abdul Manaf Kota Jambi belum memperoleh gaji. Seperti diakui oleh salah seorang CS yang tak mau disebutkan namanya kepada Jambi Independent, kemarin (5/3).
Tenaga kebersihan yang ada di RS Abdul Manaf ini, sebenarnya merupakan tenaga outsourcing yang disalurkan oleh CV Mitra Mayang Mandiri. CV ini telah habis masa kontraknya pada akhir tahun 2010 lalu. Disebutkan, sejak kontrak tersebut habis, urusan gaji dilimpahkan ke rumah sakit.
“Ditanya ke CV-nya, mereka bilang gaji kami dua bulan itu sekarang jadi tanggung jawab rumah sakit, tapi sampai saat ini masih belum dibayar,” katanya.
Tenaga kebersihan yang belum menerima gaji bulan Januari dan Februari tersebut berjumlah lebih dari 15 orang. “Tapi mereka tidak mau demo, karena takut nanti dipecat, kasihan juga yang ibu-ibu, kalau dipecat mereka mau kerja apalagi?” katanya.
Namun, saat ini sudah ada CV baru yang mengurus tenaga kebersihan ini, dan para CS dijanjikan akan dibayarkan gajinya pada bulan ini. “Tapi hanya bulan Maret saja, bulan Januari dan Februari tidak. Kami sudah tanya ke rumah sakit, mereka bilang sabar. Bagaimana kami bisa sabar, uang buat makan tidak ada,” katanya.
Ketika ditanyakan berapa gaji para CS ini per bulannya, dia menjawab hanya Rp 500 ribu. Dengan jam kerja lebih dari tujuh jam sehari. “Sudah gaji tidak dibayar, kami juga sering ditekan dalam bekerja. Rumah sakit beralasan, membayar gaji kami berdasarkan SK Wali Kota, tapi belum-belum juga,” ungkapnya.
Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada pihak rumah sakit, Darmawi, Kepala Bagian Tata Usaha RS Abdul Manaf membenarkan bahwa gaji CS Januari dan Februari merupakan tanggung jawab rumah sakit. “Bukannya kami tidak mau bayar, kami juga memikirkan nasib mereka,” katanya.
Disebutkan Damawi, dana dari pemerintah belum masuk pada bulan Januari. “Mereka kan mulai kerja tanpa CV pada bulan Januari, nah pada bulan itu dana belum turun dari pemerintah, baru bulan Maret ini lah dana turun sebesar 583 juta rupiah untuk satu tahun, tapi tetap harus nunggu SK selesai dulu. Pasti akan dibayar,” katanya.
Berbeda dengan apa yang dikatakan salah seorang CS tadi, Darmawi mengatakan, gaji CS tersebut sebesar Rp 600 ribu. Jumlah semua CS adalah 28 orang. “Termasuk satu orang pengawas, mereka bekerja menurut shift,” katanya.
Ketika ditanyakan, kapan tepatnya gaji CS tersebut akan dibayarkan, Darmawi tidak dapat memastikan. “SK wako sedang dalam proses, kemarin itu sudah di ACC, tapi ada kesalahan sedikit pada nomor rekening, jadinya diperbaiki lagi. Kami minta mereka bersabar,” katanya.
Sedangkan untuk gaji bulan Maret ini merupakan tanggung jawab dari CV pemenang tender, yaitu CV Mega Resik. Katanya, CV pemenang tender ini pernah menawarkan pinjaman kepada para CS dengan jumlah dibawah jumlah gaji. “Tapi itu terserah pada CS, mereka mau ambil atau tidak,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai pinjaman ini kepada salah satu CS, dirinya membenarkan. Namun tidak mau menerima pinjaman tersebut, “Jumlah pinjamannya dua ratus ribu, tapi banyak yang tidak ngambil,” katanya.
Perihal penundaan bembayaran gaji ini juga dikomentari oleh Anggota Komisi D DPRD Kota Jambi, Maria Magdalena. Disebutkannya, harus ada pihak ketiga yang menanggulangi permasalahan ini terlebih dahulu. “Kita juga akan panggil pihak rumah sakit, segera kita diagendakan,” tandasnya.(*)
Senin, 28 Maret 2011
INVESTIGASI LAGI
Pacaran dengan Laki-laki Beristri
Mungkin tidak ada yang mau hidup sebagai homoseksual atau gay. Begitu juga dengan Robert. Namun, mau apa dikata, garis hidupnya membuat dirinya sebagai laki-laki penyuka laki-laki.
Robert mengaku sudah merasakan tanda-tanda suka kepada sesama jenis dalam dirinya sejak masih duduk di bangku SMP. Ketika itu, kata dia, setiap melihat laki-laki yang menurutnya tampan, darahnya langsung berdesir.
Sampai menginjak bangku SMA, dia baru berani sebatas curi-curi pandang dengan laki-laki tanpa yang ditaksirnya. “Cuma berani lirik-lirik, kalau cakep rasanya darah ini berdesir,” kata pria yang menjabat sebagai Sekretaris Komunitas Gay di Kota Jambi, Male Working Group Jambi (MWGJ) ini.
Pada awalnya, Robert mengaku ada penolakan dalam dirinya terhadap orientasi seksual yang dia miliki. “Pernah juga menyesal, kenapa aku bisa kayak gini, kenapa tidak terlahir dengan orientasi seksual yang sama dengan teman-teman lainnya,” ungkapnya.
Baru pada tahun 2003, dia menerima sepenuhnya kepribadiannya yang berbeda dengan orang lain. Robert menerima bahwa dirinya memang penyuka sesama jenis, dan merasa nyaman bergaul dengan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas ini. “Awalnya nongkrong bareng, eh taunya nyambung, jadinya sering curhat juga,” katanya.
Untuk mendapatkan pasangan, banyak cara yang dilakukan. Seperti ngerumpi, bahkan menjalin hubungan lewat dunia maya. Selama manjalani kehidupannya sebagai gay, Robert sudah beberapa kali berganti pasangan. Namun untuk kekasihnya yang sekarang, Robert sudah menjalaninya selama empat tahun.
Siapa menyangka, kekasih Robert saat ini adalah pria beristri dan juga telah memiliki anak. “Pacar saya sudah beristri. Bahkan saya akrab dengan istrinya, karena istrinya tidak tau kalau si suami berorientasi seksual seperti itu,” jelasnya.
Robert juga mengaku sering berkunjung ke rumah pacarnya itu dan juga akrab dengan dua orang anaknya. “Mereka taunya kami berteman,” kata Robert. Namun, dia tak dapat memungkiri, bahwa suatu saat dirinya ingin menikah dengan seorang wanita. Tiga kali sudah dia hampir menikah, namun Robert tidak menceritakan alasan kenapa pernikahan itu batal.
Apakah masih memiliki rasa terhadap perempuan? “Saya masih selera lihat perempuan,” tegasnya. (enn)
Mungkin tidak ada yang mau hidup sebagai homoseksual atau gay. Begitu juga dengan Robert. Namun, mau apa dikata, garis hidupnya membuat dirinya sebagai laki-laki penyuka laki-laki.
Robert mengaku sudah merasakan tanda-tanda suka kepada sesama jenis dalam dirinya sejak masih duduk di bangku SMP. Ketika itu, kata dia, setiap melihat laki-laki yang menurutnya tampan, darahnya langsung berdesir.
Sampai menginjak bangku SMA, dia baru berani sebatas curi-curi pandang dengan laki-laki tanpa yang ditaksirnya. “Cuma berani lirik-lirik, kalau cakep rasanya darah ini berdesir,” kata pria yang menjabat sebagai Sekretaris Komunitas Gay di Kota Jambi, Male Working Group Jambi (MWGJ) ini.
Pada awalnya, Robert mengaku ada penolakan dalam dirinya terhadap orientasi seksual yang dia miliki. “Pernah juga menyesal, kenapa aku bisa kayak gini, kenapa tidak terlahir dengan orientasi seksual yang sama dengan teman-teman lainnya,” ungkapnya.
Baru pada tahun 2003, dia menerima sepenuhnya kepribadiannya yang berbeda dengan orang lain. Robert menerima bahwa dirinya memang penyuka sesama jenis, dan merasa nyaman bergaul dengan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas ini. “Awalnya nongkrong bareng, eh taunya nyambung, jadinya sering curhat juga,” katanya.
Untuk mendapatkan pasangan, banyak cara yang dilakukan. Seperti ngerumpi, bahkan menjalin hubungan lewat dunia maya. Selama manjalani kehidupannya sebagai gay, Robert sudah beberapa kali berganti pasangan. Namun untuk kekasihnya yang sekarang, Robert sudah menjalaninya selama empat tahun.
Siapa menyangka, kekasih Robert saat ini adalah pria beristri dan juga telah memiliki anak. “Pacar saya sudah beristri. Bahkan saya akrab dengan istrinya, karena istrinya tidak tau kalau si suami berorientasi seksual seperti itu,” jelasnya.
Robert juga mengaku sering berkunjung ke rumah pacarnya itu dan juga akrab dengan dua orang anaknya. “Mereka taunya kami berteman,” kata Robert. Namun, dia tak dapat memungkiri, bahwa suatu saat dirinya ingin menikah dengan seorang wanita. Tiga kali sudah dia hampir menikah, namun Robert tidak menceritakan alasan kenapa pernikahan itu batal.
Apakah masih memiliki rasa terhadap perempuan? “Saya masih selera lihat perempuan,” tegasnya. (enn)
INVESTIGASI
Komunitas Gay di Kota Jambi, Bagaimana Kehidupan Mereka?
Paling Muda SMP, Masih Malu Disebut Homo
Selain waria (wanita pria/banci), jumlah kelompok homoseksual, man sex man atau lelaki suka lelaki (LSL) di Jambi ternyata tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Bagaimana kehidupan mereka? Dan apa saja aktivitas mereka ?
Seperti waria, gay di Kota Jambi juga hidup berkelompok. Bedanya, mereka masih tertutup. Tidak tampil terang-terangan seperti para waria. Sebagian dari mereka menutup diri dari masayarakat lantaran malu diejek. Sebagian lagi tampil dalam watak seorang lelaki normal.
Namun ada juga yang terang-terangan membuka diri, serta menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa dirinya adalah seorang homo atau gay, atau lelaki suka lelaki (LSL). Hal ini lah yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas atau yang mereka sebut sebagai organisasi.
Komunitas gay di Kota Jambi bernama Male Working Group Jambi (MWGJ). Sebagian besar anggotanya merupakan kaum gay di Kota Jambi dan beberapa kabupaten lainnya.
Ketika ditemui di rumahnya, Sekretaris MWGJ, Robert (bukan nama sebenarnya) mengatakan bahwa organisasi ini adalah wadah tempat berkumpulnya para gay untuk berbagi. “Banyak hal yang dibahas. Kita share info mengenai kesehatan, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pencegahan IMS dan HIV/AIDS,” jelasnya.
Menurut Robert, selama ini kaum gay sangat didiskriminasi. Padahal, mereka menginginkan hidup berdampingan secara normal dengan masyarakat. Dia juga menepis anggapan, bahwa gay dekat dengan penyalahgunaan narkotika.
Saat mereka berkumpul, menurut Robert, tidak ada yang menggunakan narkoba, apalagi jadi pencandu. Karena, jika ada, maka tugas teman-temannya lah sebagai sahabat memberikan pengertian mengenai bahaya narkoba.
Robert menjelaskan, MWGJ terbentuk tahun 2010 lalu. Tapi, sebelumnya para gay di Kota Jambi sudah ngumpul-ngumpul semenjak tahun 1995. Banyak hal yang mereka bicarakan. Salah satunya mengenai pria-pria temuan mereka di lapangan.
Lalu, apa saja kegiatan MWGJ? Robert menceritakan banyak hal positif yang mereka lakukan bersama. “Kadang-kadang kami ngumpul buat makan-makan, bakar ikan, atau karaoke bareng. Selain itu, kita juga adakan penyuluhan mengenai penyakit menular,” katanya.
Namun, dia melanjutkan, bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegitan-kegiatan tersebut tidak selalu sama. Karena masih bayak yang tidak berminat mengikuti kegiatan semacam penyuluhan. “Kalau acaranya senang-senang, seperti maka-makan, jalan-jalan, itu rame yang datang. Tapi kalau udah judulnya penyuluhan, yang datang cuma dikit,” ceritanya.
Untuk mensiasati hal itu, belakangan mereka penyelipkan kegiatan-kegiatan serius pada kegiatan senang-senang mereka. Robert mencontohkan, jika ada acara makan-makan atau jalan-jalan, diselingin dengan penyuluhan mengenai HIV/AIDS dan pembagian buku. “Jadi, senang-senangnya dapet, ilmunya juga dapet,” ujarnya.
Untuk mengadakan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, Robert mengaku biayanya berasal dari swadaya anggota. Ketika ditanyakan berapa jumlah anggota MWGJ, Robert tidak bisa menyebutkan secara pasti. “Karena banyak yang datang, banyak pula yang pergi dan tidak muncul-muncul lagi lantaran bekerja di luar kota,” katanya.
Apakah anggota MWGJ ada yang pasangan kekasih? Tentu saja ada. Diceritakan Robert, banyak kisah yang mereka buat selama berada dalam organisasi ini. Ada pasangan kekasih, ada juga yang menjalani hubungan tanpa status. “Kalo yang tanpa status, mereka hari ini jalan, besoknya ganti pasangan lagi. Eh besoknya jalan lagi, begitulah kehidupan para gay,” katanya.
Lain lagi dengan pasangan kekasih. Menurut dia, beberapa di antara mereka sangat cemburuan. Banyak pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi, lantaran sang pacar cemburu kalau cowoknya melirik cowok lain. “Ada juga yang cemburu karena menggaet cowok yang sama. Tapi tidak sampai musuhan, sebentar juga baikan lagi. Cari lagi cowok yang lain,” katanya.
Banyak kejadian lucu yang terjadi antara anggota kelompok gay tersebut. Ada yang musuhan gara-gara dianggap memakan teman sendiri. “Lantaran teman curhatnya menggaet cowok yang ditaksirnya,” kenang Robert.
Lalu, biasanya berapa lama hubungan sepasang kekasih gay bisa bertahan? Menurut Robert, berdasarkan pengalamannya dalam organisasi ini paling cepat satu pekan. “Ya.. mereka tidak cocok, dan telah menemukan pengganti masing-masing. Dijalani saja,” katanya. Namun ada juga yang telah menjalani hubungan sesama jenis ini selama bertahun-tahun setia pada satu pria.
Robert juga mengungkapkan, bahwa kalangan gay di Jambi terdiri dari berbagai status dan pekerjaan. Yang paling muda, menurut dia, ada yang masih kelas tiga SMP. Namun, kata Robert, mereka tidak selalu berkumpul di sekretariat MWGJ, karena orientasi mereka adalah uang.
“Kalau anak-anak sekolah itu jarang banget yang ikut kegiatan-kegiatan penyuluhan. Mereka datang minta dicarikan pria-pria yang bisa ngasih mereka duit. Ya dengan imbalan mereka harus melayani nafsu pria yang membayar itu,” jelasnya.
Menariknya, menurut Robert, kalangan gay yang masih ABG (anak baru gede) itu bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Mereka cuma ingin punya duit jajan lebih, terus bisa gonta-ganti hape (HP) yang canggih, itu saja,” katanya.(een)
Paling Muda SMP, Masih Malu Disebut Homo
Selain waria (wanita pria/banci), jumlah kelompok homoseksual, man sex man atau lelaki suka lelaki (LSL) di Jambi ternyata tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Bagaimana kehidupan mereka? Dan apa saja aktivitas mereka ?
Seperti waria, gay di Kota Jambi juga hidup berkelompok. Bedanya, mereka masih tertutup. Tidak tampil terang-terangan seperti para waria. Sebagian dari mereka menutup diri dari masayarakat lantaran malu diejek. Sebagian lagi tampil dalam watak seorang lelaki normal.
Namun ada juga yang terang-terangan membuka diri, serta menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa dirinya adalah seorang homo atau gay, atau lelaki suka lelaki (LSL). Hal ini lah yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas atau yang mereka sebut sebagai organisasi.
Komunitas gay di Kota Jambi bernama Male Working Group Jambi (MWGJ). Sebagian besar anggotanya merupakan kaum gay di Kota Jambi dan beberapa kabupaten lainnya.
Ketika ditemui di rumahnya, Sekretaris MWGJ, Robert (bukan nama sebenarnya) mengatakan bahwa organisasi ini adalah wadah tempat berkumpulnya para gay untuk berbagi. “Banyak hal yang dibahas. Kita share info mengenai kesehatan, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pencegahan IMS dan HIV/AIDS,” jelasnya.
Menurut Robert, selama ini kaum gay sangat didiskriminasi. Padahal, mereka menginginkan hidup berdampingan secara normal dengan masyarakat. Dia juga menepis anggapan, bahwa gay dekat dengan penyalahgunaan narkotika.
Saat mereka berkumpul, menurut Robert, tidak ada yang menggunakan narkoba, apalagi jadi pencandu. Karena, jika ada, maka tugas teman-temannya lah sebagai sahabat memberikan pengertian mengenai bahaya narkoba.
Robert menjelaskan, MWGJ terbentuk tahun 2010 lalu. Tapi, sebelumnya para gay di Kota Jambi sudah ngumpul-ngumpul semenjak tahun 1995. Banyak hal yang mereka bicarakan. Salah satunya mengenai pria-pria temuan mereka di lapangan.
Lalu, apa saja kegiatan MWGJ? Robert menceritakan banyak hal positif yang mereka lakukan bersama. “Kadang-kadang kami ngumpul buat makan-makan, bakar ikan, atau karaoke bareng. Selain itu, kita juga adakan penyuluhan mengenai penyakit menular,” katanya.
Namun, dia melanjutkan, bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegitan-kegiatan tersebut tidak selalu sama. Karena masih bayak yang tidak berminat mengikuti kegiatan semacam penyuluhan. “Kalau acaranya senang-senang, seperti maka-makan, jalan-jalan, itu rame yang datang. Tapi kalau udah judulnya penyuluhan, yang datang cuma dikit,” ceritanya.
Untuk mensiasati hal itu, belakangan mereka penyelipkan kegiatan-kegiatan serius pada kegiatan senang-senang mereka. Robert mencontohkan, jika ada acara makan-makan atau jalan-jalan, diselingin dengan penyuluhan mengenai HIV/AIDS dan pembagian buku. “Jadi, senang-senangnya dapet, ilmunya juga dapet,” ujarnya.
Untuk mengadakan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, Robert mengaku biayanya berasal dari swadaya anggota. Ketika ditanyakan berapa jumlah anggota MWGJ, Robert tidak bisa menyebutkan secara pasti. “Karena banyak yang datang, banyak pula yang pergi dan tidak muncul-muncul lagi lantaran bekerja di luar kota,” katanya.
Apakah anggota MWGJ ada yang pasangan kekasih? Tentu saja ada. Diceritakan Robert, banyak kisah yang mereka buat selama berada dalam organisasi ini. Ada pasangan kekasih, ada juga yang menjalani hubungan tanpa status. “Kalo yang tanpa status, mereka hari ini jalan, besoknya ganti pasangan lagi. Eh besoknya jalan lagi, begitulah kehidupan para gay,” katanya.
Lain lagi dengan pasangan kekasih. Menurut dia, beberapa di antara mereka sangat cemburuan. Banyak pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi, lantaran sang pacar cemburu kalau cowoknya melirik cowok lain. “Ada juga yang cemburu karena menggaet cowok yang sama. Tapi tidak sampai musuhan, sebentar juga baikan lagi. Cari lagi cowok yang lain,” katanya.
Banyak kejadian lucu yang terjadi antara anggota kelompok gay tersebut. Ada yang musuhan gara-gara dianggap memakan teman sendiri. “Lantaran teman curhatnya menggaet cowok yang ditaksirnya,” kenang Robert.
Lalu, biasanya berapa lama hubungan sepasang kekasih gay bisa bertahan? Menurut Robert, berdasarkan pengalamannya dalam organisasi ini paling cepat satu pekan. “Ya.. mereka tidak cocok, dan telah menemukan pengganti masing-masing. Dijalani saja,” katanya. Namun ada juga yang telah menjalani hubungan sesama jenis ini selama bertahun-tahun setia pada satu pria.
Robert juga mengungkapkan, bahwa kalangan gay di Jambi terdiri dari berbagai status dan pekerjaan. Yang paling muda, menurut dia, ada yang masih kelas tiga SMP. Namun, kata Robert, mereka tidak selalu berkumpul di sekretariat MWGJ, karena orientasi mereka adalah uang.
“Kalau anak-anak sekolah itu jarang banget yang ikut kegiatan-kegiatan penyuluhan. Mereka datang minta dicarikan pria-pria yang bisa ngasih mereka duit. Ya dengan imbalan mereka harus melayani nafsu pria yang membayar itu,” jelasnya.
Menariknya, menurut Robert, kalangan gay yang masih ABG (anak baru gede) itu bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Mereka cuma ingin punya duit jajan lebih, terus bisa gonta-ganti hape (HP) yang canggih, itu saja,” katanya.(een)
Razia Dilaksanakan Mei
KOTABARU – Terkait dengan perda baru mengenai minuman beralkohol (minol), yang disahkan pada akhir tahun 2010 yang lalu, dinas perindustrian dan perdagangan Kota Jambi saat ini belum melakukan razia-razia ke tempat-tempat dimana minol biasanya dijual. Hal ini dikatakn oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi Izhar Muzani.
Disebutkannya, masyarakat perlu diberikan sosialisasi terlebih dahulu sebelum razia diadakan. “Jadi tidak ada alsan nantinya kita razia, mereka bilang belum tau ada aturan seperti itu,” ungkapnya. Perda yang mengatur jenis minuman apa saja terkait dengan kadar alkohol di dalamnya serta tempat-tempat yang diijinkan untuk menjualnya tersebut baru disahkan pada Desember 2010 lalu. Dengan alasan itulah, hingga saat ini, belum dilaksanakan sidak.
Menurut Azhar, razia ataupun sidak selambat-lambatnya akan dilaksanakan mulai dari bulan Mei mendatang. Karena, katanya butuh waktu untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat luas. “Paling lambat, Mei kita sudah turun ke lapangan, dibantu oleh pihak-pihak terkait, salah satunya Satpol PP,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai perizinan menjual minol, pada tahun 2011 ini belum ada yang mengurus ijin. “Yang tahun ini belum ada yang ngurus ijin, barangkali karena perda baru ini belum tersosialisasi secara merata,” katanya.
Ditahun 2010 lalu, para penjual telah menagntongi surat ijin menjual miol. Namun, kata Izhar, hanya tempat-tempat tertentu saja yang mengurus surat ijin. “Hanya tempat-tempat tertentu saja yang jelas-jelas di dalamnya tersedia minuman beralkohol, seperti club, hotel, dan sejenisnya,” katanya. Pedagang-pedagang di pinggir jalan, katanya tidak mengurus surat ijin.
Ketika ditanyakan mengenai ijin beredarnya minol Cap Macan, Izhar menyatakan hal itu tdak ada sangkut pautnya dengan Disperindag Kota Jambi. Katanya, izin beredarnya Cap Macam keluar dari Departemen Perdagangan pusat. “Kan subdistributornya dari Departemen Perdagangan pusat,” katanya. Karena memang, banyak kalangan yang memprotes beredarnya minuman keras dengan kadar alkohol 14 persen tersebut.
Yang jelas, kata Izhar, minuman beralkohol golongan B tidak boleh beredar di tempat-tempat umum. “Termasuk Cap Macan yang termasuk ke dalam golongan B,” katanya.
Ketika ditanyakan kepada kepala Satpol PP Sabrianto mengenai sidak yang akan dilakukan bersama Disperindag, dirinya mangatakan akan memeriksa secara teliti minuman-minuman apa saja yang diijinkan beredar di tempat-tempat tersebut. “Jangan sampai izinnya apa, terus minumannya yang dijual beda dengan izin yang dikantongi,” tandasnya.(enn)
KOTABARU – Terkait dengan perda baru mengenai minuman beralkohol (minol), yang disahkan pada akhir tahun 2010 yang lalu, dinas perindustrian dan perdagangan Kota Jambi saat ini belum melakukan razia-razia ke tempat-tempat dimana minol biasanya dijual. Hal ini dikatakn oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi Izhar Muzani.
Disebutkannya, masyarakat perlu diberikan sosialisasi terlebih dahulu sebelum razia diadakan. “Jadi tidak ada alsan nantinya kita razia, mereka bilang belum tau ada aturan seperti itu,” ungkapnya. Perda yang mengatur jenis minuman apa saja terkait dengan kadar alkohol di dalamnya serta tempat-tempat yang diijinkan untuk menjualnya tersebut baru disahkan pada Desember 2010 lalu. Dengan alasan itulah, hingga saat ini, belum dilaksanakan sidak.
Menurut Azhar, razia ataupun sidak selambat-lambatnya akan dilaksanakan mulai dari bulan Mei mendatang. Karena, katanya butuh waktu untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat luas. “Paling lambat, Mei kita sudah turun ke lapangan, dibantu oleh pihak-pihak terkait, salah satunya Satpol PP,” katanya.
Ketika ditanyakan mengenai perizinan menjual minol, pada tahun 2011 ini belum ada yang mengurus ijin. “Yang tahun ini belum ada yang ngurus ijin, barangkali karena perda baru ini belum tersosialisasi secara merata,” katanya.
Ditahun 2010 lalu, para penjual telah menagntongi surat ijin menjual miol. Namun, kata Izhar, hanya tempat-tempat tertentu saja yang mengurus surat ijin. “Hanya tempat-tempat tertentu saja yang jelas-jelas di dalamnya tersedia minuman beralkohol, seperti club, hotel, dan sejenisnya,” katanya. Pedagang-pedagang di pinggir jalan, katanya tidak mengurus surat ijin.
Ketika ditanyakan mengenai ijin beredarnya minol Cap Macan, Izhar menyatakan hal itu tdak ada sangkut pautnya dengan Disperindag Kota Jambi. Katanya, izin beredarnya Cap Macam keluar dari Departemen Perdagangan pusat. “Kan subdistributornya dari Departemen Perdagangan pusat,” katanya. Karena memang, banyak kalangan yang memprotes beredarnya minuman keras dengan kadar alkohol 14 persen tersebut.
Yang jelas, kata Izhar, minuman beralkohol golongan B tidak boleh beredar di tempat-tempat umum. “Termasuk Cap Macan yang termasuk ke dalam golongan B,” katanya.
Ketika ditanyakan kepada kepala Satpol PP Sabrianto mengenai sidak yang akan dilakukan bersama Disperindag, dirinya mangatakan akan memeriksa secara teliti minuman-minuman apa saja yang diijinkan beredar di tempat-tempat tersebut. “Jangan sampai izinnya apa, terus minumannya yang dijual beda dengan izin yang dikantongi,” tandasnya.(enn)
Rabu, 23 Maret 2011
GAS... ELPIJI... GAS...
Kualitas Kompor Gas Diragukan
KOTABARU-Kualitas kompor gas yang disediakan Pertamina untuk dibagikan kepada masyarakat, diragukan kualitasnya. Meski sudah berlogo SNI, keraguan tetap muncul karena bahan kompor yang terlalu tipis, serta bahan tungku yang juga tipis. Kompor ini digunakan oleh pihak Pertamina serta konsultan beberapa waktu lalu.
Pihak Pertamina membantah. Soldag, utusan Pertamina menjelaskan, kompor itu bisa tahan hidup selama sepuluh jam. Namun tidak dijelaskannya berapa berat maksimalnya, dan hingga berapa lama kompor ini bisa dikatakan masih layak pakai.
Disebutkan Sekretaris Daerah Kota Jambi Budidaya, kualitas kompor harus bagus, sehingga masyarakat bisa menggunakannya tanpa rasa khawatir. Seandainya masyarakat tidak yakin dengan kompor ini, maka mereka tidak akan menggunakannya. “Namun masyarakat tetap menerima pembagian kompor tersebut lantaran gratis, kami tidak bagikan kompor untuk dibuang, tapi untuk dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat,” ungkapnya.
Sekda sendiri agak meragukan kualitas kompor bertungku satu tersebut. Katanya, masyarakat tentu juga ragu untuk menggunakannya. “Jangankan bahan seng yang tipis itu, besi saja dibakar beberapa lama pasti akan melunak, apalagi dengan ahan seperti ini,” ungkap Budidaya, kemarin (21/3).
Dikatakan, kompor berbahan seperti itu pasti ada kapasitas maksimalnya, namun pihak Pertamina tidak menjelaskan secara pasti. “Tidak mungkin kompor itu bisa mengangkat beban yang sangat berat, seperti membuat rendang, namun mereka tidak menjelaskan,” katanya.
Ditambahkan, kemungkinan harus ada aksesoris tambahan untuk mengangkat beban berat. “Apakah Pertamina yang menyediakan, atau masyarakat beli sendiri, itu yang harus dijelaskan oleh Pertamina dan konsultan dalam sosialisasi, agar masyarakat yakin menggunakan kompor itu,” katanya.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi yang berperan sebagai pengawas, saat ditanyakan mengenai kompor gas itu mengaku akan melakukan pengecekan lagi. “Dalam waktu dekat kami akan lakukan pengecekan,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jambi Izhar Muzani.
Ditambahkan, pengecekan sudah pernah dilakukan, namun tidak secara keseluruhan. “Tidak mungkin dicek satu-satu, karena butuh tenaga yang banyak, sedangkan tenaga kami di sini kurang,” ungkapnya.
Dilanjutkan, jika barang tersebut terlalu lama disimpan di gudang, kemungkinan bisa saja terjadi kerusakan. Ketika ditanyakan berapa lama masa berfungsinya serta berat maksimal yang bisa diangkat kompor, Izhar tidak bisa menyebutkan secara pasti. Begitu juga ketika ditanyakan mengenai kriteria kompor sehingga bisa mendapatkan SNI, Izhar mengaku tidak hapal, “Saya juga tidak bawa kriterianya sekarang,” ungkapnya.
Selanjutnya, ditanyakan kapan akan dilakukan pengecekkan, dia juga tidak bisa memastikan. “Yang jelas secepatnya, sesuai peran kami. Nanti sama-sama kita cek, saya akan informasikan nanti,” tandasnya.(enn)
KOTABARU-Kualitas kompor gas yang disediakan Pertamina untuk dibagikan kepada masyarakat, diragukan kualitasnya. Meski sudah berlogo SNI, keraguan tetap muncul karena bahan kompor yang terlalu tipis, serta bahan tungku yang juga tipis. Kompor ini digunakan oleh pihak Pertamina serta konsultan beberapa waktu lalu.
Pihak Pertamina membantah. Soldag, utusan Pertamina menjelaskan, kompor itu bisa tahan hidup selama sepuluh jam. Namun tidak dijelaskannya berapa berat maksimalnya, dan hingga berapa lama kompor ini bisa dikatakan masih layak pakai.
Disebutkan Sekretaris Daerah Kota Jambi Budidaya, kualitas kompor harus bagus, sehingga masyarakat bisa menggunakannya tanpa rasa khawatir. Seandainya masyarakat tidak yakin dengan kompor ini, maka mereka tidak akan menggunakannya. “Namun masyarakat tetap menerima pembagian kompor tersebut lantaran gratis, kami tidak bagikan kompor untuk dibuang, tapi untuk dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat,” ungkapnya.
Sekda sendiri agak meragukan kualitas kompor bertungku satu tersebut. Katanya, masyarakat tentu juga ragu untuk menggunakannya. “Jangankan bahan seng yang tipis itu, besi saja dibakar beberapa lama pasti akan melunak, apalagi dengan ahan seperti ini,” ungkap Budidaya, kemarin (21/3).
Dikatakan, kompor berbahan seperti itu pasti ada kapasitas maksimalnya, namun pihak Pertamina tidak menjelaskan secara pasti. “Tidak mungkin kompor itu bisa mengangkat beban yang sangat berat, seperti membuat rendang, namun mereka tidak menjelaskan,” katanya.
Ditambahkan, kemungkinan harus ada aksesoris tambahan untuk mengangkat beban berat. “Apakah Pertamina yang menyediakan, atau masyarakat beli sendiri, itu yang harus dijelaskan oleh Pertamina dan konsultan dalam sosialisasi, agar masyarakat yakin menggunakan kompor itu,” katanya.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi yang berperan sebagai pengawas, saat ditanyakan mengenai kompor gas itu mengaku akan melakukan pengecekan lagi. “Dalam waktu dekat kami akan lakukan pengecekan,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jambi Izhar Muzani.
Ditambahkan, pengecekan sudah pernah dilakukan, namun tidak secara keseluruhan. “Tidak mungkin dicek satu-satu, karena butuh tenaga yang banyak, sedangkan tenaga kami di sini kurang,” ungkapnya.
Dilanjutkan, jika barang tersebut terlalu lama disimpan di gudang, kemungkinan bisa saja terjadi kerusakan. Ketika ditanyakan berapa lama masa berfungsinya serta berat maksimal yang bisa diangkat kompor, Izhar tidak bisa menyebutkan secara pasti. Begitu juga ketika ditanyakan mengenai kriteria kompor sehingga bisa mendapatkan SNI, Izhar mengaku tidak hapal, “Saya juga tidak bawa kriterianya sekarang,” ungkapnya.
Selanjutnya, ditanyakan kapan akan dilakukan pengecekkan, dia juga tidak bisa memastikan. “Yang jelas secepatnya, sesuai peran kami. Nanti sama-sama kita cek, saya akan informasikan nanti,” tandasnya.(enn)
Dewan Ikut Meragukan
Kompor Gratis
Konversi Minyak
Tanah ke Gas
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Diragukannya kualitas kompor gas yang akan didistribusikan kepada masyarakat Kota Jambi, turut dirasa anggota DPRD Kota Jambi. Sama halnya dengan kekhawatiran berbagai pihak beberapa waktu lalu, anggota dewan juga menyatakan keraguannya terhadap bahan pembuat kompor gas yang tipis tersebut. Sehingga dinilai tidak layak digunakan meskipun sudah berlabel SNI.
Disampaikan anggota Komisi B DPRD Kota Jambi Fuad Safari kemarin (22/3), kalau memang kompor tersebut tidak layak, distribusi tidak perlu dipaksakan. “Kalau tidak sesuai, jangan dipaksakan,” katanya.
Disebutkan, DPRD Kota Jambi juga tidak bisa menyatakan apakah kompor tersebut sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan SNI atau tidak, “kami tidak punya daftar apa-apa saja syarat dan kriterianya,” ungkapnya.
Yang jelas, kata Fuad, semua pihak yang terkait harus proaktif dalam menangani hal ini. Disampaikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) harus turun ke lapangan dan mengecek langsung. Jika ditemukan sesuatu yang tidak sesuai, harus dilaporkan. “Pertamina juga jangan lepas tangan. Mentang-mentang kompor itu sudah bertaraf SNI, langsung dibagikan. Nyawa warga jadi taruhannya. Jangan nyawa warga disamakan dengan tabung kiloan, itulah istilah kasarnya,” tukasnya. Karena menurutnya, program ini memang berisiko.
Selain pemerintah, dia juga menghimbau, agar masyarakat juga ikut serta mengawasi pendistribusian kompor tersebut. “Masyarakat, sebaiknya juga ikut berperan untuk mengawasi berjalannya program ini,” ungkapnya.
Ditambahkan, perlu sosialisasi kepada masyarakat cara penggunaan dan pemasangan peralatannya hingga masyarakat mengerti. Jangan sampai barang yang tidak baik dipaksakan untuk diberikan kepada masyarakat.
Ketika ditanyakan kepada pihak Pertamina, Sales Representative Area Jambi Achmad Rifky mengatakan, pihak Pertamina hanya bertugas mendistribusikan kompor tersebut. “Yang jelas, yang akan kami distribusikan adalah kompor yang telah mendapatkan SNI,” katanya.
Apakah kompor tersebut sudah layak, berkaitan dengan bahan seng yang digunakan, Rifky mengatakan bukan wewenang Pertamina untuk menyampaikan hal tersebut. Karena, Pertamina tidak punya kapasitas untuk menyampaikan. “Kami punya kode etik mngenai hal-hal apa saja yang bisa disampaikan, kalau berkaitan dengan kriteria SNI, itu Disperindag yang tahu pasti,” ungkapnya.
Sementara berapa lama masa paling lambat menggunakan kompor tersebut, Rifky menyatakan tergantung pemakaian. “Tidak ada batas waktu, kalau makenya benar bias lama,” ungkapnya.
Kepala Disperindag Kota Jambi Izhar Muzani menjelaskan, pihaknya akan segera mengecek kompor-kompor gratis yang dibagikan pada program konversi minyak tanah ke gas tersebut. Jika ada kerusakan maka akan segera ditindaklanjuti.
Sementara itu, Mustamar, Ketua Komisi B DPRD Kota Jambi mengatakan, dalam beberapa hari ini akan segera melakukan tinjauan ke lapangan. Komisi B bermaksud mengunjungi SPBE dan juga gudang tempat penyimpanan kompor yang akan didistribusikan kepada warga. Sejauh mana tahap-tahap yang telah dilakukan. Apakah masyarakat telah siap menerima semua rencana.
“Jika belum, maka kami juga berhak menimbang rencana tersebut dengan dasar penolakan masyarakat. Dalam satu, dua hari ini kita akan melakukan sidak ke penyedia tabung dan kompor yang dianggap bermasalah. Jika benar, kita akan sikapi dengan pernyataan bahwa konversi belum layak dilakukan,” tandasnya.(*)
Kompor Gratis
Konversi Minyak
Tanah ke Gas
JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru
Diragukannya kualitas kompor gas yang akan didistribusikan kepada masyarakat Kota Jambi, turut dirasa anggota DPRD Kota Jambi. Sama halnya dengan kekhawatiran berbagai pihak beberapa waktu lalu, anggota dewan juga menyatakan keraguannya terhadap bahan pembuat kompor gas yang tipis tersebut. Sehingga dinilai tidak layak digunakan meskipun sudah berlabel SNI.
Disampaikan anggota Komisi B DPRD Kota Jambi Fuad Safari kemarin (22/3), kalau memang kompor tersebut tidak layak, distribusi tidak perlu dipaksakan. “Kalau tidak sesuai, jangan dipaksakan,” katanya.
Disebutkan, DPRD Kota Jambi juga tidak bisa menyatakan apakah kompor tersebut sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan SNI atau tidak, “kami tidak punya daftar apa-apa saja syarat dan kriterianya,” ungkapnya.
Yang jelas, kata Fuad, semua pihak yang terkait harus proaktif dalam menangani hal ini. Disampaikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) harus turun ke lapangan dan mengecek langsung. Jika ditemukan sesuatu yang tidak sesuai, harus dilaporkan. “Pertamina juga jangan lepas tangan. Mentang-mentang kompor itu sudah bertaraf SNI, langsung dibagikan. Nyawa warga jadi taruhannya. Jangan nyawa warga disamakan dengan tabung kiloan, itulah istilah kasarnya,” tukasnya. Karena menurutnya, program ini memang berisiko.
Selain pemerintah, dia juga menghimbau, agar masyarakat juga ikut serta mengawasi pendistribusian kompor tersebut. “Masyarakat, sebaiknya juga ikut berperan untuk mengawasi berjalannya program ini,” ungkapnya.
Ditambahkan, perlu sosialisasi kepada masyarakat cara penggunaan dan pemasangan peralatannya hingga masyarakat mengerti. Jangan sampai barang yang tidak baik dipaksakan untuk diberikan kepada masyarakat.
Ketika ditanyakan kepada pihak Pertamina, Sales Representative Area Jambi Achmad Rifky mengatakan, pihak Pertamina hanya bertugas mendistribusikan kompor tersebut. “Yang jelas, yang akan kami distribusikan adalah kompor yang telah mendapatkan SNI,” katanya.
Apakah kompor tersebut sudah layak, berkaitan dengan bahan seng yang digunakan, Rifky mengatakan bukan wewenang Pertamina untuk menyampaikan hal tersebut. Karena, Pertamina tidak punya kapasitas untuk menyampaikan. “Kami punya kode etik mngenai hal-hal apa saja yang bisa disampaikan, kalau berkaitan dengan kriteria SNI, itu Disperindag yang tahu pasti,” ungkapnya.
Sementara berapa lama masa paling lambat menggunakan kompor tersebut, Rifky menyatakan tergantung pemakaian. “Tidak ada batas waktu, kalau makenya benar bias lama,” ungkapnya.
Kepala Disperindag Kota Jambi Izhar Muzani menjelaskan, pihaknya akan segera mengecek kompor-kompor gratis yang dibagikan pada program konversi minyak tanah ke gas tersebut. Jika ada kerusakan maka akan segera ditindaklanjuti.
Sementara itu, Mustamar, Ketua Komisi B DPRD Kota Jambi mengatakan, dalam beberapa hari ini akan segera melakukan tinjauan ke lapangan. Komisi B bermaksud mengunjungi SPBE dan juga gudang tempat penyimpanan kompor yang akan didistribusikan kepada warga. Sejauh mana tahap-tahap yang telah dilakukan. Apakah masyarakat telah siap menerima semua rencana.
“Jika belum, maka kami juga berhak menimbang rencana tersebut dengan dasar penolakan masyarakat. Dalam satu, dua hari ini kita akan melakukan sidak ke penyedia tabung dan kompor yang dianggap bermasalah. Jika benar, kita akan sikapi dengan pernyataan bahwa konversi belum layak dilakukan,” tandasnya.(*)
Senin, 07 Februari 2011
AKU, KALIAN, dan MEREKA
Dan seketika pecah keributan yang membabi buta tersebut. Dengan segala keanarkisan yang nampaknya telah mendarah daging pada jiwa-jiwa yang kerasukan. Aku takberniat menghakimi, hanya saja kalian telah melukai keyakinanku.
Dengan menyebut nama Tuhaku, kalian membantai,mencaci dan memaki, tanpaada rasa malu sedikitpun. Bahwasannya Tuhanku tak pernah berfirman untuk menyakini makhluk lain. Apalagi manusia seperti KALIAN, aku, dan KAMI. Siapakah yang berhak menghakimi, menentukan keyakinan ku ini yang terbaik, keyakinan mu, atau ketakinan mereka. Kita sama-sama berhak menyatakan itu. Namun taksatupun berhak menyalahkan keyakinan mereka. KALIAN tidak punya hak melecehkan, serta menginjak-nginjak keyakinan mereka. Berkacalah pada perilaku kalian sendiri, tidak lebih baik dari pada orang yang tak beragama.
Atas nama Tuhanku, KALIAN kini menghakimi, menghancurkan serta melecehkan symbol keyakinan mereka. Malu, tercoreng, serta terhina, mengingat mereka akan menatap hina keyakinanku, serta menyalahkan Tuhanku.
Kalian bilang ini sebuah pembelaan. Pembelaan terhadap apa? Terhadap Tuhan? Tuhan tak perlu dibela, begitu kata salah seorang teman, karena Dia Maha Tau, kalian yang seharusnya dikasihani. Fikiran haus akan darah dipertahankan, apa tujuannya? Untuk menyatakan bahwa kalian ada? Dan ditakuti bahkan oleh sang Presiden yang katanya punya kuasa. Kuasa apa? Kuasa untuk tuidak ikut campus masalah Negara, tidak mau interfensi masalah hukum/seorang panglima tertinggi militer berkata seolah-seolah negri ini dalam keadaan baik-baik saja.
Kalian tau, tak seorang pun bisa membubarkan kalian. Bahwa panglima tertinggi negri ini sekalipun. Betapa hebatnya KALIAN, sudah seluruh penjuru negri ini mencaci serta ‘meludah’kearah kalian, tapi masih berdiri kokoh, serta menganggapbahwa nyawa orang yang tak seiman dengan kalian takada artinya.
Aku sempat membayangkan kalian hanya sekumpulan semut, namun kalian terlalu ganas untuk dianggap sebagai semutdan kecoa. Tapi aku tak sudi jika KALIAN diibaratkan raja, serta petinggi agama! Komplotan kalian saja yanga akan menyembah bersujud dibawah jiwa yang haus darah seperti kalian! #bubarkan FPI
Dengan menyebut nama Tuhaku, kalian membantai,mencaci dan memaki, tanpaada rasa malu sedikitpun. Bahwasannya Tuhanku tak pernah berfirman untuk menyakini makhluk lain. Apalagi manusia seperti KALIAN, aku, dan KAMI. Siapakah yang berhak menghakimi, menentukan keyakinan ku ini yang terbaik, keyakinan mu, atau ketakinan mereka. Kita sama-sama berhak menyatakan itu. Namun taksatupun berhak menyalahkan keyakinan mereka. KALIAN tidak punya hak melecehkan, serta menginjak-nginjak keyakinan mereka. Berkacalah pada perilaku kalian sendiri, tidak lebih baik dari pada orang yang tak beragama.
Atas nama Tuhanku, KALIAN kini menghakimi, menghancurkan serta melecehkan symbol keyakinan mereka. Malu, tercoreng, serta terhina, mengingat mereka akan menatap hina keyakinanku, serta menyalahkan Tuhanku.
Kalian bilang ini sebuah pembelaan. Pembelaan terhadap apa? Terhadap Tuhan? Tuhan tak perlu dibela, begitu kata salah seorang teman, karena Dia Maha Tau, kalian yang seharusnya dikasihani. Fikiran haus akan darah dipertahankan, apa tujuannya? Untuk menyatakan bahwa kalian ada? Dan ditakuti bahkan oleh sang Presiden yang katanya punya kuasa. Kuasa apa? Kuasa untuk tuidak ikut campus masalah Negara, tidak mau interfensi masalah hukum/seorang panglima tertinggi militer berkata seolah-seolah negri ini dalam keadaan baik-baik saja.
Kalian tau, tak seorang pun bisa membubarkan kalian. Bahwa panglima tertinggi negri ini sekalipun. Betapa hebatnya KALIAN, sudah seluruh penjuru negri ini mencaci serta ‘meludah’kearah kalian, tapi masih berdiri kokoh, serta menganggapbahwa nyawa orang yang tak seiman dengan kalian takada artinya.
Aku sempat membayangkan kalian hanya sekumpulan semut, namun kalian terlalu ganas untuk dianggap sebagai semutdan kecoa. Tapi aku tak sudi jika KALIAN diibaratkan raja, serta petinggi agama! Komplotan kalian saja yanga akan menyembah bersujud dibawah jiwa yang haus darah seperti kalian! #bubarkan FPI
Selasa, 18 Januari 2011
IF
Rudyard Kipling
If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you;
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too;
If you can wait and not be tired by waiting,
Or, being lied about, don't deal in lies,
Or, being hated, don't give way to hating,
And yet don't look too good, nor talk too wise;
If you can dream - and not make dreams your master;
If you can think - and not make thoughts your aim;
If you can meet with triumph and disaster
And treat those two imposters just the same;
If you can bear to hear the truth you've spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to broken,
And stoop and build 'em up with wornout tools;
If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breath a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: "Hold on";
If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with kings - nor lose the common touch;
If neither foes nor loving friends can hurt you;
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds' worth of distance run -
Yours is the Earth and everything that's in it,
And - which is more - you'll be a Man my son!
If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you;
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too;
If you can wait and not be tired by waiting,
Or, being lied about, don't deal in lies,
Or, being hated, don't give way to hating,
And yet don't look too good, nor talk too wise;
If you can dream - and not make dreams your master;
If you can think - and not make thoughts your aim;
If you can meet with triumph and disaster
And treat those two imposters just the same;
If you can bear to hear the truth you've spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to broken,
And stoop and build 'em up with wornout tools;
If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breath a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: "Hold on";
If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with kings - nor lose the common touch;
If neither foes nor loving friends can hurt you;
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds' worth of distance run -
Yours is the Earth and everything that's in it,
And - which is more - you'll be a Man my son!
Minggu, 16 Januari 2011
Kontes Miss Waria Indonesia se-Sumatera 2011
Layaknya Pemilihan Putri Indonesia, Peserta Harus Punya 3 B
Jangan ganggu banciiii.! jangan ganggu banciiii..! jangan ganggu banciiii....! jangan, ganggu....!”
Penggalan lirik lagu Project Pop ini kian mengakrabkan kosakata “banci” di telinga kita. Sepertinya, bukan hanya kosakatanya yang semakin akrab, tapi juga wujud aslinya. Buktinya, tadi malam (15/1) komunitas waria, menggelar hajatan besar-besaran dalam acara pemilihan Miss Waria Indonesia 2010 di Dermaga WTC, Jambi.
Jambi Independent
Sebanyak 52 waria dari berbagai daerah se-sumatera mengikuti kontes ini. Mereka menunjukkan kebolehan masing-masing seperti bernyanyi, menari, dan tentunya berprilaku plus berdandan seperti wanita.
Saat ditemui kemarin (15/1), ketua penyelenggara kegiatan, Daril Asyecqh (42) mengatakan, salah satu penilaian adalah kesempurnaan fisik peserta yang menyerupai wanita. Tidak hanya itu, untuk menjadi pemenang, para waria juga harus menunjukkan jika mereka punya skill.
Layaknya Pemilihan Putri Indonesia (PPI), kontes Miss Waria Indonesia 2011 ini juga melihat dari segi kecantikan, dan kepintaran peserta. Yaitu, peserta harus memenuhi kriteria 3 B; brain, beauty dan behavior.
“Nggak cuma berlomba tampil cantik, para waria juga berusaha nunjukin kalo mereka punya skill,” kata Daril.
Menurut daril, Kota Jambi yang dihuni mayoritas muslim ini, masih banyak yang belum bisa menerima keberadaan para waria. Betapa tidak, perilaku dan dandanan yang menyerupai wanita, terlihat ganjil jika mengingat statusnya sebagai seorang pria.
“Nah, salah satu tujuan diselenggarakannnya event ini tak lain adalah untuk mengangkat harkat kaum waria yang selama ini terpinggirkan. Khusunya di Jambi ini,” ujarnya.
Lebih jauh, Daril mengatakan, pemilihan ratu waria teladan ini digelar sebagai ajang silaturrahmi kaum waria di Jambi. Para peserta kontes, menurutnys akan belajar tentang hak asasi manusia dan membangun kepedulian sosial.
“Yang dinilai dalam kontes ini tidak hanya kecantikan dan kostum mereka saja, tapi juga kemampuan mereka dalam menguasai ilmu pengetahuan,” sebut dedengkot kaum waria di Jambi ini.
Daril juga mengatakan, ajang ini juga untuk mengarahkan kepedulian sosial kaum waria Jambi dan menghilangkan stigma negatif terhadap kaum waria, yang sering dianggap sampah masyarakat.
“Kita ingin membuktikan kaum waria juga bisa melakukan kegiatan yang positif. Untuk menggelar acara ini kita juga mendapatkan izin dari pemerintah,” ungkapnya.
Daril menambahkan, ajang ini sebagai upaya untuk menekan stigma dan diskriminasi di masyarakat tentang kaum minoritas seperti waria.
Menanggapi adanya pandangan negatife dari berbagai pihak, lantaran kegiatannya dianggap bertentangan dengan norma agama. Daril dengan tegas mengatakan pandangan itu sah-sah saja.
Baginya, setiap orang memiliki hak mengemukakan pandangan dan pendapat. Namun, katanya, jangan sampai pandangan dan pendapat itu berlebihan--akan menyudutkan sebuah komunitas—yang nantinya akan berujung pada bentrok sosial.
“kita adalah manusia yang sama derajatnya disisi Tuhan. Jangan sampai ada yang menafikan eksistensi kami,”tegasnya.
Aksi para waria itu pun cukup membuat para pengunjung WTC yang sedang berbelanja ataupun sedang jalan-jalan tergelak karena banyak hal-hal yang menggelitik. Acara itu juga dimeriahkan sejumlah tari-tarian dipadukan fashion show yang dibawakan para waria.
Dalam ajang tahunan tersebut, akan dipilih salah satu kontestan terbaik, yang akan didaulat menjadi Miss waria Teladan 2010 dan akan mewakili sumatera pada ajang nasional nanti.(*)
Jangan ganggu banciiii.! jangan ganggu banciiii..! jangan ganggu banciiii....! jangan, ganggu....!”
Penggalan lirik lagu Project Pop ini kian mengakrabkan kosakata “banci” di telinga kita. Sepertinya, bukan hanya kosakatanya yang semakin akrab, tapi juga wujud aslinya. Buktinya, tadi malam (15/1) komunitas waria, menggelar hajatan besar-besaran dalam acara pemilihan Miss Waria Indonesia 2010 di Dermaga WTC, Jambi.
Jambi Independent
Sebanyak 52 waria dari berbagai daerah se-sumatera mengikuti kontes ini. Mereka menunjukkan kebolehan masing-masing seperti bernyanyi, menari, dan tentunya berprilaku plus berdandan seperti wanita.
Saat ditemui kemarin (15/1), ketua penyelenggara kegiatan, Daril Asyecqh (42) mengatakan, salah satu penilaian adalah kesempurnaan fisik peserta yang menyerupai wanita. Tidak hanya itu, untuk menjadi pemenang, para waria juga harus menunjukkan jika mereka punya skill.
Layaknya Pemilihan Putri Indonesia (PPI), kontes Miss Waria Indonesia 2011 ini juga melihat dari segi kecantikan, dan kepintaran peserta. Yaitu, peserta harus memenuhi kriteria 3 B; brain, beauty dan behavior.
“Nggak cuma berlomba tampil cantik, para waria juga berusaha nunjukin kalo mereka punya skill,” kata Daril.
Menurut daril, Kota Jambi yang dihuni mayoritas muslim ini, masih banyak yang belum bisa menerima keberadaan para waria. Betapa tidak, perilaku dan dandanan yang menyerupai wanita, terlihat ganjil jika mengingat statusnya sebagai seorang pria.
“Nah, salah satu tujuan diselenggarakannnya event ini tak lain adalah untuk mengangkat harkat kaum waria yang selama ini terpinggirkan. Khusunya di Jambi ini,” ujarnya.
Lebih jauh, Daril mengatakan, pemilihan ratu waria teladan ini digelar sebagai ajang silaturrahmi kaum waria di Jambi. Para peserta kontes, menurutnys akan belajar tentang hak asasi manusia dan membangun kepedulian sosial.
“Yang dinilai dalam kontes ini tidak hanya kecantikan dan kostum mereka saja, tapi juga kemampuan mereka dalam menguasai ilmu pengetahuan,” sebut dedengkot kaum waria di Jambi ini.
Daril juga mengatakan, ajang ini juga untuk mengarahkan kepedulian sosial kaum waria Jambi dan menghilangkan stigma negatif terhadap kaum waria, yang sering dianggap sampah masyarakat.
“Kita ingin membuktikan kaum waria juga bisa melakukan kegiatan yang positif. Untuk menggelar acara ini kita juga mendapatkan izin dari pemerintah,” ungkapnya.
Daril menambahkan, ajang ini sebagai upaya untuk menekan stigma dan diskriminasi di masyarakat tentang kaum minoritas seperti waria.
Menanggapi adanya pandangan negatife dari berbagai pihak, lantaran kegiatannya dianggap bertentangan dengan norma agama. Daril dengan tegas mengatakan pandangan itu sah-sah saja.
Baginya, setiap orang memiliki hak mengemukakan pandangan dan pendapat. Namun, katanya, jangan sampai pandangan dan pendapat itu berlebihan--akan menyudutkan sebuah komunitas—yang nantinya akan berujung pada bentrok sosial.
“kita adalah manusia yang sama derajatnya disisi Tuhan. Jangan sampai ada yang menafikan eksistensi kami,”tegasnya.
Aksi para waria itu pun cukup membuat para pengunjung WTC yang sedang berbelanja ataupun sedang jalan-jalan tergelak karena banyak hal-hal yang menggelitik. Acara itu juga dimeriahkan sejumlah tari-tarian dipadukan fashion show yang dibawakan para waria.
Dalam ajang tahunan tersebut, akan dipilih salah satu kontestan terbaik, yang akan didaulat menjadi Miss waria Teladan 2010 dan akan mewakili sumatera pada ajang nasional nanti.(*)
Langganan:
Komentar (Atom)